berita, budaya, buku, cinta tanah air, film, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra

Tiga Seniman Probolinggo Dapat Apresiasi dalam Festival Harmoni 2019


Dinilai Kontribusinya dalam Kesenian Jawa Timur

.

Stebby Julionatan, Fauzi Rahmadani, dan Robin Hendrajaya. Ketiganya merupakan pegiat kesenian asal Kota Probolinggo yang baru saja mendapatkan apresiasi dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Stebby di sastra, Fauzi di film, sementara Robi di musik tradisi.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

.

stebby julionatan - sastrawan terbaik jawa timur

Continue reading “Tiga Seniman Probolinggo Dapat Apresiasi dalam Festival Harmoni 2019”

cinta, film, keseharian, motivasi, renungan

BELLE


Saya sampai dua kali datang ke Pasuruan, hanya untuk menonton Beauty and The Beast. Ya, kisah Belle, seorang putri petani yang diperankan oleh Emma Watson ini seolah mewakili keadaan saya: Terkukung di sebuah kota kecil!
.
Belle dikisahkan tinggal di pinggiran kota Paris, ia akrab dengan buku, namun hal itulah yang justru membuatnya tampak aneh di mata penduduk desanya. Ya, di kala gadis lain gemar berdandan, dia gemar membaca dan berkhayal. Di kala anak-anak perempuan seusianya mengalami kekhawatiran akan pasangan hidup –hingga berebut perhatian Gaston, ia malah menolak Gaston mentah-mentah. She want more! Ia ingin sesuatu yang lebih dari sekedar kehidupan “provincial life”.
.
bahasa, budaya, cinta, cinta tanah air, film, hobby, kehidupan, kemanusiaan, motivasi, pendidikan, penghargaan, psikologi, renungan, sastra, sejarah, seni, spiritualitas

SUPERNOVA, VISUALISASI RIZAL DAN BEBAN TEKS


Judul film          : Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh
Genre               : Science Fiction
Sutradara         : Rizal Mantovani
Skenario          : Donny Dhirgantoro dan Sunil Soraya berdasarkan novel Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh karya Dewi Lestari
Produser          : Sunil Soraya
Pemain             : Herjunot Ali, Raline Shah, Fedi Nuril, Paula Verhouven, Arifin Putra, Hamish Daud, Hany Pattikawa.
Produksi          : PT Soraya Intercine Films
Durasi              :     menit
Tanggal Rilis   : 11 Desember 2014
Peresensi         : Stebby Julionatan *)

S U P E R N O V A

– Diperuntukkan bagi Anda yang ingin HIDUP –

Selamat datang.

Hari ini Supernova mengajak Anda nonton ke bioskop.

Ingatkah Anda ketika sedang berada dalam bioskop, menyaksikan sebuah film yang menggerakkan emosi? Detik pertama Anda larut, layar yang penuh cahaya dan warna itu telah berhasil menyentuhkan kehidupan ke dalam pikiran Anda. Membuat Anda menangis, tertawa, atau bahkan ingin membunuh seseorang.

Di posisi itu, Anda adalah penonton. Penonton pasif yang distimulasi oleh stimulus-stimulus virtual yang aktif. Apakah stimulus-stimulus tadi punya kepentingan tertentu? Kepentingan mereka hanya satu: berkembang biak. Melalui Anda semua. Apa yang Anda pikir tidak hidup, ternyata hidup, dan SANGAT hidup. Mereka seperti virus, tak dapat didefinisikan hidup atau mati, sampai ia menemukan inang untuk dijadikan medium. Respons negatif atau positif Anda tidak menjadi pertimbangan. Mereka sudah mendapatkan hidupnya, di detik pertama Anda mulai memberikan reaksi. Mulai memberikan arti.

*****supernova-poster

Demikian penggalan pesan Supernova saat ia menyapa penciptanya, Dhimas dan Ruben. Surel yang membuat mereka berdua syok dan mulai menimbang-nimbang (bahkan menyadari) bahwa keduanya adalah dalang tempelan. Dua orang pria yang bahkan tidak punya nama belakang, yang hidup dalam sebuah molekul pikiran penulis lain dan akan tamat riwayatnya pada saat halaman terakhir buku tersebut selesai ditulis.

Continue reading “SUPERNOVA, VISUALISASI RIZAL DAN BEBAN TEKS”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, film, hobby, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, sejarah, seni

Sejenak Bersama Komunitas Penulis di Kota Probolinggo


Pancing Kreativitas, Beri Award Seminggu Sekali

KOMUNLIS in action
KOMUNLIS in action (Foto: Radfan Faisal / RB)

Rendahnya budaya menulis dan membaca menginspirasi dua anak muda Kota Probolinggo mendirikan komunitas. Komunlis. Begitu komunitas yang didirikan tahun 2010 itu diberi nama. Bagaimana kiprahnya?

RADFAN FAISAL, Probolinggo

RINTIK hujan mengguyur Kota Probolinggo Minggu (9/6) sore hingga larut malam. Meski begitu, kondisi itu tak menyurutkan anggota Komunlis (Komunitas Penulis) yang terdiri atas penulis kota untuk berkumpul bersama.

Sebuah warung emperan yang ada di depan kampung seni di Jl. Hayam Wuruk, Kelurahan Jati, Kota Probolinggo, mereka pilih sebagai tempat berdiskusi. Dengan secangkir kopi plus sajian mie instan, proses diskusi berlangsung gayeng. Temanya, soal rencana menggarap film indie bersama SS Community, rumah besar Komunlis.

SS Community sendiri boleh dibilang tempat nimbrung-nya beragam komunitas seni. Termasuk Komunlis.

Stebby Julionatan, salah satu pendiri Komunlis menceritakan, komunitas tersebut dibentuk pada 2010 lalu. Bersama Ahmad Fais, staf ahli Fraksi PKB di DPRD kota, ia yang merasa kesulitan mencari komunitas penulis sepakat untuk mendirikan sebuah komunitas. Jadilah kemudian komunlis seperti yang terbentuk sekarang ini.

Bercerita tentang komunlis, Stebby yang eksis hingga sekarang mulai mendekati penulis-penulis muda untuk bergabung di komunitasnya. Pelajar adalah latar belakang penulis muda yang diincar komunitasnya. Maklum, pria yang juga penyiar radio Suara Kota milik pemerintah tersebut menganggap banyak potensi yang dimiliki pelajar.

Continue reading “Sejenak Bersama Komunitas Penulis di Kota Probolinggo”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, film, hobby, kehidupan, kemanusiaan, motivasi, pariwisata, pemerintahan, penghargaan, psikologi, renungan, sastra, seni, spiritualitas

CATATAN DARI BEDAH BUKU CINTA SUCI ZAHRANA


AJANG SILATURAHMI KANG ABIK DI KOTA BAYUANGGA

Kota Probolinggo boleh berbangga. Pasalnya Minggu (11/11) lalu, novelis kondang yang dikenal lewat Ayat-Ayat Cinta,  Habiburrahman El Shirazy, bertandang ke Kota Probolinggo.

Kedatangan penulis, dai, motivator yang juga berprofesi sebagai sutradara ini, tentunya bukan tanpa maksud. Kang Abik, begitulah Habiburrahman El Shirazy senantiasa disapa, berniat untuk menjalin tali silahturahmi dengan para penggemar dan pembaca karya-karyanya di kota Mangga ini lewat kegiatan bedah buku Cinta Suci Zahrana dan seminar menulis karya best seller.

Saking spesialnya kehadiran Kang Abik, maka Sekdakot Probolinggo, Johny Haryanto, sendiri yang menyambut Kang Abik dalam acara pembukaan bedah buku yang dilaksanakan di Puri Manggala Bhakti, Kantor Walikota Probolinggo.

Continue reading “CATATAN DARI BEDAH BUKU CINTA SUCI ZAHRANA”

berita, cinta, film, hobby, motivasi, pendidikan

DISPOBPAR GELAR LOMBA FILM DOKUMENTER


Meskipun tengah diguyur hujan deras, namun suasana di halaman Museum Probolinggo Sabtu malam itu (17/3) tampak ramai. Banyaknya warga masyarakat yang malam itu memadati halaman museum dikarenakan malam itu sedang berlangsung pemutaran film-film dokumenter karya sineas-sineas muda Probolinggo. Sebut saja Probolinggo The City of Live karya siswa-siswi SMA Negeri 1 Kota Probolinggo yang tergabung dalam Smasa Cinema atau Sampah Hilang Jadi Uang karya BRX n Dhakart dari SMAK Mater Dei, yang hari itu mewarnai suasana pembukaan festival film dokumenter bertajuk Documentary Movie Festival (DM-Fest) 2012.

Acara penayangan film dokumenter yang dilakukan setiap Sabtu dan Minggu malam (17-25 Maret 2012) di pelataran Museum Probolinggo tersebut digelar atas kerjasama antara Dispobpar Kota Probolinggo dan Pro TV sebagai media televisi lokal di Kota Probolinggo yang dimaksudkan sebagai upaya menumbuhkan kreatifitas generasi muda Kota Probolinggo dan sebagai wadah bagi sineas-sineas muda Probolinggo untuk berekspresi.

Continue reading “DISPOBPAR GELAR LOMBA FILM DOKUMENTER”

film, renungan

Cara Ngawur LSF Menentukan Batas Usia Penonton


an Attachment from danielht@rad.net.id

Salah satu tugas dan wewenang Lembaga Sensor Film Indonesia adalah menentukan batas usia sebuah film. Baik yang diputar di bioskop-bioskop, maupun yang dalam format VCD/DVD.

Namun dalam kenyataannya batasan usia yang telah ditentukan LSF itu tak ada artinya di bioskop-bioskop. Buktinya, pemandangan anak-anak di bawah umur nonton film yang sebenarnya kategori dewasa merupakan pemandangan biasa. Tidak pernah kita dengar ada penonton yang ditolak masuk karena umurnya belum cukup dewasa.

Di situs bioskop grup 21 (www.21cineplex. com), maupun blitzmegaplex (www.blitzmegaplex. com), tentang batasan usia sebuah film pun dianggap tidak penting. Karena tidak ada data tentang batasan sebuah film yang ditayang di bioskop-bioskop mereka di situs tersebut. Ini berbeda dengan situs luar negeri sejenis. Misalnya, http://www.imdb.com yang selalu mencantumkan batasan usia sebuah film yang ditentukan oleh The Motion Picture Association of America (MPAA) lengkap dengan rincian yang detail tentang konten sebuah film sebagai patokan orangtua dalam menentukan pantas-tidaknya sebuah film ditonton anak-anak mereka.

Yang terkesan ngawur terjadi pada batasan usia yang ditentukan oleh LSF pada banyak film dalam format VCD/DVD. Bagaimana tidak ngawur, kalau batasan umur yang dicantumkan pada cover belakang VCD/DVD tersebut sangat tidak sesuai dengan filmnya? Ini sudah lama terjadi.

Contoh terbaru VCD/DVD film anak-anak, Ice Age 3: Dawn of the Dinosaurs, dan Transformers: Revenge of the Fallen oleh LSF dikategorikan sebagai film dewasa.

VCD/DVD film cerita anak-anak sepanjang masa, Snow White and the Seven Dwarfs (1937) dikategorikan untuk remaja. Demikian pula untuk film Monster vs Aliens, Bedtime Story, Race to Witch Mountain, dan Night at the Museum 2.

Banyak film edukasi / dokumenter dari National Geographic dan Discovery Channel, bahkan edukasi khusus pelajar (Discovery Channel School dan Discovery Channel School Elementary) dikategorikan film dewasa.

Contoh: dari Discovery Channel School tentang George Bush untuk dewasa, sedangkan dari produk yang sama tentang Bill Clinton untuk remaja. Dari National Geographic dengan judul Inside the Vatican (dewasa), sedangan Inside Mecca (semua umur).

Lucunya lagi, ada beberapa episode VCD pendidikan untuk balita, seperti Baby Einstein: Baby Shakepeare (ages 1+ year) oleh LSF ditentukan sebagai film khusus untuk remaja. Konyol!

Dari fenomena ini patut dipertanyakan: Untuk apa LSF membuat penentuan batasan usia penonton film bioskop kalau toh selama ini sama sekali tidak dilaksanakan oleh pengelola bioskop, dan bagaimana sebenarnya kapabilitas LSF dalam menentukan batas usia sebuah film dalam format VCD dan DVD tersebut di atas?