bahasa, berita, buku, cinta tanah air, keseharian, lingkungan hidup, pemerintahan, psikologi, renungan, sastra, sejarah, seni, spiritualitas

PRIA YANG MENANGIS DI DEPAN PIRING MAKANNYA


Judul Buku                : Biografi Tubuh Nabi
Jenis                           : Kumpulan Puisi
Penulis                       : Royyan Julian
Penerbit                     : Basabasi
Cetakan                     : Pertama, Desember 2017
Tebal                          : 176 halaman
ISBN                          : 978-602-6651-63-1
Peresensi                   : Stebby Julionatan *)

2018. Tahun politik. Media promosi, termasuk di dalamnya adalah banner-banner dukungan terhadap calon kepala daerah mulai bertebaran. Berlomba untuk menarik perhatian, meminta dukungan, dengan berbagai janji, visi misi dan juga program kerja yang akan mereka lakukan ketika terpilih. Semuanya untuk rakyat.

104381_f.jpg

Namun, saya miris dengan apa yang terjadi. Di balik indah dan meriahnya kampanye tersebut, ada satu hal yang dikorbankan. Alam. Ya, tukang-tukang yang dipercaya untuk menempel media promosi, dengan seenaknya memaku banner-banner tersebut di pohon –dan bukan mengaitnya dengan kawat. Selain secara aturan (yang berlaku di kota saya) dilarang, tindakan memaku pohon adalah bentuk eco-terorism. Memaku pohon berdampak pada terganggunya kehidupan dan kesehatan pohon yang kita paku.

 

Hinga saya lantas bersepakat dengan Lapendos. Nama alias salah satu pendengar saya, yang selama ini saya pandang sebelah mata karena kadang SMS-nya tampak seperti “kurang waras”. dia menulis: “Jangan dukung calon walikota pemaku pohon. Banner-banner dipasang di pohon. Mohon Satpol PP tertibkan.”

Ya, seperti Lapendos, secara terang-terangan saya nyatakan bahwa saya tidak akan memilih politisi dan calon pemimpin yang demikian. Kecil memang, tapi hal tersebut dapat menunjukkan bagaimana tabiat dan kualitasnya dalam memimpin. Dapatkah kita sebut pemimpin (baca: kepala daerah) orang yang demikian? Kalau dia tidak peduli kepada lingkungan, bagaimana dengan yang lain? Bukankah tugas seorang “anak manusia” untuk menjadi rahmat bagi sesama dan lingkungannya?

Lalu saya teringat kejadian yang belum lama ini terjadi. Para nelayan yang mendemo Menteri Kelautan, Susi Pujiastuti karena mereka dilarang menangkap ikan menggunakan cantrang. Larangan itu memporak-porandakan kestabilan ekonomi mereka. Termasuk di daerah saya, Probolinggo, demonstrasi tersebut berlangsung. Bahkan ada yang menulis (dalam papan demo yang mereka bawa): “NKRI sudah 73 tahun merdeka, haruskah nelayan menderita demi ambisi seorang Susi?” Hmmm…. Menderita gundulmu? Rakyat yang mana yang kau wakili?

Hal tersebut membuat saya geram. Semua (baca: birokrat) pasti paham bahwa penggunaan alat tangkap cantrang merusak ekosistem laut. Namun apakah yang bisa dilakukan oleh mereka yang paham? Termasuk, mereka yang masuk di tataran “anggota dewan”? Diam. Menjelang tahun politik, demi banyaknya dukungan mereka menegasikan pengetahuan. Demi banyaknya surat suara yang berhasil mereka raup, mereka tutup mata terhadap kebenaran. Hal yang saya sepakati dari puisi Royyan, berikut:

Jikalau jalamu, Tuan, menelan segala bayi kami, mungkin Tuan tak pernah menghitung betapa kelak tuan akan alpa mencicipi lezat daging kami. Biarlah anak-anak kami tumbuh bagai sosok tangguh menghadapi kuali Tuan yang diselimuti bara api.

Jikalau kejahatanmu, Tuan, mencemari huma kami, mungkin Tuan abai betapa laut adalah ladang. Biru kami ibu yang tak pernah selesai membesarkan putra-putri Tuan. Maka berkacalah pada asin peluh kami supaya Tuan merasakan cinta yang kekal.

Jikalau gairahmu, Tuan, menawan kakek-nenek kami, mungkin Tuan telah lupa garis nasab Tuan yang bermoyang pada seekor ikan yang memberkati perahu-perahu Tuan dengan pusar dan ekornya dalam kekudusan samudera.

-Kesaktian Ikan-ikan

Ya, meski sejatinya ia tujukan kepada para nelayan di desanya, di daerah Branta Pesisir, namun saya rasakan itu ditujukan bagi saya (baca: mewakili kegelisahan saya), bagi orang-orang di daerah saya yang berdemo kepada Susi. Ya, sebab sejatinya, seperti itulah tugas sebuah puisi, agar menyentuh hati siapa saja, pembacanya, sehingga percaya bahwa pesan itu ditujukan kepadanya.

Hal lain, malam sebelumnya saya menulis resensi ini, saya menonton film serupa. The Shape of Water. Film fiksi besutan sutradara Guillermo del Toro tersebut bercerita soal perempuan bisu yang “jatuh cinta”, dalam artian sebenarnya sebagaimana lekaki dan perempuan, pada makhluk air yang ditemukannya tak berdaya di laboratorium ruang angkasa tempatnya bekerja. Ia ingin menyelamatkannya. Di film tersebut ada sebuah kalimat yang kembali menggugah dan menyentuh kesadaran saya:

“Seandainya kamu makan di rumah makan Kina, kau akan menangis karena menganggap kepiting itu kesepian dan tidak bisa menyelamatkan mereka.”

Ya, sejak awal, dalam pengantarnya pun disampaikan kalau buku ini adalah cerminan kepedulian seorang Royan Julian pada (kerusakan) alam yang ada di sekitarnya. Yang dikatakannya sebagai “ikhtiar mendirikan monumen kematian ekologi” (hal. 5).

Pria yang mengaku tak makan ayam –yang disembelih sendiri, tak tega melihat sapi kerapan –yang nasibnya harus dibalsam dan ditusuk paku saat bertanding, dan tak berdaya menjadi aktifis ini (entah tersebab apa) justru bagi saya nampak luar biasa. Melebihi aktivis itu sendiri. Sebab ia justru mengekalkan masalah-masalah ekologis yang kita hadapi saat ini dalam karyanya sehingga bisa dipelajari oleh generasi masa depan. Dan jujur, karya seperti inilah yang malah membuat saya tersentuh ketimbang repetoar-repetoar orasi.

Beberapa topik ekologi yang dipaparkan dalam buku ini pun terbilang baru bagi saya. Sehingga, saat membacanya, saya sembari googling berita atau informasi yang dulu hanya saya nikmati sambil lalu. Misalnya, masalah penambangan di Mollo dan Rembang, siapa itu Aleta Baun, Gunarti Gunretno, ataupun skandal hutan Malabar.

Saya suka penutup puisi Filosofi Ladang Garam:

Kelak, bila belanga sup daun kelor tak lagi diasinkan tanah sendiri, ikan-ikan menjadi tawar, dan ular beludak merasuki pintu rumah, lalu dengan apakah kita mengajarkan anak cucu? Bukankah kalam itu hanya tertoreh di ari laut yang dikeringkan?  (hal. 78)

atau pada,

barangkali inilah hari akhir
pertemuanku denganmu
bagai bulu lembut, paruh cantik,
dan cakar lentik.
kuduga matamu akan berkilat
menatap kepedihanku
sebagai anak yang terluka
sebelum napasmu meregang
dan jiwamu kembali ke pangkuan ilahi

(Sop Ayam, hal. 106)

Lihatlah, betapa menyantap sup ayam bagi seorang Royyan bisa sesedih itu. Syukur-syukur ketika kita membacanya tanpa menyantap sop ayam. Membayangkan ayam-ayam tersebut berkata: “Ini aku yang rela mati demi mengenyangkanmu. Apakah balasanmu?” Betapa hal tersebut telah membuat perut saya mual dan tidak ingin lanjut menyantapnya.

*****

            Biografi Tubuh Nabi, sejatinya buku kumpulan puisi ini berisi dua bagian. Yakni Altar Bumi (yang sudah saya diskusikan di atas) dan Altar Langit.

Pada Altar Langit, yang usianya lebih muda dari Altar Bumi, berisi pembacaan ulang Royyan Julian atas kisah-kisah dalam tradisi agama-agama Abrahamik, (yang bagi saya) khususnya Kristen. Yang membuat saya sempat berujar, “Ia lebih Kristen ketimbang saya.” Ya, saya yang selama ini mengaku Kristen tetapi pengetahuan saya mengenai alkitab dan nilai-nilai kekristenan tidak sedalam yang dinarasikan Royyan dalam puisi-puisinya. Jujur, di hadapan puisi-puisi Royyan, saya merasa malu menjadi Kristen.

Tubuh nabi berwarna biru dan berdebu;
tertatih-tatih seperti unta gurun pasir.
mandilah dalam arus waktu.

-Biografi Tubuh Nabi (hal. 167)

Ya, kembali seperti yang disampaikan Royyan dalam pengantarnya… pria yang mampu membuatmu menangis di depan piring makanmu sendiri ini, lirih berkata: “Haramkah jika saya mengombinasikan ketiganya (baca: narasi agama-agama Abrahamik)? Apakah lisensi puitika seorang penyair juga bisa diberlakukan untuk hal-hal semacam ini?”

Saya pun tak akan memaksanya. Itu kembali kepada kita, sebagai pembacanya.

 

*) penulis adalah founder Komunitas Menulis (Komunlis) Probolinggo yang buku puisinya Biru Magenta menjadi nominator (5 besar) buku puisi terbaik Anugerah Pembaca Indonesia 2016 dan kumpulan puisi terbarunya Rabu dan Biru menjadi nominator (5 besar) Siwanataraja Award 2017 dan Buku Puisi Terpilih Dewan Kesenian Jawa Timur 2017.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s