cinta tanah air, keseharian, renungan, Un-CUTegoRizeT

Merdeka Untuk Apa Saja….


Apakah yang paling menarik dari sebuah Perayaan Kemerdekaan? Bilangan 1 yang kemudian diikuti dengan angka 7? Diskon yang menjamur? Naskah-naskah Pidato yang normatif? Lomba di pelataran rumah? Atau mungkin penggunaan kata “Merdeka” kita yang sebenarnya harus dimaknai kembali?

Pada Minggu (18/8) malam lalu, Simposium secara perdana menyelenggarakan dan menggelar “Opini Mini” edisi ketiga dalam bentuk Mimbar Bebas yang bertempat di Simposium Coffee & Literasi. Opini Mini #3 memuat Topik mengenai “Merdeka Untuk?”, dimana setiap orang yang hadir bisa memberikan opini nya secara terbuka mengenai hal tersebut, yang harapannya berguna untuk saling mengisi mengenai definisi-definisi setiap orang tentang arti Merdeka dan Merdeka Untuk, selain itu Simposium berharap melalui Mimbar Bebas “Opini Mini #3”, masyarakat Probolinggo mempunyai wadah untuk Speak Up tanpa membutuhkan serentetan label-label.

Mimbar Bebas “Opini Mini #3” dibuka oleh moderator kami (Ibrahim & Reza) dengan perkenalan mengenai apa itu “Opini Mini”, mengingat bahwasanya Opini Mini edisi ketiga adalah yang pertama kali dilakukan dalam ruang publik. Dilanjutkan dengan penjelasan mengenai topik yang diusung pada Opini Mini #3 yaitu “Merdeka Untuk?”. Lalu dilanjutkan dengan mempersilahkan para audience untuk memberikan dan melantangkan Opini nya.

Continue reading “Merdeka Untuk Apa Saja….”

bahasa, berita, budaya, cinta, cinta tanah air, kehidupan, keseharian, kesehatan, lingkungan hidup, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, seni

WAHYUDI DAN DESA YANG TAK MEMPUNYAI MALAM


“Desa yang Tak Mempunyai Malam” demikianlah Wahyudi Bahtiar menyebut desanya. Desa yang ia maksud adalah Tigasan Wetan, yang terletak di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Ia memberi julukan demikian karena masyarakat desanya, yang di siang hari umumnya bekerja di ladang atau buruh bangunan, banyak yang memelihara ternak, sehingga kalau malam harus tetap berjaga untuk mengamankan sapi atau kambingnya dari pencurian hewan. Sungguh kasihan, bukan?

29177737_1985088528424679_8215439486678045971_n

Tapi sekarang, kata Wahyudi sih, sudah mulai aman. Warga di desanya sudah dapat menikmati istirahat di malam hari. Oleh karena itu, pemuda yang mengaku lahir saat rutuhnya pemerintahan Orde Baru namun tidak merasakan dampak kerusuhan 1998 ini mengaku ingin menceritakan segala keunikan dan kelebihan desanya, dan Probolinggo.

Ia tak ingin orang lain mengenal desanya sebagai daerah yang ramah terhadap pencurian ternak, begal, atau bahkan carok. “Probolinggo masih mempunyai banyak kelebihan, semua harus tahu itu,” katanya.

Continue reading “WAHYUDI DAN DESA YANG TAK MEMPUNYAI MALAM”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, hobby, kemanusiaan, keseharian, lingkungan hidup, motivasi, pendidikan, penghargaan, psikologi, renungan, sastra, seni

SHENOBI MIKAEL: TERJUN MENJADI PEKERJA SENI ADALAH BELAJAR TENTANG SENI BERSINERGI


Meski tanpa TOA suaranya sudah terdengar menggelegar, gayanya preman… jadi, ummm, tak ada tuh istilah “pelecehan seksual” yang dialami m(B)ak ini, belum lagi kalau sudah datang ke sebuah acara bersama asisten pribadinya, (e)L, hmmmm… Prolink pastikan libas abis tuh acara. Hahahaha.

Kalau nggak percaya, silahkan undang sendiri. 😀

Pemilik nama asli super-panjang yang lebih baik ditulis Novita Sutanto saja ini lebih dikenal sebagai Shenobi Mikael atau Nobhi. Dan… sebelum libur mudik lebaran kemarin, Prolink sempatkan untuk mencegatnya di jalan sekitar Subertaman – Jorongan, untuk menyodorinya beberapa pertanyaan yang wajib ia jawab. Hahahaha.

Dan berikut adalah jawabannya yang dicoret-coret asal begitu saja di balik kertas struk pembelanjaan Indomaret~

WhatsApp Image 2019-06-10 at 19.23.00.jpeg
KOPI: Rupanya Nobhi juga seorang penggemar kopi~

Continue reading “SHENOBI MIKAEL: TERJUN MENJADI PEKERJA SENI ADALAH BELAJAR TENTANG SENI BERSINERGI”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, keseharian, pariwisata, penghargaan, sastra, sejarah, spiritualitas

‘Di Kota Tuhan’ Seeing Probolinggo Through Biblical Lens


Published in The Jakarta Post, Sunday, May 5, 2019. And writen by Nedi Putra AW, as Contributor

.

2019_05_05_71413_1556994535._large
Faith: Poet Stebby Julionatan combines biblical narrative and memories of his hometown, Probolinggo, in his latest poetry collection.

Stebby Julionatan shares melancholic tales about his hometown of Probolinggo, East Jawa in his latest poetry collection, titled Di Kota Tuhan, Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah (In the City of God, I am the Body that You Break Into Pieces).

“It is my mission to introduce Probolinggo to the public,” the 35-years-old poet said.

Stebby intriguingly writes his poem in biblical frameworks. The 33 poems in the book are divided into two ‘exegeses”. The first, set from September 2015 to May 2016, take the narrative from of Genesis. In the second exegesis, Psalms narrative is used to convey the events between May and September 2017.

Continue reading “‘Di Kota Tuhan’ Seeing Probolinggo Through Biblical Lens”

berita, budaya, buku, cinta tanah air, film, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra

Tiga Seniman Probolinggo Dapat Apresiasi dalam Festival Harmoni 2019


Dinilai Kontribusinya dalam Kesenian Jawa Timur

.

Stebby Julionatan, Fauzi Rahmadani, dan Robin Hendrajaya. Ketiganya merupakan pegiat kesenian asal Kota Probolinggo yang baru saja mendapatkan apresiasi dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Stebby di sastra, Fauzi di film, sementara Robi di musik tradisi.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

.

stebby julionatan - sastrawan terbaik jawa timur

Continue reading “Tiga Seniman Probolinggo Dapat Apresiasi dalam Festival Harmoni 2019”

bahasa, budaya, buku, cinta tanah air, kehidupan, kemanusiaan, kesehatan, renungan, sastra, spiritualitas

PUISI DIALEKTIS DI KOTA TUHAN


Judul Buku      : Di Kota Tuhan

Penulis             : Stebby Julionatan

Cetakan           : I, September 2018

Tebal               : xiv+74 halaman

ISBN               : 978-602-309-333-5

Peresensi         : Indra Tjahyadi*)

 

Penyair bukanlah seseorang yang tidak peduli dengan lingkungan yang mengitarinya. Penyair bukanlah penyendiri yang tidak peduli dengan dunia sosial yang menjadi arena kehidupannya. Penyair adalah seseorang yang senantiasa bersetia melakukan dialektika dengan apa yang menjadi bagian dari keberadaannya. Penyair adalah ia yang lebur ke dalam dunia.

Inilah, kira-kira, yang ingin disampaikan oleh Julionatan dalam buku kumpulan puisinya Di Kota Tuhan (Indie Book Corner, 2018). Buku ini merupakan buku keempat Julionatan, sekaligus buku bergenre puisi kedua yang diterbitkannya. Namun, berbeda dengan buku puisinya yang berjudul Biru Magenta (2015), dalam buku puisinya yang berisi 43 judul puisi ini, Stebby Julionatan melakukan dialektika yang intens dengan berbagai hal yang mengitarinya. Dialektika tersebut tidak saja pada hal yang bersifat material, tetapi juga terhadap hal-hal yang bersifat non-material.

Continue reading “PUISI DIALEKTIS DI KOTA TUHAN”

bahasa, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, pariwisata, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, sejarah, seni

Jalan-jalan Bersama Stebby di Kota Tuhan


Judul               : Di Kota Tuhan : Aku adalah Daging yang Kau Pecah-pecah
Penulis           : Stebby Julionatan
ISBN                : 978-602-3093-33-5
Halaman         : 74 Halaman
Penerbit         : Indie Book Corner Yogyakarta
Tahun terbit  : 2018
Peresensi        : Rosalia Desi*)

stebby - di kota tuhan radar bromo

 

Sebuah karya sastra seperti fiksi, puisi maupun drama akan memberikan koneksi untuk mempertanyakan dan memperhatikan detail bagi para pembacanya. Membaca jenis ini dapat memberikan pengalaman dan gambaran untuk mengunjungi suatu tempat, kejadian, waktu, dan budaya yang mungkin tidak sempat dijejaki langsung. Selain itu, pembaca dipaksa untuk menganalisa apa maksud dari penulis melalui tulisannya. Itulah sebabnya, kadang beberapa bacaan dinikmati bukan hanya untuk menghabiskan waktu luang ataupun sebagai pelipur lara. Beberapa bacaan membuat pembaca harus meluangkan waktu bahkan emosi untuk membaca dan menghabiskannya. Oleh karena itu, dengan beberapa perhatian detail yang disajikan dalam sebuah bacaan, kita sebagai pembaca bukan tidak mungkin akan menemukan hasrat penulis.

Continue reading “Jalan-jalan Bersama Stebby di Kota Tuhan”

bahasa, berita, buku, cinta tanah air, keseharian, lingkungan hidup, pemerintahan, psikologi, renungan, sastra, sejarah, seni, spiritualitas

PRIA YANG MENANGIS DI DEPAN PIRING MAKANNYA


Judul Buku                : Biografi Tubuh Nabi
Jenis                           : Kumpulan Puisi
Penulis                       : Royyan Julian
Penerbit                     : Basabasi
Cetakan                     : Pertama, Desember 2017
Tebal                          : 176 halaman
ISBN                          : 978-602-6651-63-1
Peresensi                   : Stebby Julionatan *)

2018. Tahun politik. Media promosi, termasuk di dalamnya adalah banner-banner dukungan terhadap calon kepala daerah mulai bertebaran. Berlomba untuk menarik perhatian, meminta dukungan, dengan berbagai janji, visi misi dan juga program kerja yang akan mereka lakukan ketika terpilih. Semuanya untuk rakyat.

104381_f.jpg

Namun, saya miris dengan apa yang terjadi. Di balik indah dan meriahnya kampanye tersebut, ada satu hal yang dikorbankan. Alam. Ya, tukang-tukang yang dipercaya untuk menempel media promosi, dengan seenaknya memaku banner-banner tersebut di pohon –dan bukan mengaitnya dengan kawat. Selain secara aturan (yang berlaku di kota saya) dilarang, tindakan memaku pohon adalah bentuk eco-terorism. Memaku pohon berdampak pada terganggunya kehidupan dan kesehatan pohon yang kita paku.

 

Continue reading “PRIA YANG MENANGIS DI DEPAN PIRING MAKANNYA”

berita, budaya, cinta tanah air, hobby, kemanusiaan, keseharian, lingkungan hidup, motivasi, pariwisata, pemerintahan, pendidikan, penghargaan, renungan, sejarah

Kevin Jonathan: Hidup Untuk Melayani Sesama


Kecintaan (baca: hobi) manusia bermacam-macam. Dan (manusia) terbaik adalah mereka yang bisa memanfaatkan kecintaannya bagi kemaslahatan umat.

Kevin Jonathan (17), di usianya yang terhitung masih belia, telah menjadi Ketua Umum Komunitas Railfans DAOP 9 (KRD9) –sebuah komunitas bagi para penggila kereta api di wilayah Pasuruan hingga Banyuwangi. Ia mengaku, kecintaanya pada kereta api telah turut mendewasakan pribadinya. Berbagai pengalaman ia dapatkan, mulai dari menumbuhkan sikap kepemimpinan, tenggang rasa dan rasa kekeluargaan di dalam komunitas, hingga kepeduliannya pada sesamanya, pada lingkungan sekitar, dan melatih kemapuannya dalam berkomunikasi.

4b64c8ca-c9bc-4c73-90e3-b37acb121bbf

Di postingan kali ini, saya mengangkat profilnya. Profil anak muda yang karena kegilaannya pada kereta api, mengantarnya sebagai satu-satunya anak muda asal Probolinggo yang diundang oleh Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro, untuk buka puasa bersama, Juni 2017 lalu. Tak hanya itu, ia pun sempat bertemu Ignasius Jonan, kala Jonan masih menjabat sebagai Menteri Perhubungan RI.

Continue reading “Kevin Jonathan: Hidup Untuk Melayani Sesama”

berita, cinta tanah air, kemanusiaan, pendidikan, renungan

MARI BELAJAR MENGENAI KEBERAGAMAN


(kepada Yovian Bagas dan orang-orang yang menghujatnya)

 

Mari belajar mengenai keberagaman.

Saya Stebby. Saya bukan pemakan anjing (yang biasanya disebut RW), meski bagi iman percaya yang saya anut, aniing tidak haram untuk dimakan. Saya tidak memakan anjing sebagaimana saya tidak memakan buah durian. Saya tidak suka, meski bagi banyak orang lain mengatakan bahwa durian adalah sang raja buah.

Saya Stebby dan saya menyayangkan kejadian yang menyeret nama sekolah SMAK Mater Dei, Probolinggo dan Seminarium Marianum. (lihat https://www.change.org/p/polres-probolinggo-stop-penjagalan-anjing-sebagai-makanan-di-smak-mater-dei-probolinggo)

.

.

Namun sebelum berkomentar lebih jauh dan ikut menghujat, marilah kita ketahui terlebih dahulu pokok permasalahannya.

Kejadian ini bermulah dari postingan Yovian Bagas (@yovianbagas) dalam akun instagramnya, tertanggal 6 April 2017 dengan ungkapan “Pasukan Jagal Asu”. Video ini menjadi viral ketika salah seorang netizen melaporkannya kepada Animals Hope Shelter . Dalam petisinya di change.org yang saat ini ditandatangani oleh 906 orang, mereka menulis:

“Lagi2 terjadi penyiksaan anjing.

Menurut pelapor ini terjadi di SMAK Mater Dei Probolinggo. Dilihat dari instagramnya mereka begitu bangga bisa melakukan ini. Mereka menyebut diri mereka “Pasukan Jagal Asu.”

Continue reading “MARI BELAJAR MENGENAI KEBERAGAMAN”