bahasa, berita, budaya, buku, cinta, hobby, keseharian, motivasi, pendidikan, penghargaan, sastra

Titis Putri Pamungkas: Jangan Hakimi Diri Sendiri Atas Keberhasilan Orang Lain


Probolinggo bagi seorang Titis Putri Pamungkas adalah sorga kecil di Jawa Timur. Pesona keindahannya tidak kalah dari daerah lain, serunya. Tapi sayang, masih banyak yang belum mengenal Probolinggo. Ia merasa, mutiara terpendam itu tidak akan diketahui khalayak jika tidak ada publikasi. Nah, itulah alasan alumnus SMAN 1 Kraksaan ini untuk mengeksplorasi Probolinggo lewat tulisan.

WhatsApp Image 2019-06-10 at 11.10.05
Panorama Pantai Bentar dilihat dari Bukit Bintang~

Kepingan Masa (Kumpulan Prosa Perihal Kisah SMA) adalah karya perdananya. Lewat buku tersebut, penulis muda kelahiran Probolinggo, 29 September 2000 ini membagikan kenangannya selama menempuh sekolah lanjutan atas tersebut dalam beentuk puisi. Saat menjadi pelajar dahulu, ia merasa belajar adalah tugas utamanya; dan berkarya baginya adalah panggilan hidup. Ia menyelasarkan keduanya.

Akhir Ramadhan kemarin (3 Juni 2019), Problink bertemu dengan Titis di salah satu rumah makan ternama di Kota Probolinggo. Tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, kami mewawancarainya. Dan beritkut, adalah hasil wawancara kami~

Sebutkan 3 hal yang menggambarkan Titis Putri Pamungkas!

Pemalu, gak berani ngomong di depan orang banyak. Lebih enak menulis daripada mengungkapkan secara langsung. Dan… suka daun kering. Aku tuh koleksi daun kering. Dari mana-mana dah. Dari berbagai daerah, bahkan yang dari luar negeri. Nah, kalo temen-temen berlibur berlibur ke luar kota, jangan lupa oleh-oleh daun kering buat Titis ya…

Di mana Titis menghabiskan masa kecil?

Di desa Maron Kulon. Oia, sebenarnya Titis bukan asli orang Probolinggo. Jadi sekilas cerita nih ya, kedua orang tua Titis berasal dari Jogja. Ayah memutuskan merantau ke Maron dan mengabdi menjadi guru Bahasa Indonesia selepas menikah dengan Ibu. Alhasil, sampai saat ini Titis tinggal di Maron.

Hal apa yang paling dikenang dari masa kecil?

Yang paling Titis kenang dari masa kecil itu mesin tik. Titis suka mesin tik. Kata Ibu, waktu kecil, kalau Titis digendong, sembari Ibu membacakan cerita buat Titis, perhatian Titis pasti teralihkan dengan bunyi mesin tik yang sedang dipake Bapak. Sampai saat ini, mesin ketik itu masih ada lho.

Apa yang memotivasi Titis terjun ke dunia kepenulisan?

Hmmm… apa ya, jadi gini, dulu waktu SD Titis sering diajak ke toko buku. Nah, saat SMP Titis pingin banget punya buku hasil karangan sendiri. Tapi waktu SMP aku masih belum kepikiran nulis, semua bermula di SMA. Motivasi terkuat Titis adalah kedua orang tua. Titis sadar kalau Titis tidak sepintar anak-anak lain. Jadi, aku memilih jalan menulis untuk membanggakan mereka, suatu saat. Aaamiin.

Sejak kapan terjun di dunia kepenulisan?

Tepatnya saat kelas 11, guru Bahasa Indonesia Titis, Bu Yuanita, menjelaskan kalau menulis itu mengasyikkan. Apalagi kalau melihat ada nama kita di buku itu. Selain itu, dia juga bercerita dengan menulis kamu bisa berkelana dengan kertas hasil tulisanmu. Nah, dari situlah Titis mulai coba-coba. Awalnya sih gak PD. Apalagi karangan orang lain bagus. Sampai suatu ketika terlintas pikiran, “Kalau orang lain bisa berkarya, kenapa saya tidak?” Maka, mulai hari itu Titis mantap berkarya. Titis percaya setiap penulis punya ciri khas dalam tulisannya dan setiap tulisan punya jodoh sendiri untuk memikat pembaca.

Bagaimana sih potensi dunia kepenulisan di Probolinggo?

Menurutku sangat berpotensi. Banyak penulis hebat lahir di Probolinggo. Awalnya, aku bingung cara mengekspresikan tulisanku ini gimana dan susah dapat teman yang sehobi. Hingga, pada akhirnya, aku menemukan komunitas. Komunitas Warna Sastra, Forum Lingkar Pena Probolinggo, Komunlis, dan masih ada beberapa komunitas menulis online di media sosial. Penulis-penulis muda pun bermuculan. Mengeluarkan karya dan membawa nama baik Probolinggo.

Bagaimana Probolinggo mempengaruhi Titis dalam berkarya?

Probolinggo itu unik, beda dari daeah lainnya. Ada buah khas lokal, pemandangan, suasana yang bisa jadi ide kepenulisan. Bisa dibilang Probolinggo adalah inspirasi saya dalam berkarya.

Buku apa yang Titis baca saat kecil?

Hmmm… apa ya lupa, seingat aku petama kali mengenal buku itu waktu sebelum TK. Kurang lebih umur 5 tahun. Kebetulan mbakku, Mbak Puji, yang mbelikan bacaan setiap pulang kampung. Mbak waktu itu kuliah di Malang, jadi tiap pulang ke Maron, mbakku suka beliin Titis buku. Syaratnya, ya harus dibaca. Jadi, boleh dikata, sebelum masuk TK Titis udah bisa baca. Berkat buku “belajar membaca” itu. Judulnya sih Titis lupa. Hehehe. Kalau waktu SD, aku biasanya beli buku cerita bergambar di depan gerbang sekolah. Menarik bukunya. Beberapa serem juga gambarmnya. Dapat cerita dapat dan hikmah juga ada.

WhatsApp Image 2019-06-10 at 11.07.01
Piala pertama Titis yang memotivasinya untuk terus setia di jalan kepenyairan~

Siapa penulis idolamu?

Sebutin berapa nih? Bebas kah? Oke, penulis idolaku Fiersa Besari, Dee Lestari, Eyang Sapardji, Chairil Anwar, Boy Candra, Genta Kiswara, Asma Nadia, dan penulis lokal yang paling memotivasi Kak Stebby Julionatan.

Menurut Titis, apa definisi keberhasilan? Dan sejauh ini keberhasilan apa yang paling berkesan? Kenapa?

Menurut Titis, definisi keberhasilan itu luas. Intinya, kamu ingin punya sesuatu lantas kamu berusaha mendapatkan dan kamu berhasil mendapatkan apa yang kamu mau berkat usaha dan doamu.

Keberhasilan yang paling berkesan apa ya? Menjadi Juara 3 Cipta Puisi tingkat pelajar se-Kabupaten Probolinggo. Jujur, saat itu genap 1 tahun Titis terjun di dunia kepenulisan. Sepanjang sejarah, ini kali pertama megang piala hasil usaha sendiri. Wkwkwkwkwk. Dan, itu kado terindah yang aku kasih buat bapakku. Kebetulan itu bulan Juli 2018. Bapak ultah di bulan itu. Selain itu, ada juga yang berkesan, yaitu menjadi narasumber di acara seminar yang diadakan Pusat Studi Penelitian dan Kebijakan. Buku “Kepingan Masa” menjadi bukti 3 tahun perjalanan dalam dunia kepenulisan.

Apa harapan Titis kepada generasi muda di Probolinggo?

Kepada generasi muda di seluruh Indonesia, terutama pemuda Probolinggo. Kenali diri sendiri, setelah mengenal diri sendiri mulailah mencari passion. Lalu, asah sebaik mungkin, fokuskan, dan berkomitmen. Jangan hakimi diri sendiri atas keberhasilan orang lain. Jika jalan sukses orang lain mudah, sedangkan kamu belum mendapatkan teruslah melangkah dan lanjutkan perjuangan tidak ada hal sia dalam berusaha.

Harapannya, semoga selalu menyumbangkan nama baik dan karya. Setiap kejadian adalah pengalaman berharga, butuh wadah untuk menyimpan kenangan. Menulis adalah wadah mengabadikan kenangan. Kalau kalian tidak mau hilang dari sejarah, menulislah dan membaca setiap kata penuh makna. (Problink)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s