Archive for the berita Category

ADIEN GUNARTA, TAKLUKAN DUNIA LEWAT SENI FONTASI

Posted in bahasa, berita, bisnis, budaya, buku, cinta, hobby, keseharian, motivasi, pemerintahan, penghargaan, seni with tags , , , , , on June 10, 2017 by BonX

Pemuda berikut yang begitu ingin saya kulik profilnya adalah Adien Gunarta, seorang seniman font asal Probolinggo yang namanya sudah mendunia. Serius! Ya, kalau Anda pernah menyaksikan film Despicable Me, dan mengamati ada salah satu bagian bangunan bertulis Eagle Hair Club, itu adalah font karya mahasiswa semester akhir jurusan Komunikasi, Universitas Airlangga ini.

Sedikit menelusur ke belakang, pertemuan awal kami berlangsung pada ajang pemilihan duta wisata. Dia, Adien Gunarta, tampil sebagai juara pertama, Kang Kota Probolinggo 2012. Tapi jujur, saya tidak begitu terpukau pada prestasinya di sana. Saya terpukau pada pemuda ini ketika menemui dan membaca tulisannya di Radar Bromo yang berjudul Rebelion. “Hmmmm… ternyata dia bisa menulis ya,” ungkap saya saat itu. Tulisan yang di kemudian hari saya minta, dan saya terbitkan dalam bentuk kumpulan cerpen Komunitas Menulis (Komunlis).

Dan kebanggaan itu terus berkembang sampai saat ini ketika melihat beragam kemajuannya yang pesat; ia pernah menjadi tokoh muda pilihan Jawa Pos 2014 lho, termasuk menjadi founder dari bisnis souvenir miliknya, Kacapuri.

foto Adien Gunarta

Continue reading

MARI BELAJAR MENGENAI KEBERAGAMAN

Posted in berita, cinta tanah air, kemanusiaan, pendidikan, renungan with tags , , , , , , on April 9, 2017 by BonX

(kepada Yovian Bagas dan orang-orang yang menghujatnya)

 

Mari belajar mengenai keberagaman.

Saya Stebby. Saya bukan pemakan anjing (yang biasanya disebut RW), meski bagi iman percaya yang saya anut, aniing tidak haram untuk dimakan. Saya tidak memakan anjing sebagaimana saya tidak memakan buah durian. Saya tidak suka, meski bagi banyak orang lain mengatakan bahwa durian adalah sang raja buah.

Saya Stebby dan saya menyayangkan kejadian yang menyeret nama sekolah SMAK Mater Dei, Probolinggo dan Seminarium Marianum. (lihat https://www.change.org/p/polres-probolinggo-stop-penjagalan-anjing-sebagai-makanan-di-smak-mater-dei-probolinggo)

.

.

Namun sebelum berkomentar lebih jauh dan ikut menghujat, marilah kita ketahui terlebih dahulu pokok permasalahannya.

Kejadian ini bermulah dari postingan Yovian Bagas (@yovianbagas) dalam akun instagramnya, tertanggal 6 April 2017 dengan ungkapan “Pasukan Jagal Asu”. Video ini menjadi viral ketika salah seorang netizen melaporkannya kepada Animals Hope Shelter . Dalam petisinya di change.org yang saat ini ditandatangani oleh 906 orang, mereka menulis:

“Lagi2 terjadi penyiksaan anjing.

Menurut pelapor ini terjadi di SMAK Mater Dei Probolinggo. Dilihat dari instagramnya mereka begitu bangga bisa melakukan ini. Mereka menyebut diri mereka “Pasukan Jagal Asu.”

Continue reading

657 TAHUN, DARI MANA ASALNYA?

Posted in berita, kemanusiaan, keseharian, pemerintahan, pendidikan, politik, renungan, sejarah with tags , , , , , on September 1, 2016 by BonX

Sejarah adalah milik pihak-pihak yang berkuasa. Termasuk sejarah bagaimana Hari Jadi Kota Probolinggo ditetapkan pada tanggal 4 September 1359.

Ya, tepat  4 September 2016, Kota Probolinggo berulang tahun ke-657. Namun, yang sering menjadi pertanyaan khalayak, “Bagaimana bisa kota ini usianya lebih tua dari Kabupaten (Probolinggo, red.)? Dan, apa yang menjadi dasar penetapan itu?

Salah satu sumber bacaan yang mengukuhkan tanggal tersebut sebagai hari jadi kota adalah Probolinggo City Goes To The Future (2004), buku yang dikeluarkan masa pemerintahan Wali Kota H.M. Buchori (2004-2014). Dalam buku tersebut dikisahkan bahwa pada masa pemerintahan Bupati Probolinggo ke-17, Raden Adipati Ario Nitinegoro, Pemerintah Hindia belanda membentuk “Gemeente Probolinggo” pada 1 Juli 1918. Bertepatan dengan HUT Bhayangkara. Bahkan, telah beberapa kali diperingati sebagai hari jadi kota oleh pemerintahan terdahulu.

Tapi, sekali lagi, sejarah adalah milik pihak-pihak yang berkuasa dan itu tidaklah salah. Pemerintahan HM. Buchori memandang bahwa kemerdekaan (pemekaran wilayah) harusnya bukanlah hadiah dari penjajah, maka bersama tim pencetus sejarah kota saat itu, Buchori menilik kembali sejarah Kota Probolinggo, khususnya saat pembukaan Banger oleh Prabu Hayam Wuruk.

Continue reading

PROFIL TABLOID SUARA KOTA

Posted in berita, cinta, keseharian, pemerintahan with tags , , on March 2, 2016 by BonX

(terima kasih untuk Munir, Senda, Kholidi dan temen-temen IAI Nurul Jadid yang lain. sekarang Tabloid Suara Kota sudah punya profil. yeay!!!)
.
Tabloid Suara Kota sebagai bagian dari pelayanan informasi pada mayarakat, terbit sejak 2002 –saat itu keberadaan tabloid ini masih di bawah naungan Kantor Infokom. Tabloid Suara Kota terbit sebulan sekali, dengan suguhan berita seputar kegiatan-kegiatan pemkot, meliputi agenda dinas dan instansi terkait.
.
Tabloid Suara Kota rata-rata terbit dengan 24 berita yang disuguhkan dalam 12 halaman, diperinci dalam beberapa rubrik, antara lain: Suara Utama, Suara Sosial Budaya, Suara Hukum, Pengaduan Masyarakat, Jurnalis Warga, Tekno dan Suara Pendidikan.
.
Pada tiap terbitannya, Diskominfo mencetak Tabloid Suara Kota sebanyak 500 eksemplar dan didistribusikan secara cuma-cuma sebanyak 2-3 eksemplar ke setiap instansi pemkot dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Juga ke lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah, mulai dari tingkat dasar sampai menengah atas yang ada di bawah naungan Pemerintah Kota Probolinggo.
.
Di 2013, semenjak tanggung jawabnya beralih dari Bagian Humas dan Protokol ke Diskominfo, Tabloid Suara Kota mengurus legalitasnya. Ber-ISSN 23548886, pendanaan tabloid ini berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Kota Probolinggo. Sehingga, jika terlupa atau tidak dianggarkan dalam APBD di tahun tersebut, maka tabloid ini tidak dapat terbit.
.
Di samping memberikan informasi pemerintahan, Tabloid Suara Kota juga memberikan kebebasan kepada warga masyarakat, khususnya pelajar, yang ingin menyampaikan kritik dan saran kepada pemerintah dalam bentuk opini, artikel dan tulisan jurnalis warga. Tentunya, dimaksudkan agar pelayanan yang diberikan pemerintah kepada warganya dapat berjalan semakin baik.

Kisah Cinta Melalui Dialog Puisi

Posted in bahasa, berita, budaya, buku, cinta, kemanusiaan, keseharian, motivasi, penghargaan, renungan, sastra with tags , , , , , , , on November 25, 2015 by BonX

oleh: Hermawan Aksan *)

Buku yang ditulis dua orang (atau lebih) bukan hal aneh. Antologi sejumlah pengarang sudah biasa. Satu novel yang ditulis lebih dari satu orang juga banyak kita temui. Tapi buku Biru Magenta ini unik, setidaknya jarang ditemui: kolaborasi dua penulis yang berdialog panjang melalui puisi.

Biru adalah sosok lelaki, sedangkan Magenta perempuan. Kenapa Biru? “Karena Biru adalah langit yang selalu melingkupimu. Langit yang tak pernah lelah atau mengeluh meski terkadang kau menjauh. Pergi. Tak jenak pada ranah mana kau berdiri.” Dan kenapa Magenta? “Sebab akulah Merah yang mengandungmu. Magenta adalah cinta. Magenta adalah luka. Magenta adalah wujud aku dan juga kamu. Sebua kompleksitas penyatuan yang menjelma dalam keluguannya yang muda. Magenta, sinar yang menyala pada kelam biru malam. Magenta, membuat segalanya berbaur dan tertukar.”

Continue reading

MEMBACA BIRU MAGENTA, MEMBACA BENTENG BADAI LEMBUT PERTUKARAN RASA

Posted in bahasa, berita, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, kehidupan, kemanusiaan, keseharian, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, spiritualitas with tags , , , , , , , , , on November 18, 2015 by BonX

Membaca buku puisi Biru Magenta adalah membaca amuk perasaan namun lembut. Lembut tapi ada api dan amuk. Apalagi dihasilkan oleh dua sisi penyair yaitu Stebby Julionatan dalam Birunya dan Ratna Satyavati dengan Magentanya. Dua pilihan warna ini awalnya sederhana dan mudah diingat oleh kita yang punya kesepakatan tentang makna warna. Simbol warna itu mengingatkan saya bila berada di toko perlengkapan bayi, biasanya kita akan diberi pilihan warna biru untuk bayi laki-laki dan merah muda untuk bayi perempuan. Meski tak persis betul dengan Biru Magenta, karena merah muda bukan magenta.

Biru tentu mengingatkan kita pada langit dan lautan, meski ada langit tak biru, meski ada laut tak biru. Sedang magenta adalah seesuatu yang sepi sendiri, karena itu warna pertumpahan darah di bumi. Tapi sesekali ada langit atau laut berwajah magenta. Dan pertemuan biru dan magenta yang menjadi langit magenta, atau pertemuan yang dihasilkan laut magenta, maka begitulah saya membaca puisi Biru Magenta ini. Moment pertemuan Biru dan Magenta adalah pertemuan yang jarang. Seperti gerhana, munculnya pelangi, adalah peristiwa alam yang khusus. Maka kita pun akan merayakannya, seperti juga puisi Biru Magenta ini.

Continue reading

Malam 3 Jarak: Antara Probolinggo, Solo, dan Jogjakarta

Posted in bahasa, berita, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, kehidupan, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, seni with tags , , , on November 15, 2015 by BonX

Pembicara menyampaikan materinya dalam acara “Malam 3 Jarak” di ruang utama Balai Soedjatmoko, Sabtu (14/11). (Foto: Dian)

lpmkentingan.com-Ruang utama Balai Soedjatmoko dipadati puluhan pengunjung dari berbagai kalangan, Sabtu (14/11). Acara bertajuk “Malam 3 Jarak” yang dimulai pada pukul 19.00 WIB itu merupakan perayaan tiga buku dari para penulis yang kesemuanya berbeda kota. Dalam acara itu nampak pula beberapa penulis seperti Han Gagas, Edi Akhiles, Sanie B. Kuncoro, Indah Darmastuti, Yudhi Herwibowo, Ngadiyo, dan lain-lain.

Tiga buku yang dirayakan dalam “Malam 3 Jarak” ialah Biru Magenta, kumpulan puisi karya Ratna Satyavati dan Stebby Julionatan asal Probolinggo; Sundari Keranjingan Puisi, kumpulan cerpen karya penulis asal Solo Gunawan Tri Admodjo; dan Suluk Senja, kumpulan puisi karya Dimas Indiana Senja dari Jogjakarta. Tiga buku tersebut tidak memiliki keterkaitan tema. Setiap buku berdiri dengan tema masing-masing. Hadir sebagai pembicara ialah Puitri Haiti Ningsih, Kalis Mardiasih, dan Serunie Unie. Setiap pembicara bertanggungjawab mengulas satu buku.

Biru Magenta merupakan representasi dari Puisi Magenta karya Ratna dan Puisi Biru karya Stebby Julionatan. Di mana magenta merupakan warna yang dianggap simbol keperempuanan, sedangkan biru ialah simbol kelelakian. Sundari Keranjingan Puisi diakui penulisnya merupakan cerita-cerita yang ditulis sebab Gunawan ingin membaca cerita tersebut. Ia menulis apa yang ingin ia baca, begitu tuturnya. Sedangkan Suluk Senja lebih condong kepada pemaknaan sang penulis terhadap cinta kepada Tuhannya.

Sekitar tiga jam acara berlangsung, Karisma Fahmi selaku moderator cukup disibukkan dengan banyaknya umpan balik dari pengunjung. “Malam ini ramai dibanding biasanya (acara-acara sastra di Balai Soedjatmoko, red), aku bawa tujuhpuluh buletin habis. Penulis-penulis biasanya tak kasih tiga, lima. Ini habis. Padahal biasanya masih setumpuk yang tak bawa pulang,”ujar redaktur buletin sastra Pawon, Yudhi Herwibowo seusai acara. (Nada, Ifa)

 

tulisan ini diambil dari: http://lpmkentingan.com/kilas/malam-3-jarak-antara-probolinggo-solo-dan-jogjakarta.html