bahasa, budaya, cinta, kemanusiaan, keseharian, pariwisata, penghargaan, renungan, sastra, seni, spiritualitas

KENANGAN PENYAIR DAN SEJARAH KOTA


 Wahyu Kris AW
Kepala Sekolah SMPK Pamerdi Kebonagung
Bergiat di Kampung Pentigraf Indonesia

Judul                             : Di Kota Tuhan
Penulis                         : Stebby Julionatan
Penerbit                       : Indie Book Corner (Jogjakarta)
Tahun terbit               : Cetakan pertama, 2018
Tebal                            : 130 halaman
ISBN                             : 978-602-309-333-5

Stebby Julionatan - Di Kota Tuhan Radar Malang
RESENSI: Kata Mas Wahyu, resensi ini istimewa karena mengajak dirinya menyusuri karya penyair-penyair keren lainnya, al. Yusri Fajar, Tengsoe Tjahyono, Dhofir Zuhri dan Sosiawan Leak

 

Nyai, kau pikir hubungan penyair dengan puisi/sama dengan wahyu dengan nabi?

Larik di atas adalah kutipan kumpulan sajak Orgasme yang ditulis Gus Dhofir, santri-penulis yang menggagas filsafat Mazhab Kepanjen. Hubungan penyair dengan puisi barangkali memang diikhtiarkan untuk menjadi misteri sekaligus abadi. Apalagi jika diikat dan dikaitkan dengan ruang-waktu bernama kota.

Sebagai mahkluk yang menyejarah, kehadiran penyair sebagai manusia pada ruang-waktu kota, niscaya membentuk garis ruang-waktu yang saling berpotongan. Garis potong itulah yang kerap menjelma puisi. Pendeknya, puisi menyediakan ruang-waktu bagi penyair dan kota untuk hadir serta menyejarah bersama.

Penyair Sosiawan Leak, inisiator Gerakan Puisi Menolak Korupsi, menatap kota sebagai sehimpun paradoks. Dalam sajak “Paradoks Kota”, Leak mendefinisikan kota sebagai kemacetan, rambu-rambu, dan genangan yang tak menemukan jalan pulang. Kota adalah paradoks yang menjajakan impian dan masa depan.

Kemewahan kota hanyalah bukti bahwa jurang kemiskinan makin nyata. Kota hanyalah desah seksi mesin industri. Keseharian kota tak pernah lepas dari perselingkuhan asap kimia dengan kesepian dan kerakusan barbarian. Juga got serta selokan yang bertikai dengan nyamuk dan nyanyian anak-anak.

Lebih lanjut, Leak melihat kota telah bergeser dari dari dunia nyata ke dunia maya:

Kota adalah twitter, kota adalah yahoo messenger/Bersama wikipedia dan google/Kota adalah kita/Yang gagal merangkai cerita/Di antara samudera realita/Dan lautan dunia maya.

Bentuk lain paradoks kota adalah munculnya dualitas ‘ada’ dan ‘hadir’ dalam kehidupan penyair. Penyair secara fisikal bisa ada di sebuah kota tapi kreativitasnya mengembara dan  hadir juga di kota lain. Yusri Fajar misalnya, ia kerap berada di sejumlah kota Eropa tetapi ia tidak hanya hadir di situ, melainkan juga di kota lain. Ia bisa sekaligus hadir di beberapa kota.

Dalam puisi “Suara Lirih di Marienplatz Munich”, Mas Yusri menulis:

Masih adakah jalan pintas pulang yang kau kenal?/Kau berdiri di Marienplatz menggenggam peta/mengitari Rathaus-Glockenspiel menuju bandara/meninggalkan Bavaria menuju Khatulistiwa.

Kota dengan segala hiruk pikuknya tak melulu mendedahkan kebisingan. Kota juga menyimpan kisah-kisah manusia yang tetiba menjadi terbatas. Mereka kehilangan kemerdekaan untuk menjadi manusia sejati di tanah sendiri. Salah satu jejaknya terekam dalam puisi Mas Yusri “Pengarang yang Menulis Tentang para Imigran” yang ditulisnya di Frankurt:

Tahun lalu ia mengarang novel tentang pengungsi/Karena tak percaya kata-kata masih bernyawa/Bulan lalu ia menulis cerita pendek tentang pelarian politik/Karena tak percaya janji pemimpin tanah kelahiran mereka/Minggu lalu ia mencipta drama tentang diaspora/Karena tak percaya senandung lagu benua baru/Kemarin ia menyusun puisi tentang diplomat/Karena tak percaya rumah sendiri yang pengap.

Betapa menderitanya para pengungsi, pelarian politik, diaspora, dan diplomat yang hidup di kota yang bukan kota negerinya. Mungkin mewah dan meriah, tapi sesungguhnya butuh pertolongan karena mereka ‘tak percaya’ dengan kota yang tak pernah memberinya kenangan.

Lain lagi dengan penyair Tengsoe Tjahjono. Menjadi dosen tamu di Negeri Ginseng, tiap hari ia bertegur sapa dengan salju, sesuatu yang tak mungkin dijumpainya di Malang. Namun, dingin salju tak akan membekukan kenangan hangat kopi yang diseruputnya tiap pagi.

Mas Tengsoe memuisikan pengalaman ini dalam “Americano Terakhir di Seoul”:

Warna musim tertinggal/Di dalam kopi/Terendam dan hitam/Kanola, ginkgo, sakura/Mengapung di bibir/Timbul tenggelam dalam adukan.

Begitulah perpotongan ruang-waktu penyair dengan kota. Kota punya sejarah. Penyair punya kenangan. Ketika keduanya berjumpa dalam larik-larik puisi, maka lahirlah puisi yang membawa kita kepada aksioma betapa penyair selalu punya cara untuk mengekalkan kota.

Salah satu buku kumpulan puisi dengan aksioma semacam itu adalah Di Kota Tuhan karya Stebby Julionatan. Membaca kumpulan puisi ini ibarat menyusuri dua garis ruang-waktu dengan seayun kaki. Ada kemurungan sejarah kota yang mengiringi pahitnya kenangan, namun puisi selalu menemukan kata untuk menjadikannya bermakna.

Pada “Biru Tak Ingin Mencintai Hari Selain Rabu”, Stebby menulis:

Saat SMP, mereka menyebutku monyet sebab senang sekali bergelantungan.

Larik ini menyiratkan betapa Stebby terang-terangan menolak tuduhan bahwa mengenang hanya pekerjaan pensiunan. Membaca puisi-puisi Stebby berarti membuktikan bahwa mengenang adalah kemenangan atas kemuraman masa lalu. Mengenang hanya bisa dilakukan oleh pemilik ketangguhan, karena melupakan segala kepahitan butuh ketulusan hati.

Pada larik lain, Stebby menggambarkan bagaimana kenangannya beririsan dengan sejarah kota Probolinggo:

Dulu kota ini bernama Banger/anyir darah Minak Jinggo/dendamnya lahir dari kecantikan Kencana Wungu.

Meski sejarah Probolinggo bertebaran di sekujur buku, Stebby tidak serta merta memperkosa buku ini menjadi rangkaian peristiwa sejarah yang hampa. Sejarah kota dipilih dan dipilahnya sehingga hadirlah rima sejarah kota dan kenangan penyair yang selaju sealir.

Kesitimewaan lain yang menjadikan buku ini menggelitik adalah keberanian Stebby membongkar kenangan ruang keluarga. Tanpa sungkan, pergumulan keluarga yang kadang berkerikil dituangkannya secara terbuka. Larik-larik berikut adalah contohnya:

… terdengar sengit teriakan ibu/Pelet dukun mana yang kau gunakan hingga ia tak mau lagi pulang denganku?

Sebelumnya, tak sekalipun Mama bercerita/Ia menyimpan rapat semua duri mertua.

Puber kedua, hati Papa terpikat pada kerling perempuan yang setiap malam mengendap-ngendap.

Sekarang aku tak lagi peduli/Kubiarkan pemijat itu sekalian saja menyetubuhiku.

Kendati demikian, pembaca tidak akan terseret pada kesedihan berlarut-larut. Stebby pintar menyisipkan keceriaan masa kanak-kanak sebagai penawarnya. Mulai dari permainan tradisional bendan dan patil lele, sampai pada kehangatan tukang es dawet dan usilan kepada tukang becak.

Terlahir  dari Mama Nasrani Ambon dan Papa Muslim Jawa, Stebby juga menuliskan larik-larik puisi untuk mengajak kita mensyukuri hidup dalam keberagaman:

Papa membungkuk ke arah terbenamnya matahari/Mama melipat tangan setelah mendengar genta didentangkan.

Barongsai telah bebas digelar/Tri Dharma pun penuh oleh orang-orang merapal mantra.

Secara keseluruhan, keberanian Stebby menampilkan struktur dan perumpamaan puisi yang paralel dengan puisi dalam Alkitab layak diapresiasi. Kemunculan foto-foto kota Probolinggo memang mengingatkan pembaca pada Istanbul-nya Orhan Pamuk. Namun, pembaca tetap tak akan ragu-ragu menyimpul makna bahwa berpuisi adalah cara terdamai untuk berdamai dengan diri sendiri, sebagaimana sajak Gus Dhofir :

Belajarlah berdamai dengan dirimu

Maka puisi akan menulis dirinya dalam dirimu

Dan kau jumpai tuhan dalam duri-durimu.

***

 

*) resensi ini dimuat di Radar Malang, 2 Desember 2018.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s