budaya, cinta, hobby, motivasi, penghargaan, sastra

OMAH PADMA DAN ORANG-ORANG YANG KEMBALI KE DESA


Oleh: Stebby Julionatan*)

 

Kata “desa” meski identik dengan tempat yang nyaman dan asri untuk ditinggali, tapi selalu disejajarkan dengan kata “tertinggal’. Dengan sesuatu yang usang, tidak modern, miskin dan bodoh. Rasa-rasanya, kalau Anda tinggal di desa, Anda tidak berhak untuk mengakses kemajuan, baik secara ekonomi, teknologi maupun pendidikan.

Tentunya hal tersebut tidak berlaku di Omah Padma. Ya, omah (baca: rumah) kreatif yang didirikan pasangan sastrawan Wina Bojonegoro dan seniman lukis Yoes Wibowo di Desa Capang, Kab. Pasuruan ini seakan menjawab kegelisahan makhluk-makhluk intelektual macam saya yang senantiasa haus akan ilmu, tetapi tetap ingin tinggal di lingkungan yang nyaman lagi asri.

Meski tinggal di desa, Wina dan Yoes menjamin penghuninya tidak akan ketinggalan zaman.Ya, sebagai makhluk yang berpikir, atau homo sapiens, apa sih yang rasa-rasanya tidak bisa kita temukan di Omah Padma? Sinyal HP, jaringan internet yang lancar, dan catu daya listrik. Ya, bukankah itu kebutuhan dasar yang diperlukan oleh manusia milenial macam saya? Tapi tak berhenti di sana. Kehausan saya akan pelatihan pengembangan diri dan diskusi-diskusi cerdas pun difasilitasinya.

Continue reading “OMAH PADMA DAN ORANG-ORANG YANG KEMBALI KE DESA”

Advertisements
bahasa, berita, budaya, cinta, cinta tanah air, kehidupan, keseharian, kesehatan, lingkungan hidup, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, seni

WAHYUDI DAN DESA YANG TAK MEMPUNYAI MALAM


“Desa yang Tak Mempunyai Malam” demikianlah Wahyudi Bahtiar menyebut desanya. Desa yang ia maksud adalah Tigasan Wetan, yang terletak di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Ia memberi julukan demikian karena masyarakat desanya, yang di siang hari umumnya bekerja di ladang atau buruh bangunan, banyak yang memelihara ternak, sehingga kalau malam harus tetap berjaga untuk mengamankan sapi atau kambingnya dari pencurian hewan. Sungguh kasihan, bukan?

29177737_1985088528424679_8215439486678045971_n

Tapi sekarang, kata Wahyudi sih, sudah mulai aman. Warga di desanya sudah dapat menikmati istirahat di malam hari. Oleh karena itu, pemuda yang mengaku lahir saat rutuhnya pemerintahan Orde Baru namun tidak merasakan dampak kerusuhan 1998 ini mengaku ingin menceritakan segala keunikan dan kelebihan desanya, dan Probolinggo.

Ia tak ingin orang lain mengenal desanya sebagai daerah yang ramah terhadap pencurian ternak, begal, atau bahkan carok. “Probolinggo masih mempunyai banyak kelebihan, semua harus tahu itu,” katanya.

Continue reading “WAHYUDI DAN DESA YANG TAK MEMPUNYAI MALAM”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, hobby, kemanusiaan, keseharian, lingkungan hidup, motivasi, pendidikan, penghargaan, psikologi, renungan, sastra, seni

SHENOBI MIKAEL: TERJUN MENJADI PEKERJA SENI ADALAH BELAJAR TENTANG SENI BERSINERGI


Meski tanpa TOA suaranya sudah terdengar menggelegar, gayanya preman… jadi, ummm, tak ada tuh istilah “pelecehan seksual” yang dialami m(B)ak ini, belum lagi kalau sudah datang ke sebuah acara bersama asisten pribadinya, (e)L, hmmmm… Prolink pastikan libas abis tuh acara. Hahahaha.

Kalau nggak percaya, silahkan undang sendiri. 😀

Pemilik nama asli super-panjang yang lebih baik ditulis Novita Sutanto saja ini lebih dikenal sebagai Shenobi Mikael atau Nobhi. Dan… sebelum libur mudik lebaran kemarin, Prolink sempatkan untuk mencegatnya di jalan sekitar Subertaman – Jorongan, untuk menyodorinya beberapa pertanyaan yang wajib ia jawab. Hahahaha.

Dan berikut adalah jawabannya yang dicoret-coret asal begitu saja di balik kertas struk pembelanjaan Indomaret~

WhatsApp Image 2019-06-10 at 19.23.00.jpeg
KOPI: Rupanya Nobhi juga seorang penggemar kopi~

Continue reading “SHENOBI MIKAEL: TERJUN MENJADI PEKERJA SENI ADALAH BELAJAR TENTANG SENI BERSINERGI”

cinta, cinta tanah air, hobby, kemanusiaan, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sejarah

HIDUP EKSENTRIK ALA ABDUH KHOIR


Selapas SMA ia menghilang. Ya, setelah mengguncang dunia sastra Probolinggo dengan cerpennya yang berjudul Gosip yang dibukukan dalam kumcer Komunlis: Yosephira dan Pangeran Bianglala, nama Abduh Khoir seperti lenyap ditelan gulita. Mmmm, sebenarnya kemarin, coba-coba saja Problink menghubungi WAnya, dan alhamdulillah… dibalasnya. Hahahaha.

AKU.jpg
Abduh Khoir: Tak pernah melupakan Probolinggo~

Lalu kami pun mulai mengobrol mengenai kesibukannya saat ini.

Katanya, untuk saat ini, hari-hari dihabiskan Khoir untuk bekerja di sebuah yayasan milik perusahaan nasional sebagai eksekutor program CSR (corporate social responsibility) di Sidoarjo, Jawa Timur. Sementara itu, sore hari, dikatakan pemuda eksentrik yang saat ini sedang mengambil studi Administrasi Negara di Universitas Terbuka, dihabiskannya untuk mengelola website pendidikan hasil rangkuman materi dan tugas-tugasnya di www.administrasinegara.site.

Ya, ya,ya… gimana nggak kami bilang eksentrik, sejak SMA Khoir memang dikenal memiliki kepribadian yang tertutup dan tak banyak menjalin hubungan pertemanan. Istilah keren masa kininya sih nolep society member. Hahahaha. Dan saat ini, katanya, ia lagi mendalami ilmu ketenangan batin inner-peace ala Buddhism.

Sudah, kalo itu nggak usah dipikir. Enak-enaknya Khoir aja dah! 😀

Dan, di samping off record interview, berikut ini Problink unggah hasil ngobrol-ngobrol serius ala kami~

Continue reading “HIDUP EKSENTRIK ALA ABDUH KHOIR”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, hobby, keseharian, motivasi, pendidikan, penghargaan, sastra

Titis Putri Pamungkas: Jangan Hakimi Diri Sendiri Atas Keberhasilan Orang Lain


Probolinggo bagi seorang Titis Putri Pamungkas adalah sorga kecil di Jawa Timur. Pesona keindahannya tidak kalah dari daerah lain, serunya. Tapi sayang, masih banyak yang belum mengenal Probolinggo. Ia merasa, mutiara terpendam itu tidak akan diketahui khalayak jika tidak ada publikasi. Nah, itulah alasan alumnus SMAN 1 Kraksaan ini untuk mengeksplorasi Probolinggo lewat tulisan.

WhatsApp Image 2019-06-10 at 11.10.05
Panorama Pantai Bentar dilihat dari Bukit Bintang~

Kepingan Masa (Kumpulan Prosa Perihal Kisah SMA) adalah karya perdananya. Lewat buku tersebut, penulis muda kelahiran Probolinggo, 29 September 2000 ini membagikan kenangannya selama menempuh sekolah lanjutan atas tersebut dalam beentuk puisi. Saat menjadi pelajar dahulu, ia merasa belajar adalah tugas utamanya; dan berkarya baginya adalah panggilan hidup. Ia menyelasarkan keduanya.

Akhir Ramadhan kemarin (3 Juni 2019), Problink bertemu dengan Titis di salah satu rumah makan ternama di Kota Probolinggo. Tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, kami mewawancarainya. Dan beritkut, adalah hasil wawancara kami~

Continue reading “Titis Putri Pamungkas: Jangan Hakimi Diri Sendiri Atas Keberhasilan Orang Lain”

cinta, hobby, kehidupan, keseharian, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, seni

Sulap, Buku dan Masa Kecil Firmansyah Raditya


Bulan ini nama Kota Probolinggo kembali bergema di tingkat nasional. Hal itu dikarenakan, nama Firmansyah Raditya, mentalist kebanggan kita, kembali menjuarai event Bimsolobim yang digelar di The Park Mall Solo, Jawa Tengah. Ya, pria yang pernah menjadi Juara 1 Mentalist Nasional di 2018 ini, kini kembali masuk dalam jajaran 6 besar pesulap Jawa Tengah.

Firmansyah Raditya

“Jawa Timur, mana suaramu?!”

Hahahaha. Ya, saya girang, dan segera menghubunginya…

Firman, sela ragam kesibukannya sebagai ayah, musisi dan performer di salah satu TV swasta di Kota Probolinggo, Firman menyempatkan waktu untuk berbincang mengenai sulap, buku, dan masa kecilnya di Probolinggo.

Dan berikut transkirp percakapan kami~

Continue reading “Sulap, Buku dan Masa Kecil Firmansyah Raditya”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, keseharian, pariwisata, penghargaan, sastra, sejarah, spiritualitas

‘Di Kota Tuhan’ Seeing Probolinggo Through Biblical Lens


Published in The Jakarta Post, Sunday, May 5, 2019. And writen by Nedi Putra AW, as Contributor

.

2019_05_05_71413_1556994535._large
Faith: Poet Stebby Julionatan combines biblical narrative and memories of his hometown, Probolinggo, in his latest poetry collection.

Stebby Julionatan shares melancholic tales about his hometown of Probolinggo, East Jawa in his latest poetry collection, titled Di Kota Tuhan, Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah (In the City of God, I am the Body that You Break Into Pieces).

“It is my mission to introduce Probolinggo to the public,” the 35-years-old poet said.

Stebby intriguingly writes his poem in biblical frameworks. The 33 poems in the book are divided into two ‘exegeses”. The first, set from September 2015 to May 2016, take the narrative from of Genesis. In the second exegesis, Psalms narrative is used to convey the events between May and September 2017.

Continue reading “‘Di Kota Tuhan’ Seeing Probolinggo Through Biblical Lens”