Archive for the keseharian Category

Yoke Arifah, MC Segala Bisa

Posted in budaya, cinta, hobby, kehidupan, keseharian, motivasi, pariwisata, pemerintahan, pendidikan, penghargaan, renungan, sejarah with tags , , , , , , , on December 12, 2017 by BonX

Suka atau tidak, setuju atau tidak, di dunia per-MC-an Kota Probolinggo, nama Oke (biasa dipanggil Mbak Oke) sudah menjadi legenda. Gayanya yang kenes, ceplas-ceplos dan usil menjadikan acara apapun yang ia kemudikan, jadi meriah. Ia benar-benar menjadikan acara tersebut “miliknya”.

253223_577876698900084_1229159005_n

Ya, programer dan penyiar senior Suara Kota ini hapal segala hal yang harus ia sampaikan; apa-apa saja kelebihan produk yang tengah ia bawakan, siapa saja nama-nama undangan yang hadir, sampai hal-hal kecil yang sebelumnnya tak kita pedulikan atau sadari -seperti hari ulang tahun atau zodiak pemilik acara, ia lahap habis semuanya. Hebat kan?

Dan itu semua dilakukannya di luar kepala. Sekali lagi, di luar kepala! Benar-benar tanpa teks. What an amaze!

Jujur harus saya akui, secara pribadi saya banyak menyerap ilmu darinya, terutama ketika saya diwajibkan memandu program siar Laporo Rek!, program yang dulunya ia create dan gawangi. Thank you so much, Sista!

Dan berikut adalah wawancara saya dengan pemilik nama asli Yoke Arifah ini: Continue reading

Advertisements

ADIEN GUNARTA, TAKLUKAN DUNIA LEWAT SENI FONTASI

Posted in bahasa, berita, bisnis, budaya, buku, cinta, hobby, keseharian, motivasi, pemerintahan, penghargaan, seni with tags , , , , , on June 10, 2017 by BonX

Pemuda berikut yang begitu ingin saya kulik profilnya adalah Adien Gunarta, seorang seniman font asal Probolinggo yang namanya sudah mendunia. Serius! Ya, kalau Anda pernah menyaksikan film Despicable Me, dan mengamati ada salah satu bagian bangunan bertulis Eagle Hair Club, itu adalah font karya mahasiswa semester akhir jurusan Komunikasi, Universitas Airlangga ini.

Sedikit menelusur ke belakang, pertemuan awal kami berlangsung pada ajang pemilihan duta wisata. Dia, Adien Gunarta, tampil sebagai juara pertama, Kang Kota Probolinggo 2012. Tapi jujur, saya tidak begitu terpukau pada prestasinya di sana. Saya terpukau pada pemuda ini ketika menemui dan membaca tulisannya di Radar Bromo yang berjudul Rebelion. “Hmmmm… ternyata dia bisa menulis ya,” ungkap saya saat itu. Tulisan yang di kemudian hari saya minta, dan saya terbitkan dalam bentuk kumpulan cerpen Komunitas Menulis (Komunlis).

Dan kebanggaan itu terus berkembang sampai saat ini ketika melihat beragam kemajuannya yang pesat; ia pernah menjadi tokoh muda pilihan Jawa Pos 2014 lho, termasuk menjadi founder dari bisnis souvenir miliknya, Kacapuri.

foto Adien Gunarta

Continue reading

Apa Sih Beda Seminar, Simposium dan Lokakarya?

Posted in keseharian, pendidikan, bahasa with tags , , , , , , , on June 1, 2017 by BonX

Ya, jangankan orang lain, saya sendiri pun terkadang masih bingung untuk membedakan antara beberapa macam kegiatan tersebut: seminar, simposium, lokakarya, workshop atau bahkan sekedar rapat. Karenanya, agar kebingungan itu terminimalisir, mengumpulkan dari beragam sumber yang ada, saya akan mencoba untuk “menterjemahkan kembali” pengetian masing-masing istilah “rapat” tersebut.
.
Kita mulai dengan yang paling umum dan sederhana:
.
Seminar, menurut Wikipedia, merupakan merupakan salah satu bentuk dari proses akademis yang bisa diselenggarakan oleh lembaga akademik, organisasi profesi, atau bahkan lembaga komersial. Poinnya, dalam seminar ada satu topik yang bisa disampaikan oleh satu pembicara atau lebih. Peserta seminar boleh bertanya apapun, yang akan dijawab oleh pembicara/narasumber.
.
Normalnya, peserta bukanlah pemula dalam topik yang dibawakan, namun dalam seminar populer biasanya peserta malah dari mereka yang belum memiliki pengetahuan tetapi memiliki ketertarikan terhadap topik yang diberikan.

Continue reading

PEMUDA HARUS PUNYA 2 HAL

Posted in budaya, buku, kemanusiaan, keseharian, motivasi, pariwisata, pemerintahan, pendidikan, renungan with tags , , , , , on April 3, 2017 by BonX

Postingan blog saya ini terinspirasi oleh tulisan Noorman Pasaribu di ruang.gramedia.com. Tapi tentu saja, demi menyelaraskannya keseluruhan konten yang ada di blog saya, saya menambahkannya dengan unsur kedaerahan… dengan unsur ke-Probolinggo-an.

Ke-Probolinggo-an yang saya maksud adalah mencari dan mewawancarai pemuda-pemuda terbaik (baik di kawasan kota maupun kabupaten) Probolinggo, yang menurut saya hitz. Yakni, mereka yang tak hanya cerdas dan berintelegensi di atas rata-rata namun juga “Takut akan Tuhan”. Pemuda yang tak hanya memikirkan keberhasilan dan kesuksesan dirinya sendiri, tapi juga ia yang menaruh hatinya untuk Probolinggo. Pemuda yang peduli pada keadaan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, memikirkan perkembangan dan kemajuan kotanya, termasuk juga kelestarian lingkungannya. Ia… pemuda yang tak hanya “cakep” secara fisik, namun juga dari hati dan mampu memotivasi orang lain untuk berbuat “lebih” seperti dirinya.

Semoga Anda menikmatinya! 😀

Marom

Well, di edisi perdana ini saya mewawancarai Lailul Marom (24), pendiri wisata snorkeling Gili Ketapang. (Sebagai informasi, saat ini di Pulau Gili Ketapang – Probolinggo sudah banyak jasa penyedia layanan snorkeling, namun bagi saya Gili Ketapang masih yang terbaik)

Continue reading

MENDEKATKAN LITERASI PADA EKONOMI KREATIF

Posted in budaya, buku, cinta, kehidupan, kemanusiaan, keseharian, motivasi, pendidikan, renungan, sastra with tags , , , on March 30, 2017 by BonX

Catatan Mengenaskan Bangsa

Sebuah catatan lembaga survey UNESCO (United Nations of Education Society and Cultural Organization) tahun 2011 menemukan fakta bahwa index membaca masyakarat Indonesia hanyalah 0,001. Ini berarti dari 1000 jiwa penduduk Indonesia, hanya ada 1 orang yang hobi baca. Menggenaskan bukan? Survey tersebut menguatkan temuan UNDP (United Nations Development Programs) di tahun 2010, dimana Human Developmen Indeks  Indonesia masih berada di peringkat 112 dari 175 negara.

Mengapa hal tersebut terjadi? Mengapa manusia Indonesia jauh dari buku? Mengapa juga profesi pengarang tidak dilirik? Ia jauh dari hiruk pikuk dunia mode dan trend. Ia tidak berkilau. Kalah jauh dengan artis papan iklan atau bintang sinetron di televisi. Mengenaskan, bukan?

Bagi saya jawabannya adalah, karena profesi tersebut tidak secara langsung mendatangkan keuntungan. Ya, manusia suka keuntungan. Termasuk dalam berprofesi, ia suka melihatnya dari kacamata untung rugi. Keuntungan di sini tidak hanya berarti materi, tetapi juga eksistensi, kebanggaan, dan pujian dari masyarakat sekitar.

Diakui atau tidak, manusia itu suka melihat hal-hal yang cantik, manusia itu suka kalau dirinya dikagumi. Continue reading

BELLE

Posted in cinta, film, keseharian, motivasi, renungan with tags , , , on March 30, 2017 by BonX

Saya sampai dua kali datang ke Pasuruan, hanya untuk menonton Beauty and The Beast. Ya, kisah Belle, seorang putri petani yang diperankan oleh Emma Watson ini seolah mewakili keadaan saya: Terkukung di sebuah kota kecil!
.
Belle dikisahkan tinggal di pinggiran kota Paris, ia akrab dengan buku, namun hal itulah yang justru membuatnya tampak aneh di mata penduduk desanya. Ya, di kala gadis lain gemar berdandan, dia gemar membaca dan berkhayal. Di kala anak-anak perempuan seusianya mengalami kekhawatiran akan pasangan hidup –hingga berebut perhatian Gaston, ia malah menolak Gaston mentah-mentah. She want more! Ia ingin sesuatu yang lebih dari sekedar kehidupan “provincial life”.
.

657 TAHUN, DARI MANA ASALNYA?

Posted in berita, kemanusiaan, keseharian, pemerintahan, pendidikan, politik, renungan, sejarah with tags , , , , , on September 1, 2016 by BonX

Sejarah adalah milik pihak-pihak yang berkuasa. Termasuk sejarah bagaimana Hari Jadi Kota Probolinggo ditetapkan pada tanggal 4 September 1359.

Ya, tepat  4 September 2016, Kota Probolinggo berulang tahun ke-657. Namun, yang sering menjadi pertanyaan khalayak, “Bagaimana bisa kota ini usianya lebih tua dari Kabupaten (Probolinggo, red.)? Dan, apa yang menjadi dasar penetapan itu?

Salah satu sumber bacaan yang mengukuhkan tanggal tersebut sebagai hari jadi kota adalah Probolinggo City Goes To The Future (2004), buku yang dikeluarkan masa pemerintahan Wali Kota H.M. Buchori (2004-2014). Dalam buku tersebut dikisahkan bahwa pada masa pemerintahan Bupati Probolinggo ke-17, Raden Adipati Ario Nitinegoro, Pemerintah Hindia belanda membentuk “Gemeente Probolinggo” pada 1 Juli 1918. Bertepatan dengan HUT Bhayangkara. Bahkan, telah beberapa kali diperingati sebagai hari jadi kota oleh pemerintahan terdahulu.

Tapi, sekali lagi, sejarah adalah milik pihak-pihak yang berkuasa dan itu tidaklah salah. Pemerintahan HM. Buchori memandang bahwa kemerdekaan (pemekaran wilayah) harusnya bukanlah hadiah dari penjajah, maka bersama tim pencetus sejarah kota saat itu, Buchori menilik kembali sejarah Kota Probolinggo, khususnya saat pembukaan Banger oleh Prabu Hayam Wuruk.

Continue reading