bahasa, berita, budaya, cinta, cinta tanah air, kehidupan, keseharian, kesehatan, lingkungan hidup, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, seni

WAHYUDI DAN DESA YANG TAK MEMPUNYAI MALAM


“Desa yang Tak Mempunyai Malam” demikianlah Wahyudi Bahtiar menyebut desanya. Desa yang ia maksud adalah Tigasan Wetan, yang terletak di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Ia memberi julukan demikian karena masyarakat desanya, yang di siang hari umumnya bekerja di ladang atau buruh bangunan, banyak yang memelihara ternak, sehingga kalau malam harus tetap berjaga untuk mengamankan sapi atau kambingnya dari pencurian hewan. Sungguh kasihan, bukan?

29177737_1985088528424679_8215439486678045971_n

Tapi sekarang, kata Wahyudi sih, sudah mulai aman. Warga di desanya sudah dapat menikmati istirahat di malam hari. Oleh karena itu, pemuda yang mengaku lahir saat rutuhnya pemerintahan Orde Baru namun tidak merasakan dampak kerusuhan 1998 ini mengaku ingin menceritakan segala keunikan dan kelebihan desanya, dan Probolinggo.

Ia tak ingin orang lain mengenal desanya sebagai daerah yang ramah terhadap pencurian ternak, begal, atau bahkan carok. “Probolinggo masih mempunyai banyak kelebihan, semua harus tahu itu,” katanya.

Sebutkan 3 hal yang menggambarkan Wahyudi Bahtiar!

Saya senang bertemu dengan orang baru karena dapat cerita dan pengalaman baru. Saya juga suka berkelana ke alam maupun keramaian kota. Saya senang berbagi, baik itu cerita, semangat ataupun hal lain yang saya punya. Satu lagi, saya suka nuansa vintage dan pengoleksi barang unik.

Di mana Wahyudi menghabiskan masa kecil?

Saya menghabiskan masa kecil di sebuah dusun utaranya Bukit Dami yang dulunya begitu terbatas ketersediaan air bersih padahal desa tetangga memiliki sumber mata air yang begitu besar. Tepatnya di Desa Tigasan Wetan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Waktu Sekolah Menengah Pertama, saya sempat disindir oleh temen dan saya tidak terima, sampai mau berkelahi karena waktu itu air dari PDAM sudah sampai ke rumah meskipun hidupnya dua hari sekali dan itupun di malam hari.

15181507_1777373582529509_1581538619747120342_n.jpg
Wahyudi dan kucing kesayangannya~

Hal apa yang dikenang dari masa kecil?

Banyak sebenarnya. Rasanya, kalau dituliskan bisa jadi karya novel yang berikutnya. Hehehe…. Baiklah, hal yang dikenang semasa kecil yaitu kebersamaan dengan teman-teman masa sekolah dasar. Berangkat sekolah bareng, berburu burung menggunakan ketapel bareng,  dan “nyello aeng”. Maksudnya, mengangkut air menggunakan jerigen dengan sepeda kayuh dari rumah yang tak teraliri air dari PDAM yang jaraknya lumayan jauh, sekitar 750 meter dari rumah, dan harus melewati tanjakan yang begitu terjal. Asal tahu, sejak kelas 5 SD bahkan saya sudah mampu mengangkut jerigen 40 liter, dan setiap hari bisa tiga kali angkut. Luar biasa bukan? 

Apa yang menjadi alasan Wahyudi berkarya di dunia literasi?

Waktu kelas sepuluh SMA saya menemukan lingkungan pertemanan yang begitu aktif, mengikuti lomba-lomba maupun kegiatan di sekolah, dan akhirnya saya ketularan semangatnya. Karena memang saya suka bercanda jadi saya memutuskan menulis hal lucu di blog pribadi. Didukung oleh Pak Islahudin, guru Biologi saya waktu itu. Beneran garing kalau saya baca sekarang. Hehehe.

Saya juga sempat ingin menjadi seorang komika atau pelawak. Karena saya juga suka lihat film tentang kritikan sosial, akhirnya saya menulis sebuah cerpen untuk diikutkan ke salah satu event yang diselenggarkan oleh salah satu penerbit indie. Alhamdulillah, karya saya lolos dan dibukukan. Dari situlah saya semangat berkarya. Mengirim karya ke beberapa event dan juga surat kabar.

Awal kelas 12 sudah mempunyai niat untuk menulis sebuah novel namun hanya selesai drafnya saja karena harus fokus ujian nasional dan daftar perguruan tinggi. Di waktu kuliah, saya mengembangkan kerangka novel yang sudah dibuat sehingga terbit di tahun 2018 dengan judul ‘Mungkin’ yang isinya mengadaptasi cerita hidup saya, kritikan sosial dan juga ajakan agar pemuda mau berperan untuk kemajuan daerahnya. Di tahun 2019, saya juga menerbitkan buku yang ditulis bersama dengan ketiga orang teman. 

Buku apa yang Wahyudi baca saat kecil?

Saat kecil saya cenderung suka dengan menonton tv, baik itu film action, sejarah dan cerita rakyat pinggiran. Saya juga suka nonton sepak bola dengan almarhum kakek dan saya juga suka menonton acara berita.

Bagaimana Probolinggo mempengaruhi karya-karya Wahyudi?

Probolinggo selalu menjadi inspirasiku untuk menulis. Karena saya juga aktif di salah satu komunitas yang bergerak di bidang pendidikan yaitu Gerakan Yuk Ngampus Probolinggo saya dapat mengenal lebih jauh tentang Probolinggo dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Selain itu dari menerbitkan sebuah buku, novel, saya dapat mengenal orang-orang hebat di Probolinggo yang punya tujuan yang sama, yaitu memajukan Probolinggo.

Dengar kabar kalau kemarin membuat sebuah wadah untuk pemuda Pobolinggo? Apa nama wadahnya itu?

Iya, benar. Berawal dari keresahan yang sama yaitu belum adanya wadah untuk pemuda yang mempunyai keinginan berkontribusi untuk daerahnya, maka dari itu setelah bedah buku ‘Mungkin’ di Perpusda Kabupaten Probolinggo kemarin, kami sepakat membentuk sebuah wadah yang bernama Probolinggo Millenial Movement yang akan begerak di bidang pendidikan, enterpreneur, pariwisata, serta seni dan budaya.

Siapa penulis idola Wahyudi?

Bukunya yang pernah saya baca tentunya langsung menjadi penulis idola karena karyanya mempunyai ciri khas masing-masing, yaitu: Tere Liye, Asma Nadia, Andrea Hirata, A Fuadi, Fiersa Besari, dan Ahmad Tohari.

Menurut Wahyudi, Apa definisi keberhasilan? Dan sejauh ini keberhasilan atau prestasi apa yang paling berkesan? Kenapa?

Menurut saya sebuah keberhasilan itu merupakan rencana yang kita usahkan, dan apapun ujungnya atau akhirnya itulah sebuah keberhasilan yang sama-sama bernilai.

Prestasi yang berkesan yaitu pernah menjadi juara kultum walaupun hanya di lingkungan sekolah. Tapi dari situ, akhirnya saya berani tampil di depan orang banyak dan berani berpendapat. Saya juga pernah membawa kesebelasan SMAN 1 Leces menjadi runner up Liga Pendidikan Indonesia tingkat Kabupaten Probolinggo di tahun 2015. Karya saya juga dibukukan dan dimuat oleh surat kabar. Waktu perpisahan kelas 12, saya termasuk siswa yang namanya disebut sebagai siswa yang mengahrumkan nama sekolah dan saya begitu bahagia melihat senyum yang tersimpul dari wajah ibu waktu itu. Prestasi yang juga berkesan yaitu saya berhasil menerbitkan buku novel yang saya serahkan sebagai kado untuk ibu, karena saya belum pernah memberikan kado di hari ulang tahun maupun hari ibu.

Harapan Wahyudi kepada generasi muda di Probolinggo?

Harus bergaya seperti seorang motivator kah? Ok, baiklah.

“Selagi masih mempunyai mimpi berarti kita masih hidup.”

Pemuda itu kekuatan di antara dua kelemahan, kelemahan yang pertama yaitu semasa kecil suka ngerengek, manja dan mengadu, sedangkan kelemahan yang kedua, di masa tua malas-malasan, pikun dan fisik menurun. Maka, sebagai pemuda, selagi muda tidak boleh mempunyai sifat yang ada pada kedua kelemahan itu. Gambaran sebuah bangsa dilihat dari apa yang dilakukan oleh pemudanya, sedangkan taji suatu bangsa  dilihat dari apa yang ditangisi oleh pemudanya. Kalau pemudanya kehabisan kuota atau tiket nonton aja nangis, kita bisa melihat sendiri bagaimana taji bagsa itu. (Problink)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s