bahasa, berita, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, keseharian, pariwisata, penghargaan, sastra, sejarah, spiritualitas

‘Di Kota Tuhan’ Seeing Probolinggo Through Biblical Lens


Published in The Jakarta Post, Sunday, May 5, 2019. And writen by Nedi Putra AW, as Contributor

.

2019_05_05_71413_1556994535._large
Faith: Poet Stebby Julionatan combines biblical narrative and memories of his hometown, Probolinggo, in his latest poetry collection.

Stebby Julionatan shares melancholic tales about his hometown of Probolinggo, East Jawa in his latest poetry collection, titled Di Kota Tuhan, Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah (In the City of God, I am the Body that You Break Into Pieces).

“It is my mission to introduce Probolinggo to the public,” the 35-years-old poet said.

Stebby intriguingly writes his poem in biblical frameworks. The 33 poems in the book are divided into two ‘exegeses”. The first, set from September 2015 to May 2016, take the narrative from of Genesis. In the second exegesis, Psalms narrative is used to convey the events between May and September 2017.

Continue reading “‘Di Kota Tuhan’ Seeing Probolinggo Through Biblical Lens”

Advertisements
berita, budaya, cinta, pariwisata

242 WISMAN KUNJUNGI MUSEUM PROBOLINGGO


Bulan November ini, rupanya Museum Probolinggo senantiasa menjadi bahan pembicaraan yang hangat. Kalau di awal bulan kemarin, menjadi topik pembicaraan terkait dengan lokasi pelaksanaan Jazz at the Museum dan Pameran Lukis Lintas Generasi, di pertengahan bulan, museum kembali menjadi topik pembicaraan dikarenakan hujan pertama yang mengguyur Kota Probolinggo sempat membuat rusak beberapa bagian museum hingga menarik perhatian dewan untuk melakukan sidak, kemarin (23/11), Musium Probolinggo kembali menjadi pusat perhatian.

Kemarin pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, sekitar 242 wisatawan mancanegara yang kebanyakan berasal dari Inggris, yang merapat ke pelabuhan Tanjung Tembaga menggunakan kapal pesiar Spirit of The Adventure, berkunjung ke Musium Probolinggo. Kontan saja, gedung museum yang berukuran kecil tersebut mendadak sempit dengan kehadiran mereka. Tak hanya museum, rupanya rombongan yang dibagi ke dalam 18 grup ini, juga melakukan city tour ke beberapa titik yang ada di Kota Probolinggo, seperti: Gereja Merah dan SDK Mater Dei.

Continue reading “242 WISMAN KUNJUNGI MUSEUM PROBOLINGGO”

budaya, cinta, kehidupan, keseharian, pariwisata

WHY do I love PROBOLINGGO…


-There are ten reasons why do I love my city, PROBOLINGGO-

1. Bebas mo pulang kapan saja or kemana saja.

Aku jadi teringat pengalamanku saat menjadi juri sebuah pemilihan duta wisata di Bojonegoro, atau ketika aku bertugas sebagai pendamping kontingen dari 3 propinsi dalam BPAP 2009. Setidaknya kedua kota yang sama-sama berada di wilayah Jawa Timur itu tidak sama seperti kota kelahiranku, Probolinggo. Susah sekali akses transportasi ke arah dan dari sana. Kawanku, Bondan, yang juga bertindak sebagai panitia ajang pemilihan duta wisata tersebut, sampai marah-marah karena aku tak kunjung juga berangkat meski jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. “Arep budhal jam piro awakmu, Le?” -Mau berangkat jam berapa kamu?- Sindirnya kepadaku karena dia khawatir akan keadaan dan keselamatanku kalau sampai aku harus terdampar di Gresik karena tidak ada lagi bus yang menuju Bojonegoro dari sana. Untuk kalian ketahui, jadwal bus terakhir jurusan Gresik – Bojonegoro adalah pukul 7 malam. Atau saat kawanku, Hilal yang harus ngojek (naik ojek) dari Kediri ke Nganjuk saat harus melanjutkan kembali tugasnya sebagai Pendamping BPAP 2009 setelah dia mengambil cuti untuk pulang sebentar.

Kalau di Kota Probolinggo, semua masalah-masalah transportasi seperti itu pasti teratasi dengan baik. Mo pulang jam 12 malem, ada. Mo pergi ke mana jam berapa pun juga ada. Bus selalu jalan dan beroperasi terus di sini. Kan sesuai dengan salah satu konsep Tri Karsa Bina Praja Kota Probolinggo, yaitu Indaditasi: Industri, Perdagangan, Pendidikan dan Transportasi. Ingat… TRANSPORTASI… hihihihihi…. Apalagi salah satu perusahaan otomotif terbesar di Pulau Jawa ini ada di Probolinggo. P.O. AKAS. Itu semua memberikan kemudahan dan kebangaan terhadap warga masyarakat Kota Probolinggo termasuk aku. J

2. Nunut jadi beken karena BROMO.

Kebangaan yang lain adalah Bromo. Gunung dengan lautan pasirnya yang melegenda di seluruh belahan dunia bak Joko Tengger dan Roro Antengnya sendiri. Dalam hal pengelolaannya, memang itu hak milik Kabupaten sih. Tapi itulah keuntungannya memiliki dua wilayah pemerintaan… itulah yang aku bilang tadi dengan nunut nampang. Tapi… kalo ga ada Kota Probolinggo, juga ga bakalan ada kan akses ke BROMO.

3. Meraih Adipura dan Adiwiyata.

Kering prestasi akhirnya harus berakhir di tahun 2006. Yap, selama 10 tahun, sejak tahun 1996, Kota Probolinggo tidak pernah lagi mendapatkan Piala Adipura untuk Kategori Kota Kecil dan Menengah. Namun, berkat Program Tamanisasi (Kota Probolinggo, Kota 1000 Taman) yang digalakkan oleh Bapak Walikota, HM. Buchory, SH., MSi. di awal tahun 2006, pada akhirnya Kota Probolinggo berhasil mendapatkan Adipura tersebut di tahun yang sama. Tak hanya itu saja, Kota Probolinggo, lewat school pilot project-nya, SMA Negeri 2 Kota Probolinggo, Kota Probolinggo pun menyabet juga piala Adiwiyata, yaitu penghargaan kebersihan di tingkat sekolah.

4. Adem Ayem.

Hal ini dapat dibuktikan di tahun 1998, saat gencar-gencarnya terjadi kerusuhan akibat reformasi, Kota Probolinggo menjadi kota yang relativ aman terkendali. Tak ada tindak kejahatan dan kriminalitas yang terjadi di sini ketika itu. Tak ada pembantaian-pembantaian ala ninja seperti yang sering kita dengar ketika itu. Tak ada lho yang namanya penjarahan… perampokan… terlebih lagi pemerkosaan terhadap etnis Tionghua seperti yang dilaporkan media massa dan media elektronik saat proses reformasi harus menuai jalan pemberontakan dan kontak fisik. Sebagai warga masyarakat Kota Probolinggo, hidupku santai-santai dan adem ayen saja. Mungkin ini juga tidak terlepas dari kultur warga masyarakat yang “pendalungan”. Jawa ga Jawa, Madura ga Madura. Well, tapi itulah kami… warga masyarakat hybrid terbesar di planet ini. He… he… he….

5. Gereja Merah sebagai National Heritage.

Sebagai Warga Jemaat GPIB “Immanuel” Probolinggo aku pastinya bangga dong ketika gedung gereja tempatku beribadah setiap minggunya masuk menjadi salah satu National Heritage yang ada di Kota Probolinggo ini. Sebuah gedung gereja yang bernuansa gothic, warisan dari jaman pemerintahan kolonial Hindia Belanda dengan warna merah sebagai cat dasar yang tidak pernah berubah sejak pertama kali didirikan, merupakan gedung gereja tertua yang sudah berdiri sejak 1862. Maka jangan heran kalau misalkan kamu berkunjung ke gerejaku, terkadang kamu akan mendapati pasangan-pasangan calon pengantin yang sedang melaksanakan foto pre-wedding mereka di sana. J

6. GACOR, Batik Khas Kota Probolinggo sebagi Khasanah Budaya yang langsung melejit di Tingkat Provinsi.

    Meski usianya masih seumur jagung, Batik Khas Kota Probolinggo terbukti mak nyoosss, lho…Bagaimana tidak, Batik Kota Probolinggo, yang baru sekitar 6 bulan diseriusi ini sudah berhasil melambungkan dan mengharumkan nama Kota Probolinggo di Tingkat Provinsi.

    Batik Kota Probolinggo menjadi juara dalam Lomba Citra Busana Batik Gelaran PKK Jawa Timur yang digelar di gedung Bappeprov Jatim pada hari Rabu, 5 Mei 2010 lalu. Bahkan dua sekaligus. Desain Batik Busana Malam Ayu Bestari berhasil merebut juara I. Sedangkan desain batik busana casual Semarak Mangga Anggur meraih juara III. Really proud of me…

    7. Loon-Aloon, Ku-Mlaku mbek Luk-Geluk…

    Yap. Bahasa setengah-satu ini tidak mungkin kamu jumpai di tempat lain selain di Probolinggo. Sebuah varian dari kata ulang tidak sempurna yang diulangi dari pengalan suku kata terakhir ke satu kata yang utuh. Hasilnya adalah tadi, BAHASA SETENGAH SATU. Contohnya itu tadi: “Alun-Alun” menjadi Loon Aloon;  “jalan-jalan” menjadi ku-mlaku; dan “saling berpelukan” menjadi luk-geluk (untuk yang terakhir ini, memiliki arti baru yaitu bercinta) Masih banyak lagi sebenarnya, masyarakat Probolinggo juga terbiasa menggunakan kata “mbek” sebagai kata ganti “dan”, dan juga menggunakan imbuhan “sorooo” sebagai penekanan atau emphasizing dari sebuah keadaan. Contoh: kalau aku mau bilang: “Baju itu bagus sekali.” aku akan mengatakan demikian: “Klambi iku apik soroo, Rek!”

    8, 9, 10.    Tempat Lahir, Besar dan Tinggal…

    At last but not least… tentunya alasan kenapa aku mencintai Kota Probolingo adalah karena aku lahir, besar dan tinggal di sana. Meski aku adalah salah satu manusia hibrida di kota ini, sebab ayahku berasal dari Surabaya dan mamaku adalah keturunan Ambon, di darahku telah mengalir air Kali Banger… di dalam darahku telah tertanam pokok-pokok Mangga Manalagi dan Anggur Probolinggo… di dalam darahku, telah berderu hembusan Angin Gending.

    Kalau kamu… kenapa kamu bangga menjadi warga masyarakat kota Probolinggo???