bahasa, budaya, cinta, kemanusiaan, keseharian, pariwisata, penghargaan, renungan, sastra, seni, spiritualitas

KENANGAN PENYAIR DAN SEJARAH KOTA


 Wahyu Kris AW
Kepala Sekolah SMPK Pamerdi Kebonagung
Bergiat di Kampung Pentigraf Indonesia

Judul                             : Di Kota Tuhan
Penulis                         : Stebby Julionatan
Penerbit                       : Indie Book Corner (Jogjakarta)
Tahun terbit               : Cetakan pertama, 2018
Tebal                            : 130 halaman
ISBN                             : 978-602-309-333-5

Stebby Julionatan - Di Kota Tuhan Radar Malang
RESENSI: Kata Mas Wahyu, resensi ini istimewa karena mengajak dirinya menyusuri karya penyair-penyair keren lainnya, al. Yusri Fajar, Tengsoe Tjahyono, Dhofir Zuhri dan Sosiawan Leak

 

Nyai, kau pikir hubungan penyair dengan puisi/sama dengan wahyu dengan nabi?

Larik di atas adalah kutipan kumpulan sajak Orgasme yang ditulis Gus Dhofir, santri-penulis yang menggagas filsafat Mazhab Kepanjen. Hubungan penyair dengan puisi barangkali memang diikhtiarkan untuk menjadi misteri sekaligus abadi. Apalagi jika diikat dan dikaitkan dengan ruang-waktu bernama kota.

Sebagai mahkluk yang menyejarah, kehadiran penyair sebagai manusia pada ruang-waktu kota, niscaya membentuk garis ruang-waktu yang saling berpotongan. Garis potong itulah yang kerap menjelma puisi. Pendeknya, puisi menyediakan ruang-waktu bagi penyair dan kota untuk hadir serta menyejarah bersama.

Continue reading “KENANGAN PENYAIR DAN SEJARAH KOTA”

Advertisements
bahasa, budaya, buku, cinta, penghargaan, politik, renungan, sastra, sejarah, seni, spiritualitas

Di Kota Tuhan: Kota dan Yang Alkitabiah


oleh Mario F. Lawi

Di Kota Tuhan: Kota dan Yang AlkitabiahDi Kota Tuhan, Aku adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah

Para penyair punya cara tersendiri menampilkan kenangan akan kota dalam puisinya. Stebby Julionatan membarenginya dengan khazanah biblikalnya. Apakah ia berhasil melakukannya? Perbandingan dilakukan oleh Mario F. Lawi untuk menelusuri tradisi penulisan puisi tentang kenangan, kota, dan yang alkitabiah.

I primi cristiani
si riconoscevano nelle catacombe
con il segno segreto
del Pesce
e come pesci moribondi noi
siamo uniti solo dalla Rete

Para Kristen Perdana
saling mengenal dalam katakombe
melalui tanda rahasia
Ikan
dan ibarat ikan-ikan sekarat
hanya oleh Jala kita dipersatukan.

Salah satu puisi Michele Mari dalam buku puisi Cento poesie d’amore a Ladyhawke (Seratus Puisi Cinta untuk Ladyhawke) yang saya kutip di atas menggunakan rujukan perumpamaan biblikal untuk menyatakan hubungan antara sepasang kekasih sebagai sepasang ikan sekarat yang hanya dapat dipersatukan oleh jala. Ichthys, dalam Yunani Koine yang berarti ‘ikan’, digunakan juga sebagai akronim dari Iesous Christos Theou Yios Soter atau “Yesus Kristus, Putra Allah, Penyelamat.” Ikan adalah metafora yang merujuk pada peristiwa Alkitab, terutama tradisi Perjanjian Baru, justru karena murid-murid perdana Yesus adalah para nelayan. Para rasul juga diminta Yesus untuk “menjadi penjala manusia” (Matius 4:19; Markus 1:17). Meski ditulis secara ringkas, puisi di atas, bagi saya, adalah puisi alkitabiah.

Saya tertarik mengemukakan contoh yang saya cuplik dari buku puisi pertama Michele Mari yang memenangkan tiga penghargaan sastra di Italia itu untuk melihat bagaimana narasi dari teks-teks Alkitab diterjemahkan Stebby Julionatan dalam buku puisinya Di Kota Tuhan. Kesan bahwa buku puisi Di Kota Tuhan adalah buku puisi alkitabiah saya peroleh dari ulasan Jessica Karsten yang dipublikasikan di situs Kibul.in dengan judul “Sebuah Kenangan di Kota Tuhan”. Ulasan itu saya baca lebih dahulu daripada bukunya sendiri. Menurut Jessica, Di Kota Tuhan “ditulis dalam bentuk rangkaian pasal dan ayat sebagaimana Kitab Kejadian dan Mazmur. … Midrash Pertama mengambil bentuk Kitab Kejadian sebagai teknik penulisannya sedangkan Midrash Kedua menggunakan bentuk Kitab Mazmur.” Selain klaim tersebut, Jessica juga membandingkan buku tersebut dengan buku puisi Stebby sebelumnya, Biru Magenta. Tepat pada paragraf pertama tulisannya, Jessica menulis, “Jika Biru Magenta bercerita soal kasih Eros, maka kali ini Di Kota Tuhan, Aku adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah mengangkat tema tentang kasih Agape.”

Eros dan Agape adalah dua kata untuk menyatakan cinta dalam bentuk berbeda. Eros adalah cinta berdasarkan ketertarikan seksual, sedangkan Agape sering digunakan untuk menyatakan cinta tanpa batas, dan dalam khazanah Kristiani ditunjukkan oleh Allah kepada umat manusia melalui peristiwa penebusan Kristus. Bentuk oksimoronik dua jenis cinta ini dapat kita temukan dalam karya Dante Alighieri, Divina Commedia. Cinta Beatrice kepada Dante dapat dikategorikan sebagai Agape, sedangkan cinta Paolo Malatesta kepada Francesca da Rimini dalam salah satu fragmen paling terkenal dari bagian Inferno (canto V) adalah cinta Eros. Cinta Agape memungkinkan Beatrice meminta Vergilius menuntun Dante hingga lapisan atas Purgatorio agar sang pengembara selamat hingga bertemu penuntun selanjutnya yang akan mempertemukannya dengan Beatrice. Sebaliknya, cinta Eros antara Paolo dan Francesca membuat mereka dihukum di lapisan kedua neraka.

Perlu kita tahu, Biru Magenta (2015) adalah buku puisi kolaboratif antara Stebby dan Ratna Satyavati. Saya membayangkan masing-masing bagian, Biru dan Magenta, dalam buku tersebut, adalah dialog puitik antara Stebby dan Ratna. Mayoritas puisi-puisi di dalamnya bercorak naratif, dengan satuan kalimat yang lengkap dan alur yang jelas, berisi dialog dua tokoh kasmaran. Tidak salah jika Jessica menganggapnya bercerita soal kasih Eros karena dari awal hingga akhir buku puisi, kita membaca dua tokoh jatuh cinta tersebut saling berbalas rayuan. Meski demikian, menurut saya, Di Kota Tuhan, buku puisi Stebby selanjutnya, masih berada pada koridor tema Eros ini. Perbedaan yang mencolok dari Di Kota Tuhan dan Biru Magenta adalah bahwa cinta erotik sang tokoh dalam Di Kota Tuhan diperluas pembahasannya. Aku-lirik, si Biru, tidak hanya mengungkapkan cintanya secara personal kepada si Rabu, tetapi juga memperluas cakupannya untuk berbicara tentang kota dan kenangan.

Tema kota dan kenangan bukannya tidak pernah disinggung Stebby di buku sebelumnya. Dalam puisi berjudul “Perjalanan Berdua”, bisa kita baca cakupan tematik tersebut. Saya kutip bait pertamanya:

“Ingatku pada Solo adalah perjalanan berdua denganmu/melewati Gladak, sarapan timlo di depan Pasar Gedhe,/melalui Katedral, Balai Kota, dan Bank Indonesia/lalu mobil RRI melintas di depan kita.//”

Namun, puisi semacam itu hanya satu dari sekian banyak puisi Stebby dan Ratna dalam Biru Magenta. Dalam Di Kota Tuhan, semua puisi dalam “Midrash I” mengeksplorasi hubungan kota dan kenangan. Ada cuplikan sejarah kota Probolinggo dalam puisi “Biru Mengenalkan Rabu pada Kotanya”, ada nama tempat spesifik tertentu dalam kota jadi judul puisi dalam “Di Sumber Hidup, Biru Melihat Tuhannya Bercabang.” Nama-nama lokasi dalam kota dan kejadian-kejadian seputar kota menghiasi puisi-puisi yang ada di bagian “Midrash I”.

Kota, Kenangan, dan Persoalan tentang Yang Alkitabiah

Hal yang mengingatkan seseorang akan kota-kota yang pernah dikunjunginya adalah kenangannya akan kota-kota tersebut. Maka, kita temukan Di Kota Tuhan dibuka dengan puisi berjudul “Di Pertemuan Keempat, Biru Mengajak Rabu Menyusuri Kenangan”.“Aku akan menyusur kembali kenangan, jalanan kecil yang mendekati rumah. Jembatan kayu yang hampir menewaskanku saat merangkak.” Demikian bait pembuka puisi tersebut saya kutip lengkap.

Kita ingat, Calvino membuka Le città invisibili (Kota-Kota Imajiner) dengan kisah berjudul “Kota dan Ingatan” dan membangun seluruh narasi dalam novel tersebut dengan mengandalkan ingatan tokoh Marco Polo terhadap kota-kota yang pernah disinggahinya. Menemukan kota, dalam khazanah literatur yang lebih tua, adalah misi yang sakral. Epik Aeneis dari Vergilius, misalnya, dengan jelas menunjukkannya. Aeneas adalah prajurit Troya yang tersingkir setelah kotanya dihancurkan orang-orang Yunani dan demi misi membangun bangsa Roma, ia tinggalkan Dido sang putri Carthago. “Tantae molis erat Romanam condere gentem”, bunyi salah satu baris dalam Aeneis (buku 1, baris 33), “Begitu berat usaha membangun bangsa Roma.”

Kota dalam Di Kota Tuhan bukanlah kota-kota imajiner seperti kota-kota dalam cerita Marco Polo bagi Kublai Khan. Kota dalam Di Kota Tuhan adalah kota historis, seperti Roma yang dibangun Aeneas. Maka, sepanjang bagian pertama Di Kota Tuhan, kita diajak berkeliling kota Probolinggo, referensi utama Stebby dalam menulis bagian pertama buku puisinya, lengkap dengan foto-foto sejumlah tempat di kota tersebut.

Lantas, untuk klaim pertama, apakah Di Kota Tuhanadalah buku puisi alkitabiah? Jawabannya tentu saja tidak. Jika klaim tersebut didasarkan atas penomoran klausa dan kalimat tertentu sehingga menyerupai penomoran pasal dan ayat-ayat dalam Alkitab, hal tersebut bisa langsung kita tolak sebagai indikator utama. Penomoran klausa dan kalimat tertentu sebagai pasal dan ayat bukan cuma ada dalam wilayah otoritas Alkitab. Alasan paling pertama untuk ini justru mungkin sederhana: agar kita mampu mengingat wilayah-wilayah bacaan berdasarkan pembagian nomor tersebut, atau memberi catatan tambahan berdasarkan penomoran tersebut.

Ketika kita membaca pembuka Injil Yohanes, “Pada mulanya adalah Sabda,” misalnya, kita akan melihat ayat pembanding ditampilkan untuk membawa kita pada pembukaan Kitab Kejadian yang modusnya hampir serupa. Prosa-prosa Dante Alighieri, contoh lain, entah yang ditulis dalam bahasa vulgar maupun dalam bahasa Latin, diberi penomoran oleh para sarjana pengkajinya agar lebih mudah dirujuk dan diberi catatan tambahan. Sebelum Di Kota Tuhan, strategi menggunakan penomoran untuk menandai satuan kalimat juga digunakan Asef Saeful Anwar dalam novelnya Alkudus. Jika mau melihat kesan alkitabiah pada buku puisi Di Kota Tuhan, saya justru tertarik terhadap pengaitan sejumlah peristiwa dan tokoh dalam Alkitab, entah dari Perjanjian Lama maupun dari Perjanjian Baru, dengan persoalan-persoalan harian yang ditampilkan dalam puisi-puisi di buku ini, meskipun tidak banyak ditampilkan. Frasa-frasa dan situasi-situasi dari narasi Alkitab kadang menyela di antara aliran puisi, kadang hadir sebagai alusi untuk memperkuat struktur dan gaya ungkap puisi, kadang sebagai metafora karena secara gamblang ditampilkan Stebby di beberapa bagian puisi.

Puisi Michele Mari yang saya kutip sebagai pembuka tulisan adalah apa yang saya maksud dengan puisi alkitabiah. Ada referensi narasi Alkitab yang jelas ketika kita ingin membandingkan asosiasi dan metafora yang digunakan dalam puisi tersebut. Paradise Lost dan Paradise Regained dari John Milton, sebagai contoh lain, juga dapat kita sebut sebagai puisi epik alkitabiah. Kekalahan Satan dalam narasi pembuka Paradise Lost dapat kita rujuk ke Kitab Wahyu, kitab terakhir dalam Perjanjian Baru, sedangkan kejatuhan manusia dan dosa asal dalam puisi epik yang sama, dapat kita rujuk ke Kitab Kejadian, kitab pertama dalam Perjanjian Lama. Surga yang hilang dan pencarian yang terus-menerus dalam narasi Perjanjian Lama dilengkapi Milton dengan Paradise Regained. Pencobaan Kristus di padang gurun, adegan vital dalam Paradise Regained, langsung dapat kita rujuk ke kisah yang sama dalam ketiga Injil Sinoptik Perjanjian Baru.

Benar bahwa ada sedikit cuplikan kalimat dari Alkitab dan sejumlah asosiasi dan metafora yang makna referensialnya membawa kita ke sana, tetapi bangunan utama buku puisi Di Kota Tuhan adalah narasi personal tentang cinta antarpersona dan kisah tentang kota Probolinggo. (Kita bahkan bisa menemukan narasi sejarah tentang kota digunakan sebagai referensi oleh Stebby dalam puisi berjudul “Biru Mengenalkan Rabu pada Kotanya” dan sejumlah referensi tempat yang dapat kita temukan di Probolinggo hari ini lengkap dengan foto-foto!)

Dua Buku Puisi tentang Kota

Selain Di Kota Tuhan, ada buku lain yang juga membicarakan kota: Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari? karya Kiki Sulistyo yang meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Karena rentang waktu terbit kedua buku tersebut tidak berbeda jauh, menarik untuk membandingkan dua karya tersebut, selain juga karena setidaknya tiga hal yang berbeda secara mencolok: strategi pengungkapan, posisionalitas penyair dan perwajahan buku.

Dari sisi strategi pengungkapan, meski sama-sama bercerita soal tempat tinggal dan kota asal, keduanya menggunakan cara berbeda. Puisi-puisi dalam Di Ampenan adalah puisi lirik, sedangkan Di Kota Tuhan bisa dibilang sebagai buku yang berisi puisi-puisi naratif, bahkan dalam bagian-bagian yang dipenggal larik demi larik (seperti puisi-puisi di bagian “Midrash II”). Hal ini bisa dilihat dari sejarah proses kreatif. Kiki adalah salah satu penyair Indonesia yang betul-betul memperhatikan detail unsur bunyi dan musikalitas dalam puisi-puisinya; aliterasi, asonansi, serta rima-rima luar yang susul-menyusul, bahkan antara dua kata berdekatan. Sementara jejak-jejakDi Kota Tuhan yang naratif bisa kita telusuri di buku sebelumnya, Biru Magenta; meski dilakukan pembaitan, kalimat-kalimatnya sering berdiri sempurna, dan bagian antar-bait serta antar-larik sering kali dihubungkan dengan kata-kata penghubung, hal-hal yang lazim kita temukan dalam prosa.

Dari sisi posisionalitas kedua penyair, atau pengungkapan pengalaman pribadi kedua penyair, kita melihat dua upaya berbeda dalam memandang kota. Stebby berada pada posisi seorang warga kota yang ingin memperkenalkan kotanya tidak hanya sebagai khazanah personalnya, tetapi juga sebagai suatu keadaan historis, lengkap dengan foto. Kota dalam Di Kota Tuhan adalah kota yang ingin didekatkan justru karena si penyair ingin para pembacanya turut melihat kota itu sebagaimana dialami si penyair, meski tentu saja pembaca selalu memiliki hak prerogatif. Kiki sebaliknya. Meski pada bagian pengantar Di Ampenan Kiki menulis, “Saya tidak ingin melihat Ampenan dengan mata kedua, seolah-olah pengalaman nostalgik saya menjadi pengalaman orang lain, seolah-olah saya yang sekarang bukan saya yang dulu dalam konteks relasi dengan Ampenan. Saya ingin menyatukan diri saya yang sekarang dengan diri saya yang dulu, dengan segala keterpecahannya. Sesuatu yang hampir tidak mungkin terjadi di luar puisi. Seperti ketidakmungkinan Ampenan yang sekarang—dengan perubahannya yang menyedihkan-menjadi Ampenan yang dulu” (hlm. 7), kita melihat adanya keberjarakan si penyair dengan kota yang dipuisikannya. Kiki mungkin menampik Ampenan sebagai bayangan idealnya terhadap masa lalu melalui paragraf pengantar semacam itu, tetapi jelas dalam hal ini Ampenan bagi Kiki jauh lebih berjarak daripada Probolinggo bagi Stebby, sehingga meski Kiki menulis sejumlah puisi yang sifatnya autobiografis, misalnya “kenangan pada bapakku”, sulit bagi pembaca untuk meletakkan itu sebagai semata hal personal yang dimiliki Kiki.

Foto-foto dalam buku puisi Di Kota Tuhan memaksa kita mengalami Probolinggo tidak hanya secara tekstual, tetapi juga secara visual, hal yang tidak kita temukan dalam buku puisi Di Ampenan. Akan tetapi, justru di situlah letak salah satu kritik saya terhadap buku Di Kota Tuhan. Imajinasi kita tentang Probolinggo agaknya memang bersandar pada referensi kota Probolinggo sebagai realitas, tapi karena itulah keberadaan foto-foto pendukung terasa berlebihan. Penataan foto, di banyak bagian, juga mengganggu tata letak puisi. Penataan foto nyaris mencuri begitu banyak tipografi puisi dan mengesankan buku ini berfungsi lebih sebagai buku foto ketimbang buku puisi. Hal ini terbilang baik secara etnografis dengan maksud memperkenalkan kampung halaman kepada orang luar, misalnya, tapi tanpa proporsi yang seimbang malah berpotensi menjemukan pembaca. Dalam versi cetak yang saya baca, pada banyak bagian, satu foto yang terpisah halaman bahkan tercetak dalam keadaan yang tidak presisif, hal yang sangat disayangkan untuk buku yang juga mengandalkan intimidasi visual semacam buku puisi berfoto. Selain itu, catatan kaki yang idealnya membantu pembaca menemukan referensi, di beberapa bagian malah menyulitkan karena rujukan catatan kaki untuk halaman depan baru dapat kita temukan di halaman sebaliknya. Atau bisa kita baca, dalam konsep Ricœur tentang makna sebagai sense dan reference[1], peletakan catatan kaki dan foto-foto justru menjauhkan makna tekstual puisi karena kita dijejali begitu banyak referensi, hal yang memperkecil munculnya makna tekstual sebagai akibat dari begitu dominannya makna referensial. Jika demikian, apa yang membedakan buku puisi dari catatan etnografi tentang kota?

Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah pembagian nomor-nomor, yang dimaksudkan sebagai semacam ayat, juga tidak proporsional. Dalam sejumlah bagian di buku ini, terutama Midrash I, ada ayat-ayat yang cuma berupa keterangan, dipisahkan satu ayat dari satuan predikatif di depannya, atau satuan di belakangnya. Idealnya, satu nomor merangkum satu kalimat (atau minimal satu satuan predikatif). Ideal ini mengandaikan Di Kota Tuhan memang ingin mencuri pembabakan-pembabakan dari Alkitab agar pengingatan dan pengutipannya lebih mudah. NovelAlkudus adalah contoh yang baik untuk strategi semacam itu. Satuan-satuan kalimat yang ditandai dalam novel tersebut adalah satuan-satuan kalimat sempurna dan tidak membingungkan seandainya dikutip secara terpisah. Ide untuk menampilkan narasi tentang kota adalah tawaran yang menarik, tetapi tanpa kecermatan perhitungan, ia bisa terjebak dalam klise, hal yang justru berusaha kita hindari ketika membaca buku puisi.

 

Judul: Di Kota Tuhan, Aku adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah
Penulis: Stebby Julionatan
Genre: Puisi
Penerbit: Indie Book Corner
Tahun terbit: Cetakan pertama, 2018
Dimensi: xiv + 74 hlm; 13,5 cm x 20 cm
ISBN: 978-602-309-333-5

 

Bacaan
Alighieri, Dante. 1994. La divina commedia. Varese: Edizioni Polaris.
Anwar, Asef Saeful. 2017. Alkudus. Yogyakarta: Basabasi.
Calvino, Italo. 2016. Le città invisibili. Milano: Mondadori.
Julionatan, Stebby & Ratna Satyavati. 2015. Biru Magenta. Probolinggo: Ruang Kosong Publishing.
Julionatan, Stebby. 2018. Di Kota Tuhan, Aku adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah. Yogyakarta: Indie Book Corner.
Mari, Michele. 2007. Cento poesie d’amore a Ladyhawke. Torino: Giulio Einaudi editore.
Maro, Publius Vergilius. 2009. Aeneis. Berlin: Walter de Gruyter.
Milton, John. 1956. Milton’s Poems. London: J.M. Dent & Sons Ltd.
Ricœur, Paul. 1976. Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning. Texas: Christian University Press.
Sulistyo, Kiki. 2007. Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari?. Yogyakarta: Basabasi.

 

 

 

 

buku, renungan, sastra, seni, spiritualitas

Di Kota Tuhan, Buku Puisi Rasa Travelling


Judul: Di Kota Tuhan

Penulis: Stebby Julionatan

Tebal: 74 halaman

Cetakan: Pertama, 2018

Penerbit: Indie Book Corner

Peresensi: Dion Yulianto*)

 

Kumpulan Puisi: Di Kota Tuhan Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah

Saya pernah menemukan sebuah novel yang ditulis menyerupai sebuah kitab suci dalam buku Alkudus garapan Asep Syaeful Anwar. Kemudian, akhirnya saya menemukan versi puisi yang ditulis menyerupai ayat-ayat dalam kitab suci dalam buku karya mas Stebby Julionatan ini. Persamaan keduanya adalah sama-sama mengangkat Tuhan sebagai sentral, walau dalam Di Kota Tuhan penulis agaknya mengambil ragam tema yang cukup lebar dengan memasukkan unsur-unsur kenangan pribadi dan memadukannya dengan peristiwa politik. Saya cenderung setuju dengan pendapat Oka Rusmini di pengantar buku ini. Di Kota Tuhan masih harus berjuang menemukan posisinya dalam belantara sastra Indonesia karena adonan puisi dan prosa di dalamnya masih bercampur lekat dan saling berlomba untuk tampil ke pentas.

Remukkan aku, Tuhan | Remukkan aku | hingga taat tanpa tapi | dan patuh tanpa nanti (hlm. 55)

Di Kota Tuhan disusun menyerupai larik-larik ayat suci dalam Alkitab. Terbagi menjadi Midrash Pertama dan Midrash Kedua, buku kumpulan puisi ini tersusun total atas sekitar 45 puisi. Bagian pertama ditulis antara tahun 2015 – 2016 sementara bagian kedua tahun 2017. Stebby mungkin hendak mengunakan konsep turunnya wahyu yang datang secara bertahap.

Continue reading “Di Kota Tuhan, Buku Puisi Rasa Travelling”

bahasa, budaya, buku, cinta tanah air, kehidupan, kemanusiaan, kesehatan, renungan, sastra, spiritualitas

PUISI DIALEKTIS DI KOTA TUHAN


Judul Buku      : Di Kota Tuhan

Penulis             : Stebby Julionatan

Cetakan           : I, September 2018

Tebal               : xiv+74 halaman

ISBN               : 978-602-309-333-5

Peresensi         : Indra Tjahyadi*)

 

Penyair bukanlah seseorang yang tidak peduli dengan lingkungan yang mengitarinya. Penyair bukanlah penyendiri yang tidak peduli dengan dunia sosial yang menjadi arena kehidupannya. Penyair adalah seseorang yang senantiasa bersetia melakukan dialektika dengan apa yang menjadi bagian dari keberadaannya. Penyair adalah ia yang lebur ke dalam dunia.

Inilah, kira-kira, yang ingin disampaikan oleh Julionatan dalam buku kumpulan puisinya Di Kota Tuhan (Indie Book Corner, 2018). Buku ini merupakan buku keempat Julionatan, sekaligus buku bergenre puisi kedua yang diterbitkannya. Namun, berbeda dengan buku puisinya yang berjudul Biru Magenta (2015), dalam buku puisinya yang berisi 43 judul puisi ini, Stebby Julionatan melakukan dialektika yang intens dengan berbagai hal yang mengitarinya. Dialektika tersebut tidak saja pada hal yang bersifat material, tetapi juga terhadap hal-hal yang bersifat non-material.

Continue reading “PUISI DIALEKTIS DI KOTA TUHAN”

bahasa, berita, buku, cinta tanah air, keseharian, lingkungan hidup, pemerintahan, psikologi, renungan, sastra, sejarah, seni, spiritualitas

PRIA YANG MENANGIS DI DEPAN PIRING MAKANNYA


Judul Buku                : Biografi Tubuh Nabi
Jenis                           : Kumpulan Puisi
Penulis                       : Royyan Julian
Penerbit                     : Basabasi
Cetakan                     : Pertama, Desember 2017
Tebal                          : 176 halaman
ISBN                          : 978-602-6651-63-1
Peresensi                   : Stebby Julionatan *)

2018. Tahun politik. Media promosi, termasuk di dalamnya adalah banner-banner dukungan terhadap calon kepala daerah mulai bertebaran. Berlomba untuk menarik perhatian, meminta dukungan, dengan berbagai janji, visi misi dan juga program kerja yang akan mereka lakukan ketika terpilih. Semuanya untuk rakyat.

104381_f.jpg

Namun, saya miris dengan apa yang terjadi. Di balik indah dan meriahnya kampanye tersebut, ada satu hal yang dikorbankan. Alam. Ya, tukang-tukang yang dipercaya untuk menempel media promosi, dengan seenaknya memaku banner-banner tersebut di pohon –dan bukan mengaitnya dengan kawat. Selain secara aturan (yang berlaku di kota saya) dilarang, tindakan memaku pohon adalah bentuk eco-terorism. Memaku pohon berdampak pada terganggunya kehidupan dan kesehatan pohon yang kita paku.

 

Continue reading “PRIA YANG MENANGIS DI DEPAN PIRING MAKANNYA”

bahasa, budaya, buku, renungan, sastra, seks, spiritualitas

SALAHKAH SEKSUALITAS DALAM KARYA ?


Judul Buku                : Tanjung Kemarau
Jenis                           : Novel
Penulis                       : Royyan Julian
Penerbit                     : Grasindo
Cetakan                     : Pertama, 2017
Tebal                          : 254 halaman
ISBN                          : 978-602-452-352-7
Peresensi                   : Stebby Julionatan *)

 

“Kau pernah bercinta dengan Gopar?”
“Tidak pernah dan tidak mau.”
“Jangan munafik. Semua perempuan ingin tidur dengannya.”
“Aku sudah punya suami.”
“Hmmm, sayang sekali. Kau terlalu alim. Apa kau pikir aku tidak punya suami?”
“Memangnya kenapa?”
“Bercinta dengannya akan membuatmu kejang-kejang.”
“Kejang-kejang bagaimana?”
“Begitu dagingnya menghujam lubangmu, kau akan langsung terbang ke langit ketujuh.”
“Jauh amat.”
“Dia akan berpesta di atas tubuhmu. Dia akan menari seperti kuda lumping. Puki rongsokmu bakal becek. Bukan, bukan becek, tapi kebanjiran. Dan kau akan menjerit keenakan. Ya Tuhan, genjotan lelaki itu membuat selangkanganku terbakar!”
“Dasar sundal!”
“Semua orang rela jadi sundal demi bisa menggigit bokongnya yang gurih dan—”
“Setop! Kau membuatku ingin meracap.” (hal. 62-63)

 

Salahkah unsur seksualitas dalam karya sastra? Pertanyaan ini terpatik saat diskusi buku Tanjung Kemarau karya Royyan Julian di TB. Togamas Probolinggo, Minggu (20/2) kemarin. Novel yang menurut penulisnya berkisah soal keresahannya pada situasi politik di tempatnya tinggal, ternyata punya banyak sisi yang dapat diperbincangkan. Salah satunya, seksualitas.

Dengan undangan yang sebagian besar murid sekolah menengah, baik SMP maupun SMA, tentu (bagi seorang pendidik) unsur sensualitas menjadi pertimbangan tersendiri. Perlu berpikir dua atau tiga kali sebelum meloloskan Tanjung Kemarau sebagai bacaan anak didiknya. Apakah Tanjung Kemarau layak dibaca –atau diajarkan, bagi siswa yang usianya masih di bawah 18 tahun?

Continue reading “SALAHKAH SEKSUALITAS DALAM KARYA ?”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, kehidupan, kemanusiaan, keseharian, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, spiritualitas

MEMBACA BIRU MAGENTA, MEMBACA BENTENG BADAI LEMBUT PERTUKARAN RASA


Membaca buku puisi Biru Magenta adalah membaca amuk perasaan namun lembut. Lembut tapi ada api dan amuk. Apalagi dihasilkan oleh dua sisi penyair yaitu Stebby Julionatan dalam Birunya dan Ratna Satyavati dengan Magentanya. Dua pilihan warna ini awalnya sederhana dan mudah diingat oleh kita yang punya kesepakatan tentang makna warna. Simbol warna itu mengingatkan saya bila berada di toko perlengkapan bayi, biasanya kita akan diberi pilihan warna biru untuk bayi laki-laki dan merah muda untuk bayi perempuan. Meski tak persis betul dengan Biru Magenta, karena merah muda bukan magenta.

Biru tentu mengingatkan kita pada langit dan lautan, meski ada langit tak biru, meski ada laut tak biru. Sedang magenta adalah seesuatu yang sepi sendiri, karena itu warna pertumpahan darah di bumi. Tapi sesekali ada langit atau laut berwajah magenta. Dan pertemuan biru dan magenta yang menjadi langit magenta, atau pertemuan yang dihasilkan laut magenta, maka begitulah saya membaca puisi Biru Magenta ini. Moment pertemuan Biru dan Magenta adalah pertemuan yang jarang. Seperti gerhana, munculnya pelangi, adalah peristiwa alam yang khusus. Maka kita pun akan merayakannya, seperti juga puisi Biru Magenta ini.

Continue reading “MEMBACA BIRU MAGENTA, MEMBACA BENTENG BADAI LEMBUT PERTUKARAN RASA”