cinta, hobby, kehidupan, keseharian, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, seni

Sulap, Buku dan Masa Kecil Firmansyah Raditya


Bulan ini nama Kota Probolinggo kembali bergema di tingkat nasional. Hal itu dikarenakan, nama Firmansyah Raditya, mentalist kebanggan kita, kembali menjuarai event Bimsolobim yang digelar di The Park Mall Solo, Jawa Tengah. Ya, pria yang pernah menjadi Juara 1 Mentalist Nasional di 2018 ini, kini kembali masuk dalam jajaran 6 besar pesulap Jawa Tengah.

Firmansyah Raditya

“Jawa Timur, mana suaramu?!”

Hahahaha. Ya, saya girang, dan segera menghubunginya…

Firman, sela ragam kesibukannya sebagai ayah, musisi dan performer di salah satu TV swasta di Kota Probolinggo, Firman menyempatkan waktu untuk berbincang mengenai sulap, buku, dan masa kecilnya di Probolinggo.

Dan berikut transkirp percakapan kami~

Sebutkan 3 hal yang menggambarkan seorang Firman?

Suka lupa sama orang yang baru kenal; kalau misal nggak tegur sapa secara langsung. Ansos (anti sosial, pen.) sebenernya. Mmmm… tapi kalau dah kenal dan akrab bisa-bisa aku yang lebih cerewet ketimbang mereka. Hahahahaha.

Di mana Firman menghabiskan masa kecil?

Di Kraksaan, Desa Alaskandang. Itu sampe aku mau sekolah TK. TK sampai SD baru aku balik tinggal di Kota Probolinggo.

Lho emangnya kenapa kok sempat hijrah ke Alaskandang?

Ikut ortu, Mas. Hahaha.

Hal apa yang paling dikenang dari masa kecil?

Duh apa ya… (ia berpikir) kayaknya sih bapak ibu angkatku di Kraksaan. Beliau itu tuh, nggak pernah sekalipun marah sama aku. Nggak pernah bernada tinggi juga kalau bicara sama aku, meski aku kadang nakal dan bandel. 

Apa yang memotivasi Firman terjun ke dunia sulap dan bikin Pro Magic?

Sebenernya aku nggak pernah berfikir mau jadi pesulap. Tapi kayaknya dunia sulap itu sendiri yang memilihku. Semua berawal dari kebetulan. Kebetulan aku liat acara sulap di TV, kebetulan ada orang yang jual buku sulap di depan SDku, kebetulan aku beli bukunya… sampai akhirnya aku yang jatuh cinta sama sulap dan dunianya.

Kenapa aku membuat komunitas… karena aku pengen ada wadah untuk pemuda yang suka sama sulap. Tapi semakin ke sini, kayaknya sulap di Probolinggo nggak diminati (ada nada sesal dalam kata itu, tapi lantas kembali optimis). Akhirnya aku bergeser ke manajemen. Aku membentuk manajemenku sendiri yang kelak bisa diisi oleh generasi-genearsi muda yang bisa meneruskan sulap Probolinggo. Karena sejauh ini, di sini, sejauh yang aku tahu hanya aku yang konsisten untuk terus berjalan di dunia sulap ini.

Sama. Aku tahunya juga cuma kamu, Fir. Hehehe. Oia, sejak kapan itu Pro Magic berdiri?

Pro Magic ada sejak 2012.

Ada berapa anak yang terlibat?

Sekarang ada 5. Aku Rahmat Bahtiar, Ci_Jam, Bayu Cungkring dan Rizki Emha.

Bagaimana Probolinggo mempengaruhi Firman dalam berkarya?

Apa ya? Hehehehe. Aku berpikir gini, kira-kira apa yang bisa aku kasih untuk kotaku. Aku hanya bisa sulap dan sulap. Jadi, aku coba tiap tahun ikut kompetisi di tingkat provinsi dan nasional sambil berharap bisa memenangkannya hingga nama Probolinggo bisa disebut dan menggema di antara nama-nama kota yang berpartisipasi. Alhamdulillah, sejak 2014 nama Probolinggo selalu menggema tiap tahunnya. Dan ada juga yang awalnya nggak tahu Probolinggo, karena kompetisi itu, mereka jadi tahu bahwa Probolinggo itu kota di Jawa Timur. Lucu sih. Hehehehe. Mereka taunya Purbalingga, bukan Probolinggo. Dan aku berpikir, kalau bukan aku yang mengharumkan nama Probolinggo melalui sulap, siapa lagi?

Buku apa yang sedang Firman baca saat kecil?

Harus jujur nih, masa kecil aku, aku tuh jarang banget baca buku. Hehehe. Karena dulu kurang minat. Aku lebih suka nonton film. Tapi ada sih beberapa buku yang aku baca, dan itu cuma buku sulap sama majalah Bobo. Hehehehe.

Siapa penulis idolamu?

Karena aku lebih menghargai seniman dan penulis lokal, boleh kan kalau aku sebut Stebby?

 

Hahaha. Merasa tersanjung akunya. Oia, menurut Firman, apa definisi keberhasilan? Dan sejauh ini, keberhasilan atau prestasi apa yang paling berkesan? Kenapa?

Kalau bisa membuat penontong yang lihat showku bisa tersenyum dan bertepuk tangan. Hahahaha. 

Karena di situ aku seperti melihat ada harapan di dalam diri mereka. Mereka percaya pada keajaiban. Bukankah kekuatan paling kuat itu adalah sebuah harapan?

Sejauh ini sih yang paling berkesan adalah private show yang kau buat di bulan Februari kemarin. Dengan kuota 30 orang. Dan alhamdulillah, semua yang datang bisa tertawa dan melihat sulap dari sudut pandang yang berbeda. Bukan lagi sulap yang dihubungkan dengan klenik.

Apa harapan Firman bagi generasi muda di Probolinggo?

Jangan ragu untuk berkarya di bidang yang kalian suka. Mulailah berkarya, mulailah membuat goals terhadap passion kalian. Karena semua orang yang sudah profesional dan sukses di bidangnya masing-masing juga memulainya dari bawah.

Kelak, kalaupun gagal, kalian gagal ketika sudah di sana. Gagal ketika sudah mencoba dan berani melangkah itu lebih baik daripada gagal karena belum memulai apa-apa. Tapi ingat satu hal, usaha tidak akan menghianati hasil. Satu hal lagi, beranilah menerima kritik. (stebbyjulionatan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s