berita, budaya, buku, cinta tanah air, film, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra

Tiga Seniman Probolinggo Dapat Apresiasi dalam Festival Harmoni 2019


Dinilai Kontribusinya dalam Kesenian Jawa Timur

.

Stebby Julionatan, Fauzi Rahmadani, dan Robin Hendrajaya. Ketiganya merupakan pegiat kesenian asal Kota Probolinggo yang baru saja mendapatkan apresiasi dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Stebby di sastra, Fauzi di film, sementara Robi di musik tradisi.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

.

stebby julionatan - sastrawan terbaik jawa timur

Geliat pekerja seni di Kota Probolinggo semakin semarak. Karya mereka pun mendapat apresiasi dari Pemprov Jatim dalam Festival Harmony di Gedung Cak Durasim, Surabaya, Rabu (24/4). Ada tiga seniman asal kota mangga yang mendapat penghargaan dalam kegiatan tersebut.

Penghargaan Apresiasi Seniman Jawa Timur ini pun terbilang baru di Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Dewan Kesenian Jawa Timur untuk menyambut program 99 hari kerja Gubernur Jatim. Ketiga orang seniman ini mendapatkan apresiasi karena keterlibatannya dalam pengembangan seni di daerah masing-masing.

Seperti Stebby Julionatan yang selama ini menggeluti bidang seni sastra. Inisiator Komunitas Menulis (Komunlis) ini, telah melahirkan sejumlah buku, baik novel maupun puisi. Stebby -sapaan akrabnya- tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, begitu mendapat undangan untuk menghadiri acara tersebut.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel, kemarin (27/4), Stebby mengaku tidak tahu pasti alasan DKJT memilihnya dalam penghargaan Apresiasi Seni tersebut. Namun, melihat nama-nama penerima penghargaan kategori sastra, Stebby melihat bahwa mereka adalah penggeerak sastra di daerah masing-masing.

“Seperti Royyan Julian dari Pamekasan, dia juga penggerak komunitas sastra. Mungkin kalo di Probolinggo ini seperti Komunlis,” ujarnya. Stebby menuturkan, dalam Apresiasi Seni ini, ada 120 seniman yang mendapatkan penghargaan untuk 6 kategori. Masing-masing kategori itu ada 20 orang yang terpilih.

“120 seniman ini mewakili 6 komite. Yaitu komite seni rupa, musik, teater, tari, sastra dan film. Masing-masing komite mencalonkan 20 nama seniman melalui proses kurasi yang dilakukan oleh DKJT,” katanya.

Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai penyiar radio ini menambahkan, saat acara berlangsung dijelaskan juga oleh pihak panitia unsur-unsur penilaian. seperti karya yang telah dihasilkan, distribusi atau sebaran karya, prestasi karya, kekuatan atau keunggulan karya, konsistensi berkarya, dan terutama adalah kontribusi karya untuk menunjang ekositem seni di Jawa Timur.

“Senang sekali yaa diapresiasi untuk apa yang sudah kita lakukan selama ini. Apalagi, apresiasi seniman ini juga pertama kali di Jawa Timur,” ujarnya saat ditanyakan mengenai perasaan setelah mendapatkan Apresiasi Seniman.

Selain Stebby Julionatan, ada Fauzi Rahmadani, yang mendapatkan penghargaan Apresiasi Seniman untuk kategori Film. Fauzi sendiri sudah 8 tahun menggeluti film. Yakni sejak menempuh pendidikan di Universitas Jember (Unej).

“Berawal dari film dokumenter terakhir saya yang berjudul Nyala masuk 10 film dokumenter terbaik versi majalah Warningmax tahun 2018 dan lolos Festifal Film Dokumenter 2018,” katanya menjelaskan alasan terpilihnya ia dalam festival tersebut. Nama Fauzi masuk di antara sekitar 50 orang sineas Film Jawa Timur.

Pria yang berasal dari Desa Pendil, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo ini menuturkan bahwa film Nyala dibuat sebagai tugas akhir saat menempuh pendidikan di Unej. Namun Fauzi sendiri telah membuat film dengan latar belakang Probolinggo.

“Film fiksi yang berjudul Memeluk Angin. Film ini sudah ditayangkan di Festival Indiwise di California,” ujarnya. “Alhamdulillah lolos masuk 20 nama. Senang sekali karena mendapatkan apresiasi atas karya yang kita buat,” ujarnya.

Perasaan syukur yang sama juga disampaikan Robin Hendrajaya. Robi -sapaan akrabnya- tidak menyangka namanya masuk sebagai seniman yang diapresiasi. “Saya bangga bisa diapresiasi sebagai seniman Jawa Timur. Namun, saya merasa banyak seniman yang lebih senior dan lebih banyak pengalaman yang lebih pas mendapatkan apresiasi ini,” katanya merendah.

Robi sendiri telah menggeluti seni musik tradisi sejak 10 tahun lalu. Yakni, ketika masih duduk di bangku SMAN 1 Kota Probolinggo. Saat itu di sekolah ada ekstrakurikuler seni karawitan.

“Kemudian diikutkan dalam lomba saat sekolah. Ketika lomba ternyata banyak pelajar-pelajar di luar kota Probolinggo yang masih intens dan tertarik untuk mengembangkan seni musik tradisi ini,” ujarnya.

“Sejak itulah saya yakin untuk terus mengembangkan seni musik tradisional ini, meskipun tanpa ada penghargaan saya akan tetap mengembangkan seni musik tradisional,” janji pria yang menekuni gamelan ini. (rf)

 

Dikutip dari harian Jawa Pos Radar Bromo, Minggu, 28 April 2019.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s