psikologi, renungan, sastra

Rumah Ilalang, Novel Stebby tentang Mayat Waria yang Ditolak ‘Agama’


Rumah Ilalang, Novel Stebby tentang Mayat Waria yang Ditolak ‘Agama’
Stebby Julionatan dengan novel terbarunya, Rumah Ilalang (foto: Istimewa)

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Mungkin mudah untuk membayangkan rumah yang dibangun dari batu. Tapi bagaimana jika dari ilalang? Ilalang yang lintuh lagi lunglai itu, tentu tak bisa jadi bahan dasar membangun rumah. Itulah yang digambarkan Stebby Julionatan dalam novel terbarunya Rumah Ilalang.

Novel itu berkisah soal waria bernama Tabita yang mengalami penolakan di mana pun. Tak seorang pun mau menerimanya.

Bahkan lembaga agama yang dinilai perwujudan kasih dan suci. Kematian Tabita menguak segalanya, tentang siapa keluarganya, mengapa ia menjadi waria, pergulatan antar waria, bahkan siapakah yang ia cintai dan apakah cintanya berbalas.

Prof. Djoko Saryono, Guru Besar Universitas Negeri Malang, dalam status facebooknya pun mengatakan bahwa Rumah Ilalang adalah karya yang berani menggunakan bahasa jujur dan tidak memakai pupur bahasa yang hanya menyamarkan fenomena.

Ia tak terjerumus dalam kubangan “munafik-isme” yang penuh basa-basi sehingga kesulitan mencapai dasar persoalan.

Dikisahkan Stebby, naskah ini adalah salah satu dari 12 naskah pemenang lomba novelet yang diadakan oleh Penerbit Basabasi.

“Tema utama tulisan-tulisan saya masih seputar kasih. Kasih atau cinta itu tak melulu soal hubungan pria dan wanita saja, bukan?” ujar tokoh literasi Probolinggo yang saat ini sedang membuat gerakan budaya lewat problink.org ini.

Di buku ini, lanjut Stebby, saya juga ingin berbicara bahwa penolakan sosial masyarakat. Selagi kita hidup, mungkin penolakan sosial itu tidak terasa berat sebab masih kita perjuangkan. Nah, bagaimana kika kita ditolak ketika kita sudah mampus?

Di tangan penulis yang juga berprofesi sebagai penyiar radio ini, Probolinggo tak henti-hentinya menjadi bahan dasar yang diramunya.

“Saya memang ingin mememperkenalkan tanah kelahiran saya, Probolinggo,” ujar penulis yang tahun ini mendapatkan penghargaan sastrawan terbaik dari Gubernur Jawa Timur.

Meski tak menyebut Probolinggo secara gamblang, kalau kita cermati, dalam novel keduanya ini, secara pseudo Stebby bercerita mengenai kehidupan waria yang biasanya mangkal di Pasar Mangunharjo (Mbabian).

Buku Stebby Julionatan lainnya, yakni: LAN (novel), Barang yang Sudah Dibeli Tidak Ditukar Kembali (kumpulan cerpen), Biru Magenta (puisi), Di Kota Tuhan Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-pecah (puisi) dan Rumah Ilalang (novela). Biru Magenta masuk daftar pendek Anugerah Pembaca Indonesia 2015. (*)

Advertisements
psikologi, renungan, sastra

Pseudo Probolinggo Di Karya Terbaru Stebby


IMG-20190924-WA0024-820x500

PROBOLINGGO | PORTAL BROMO – Di tangan Stebby Julionatan, Probolinggo tak henti-hentinya menjadi bahan dasar yang siap diramu. Termasuk di dalam novel keduanya ini, Rumah Ilalang. Meski tak menyebut Probolinggo secara gamblang, kalau kita cermati, buku ini secara pseudo bercerita mengenai kehidupan waria yang biasanya mangkal di Pasar Mangunharjo (Mbabian).

Dikisahkan Stebby bahwa naskah ini adalah salah satu dari 12 naskah pemenang lomba novelet yang diadakan oleh Penerbit Basabasi. “Tema utama tulisan-tulisan saya masih seputar kasih. Kasih atau cinta itu tak melulu soal hubungan pria dan wanita saja, bukan? Di buku ini saya juga ingin berbicara bahwa penolakan sosial kita. Selagi kita hidup, mungkin penolakan sosial itu tidak terasa berat sebab masih kita perjuangkan. Nah, bagaimana kika kita ditolak ketika kita sudah mampus?” ujar tokoh literasi Probolinggo yang saat ini sedang membuat gerakan budaya bernama Problink ini.

Rumah Ilalang berkisah soal waria bernama Tabita. Waria yang di hari kematiannya, tak seorang pun mau menerimanya. Bahkan lembaga agama yang sering dinilai suci dan merupakan perwujudan kasih Tuhan pun menolaknya. Kematian Tabita menguak segalanya. Tentang siapa keluarganya, kenapa dia menjadi waria, apa yang diinginkannya, termasuk siapakah yang ia cintai dan apakah cintanya berbalas.

Sejauh ini, secara solo, Stebby telah menerbitkan 5 judul buku. Yakni: LAN (novel), Barang yang Sudah Dibeli Tidak Ditukar Kembali (kumpulan cerpen), Biru Magenta (puisi), Di Kota Tuhan Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-pecah (puisi) dan Rumah Ilalang (novela). Di 2015, Biru Magenta masuk daftar pendek Anugerah Pembaca Indonesia. Dan, di awal tahun ini, bersama 19 sastrawan lainnya, Stebby menerima penghargaan sebagai sastrawan terbaik Jawa Timur dari Gubernur, Khofifah Indar Parawansa.

Prof. Djoko Saryono, Guru Besar Universitas Negeri Malang, dalam status facebooknya pun mengatakan bahwa karya Stebby (Rumah Ilalang, red) adalah karya yang berani menggunakan bahasa jujur dan tidak memakai pupur bahasa yang hanya menyamarkan fenomena. Ia tak terjerumus dalam kubangan “munafik-isme” yang penuh basa-basi sehingga kesulitan mencapai dasar persoalan. (tim)

berita, budaya, buku, pendidikan, politik, renungan, sejarah

BABAK BARU MEMBACA


Oleh: Stebby Julionatan*)

 

Kurasa membaca tak hanya berarti duduk menghadapi buku-buku, tapi juga peka terhadap keadaan. Ya, bagi saya, sedikitnya ada 3 level atau tingkatan dalam membaca. Yakni, membaca tulisan (itu yang paling primitif), membaca konteks, dan membaca makna. Dan… banyak orang justru terperangkap pada yang pertama dan kedua.

Ya, riuh kasus penyitaan buku kawan-kawan Vespa Literasi oleh Polsek Kraksaan kini telah mencapai babak baru. Adanya campur tangan MUI Kabupaten Probolinggo dalam kasus ini dinilai oleh banyak pegiat literasi sebagai “kemunduran”. Bahkan Muhammad Al Fayyadl, pengamat literasi dari Kabupaten Probolinggo dalam unggahannya facebooknya menyebut bahwa baru kali ini urusan “perbukuan kiri” jadi urusan MUI. Apakah sebentar lagi buku-buku bacaan akan diberi label halal haram juga?

Ramai diberitakan sebelumnya bahwa dua mahasiswa di Kab. Probolinggo – Jawa Timur ditangkap polisi lantaran membawa buku biografi mantan Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) Dipa Nusantara Aidit. Mahasiswa tersebut diketahui bernama Muntasir Billah (24) dan Saiful Anwar (25) yang merupakan pegiat di komunitas Vespa Literasi, komunitas yang menginisiasi lapak baca gratis setiap Sabtu malam di Alun-alun Kraksaan.

Continue reading “BABAK BARU MEMBACA”

budaya, cinta, hobby, motivasi, penghargaan, sastra

OMAH PADMA DAN ORANG-ORANG YANG KEMBALI KE DESA


Oleh: Stebby Julionatan*)

 

Kata “desa” meski identik dengan tempat yang nyaman dan asri untuk ditinggali, tapi selalu disejajarkan dengan kata “tertinggal’. Dengan sesuatu yang usang, tidak modern, miskin dan bodoh. Rasa-rasanya, kalau Anda tinggal di desa, Anda tidak berhak untuk mengakses kemajuan, baik secara ekonomi, teknologi maupun pendidikan.

Tentunya hal tersebut tidak berlaku di Omah Padma. Ya, omah (baca: rumah) kreatif yang didirikan pasangan sastrawan Wina Bojonegoro dan seniman lukis Yoes Wibowo di Desa Capang, Kab. Pasuruan ini seakan menjawab kegelisahan makhluk-makhluk intelektual macam saya yang senantiasa haus akan ilmu, tetapi tetap ingin tinggal di lingkungan yang nyaman lagi asri.

Meski tinggal di desa, Wina dan Yoes menjamin penghuninya tidak akan ketinggalan zaman.Ya, sebagai makhluk yang berpikir, atau homo sapiens, apa sih yang rasa-rasanya tidak bisa kita temukan di Omah Padma? Sinyal HP, jaringan internet yang lancar, dan catu daya listrik. Ya, bukankah itu kebutuhan dasar yang diperlukan oleh manusia milenial macam saya? Tapi tak berhenti di sana. Kehausan saya akan pelatihan pengembangan diri dan diskusi-diskusi cerdas pun difasilitasinya.

Continue reading “OMAH PADMA DAN ORANG-ORANG YANG KEMBALI KE DESA”

cinta tanah air, keseharian, renungan, Un-CUTegoRizeT

Merdeka Untuk Apa Saja….


Apakah yang paling menarik dari sebuah Perayaan Kemerdekaan? Bilangan 1 yang kemudian diikuti dengan angka 7? Diskon yang menjamur? Naskah-naskah Pidato yang normatif? Lomba di pelataran rumah? Atau mungkin penggunaan kata “Merdeka” kita yang sebenarnya harus dimaknai kembali?

Pada Minggu (18/8) malam lalu, Simposium secara perdana menyelenggarakan dan menggelar “Opini Mini” edisi ketiga dalam bentuk Mimbar Bebas yang bertempat di Simposium Coffee & Literasi. Opini Mini #3 memuat Topik mengenai “Merdeka Untuk?”, dimana setiap orang yang hadir bisa memberikan opini nya secara terbuka mengenai hal tersebut, yang harapannya berguna untuk saling mengisi mengenai definisi-definisi setiap orang tentang arti Merdeka dan Merdeka Untuk, selain itu Simposium berharap melalui Mimbar Bebas “Opini Mini #3”, masyarakat Probolinggo mempunyai wadah untuk Speak Up tanpa membutuhkan serentetan label-label.

Mimbar Bebas “Opini Mini #3” dibuka oleh moderator kami (Ibrahim & Reza) dengan perkenalan mengenai apa itu “Opini Mini”, mengingat bahwasanya Opini Mini edisi ketiga adalah yang pertama kali dilakukan dalam ruang publik. Dilanjutkan dengan penjelasan mengenai topik yang diusung pada Opini Mini #3 yaitu “Merdeka Untuk?”. Lalu dilanjutkan dengan mempersilahkan para audience untuk memberikan dan melantangkan Opini nya.

Continue reading “Merdeka Untuk Apa Saja….”

budaya, buku, hobby, pendidikan, sastra, sejarah

98 Kilometer *)


MINIMNYA akses kepada bacaan adalah salah satu alasan minat baca di Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara. Ingatan saya pun langsung melayang pada pernyataan Windy Ariestanty dan Irwan Bajang pada Sabtu (27/7) di Kota Malang, Jawa Timur. Kala itu Windy dan Irwan dikerumuni awak media yang ingin tahu alasan mereka menginisiatori Patjar Merah, festival literasi dan pasar buku keliling.

”Minat baca orang Indonesia rendah itu tidak terbukti dari setiap agenda yang kami kerjakan. Barangkali yang menjadi masalah itu hanya akses literasinya yang tidak merata. Toh, ketika kami buka pada hari pertama, 3.600 orang datang dan rata-rata dari mereka adalah anak muda,” tutur Windy.

Bagaimana tidak, ranking World’s Most Literate Nation yang dikeluarkan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 tersebut menempatkan posisi Indonesia hanya satu setrip di atas Botswana. Fakta itu menyadarkan sekaligus menyindir keberadaan saya sebagai salah satu penggiat literasi di Probolinggo.

Continue reading “98 Kilometer *)”

bahasa, berita, budaya, cinta, cinta tanah air, kehidupan, keseharian, kesehatan, lingkungan hidup, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, seni

WAHYUDI DAN DESA YANG TAK MEMPUNYAI MALAM


“Desa yang Tak Mempunyai Malam” demikianlah Wahyudi Bahtiar menyebut desanya. Desa yang ia maksud adalah Tigasan Wetan, yang terletak di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Ia memberi julukan demikian karena masyarakat desanya, yang di siang hari umumnya bekerja di ladang atau buruh bangunan, banyak yang memelihara ternak, sehingga kalau malam harus tetap berjaga untuk mengamankan sapi atau kambingnya dari pencurian hewan. Sungguh kasihan, bukan?

29177737_1985088528424679_8215439486678045971_n

Tapi sekarang, kata Wahyudi sih, sudah mulai aman. Warga di desanya sudah dapat menikmati istirahat di malam hari. Oleh karena itu, pemuda yang mengaku lahir saat rutuhnya pemerintahan Orde Baru namun tidak merasakan dampak kerusuhan 1998 ini mengaku ingin menceritakan segala keunikan dan kelebihan desanya, dan Probolinggo.

Ia tak ingin orang lain mengenal desanya sebagai daerah yang ramah terhadap pencurian ternak, begal, atau bahkan carok. “Probolinggo masih mempunyai banyak kelebihan, semua harus tahu itu,” katanya.

Continue reading “WAHYUDI DAN DESA YANG TAK MEMPUNYAI MALAM”