berita, budaya, buku, pendidikan, politik, renungan, sejarah

BABAK BARU MEMBACA


Oleh: Stebby Julionatan*)

 

Kurasa membaca tak hanya berarti duduk menghadapi buku-buku, tapi juga peka terhadap keadaan. Ya, bagi saya, sedikitnya ada 3 level atau tingkatan dalam membaca. Yakni, membaca tulisan (itu yang paling primitif), membaca konteks, dan membaca makna. Dan… banyak orang justru terperangkap pada yang pertama dan kedua.

Ya, riuh kasus penyitaan buku kawan-kawan Vespa Literasi oleh Polsek Kraksaan kini telah mencapai babak baru. Adanya campur tangan MUI Kabupaten Probolinggo dalam kasus ini dinilai oleh banyak pegiat literasi sebagai “kemunduran”. Bahkan Muhammad Al Fayyadl, pengamat literasi dari Kabupaten Probolinggo dalam unggahannya facebooknya menyebut bahwa baru kali ini urusan “perbukuan kiri” jadi urusan MUI. Apakah sebentar lagi buku-buku bacaan akan diberi label halal haram juga?

Ramai diberitakan sebelumnya bahwa dua mahasiswa di Kab. Probolinggo – Jawa Timur ditangkap polisi lantaran membawa buku biografi mantan Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) Dipa Nusantara Aidit. Mahasiswa tersebut diketahui bernama Muntasir Billah (24) dan Saiful Anwar (25) yang merupakan pegiat di komunitas Vespa Literasi, komunitas yang menginisiasi lapak baca gratis setiap Sabtu malam di Alun-alun Kraksaan.

Continue reading “BABAK BARU MEMBACA”

Advertisements
budaya, buku, hobby, pendidikan, sastra, sejarah

98 Kilometer *)


MINIMNYA akses kepada bacaan adalah salah satu alasan minat baca di Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara. Ingatan saya pun langsung melayang pada pernyataan Windy Ariestanty dan Irwan Bajang pada Sabtu (27/7) di Kota Malang, Jawa Timur. Kala itu Windy dan Irwan dikerumuni awak media yang ingin tahu alasan mereka menginisiatori Patjar Merah, festival literasi dan pasar buku keliling.

”Minat baca orang Indonesia rendah itu tidak terbukti dari setiap agenda yang kami kerjakan. Barangkali yang menjadi masalah itu hanya akses literasinya yang tidak merata. Toh, ketika kami buka pada hari pertama, 3.600 orang datang dan rata-rata dari mereka adalah anak muda,” tutur Windy.

Bagaimana tidak, ranking World’s Most Literate Nation yang dikeluarkan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 tersebut menempatkan posisi Indonesia hanya satu setrip di atas Botswana. Fakta itu menyadarkan sekaligus menyindir keberadaan saya sebagai salah satu penggiat literasi di Probolinggo.

Continue reading “98 Kilometer *)”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, hobby, kemanusiaan, keseharian, lingkungan hidup, motivasi, pendidikan, penghargaan, psikologi, renungan, sastra, seni

SHENOBI MIKAEL: TERJUN MENJADI PEKERJA SENI ADALAH BELAJAR TENTANG SENI BERSINERGI


Meski tanpa TOA suaranya sudah terdengar menggelegar, gayanya preman… jadi, ummm, tak ada tuh istilah “pelecehan seksual” yang dialami m(B)ak ini, belum lagi kalau sudah datang ke sebuah acara bersama asisten pribadinya, (e)L, hmmmm… Prolink pastikan libas abis tuh acara. Hahahaha.

Kalau nggak percaya, silahkan undang sendiri. 😀

Pemilik nama asli super-panjang yang lebih baik ditulis Novita Sutanto saja ini lebih dikenal sebagai Shenobi Mikael atau Nobhi. Dan… sebelum libur mudik lebaran kemarin, Prolink sempatkan untuk mencegatnya di jalan sekitar Subertaman – Jorongan, untuk menyodorinya beberapa pertanyaan yang wajib ia jawab. Hahahaha.

Dan berikut adalah jawabannya yang dicoret-coret asal begitu saja di balik kertas struk pembelanjaan Indomaret~

WhatsApp Image 2019-06-10 at 19.23.00.jpeg
KOPI: Rupanya Nobhi juga seorang penggemar kopi~

Continue reading “SHENOBI MIKAEL: TERJUN MENJADI PEKERJA SENI ADALAH BELAJAR TENTANG SENI BERSINERGI”

budaya, buku, kehidupan, lingkungan hidup, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan

EMRONI SIANTURI, ANAK PANTAI YANG MENGGILAI MAS WILLY


Nama Kalibuntu mungkin masih terdengar asing bagi sebagian besar orang Probolinggo. Tapi siapa sangka, di tempat yang boleh dibilang jauh dari hiruk kota tersebut, lahir seorang pemuda cerkas yang mewarnai sastra kota ini. Ya, Emroni Sianturi, pemuda kelahiran Kalibuntu, 6 Desember 1995 ini adalah adalah penggagas Warna Sastra – sebuah komunitas yang fokus pada gerakan literasi anak muda Probolinggo.

Sekedar info, kali pertama bertemu Emroni kalo nggak salah tuh tahun lalu… kala itu Problink hadir di sebuah acara literasi yang diadakan oleh Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) di SMK 1 Probolinggo. Ya, rasanya, setelah beberapa lama tak bersua, moment lebaran emang paling afdol buat kembali mempererat silaturahmi dan sedikit kepo mengenai makhluk yang satu ini, yang katanya “Penyair Amatiran yang Lupa Beristri”. Hahahahaha…

WhatsApp Image 2019-06-10 at 11.34.03
Emroni di lingkungan rumahnya…

Continue reading “EMRONI SIANTURI, ANAK PANTAI YANG MENGGILAI MAS WILLY”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, hobby, keseharian, motivasi, pendidikan, penghargaan, sastra

Titis Putri Pamungkas: Jangan Hakimi Diri Sendiri Atas Keberhasilan Orang Lain


Probolinggo bagi seorang Titis Putri Pamungkas adalah sorga kecil di Jawa Timur. Pesona keindahannya tidak kalah dari daerah lain, serunya. Tapi sayang, masih banyak yang belum mengenal Probolinggo. Ia merasa, mutiara terpendam itu tidak akan diketahui khalayak jika tidak ada publikasi. Nah, itulah alasan alumnus SMAN 1 Kraksaan ini untuk mengeksplorasi Probolinggo lewat tulisan.

WhatsApp Image 2019-06-10 at 11.10.05
Panorama Pantai Bentar dilihat dari Bukit Bintang~

Kepingan Masa (Kumpulan Prosa Perihal Kisah SMA) adalah karya perdananya. Lewat buku tersebut, penulis muda kelahiran Probolinggo, 29 September 2000 ini membagikan kenangannya selama menempuh sekolah lanjutan atas tersebut dalam beentuk puisi. Saat menjadi pelajar dahulu, ia merasa belajar adalah tugas utamanya; dan berkarya baginya adalah panggilan hidup. Ia menyelasarkan keduanya.

Akhir Ramadhan kemarin (3 Juni 2019), Problink bertemu dengan Titis di salah satu rumah makan ternama di Kota Probolinggo. Tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, kami mewawancarainya. Dan beritkut, adalah hasil wawancara kami~

Continue reading “Titis Putri Pamungkas: Jangan Hakimi Diri Sendiri Atas Keberhasilan Orang Lain”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, keseharian, pariwisata, penghargaan, sastra, sejarah, spiritualitas

‘Di Kota Tuhan’ Seeing Probolinggo Through Biblical Lens


Published in The Jakarta Post, Sunday, May 5, 2019. And writen by Nedi Putra AW, as Contributor

.

2019_05_05_71413_1556994535._large
Faith: Poet Stebby Julionatan combines biblical narrative and memories of his hometown, Probolinggo, in his latest poetry collection.

Stebby Julionatan shares melancholic tales about his hometown of Probolinggo, East Jawa in his latest poetry collection, titled Di Kota Tuhan, Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah (In the City of God, I am the Body that You Break Into Pieces).

“It is my mission to introduce Probolinggo to the public,” the 35-years-old poet said.

Stebby intriguingly writes his poem in biblical frameworks. The 33 poems in the book are divided into two ‘exegeses”. The first, set from September 2015 to May 2016, take the narrative from of Genesis. In the second exegesis, Psalms narrative is used to convey the events between May and September 2017.

Continue reading “‘Di Kota Tuhan’ Seeing Probolinggo Through Biblical Lens”

berita, budaya, buku, cinta tanah air, film, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra

Tiga Seniman Probolinggo Dapat Apresiasi dalam Festival Harmoni 2019


Dinilai Kontribusinya dalam Kesenian Jawa Timur

.

Stebby Julionatan, Fauzi Rahmadani, dan Robin Hendrajaya. Ketiganya merupakan pegiat kesenian asal Kota Probolinggo yang baru saja mendapatkan apresiasi dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Stebby di sastra, Fauzi di film, sementara Robi di musik tradisi.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

.

stebby julionatan - sastrawan terbaik jawa timur

Continue reading “Tiga Seniman Probolinggo Dapat Apresiasi dalam Festival Harmoni 2019”