buku, renungan, sastra, seni, spiritualitas

Di Kota Tuhan, Buku Puisi Rasa Travelling


Judul: Di Kota Tuhan

Penulis: Stebby Julionatan

Tebal: 74 halaman

Cetakan: Pertama, 2018

Penerbit: Indie Book Corner

Peresensi: Dion Yulianto*)

 

Kumpulan Puisi: Di Kota Tuhan Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah

Saya pernah menemukan sebuah novel yang ditulis menyerupai sebuah kitab suci dalam buku Alkudus garapan Asep Syaeful Anwar. Kemudian, akhirnya saya menemukan versi puisi yang ditulis menyerupai ayat-ayat dalam kitab suci dalam buku karya mas Stebby Julionatan ini. Persamaan keduanya adalah sama-sama mengangkat Tuhan sebagai sentral, walau dalam Di Kota Tuhan penulis agaknya mengambil ragam tema yang cukup lebar dengan memasukkan unsur-unsur kenangan pribadi dan memadukannya dengan peristiwa politik. Saya cenderung setuju dengan pendapat Oka Rusmini di pengantar buku ini. Di Kota Tuhan masih harus berjuang menemukan posisinya dalam belantara sastra Indonesia karena adonan puisi dan prosa di dalamnya masih bercampur lekat dan saling berlomba untuk tampil ke pentas.

Remukkan aku, Tuhan | Remukkan aku | hingga taat tanpa tapi | dan patuh tanpa nanti (hlm. 55)

Di Kota Tuhan disusun menyerupai larik-larik ayat suci dalam Alkitab. Terbagi menjadi Midrash Pertama dan Midrash Kedua, buku kumpulan puisi ini tersusun total atas sekitar 45 puisi. Bagian pertama ditulis antara tahun 2015 – 2016 sementara bagian kedua tahun 2017. Stebby mungkin hendak mengunakan konsep turunnya wahyu yang datang secara bertahap.

Continue reading “Di Kota Tuhan, Buku Puisi Rasa Travelling”