bahasa, budaya, penghargaan, politik, psikologi, renungan, sejarah, seks, spiritualitas

Mencumbu Terra Incognita


Oleh: Stebby Julionatan *)

 

PADA 17 Juni 2019, wali kota Probolinggo menggagalkan rencana Komunlis (Komunitas Menulis) untuk menggelar nobar film Kucumbu Tubuh Indahku (KTI). Alasannya, banyak aksi penolakan di daerah lain pada film ini yang ditakutkan akan berimbas serupa ketika nanti diputar di Probolinggo.

Isu-isu penolakan kaum agamawan dan fundamentalis yang berimbas pada penyerangan tempat-tempat publik adalah yang paling ditakutkan. Karena praktis, sejak penayangannya secara nasional, isu-isu LGBT menguak. Film itu pun dianggap sebagai bentuk dukungan atas orientasi seksual yang menyimpang.

Pada 17 Desember 2019, perjalanan Kucumbu Tubuh Indahku (KTI) untuk mewakili Indonesia pada perhelatan Oscar terhenti. Hal ini diumumkan oleh Fourcolours, produser film tersebut, dalam pernyataan resminya melalui akun Instagram. Mereka menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah mendukung KTI dalam ajang Academy Awards Ke-92.

Di samping tanggal yang kebetulan sama (tujuh belas), ada satu fenomena yang dapat kita cermati dari dua peristiwa tersebut. Yakni, berkat keterwakilannya di Oscar, beberapa bioskop di daerah yang semula takut mulai longgar untuk kembali memutar KTI. Orang-orang pun, yang semula membenci dan terkungkung oleh dogma pelarangan kepala daerah, jadi penasaran dan malah berbondong-bondong untuk menyaksikan film unggulan Indonesia di ajang internasional tersebut. Hal tersebut menjadi bukti bahwa selama ini ada ketakutan publik yang tak beralasan terhadap sang ’’liyan’’.

Saya jadi ingat pidato kawan saya, Royyan Julian, saat dia diundang dalam acara perayaan Natal kemarin di jemaat GPIB ’’Mahkota Hayat’’ Pamekasan. Royyan yang saat itu mewakili umat muslim dan Gusdurian berkata bahwa kehidupan gereja bagi dirinya dan warga Pamekasan secara umum adalah terra incognita, daerah yang tak dikenal. Daerah yang mengundang tanya, penasaran, sekaligus rasa takut untuk dimasuki.

Mungkin seperti itu jugalah kehidupan Juno dalam KTI. Ia memunculkan rasa penasaran sekaligus ketakutan publik yang berujung pada prasangka dan kebencian –bahkan tanpa menonton filmnya terlebih dahulu secara utuh.

Kisah pencarian jati diri Juno yang diangkat secara apik oleh sutradara Garin Nugroho dari kisah seniman lengger lanang asal Banyumas, Rianto, sejatinya adalah hal yang juga lumrah terjadi di masyarakat. Terlebih jika kita memperbincangkannya dalam konteks budaya dan kesenian. Hal-hal seperti pertukaran peran pria dan wanita atau tampil di panggung tidak sesuai dengan identitas seksual yang melekat adalah hal yang membuat kesenian tradisional (misalnya ludruk) di desa-desa, khususnya di tempat saya bermukim, jadi ramai untuk dinikmati. Di periode ’90-an mungkin kita bisa mengingat kepopuleran Tessy dalam grup Srimulat.

Heti Palestina Yunani dalam esainya yang berjudul Kemenangan Tubuh yang Trauma (Jawa Pos, 15 Desember 2019) mengatakan bahwa kemenangan Garin (di FFI 2019 yang juga mengantarnya mewakili Indonesia pada ajang Oscar di tahun yang sama) pada perjalanan ketubuhan Rianto yang feminin sekaligus maskulin tersebut sejatinya adalah kemenangan ide. Tentang bagaimana kebudayaan itu lahir dari bentukan sosial, pengaruh, dan paparan paham politik yang membentuknya.

Lebih lanjut Heti mengatakan bahwa sejatinya KTI adalah gambaran proses pembelajaran Rianto tentang bagaimana memandang tubuh agar bisa lepas dari trauma.

’’Masyarakat perlu belajar setidaknya tak mengatakan hal yang buruk atau persepsi negatif tentang lelaki yang menari dalam pakaian perempuan.’’ Demikian ungkap Rianto. Sebab, pakaian penari saat tampil bukan sesuatu yang baru di Indonesia, melainkan memiliki sejarah yang sangat panjang dalam kebudayaan Indonesia.

Pengalaman yang sama (baca: ketakutan yang tak beralasan pada sosok liyan) saya alami saat menerbitkan novel Rumah Ilalang. Novel itu berkonsep soal kasih. Soal autokritik saya mengenai ketidakpedulian umat Kristen kepada mereka yang meninggal tanpa membayar iuran diakonia. Tapi, pembicaraan di setiap acara bedah buku yang digelar selalu berkutat pada seksualitas tokoh waria yang saya hadirkan, Tabita.

Sehingga penting bagi saya, sebelum menjelaskan dasar pemikiran, selalu meminta maaf kepada para peserta diskusi ketika nanti saya menjelaskan berdasar studi keilmuan dan empiris. Yang berarti tidak akan melegakan rasa penasaran mereka, alih-alih mengurangi rasa takut terhadap LGBT.

Saya rasa ketakutan ini beralasan. Saya pribadi menengarai bahwa sejak kasus pencabulan yang dilakukan oleh pedangdut Saiful Jamil, narasi bahwa homo adalah perusak generasi bangsa semakin santer. Masyarakat takut jika hal tersebut akan menimpa diri atau orang yang mereka cintai. Hingga kita mengenal istilah homofobia. Rasa takut terhadap mereka yang ditengarai homo.

Terlebih saat para pelaku pencabulan itu ditangkap, mereka senantiasa berdalih bahwa penyimpangan yang mereka alami diakibatkan oleh pengalaman masa kecil yang serupa. Maka, bergulirlah rantai setan fobia itu tanpa pemahaman lebih untuk memutusnya.

Berbincang soal yang liyan, di akhir 2019 ini saya diundang untuk mengisi beberapa acara literasi di Madura. Salah satunya di radio Ralita FM. Ada pengalaman menarik terkait kaum liyan yang terjadi saat saya diwawancarai meski hal tersebut terjadi secara off air. Sang penyiar berkata bahwa ia sempat melempar buku saya dan tak ingin melanjutkan membaca saat saya berkisah secara gamblang perihal kehidupan seksual tokoh saya yang waria itu. Ia berkata bahwa, ’’Mungkin saya sama seperti Hanung (tokoh ayah Tabita dalam novel Rumah Ilalang). Saya bisa menerima jika hal tersebut (baca: LGBT) terjadi di luar lingkungan saya. Tapi, saya tidak bisa menerima jika hal tersebut terjadi pada keluarga saya sendiri. Anak saya.’’

Ya, seperti yang saya jelaskan di awal, banyak orang percaya pada alasan orang-orang seperti Saiful Jamil yang ditangkap karena melakukan pelecehan seksual. Tapi, mereka tak pernah mau membaca atau menambah keilmuan mereka bahwa menjadi gay bukan karena Anda hidup di lingkungan yang banyak gay atau pernah dilecehkan secara seksual di dalamnya. Sebagai manusia kita memiliki kehendak bebas akan hal tersebut. Bahkan, penelitian telah membuktikan bahwa ’’gay’’ adalah kode genetik yang telah tertulis dalam susunan DNA tubuh kita.

Biarlah pengalaman empiris saya yang menguatkannya. Saya pun pernah mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh ’’paman’’ saya saat saya SMA. Saat saya belum genap berusia 17 tahun. Tapi, hal tersebut tak lantas menjadikan saya seorang pedofil dan gemar mengumbar nafsu seksualnya. Menjadi gay pemangsa para lelaki.

Jadi, kenapa kita harus takut pada kisah Juno? Saya justru sepakat apa yang dikatakan oleh Whany Darmawan, si pemeran warok dalam KTI. Ia mengatakan bahwa beberapa orang membuat film sebagai alat hiburan, tapi apakah salah jika film digunakan sebagai potret sebenarnya bagi masyarakat yang tengah sakit? Masyarakat yang tidak mampu menerima perbedaan antara tubuh dan orientasi seksual? (*)


*) Stebby Julionatan, penyair, novelis, cerpenis, dan penggiat literasi dari Probolinggo

 

Tulisan ini dimuat di harian Jawa Pos, Minggu, 29 Desember 2019.

berita, budaya, buku, pendidikan, politik, renungan, sejarah

BABAK BARU MEMBACA


Oleh: Stebby Julionatan*)

 

Kurasa membaca tak hanya berarti duduk menghadapi buku-buku, tapi juga peka terhadap keadaan. Ya, bagi saya, sedikitnya ada 3 level atau tingkatan dalam membaca. Yakni, membaca tulisan (itu yang paling primitif), membaca konteks, dan membaca makna. Dan… banyak orang justru terperangkap pada yang pertama dan kedua.

Ya, riuh kasus penyitaan buku kawan-kawan Vespa Literasi oleh Polsek Kraksaan kini telah mencapai babak baru. Adanya campur tangan MUI Kabupaten Probolinggo dalam kasus ini dinilai oleh banyak pegiat literasi sebagai “kemunduran”. Bahkan Muhammad Al Fayyadl, pengamat literasi dari Kabupaten Probolinggo dalam unggahannya facebooknya menyebut bahwa baru kali ini urusan “perbukuan kiri” jadi urusan MUI. Apakah sebentar lagi buku-buku bacaan akan diberi label halal haram juga?

Ramai diberitakan sebelumnya bahwa dua mahasiswa di Kab. Probolinggo – Jawa Timur ditangkap polisi lantaran membawa buku biografi mantan Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) Dipa Nusantara Aidit. Mahasiswa tersebut diketahui bernama Muntasir Billah (24) dan Saiful Anwar (25) yang merupakan pegiat di komunitas Vespa Literasi, komunitas yang menginisiasi lapak baca gratis setiap Sabtu malam di Alun-alun Kraksaan.

Continue reading “BABAK BARU MEMBACA”

bahasa, budaya, buku, cinta, penghargaan, politik, renungan, sastra, sejarah, seni, spiritualitas

Di Kota Tuhan: Kota dan Yang Alkitabiah


oleh Mario F. Lawi

Di Kota Tuhan: Kota dan Yang AlkitabiahDi Kota Tuhan, Aku adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah

Para penyair punya cara tersendiri menampilkan kenangan akan kota dalam puisinya. Stebby Julionatan membarenginya dengan khazanah biblikalnya. Apakah ia berhasil melakukannya? Perbandingan dilakukan oleh Mario F. Lawi untuk menelusuri tradisi penulisan puisi tentang kenangan, kota, dan yang alkitabiah.

I primi cristiani
si riconoscevano nelle catacombe
con il segno segreto
del Pesce
e come pesci moribondi noi
siamo uniti solo dalla Rete

Para Kristen Perdana
saling mengenal dalam katakombe
melalui tanda rahasia
Ikan
dan ibarat ikan-ikan sekarat
hanya oleh Jala kita dipersatukan.

Salah satu puisi Michele Mari dalam buku puisi Cento poesie d’amore a Ladyhawke (Seratus Puisi Cinta untuk Ladyhawke) yang saya kutip di atas menggunakan rujukan perumpamaan biblikal untuk menyatakan hubungan antara sepasang kekasih sebagai sepasang ikan sekarat yang hanya dapat dipersatukan oleh jala. Ichthys, dalam Yunani Koine yang berarti ‘ikan’, digunakan juga sebagai akronim dari Iesous Christos Theou Yios Soter atau “Yesus Kristus, Putra Allah, Penyelamat.” Ikan adalah metafora yang merujuk pada peristiwa Alkitab, terutama tradisi Perjanjian Baru, justru karena murid-murid perdana Yesus adalah para nelayan. Para rasul juga diminta Yesus untuk “menjadi penjala manusia” (Matius 4:19; Markus 1:17). Meski ditulis secara ringkas, puisi di atas, bagi saya, adalah puisi alkitabiah.

Saya tertarik mengemukakan contoh yang saya cuplik dari buku puisi pertama Michele Mari yang memenangkan tiga penghargaan sastra di Italia itu untuk melihat bagaimana narasi dari teks-teks Alkitab diterjemahkan Stebby Julionatan dalam buku puisinya Di Kota Tuhan. Kesan bahwa buku puisi Di Kota Tuhan adalah buku puisi alkitabiah saya peroleh dari ulasan Jessica Karsten yang dipublikasikan di situs Kibul.in dengan judul “Sebuah Kenangan di Kota Tuhan”. Ulasan itu saya baca lebih dahulu daripada bukunya sendiri. Menurut Jessica, Di Kota Tuhan “ditulis dalam bentuk rangkaian pasal dan ayat sebagaimana Kitab Kejadian dan Mazmur. … Midrash Pertama mengambil bentuk Kitab Kejadian sebagai teknik penulisannya sedangkan Midrash Kedua menggunakan bentuk Kitab Mazmur.” Selain klaim tersebut, Jessica juga membandingkan buku tersebut dengan buku puisi Stebby sebelumnya, Biru Magenta. Tepat pada paragraf pertama tulisannya, Jessica menulis, “Jika Biru Magenta bercerita soal kasih Eros, maka kali ini Di Kota Tuhan, Aku adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah mengangkat tema tentang kasih Agape.”

Eros dan Agape adalah dua kata untuk menyatakan cinta dalam bentuk berbeda. Eros adalah cinta berdasarkan ketertarikan seksual, sedangkan Agape sering digunakan untuk menyatakan cinta tanpa batas, dan dalam khazanah Kristiani ditunjukkan oleh Allah kepada umat manusia melalui peristiwa penebusan Kristus. Bentuk oksimoronik dua jenis cinta ini dapat kita temukan dalam karya Dante Alighieri, Divina Commedia. Cinta Beatrice kepada Dante dapat dikategorikan sebagai Agape, sedangkan cinta Paolo Malatesta kepada Francesca da Rimini dalam salah satu fragmen paling terkenal dari bagian Inferno (canto V) adalah cinta Eros. Cinta Agape memungkinkan Beatrice meminta Vergilius menuntun Dante hingga lapisan atas Purgatorio agar sang pengembara selamat hingga bertemu penuntun selanjutnya yang akan mempertemukannya dengan Beatrice. Sebaliknya, cinta Eros antara Paolo dan Francesca membuat mereka dihukum di lapisan kedua neraka.

Perlu kita tahu, Biru Magenta (2015) adalah buku puisi kolaboratif antara Stebby dan Ratna Satyavati. Saya membayangkan masing-masing bagian, Biru dan Magenta, dalam buku tersebut, adalah dialog puitik antara Stebby dan Ratna. Mayoritas puisi-puisi di dalamnya bercorak naratif, dengan satuan kalimat yang lengkap dan alur yang jelas, berisi dialog dua tokoh kasmaran. Tidak salah jika Jessica menganggapnya bercerita soal kasih Eros karena dari awal hingga akhir buku puisi, kita membaca dua tokoh jatuh cinta tersebut saling berbalas rayuan. Meski demikian, menurut saya, Di Kota Tuhan, buku puisi Stebby selanjutnya, masih berada pada koridor tema Eros ini. Perbedaan yang mencolok dari Di Kota Tuhan dan Biru Magenta adalah bahwa cinta erotik sang tokoh dalam Di Kota Tuhan diperluas pembahasannya. Aku-lirik, si Biru, tidak hanya mengungkapkan cintanya secara personal kepada si Rabu, tetapi juga memperluas cakupannya untuk berbicara tentang kota dan kenangan.

Tema kota dan kenangan bukannya tidak pernah disinggung Stebby di buku sebelumnya. Dalam puisi berjudul “Perjalanan Berdua”, bisa kita baca cakupan tematik tersebut. Saya kutip bait pertamanya:

“Ingatku pada Solo adalah perjalanan berdua denganmu/melewati Gladak, sarapan timlo di depan Pasar Gedhe,/melalui Katedral, Balai Kota, dan Bank Indonesia/lalu mobil RRI melintas di depan kita.//”

Namun, puisi semacam itu hanya satu dari sekian banyak puisi Stebby dan Ratna dalam Biru Magenta. Dalam Di Kota Tuhan, semua puisi dalam “Midrash I” mengeksplorasi hubungan kota dan kenangan. Ada cuplikan sejarah kota Probolinggo dalam puisi “Biru Mengenalkan Rabu pada Kotanya”, ada nama tempat spesifik tertentu dalam kota jadi judul puisi dalam “Di Sumber Hidup, Biru Melihat Tuhannya Bercabang.” Nama-nama lokasi dalam kota dan kejadian-kejadian seputar kota menghiasi puisi-puisi yang ada di bagian “Midrash I”.

Kota, Kenangan, dan Persoalan tentang Yang Alkitabiah

Hal yang mengingatkan seseorang akan kota-kota yang pernah dikunjunginya adalah kenangannya akan kota-kota tersebut. Maka, kita temukan Di Kota Tuhan dibuka dengan puisi berjudul “Di Pertemuan Keempat, Biru Mengajak Rabu Menyusuri Kenangan”.“Aku akan menyusur kembali kenangan, jalanan kecil yang mendekati rumah. Jembatan kayu yang hampir menewaskanku saat merangkak.” Demikian bait pembuka puisi tersebut saya kutip lengkap.

Kita ingat, Calvino membuka Le città invisibili (Kota-Kota Imajiner) dengan kisah berjudul “Kota dan Ingatan” dan membangun seluruh narasi dalam novel tersebut dengan mengandalkan ingatan tokoh Marco Polo terhadap kota-kota yang pernah disinggahinya. Menemukan kota, dalam khazanah literatur yang lebih tua, adalah misi yang sakral. Epik Aeneis dari Vergilius, misalnya, dengan jelas menunjukkannya. Aeneas adalah prajurit Troya yang tersingkir setelah kotanya dihancurkan orang-orang Yunani dan demi misi membangun bangsa Roma, ia tinggalkan Dido sang putri Carthago. “Tantae molis erat Romanam condere gentem”, bunyi salah satu baris dalam Aeneis (buku 1, baris 33), “Begitu berat usaha membangun bangsa Roma.”

Kota dalam Di Kota Tuhan bukanlah kota-kota imajiner seperti kota-kota dalam cerita Marco Polo bagi Kublai Khan. Kota dalam Di Kota Tuhan adalah kota historis, seperti Roma yang dibangun Aeneas. Maka, sepanjang bagian pertama Di Kota Tuhan, kita diajak berkeliling kota Probolinggo, referensi utama Stebby dalam menulis bagian pertama buku puisinya, lengkap dengan foto-foto sejumlah tempat di kota tersebut.

Lantas, untuk klaim pertama, apakah Di Kota Tuhanadalah buku puisi alkitabiah? Jawabannya tentu saja tidak. Jika klaim tersebut didasarkan atas penomoran klausa dan kalimat tertentu sehingga menyerupai penomoran pasal dan ayat-ayat dalam Alkitab, hal tersebut bisa langsung kita tolak sebagai indikator utama. Penomoran klausa dan kalimat tertentu sebagai pasal dan ayat bukan cuma ada dalam wilayah otoritas Alkitab. Alasan paling pertama untuk ini justru mungkin sederhana: agar kita mampu mengingat wilayah-wilayah bacaan berdasarkan pembagian nomor tersebut, atau memberi catatan tambahan berdasarkan penomoran tersebut.

Ketika kita membaca pembuka Injil Yohanes, “Pada mulanya adalah Sabda,” misalnya, kita akan melihat ayat pembanding ditampilkan untuk membawa kita pada pembukaan Kitab Kejadian yang modusnya hampir serupa. Prosa-prosa Dante Alighieri, contoh lain, entah yang ditulis dalam bahasa vulgar maupun dalam bahasa Latin, diberi penomoran oleh para sarjana pengkajinya agar lebih mudah dirujuk dan diberi catatan tambahan. Sebelum Di Kota Tuhan, strategi menggunakan penomoran untuk menandai satuan kalimat juga digunakan Asef Saeful Anwar dalam novelnya Alkudus. Jika mau melihat kesan alkitabiah pada buku puisi Di Kota Tuhan, saya justru tertarik terhadap pengaitan sejumlah peristiwa dan tokoh dalam Alkitab, entah dari Perjanjian Lama maupun dari Perjanjian Baru, dengan persoalan-persoalan harian yang ditampilkan dalam puisi-puisi di buku ini, meskipun tidak banyak ditampilkan. Frasa-frasa dan situasi-situasi dari narasi Alkitab kadang menyela di antara aliran puisi, kadang hadir sebagai alusi untuk memperkuat struktur dan gaya ungkap puisi, kadang sebagai metafora karena secara gamblang ditampilkan Stebby di beberapa bagian puisi.

Puisi Michele Mari yang saya kutip sebagai pembuka tulisan adalah apa yang saya maksud dengan puisi alkitabiah. Ada referensi narasi Alkitab yang jelas ketika kita ingin membandingkan asosiasi dan metafora yang digunakan dalam puisi tersebut. Paradise Lost dan Paradise Regained dari John Milton, sebagai contoh lain, juga dapat kita sebut sebagai puisi epik alkitabiah. Kekalahan Satan dalam narasi pembuka Paradise Lost dapat kita rujuk ke Kitab Wahyu, kitab terakhir dalam Perjanjian Baru, sedangkan kejatuhan manusia dan dosa asal dalam puisi epik yang sama, dapat kita rujuk ke Kitab Kejadian, kitab pertama dalam Perjanjian Lama. Surga yang hilang dan pencarian yang terus-menerus dalam narasi Perjanjian Lama dilengkapi Milton dengan Paradise Regained. Pencobaan Kristus di padang gurun, adegan vital dalam Paradise Regained, langsung dapat kita rujuk ke kisah yang sama dalam ketiga Injil Sinoptik Perjanjian Baru.

Benar bahwa ada sedikit cuplikan kalimat dari Alkitab dan sejumlah asosiasi dan metafora yang makna referensialnya membawa kita ke sana, tetapi bangunan utama buku puisi Di Kota Tuhan adalah narasi personal tentang cinta antarpersona dan kisah tentang kota Probolinggo. (Kita bahkan bisa menemukan narasi sejarah tentang kota digunakan sebagai referensi oleh Stebby dalam puisi berjudul “Biru Mengenalkan Rabu pada Kotanya” dan sejumlah referensi tempat yang dapat kita temukan di Probolinggo hari ini lengkap dengan foto-foto!)

Dua Buku Puisi tentang Kota

Selain Di Kota Tuhan, ada buku lain yang juga membicarakan kota: Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari? karya Kiki Sulistyo yang meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Karena rentang waktu terbit kedua buku tersebut tidak berbeda jauh, menarik untuk membandingkan dua karya tersebut, selain juga karena setidaknya tiga hal yang berbeda secara mencolok: strategi pengungkapan, posisionalitas penyair dan perwajahan buku.

Dari sisi strategi pengungkapan, meski sama-sama bercerita soal tempat tinggal dan kota asal, keduanya menggunakan cara berbeda. Puisi-puisi dalam Di Ampenan adalah puisi lirik, sedangkan Di Kota Tuhan bisa dibilang sebagai buku yang berisi puisi-puisi naratif, bahkan dalam bagian-bagian yang dipenggal larik demi larik (seperti puisi-puisi di bagian “Midrash II”). Hal ini bisa dilihat dari sejarah proses kreatif. Kiki adalah salah satu penyair Indonesia yang betul-betul memperhatikan detail unsur bunyi dan musikalitas dalam puisi-puisinya; aliterasi, asonansi, serta rima-rima luar yang susul-menyusul, bahkan antara dua kata berdekatan. Sementara jejak-jejakDi Kota Tuhan yang naratif bisa kita telusuri di buku sebelumnya, Biru Magenta; meski dilakukan pembaitan, kalimat-kalimatnya sering berdiri sempurna, dan bagian antar-bait serta antar-larik sering kali dihubungkan dengan kata-kata penghubung, hal-hal yang lazim kita temukan dalam prosa.

Dari sisi posisionalitas kedua penyair, atau pengungkapan pengalaman pribadi kedua penyair, kita melihat dua upaya berbeda dalam memandang kota. Stebby berada pada posisi seorang warga kota yang ingin memperkenalkan kotanya tidak hanya sebagai khazanah personalnya, tetapi juga sebagai suatu keadaan historis, lengkap dengan foto. Kota dalam Di Kota Tuhan adalah kota yang ingin didekatkan justru karena si penyair ingin para pembacanya turut melihat kota itu sebagaimana dialami si penyair, meski tentu saja pembaca selalu memiliki hak prerogatif. Kiki sebaliknya. Meski pada bagian pengantar Di Ampenan Kiki menulis, “Saya tidak ingin melihat Ampenan dengan mata kedua, seolah-olah pengalaman nostalgik saya menjadi pengalaman orang lain, seolah-olah saya yang sekarang bukan saya yang dulu dalam konteks relasi dengan Ampenan. Saya ingin menyatukan diri saya yang sekarang dengan diri saya yang dulu, dengan segala keterpecahannya. Sesuatu yang hampir tidak mungkin terjadi di luar puisi. Seperti ketidakmungkinan Ampenan yang sekarang—dengan perubahannya yang menyedihkan-menjadi Ampenan yang dulu” (hlm. 7), kita melihat adanya keberjarakan si penyair dengan kota yang dipuisikannya. Kiki mungkin menampik Ampenan sebagai bayangan idealnya terhadap masa lalu melalui paragraf pengantar semacam itu, tetapi jelas dalam hal ini Ampenan bagi Kiki jauh lebih berjarak daripada Probolinggo bagi Stebby, sehingga meski Kiki menulis sejumlah puisi yang sifatnya autobiografis, misalnya “kenangan pada bapakku”, sulit bagi pembaca untuk meletakkan itu sebagai semata hal personal yang dimiliki Kiki.

Foto-foto dalam buku puisi Di Kota Tuhan memaksa kita mengalami Probolinggo tidak hanya secara tekstual, tetapi juga secara visual, hal yang tidak kita temukan dalam buku puisi Di Ampenan. Akan tetapi, justru di situlah letak salah satu kritik saya terhadap buku Di Kota Tuhan. Imajinasi kita tentang Probolinggo agaknya memang bersandar pada referensi kota Probolinggo sebagai realitas, tapi karena itulah keberadaan foto-foto pendukung terasa berlebihan. Penataan foto, di banyak bagian, juga mengganggu tata letak puisi. Penataan foto nyaris mencuri begitu banyak tipografi puisi dan mengesankan buku ini berfungsi lebih sebagai buku foto ketimbang buku puisi. Hal ini terbilang baik secara etnografis dengan maksud memperkenalkan kampung halaman kepada orang luar, misalnya, tapi tanpa proporsi yang seimbang malah berpotensi menjemukan pembaca. Dalam versi cetak yang saya baca, pada banyak bagian, satu foto yang terpisah halaman bahkan tercetak dalam keadaan yang tidak presisif, hal yang sangat disayangkan untuk buku yang juga mengandalkan intimidasi visual semacam buku puisi berfoto. Selain itu, catatan kaki yang idealnya membantu pembaca menemukan referensi, di beberapa bagian malah menyulitkan karena rujukan catatan kaki untuk halaman depan baru dapat kita temukan di halaman sebaliknya. Atau bisa kita baca, dalam konsep Ricœur tentang makna sebagai sense dan reference[1], peletakan catatan kaki dan foto-foto justru menjauhkan makna tekstual puisi karena kita dijejali begitu banyak referensi, hal yang memperkecil munculnya makna tekstual sebagai akibat dari begitu dominannya makna referensial. Jika demikian, apa yang membedakan buku puisi dari catatan etnografi tentang kota?

Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah pembagian nomor-nomor, yang dimaksudkan sebagai semacam ayat, juga tidak proporsional. Dalam sejumlah bagian di buku ini, terutama Midrash I, ada ayat-ayat yang cuma berupa keterangan, dipisahkan satu ayat dari satuan predikatif di depannya, atau satuan di belakangnya. Idealnya, satu nomor merangkum satu kalimat (atau minimal satu satuan predikatif). Ideal ini mengandaikan Di Kota Tuhan memang ingin mencuri pembabakan-pembabakan dari Alkitab agar pengingatan dan pengutipannya lebih mudah. NovelAlkudus adalah contoh yang baik untuk strategi semacam itu. Satuan-satuan kalimat yang ditandai dalam novel tersebut adalah satuan-satuan kalimat sempurna dan tidak membingungkan seandainya dikutip secara terpisah. Ide untuk menampilkan narasi tentang kota adalah tawaran yang menarik, tetapi tanpa kecermatan perhitungan, ia bisa terjebak dalam klise, hal yang justru berusaha kita hindari ketika membaca buku puisi.

 

Judul: Di Kota Tuhan, Aku adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah
Penulis: Stebby Julionatan
Genre: Puisi
Penerbit: Indie Book Corner
Tahun terbit: Cetakan pertama, 2018
Dimensi: xiv + 74 hlm; 13,5 cm x 20 cm
ISBN: 978-602-309-333-5

 

Bacaan
Alighieri, Dante. 1994. La divina commedia. Varese: Edizioni Polaris.
Anwar, Asef Saeful. 2017. Alkudus. Yogyakarta: Basabasi.
Calvino, Italo. 2016. Le città invisibili. Milano: Mondadori.
Julionatan, Stebby & Ratna Satyavati. 2015. Biru Magenta. Probolinggo: Ruang Kosong Publishing.
Julionatan, Stebby. 2018. Di Kota Tuhan, Aku adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah. Yogyakarta: Indie Book Corner.
Mari, Michele. 2007. Cento poesie d’amore a Ladyhawke. Torino: Giulio Einaudi editore.
Maro, Publius Vergilius. 2009. Aeneis. Berlin: Walter de Gruyter.
Milton, John. 1956. Milton’s Poems. London: J.M. Dent & Sons Ltd.
Ricœur, Paul. 1976. Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning. Texas: Christian University Press.
Sulistyo, Kiki. 2007. Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari?. Yogyakarta: Basabasi.

 

 

 

 

berita, kemanusiaan, keseharian, pemerintahan, pendidikan, politik, renungan, sejarah

657 TAHUN, DARI MANA ASALNYA?


Sejarah adalah milik pihak-pihak yang berkuasa. Termasuk sejarah bagaimana Hari Jadi Kota Probolinggo ditetapkan pada tanggal 4 September 1359.

Ya, tepat  4 September 2016, Kota Probolinggo berulang tahun ke-657. Namun, yang sering menjadi pertanyaan khalayak, “Bagaimana bisa kota ini usianya lebih tua dari Kabupaten (Probolinggo, red.)? Dan, apa yang menjadi dasar penetapan itu?

Salah satu sumber bacaan yang mengukuhkan tanggal tersebut sebagai hari jadi kota adalah Probolinggo City Goes To The Future (2004), buku yang dikeluarkan masa pemerintahan Wali Kota H.M. Buchori (2004-2014). Dalam buku tersebut dikisahkan bahwa pada masa pemerintahan Bupati Probolinggo ke-17, Raden Adipati Ario Nitinegoro, Pemerintah Hindia belanda membentuk “Gemeente Probolinggo” pada 1 Juli 1918. Bertepatan dengan HUT Bhayangkara. Bahkan, telah beberapa kali diperingati sebagai hari jadi kota oleh pemerintahan terdahulu.

Tapi, sekali lagi, sejarah adalah milik pihak-pihak yang berkuasa dan itu tidaklah salah. Pemerintahan HM. Buchori memandang bahwa kemerdekaan (pemekaran wilayah) harusnya bukanlah hadiah dari penjajah, maka bersama tim pencetus sejarah kota saat itu, Buchori menilik kembali sejarah Kota Probolinggo, khususnya saat pembukaan Banger oleh Prabu Hayam Wuruk.

Continue reading “657 TAHUN, DARI MANA ASALNYA?”

berita, bisnis, kemanusiaan, pemerintahan, penghargaan, politik

UMK 2014 NAIK SIGNIFIKAN


Penerapan Pergub No. 78 Tahun 2013 tentang Upah Minimum Kota/Kabupaten di Jawa Timur 2014, memancing banyaknya reaksi unjuk rasa dari para pekerja. Uniknya, hal tersebut tidak berlaku di Kota Probolinggo. Apakah sebabnya?

“Kota Probolinggo punya lembaga triparteid, yang terdiri dari unsur Pemerintah, dalam hal ini Disnaker, serikat pekerja (SPSI) dan pengusaha (Apindo). Secara rutin kami bertemu mengantisipasi permasalahan. Jadi sebelum masalah-masalah tersebut mencuat, kami sudah menuntaskannya,” jelas Sudarsono, Kabid Hubungan Industri dan Syarat Kerja di Disnas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Probolinggo saat Link-Go menemuinya di ruang kerjanya, Selasa (10/12) lalu.

Continue reading “UMK 2014 NAIK SIGNIFIKAN”

bahasa, budaya, cinta, kehidupan, pemerintahan, pendidikan, penghargaan, politik, sejarah, seni

VIRUS ITU DARI PROBOLINGGO


Gambar

 

LINEPROBOLINGGO_Virus Komputer merupakan program komputer yang dapat menggandakan atau menyalin dirinya sendiri dan menyebar dengan cara menyisipkan salinan dirinya ke dalam program atau dokumen lain.

Virus komputer dapat dianalogikan dengan virus biologis yang menyebar dengan cara menyisipkan dirinya sendiri ke sel makhluk hidup. Virus komputer dapat merusak (misalnya dengan merusak data pada dokumen), membuat pengguna komputer merasa terganggu, maupun tidak menimbulkan efek sama sekali.

Bagaimana dengan virus menulis. Sebut saja misalnya saat ini Pemkot Probolinggo sedang mengadakan lomba menggoblogkan Probolinggo. Menurut  kami ini sebuah virus. Virus tidak mesti bermakna jelek. Menularkan virus menulis kepada kaum muda atau orang yang mau menulis adalah hal baik.

Sebut saja misalnya, beberapa kelompok penulis blog di Probolinggo dan Komunitas Menulis (Komunlis) Probolinggo, menyebar semangat dengan cara menyisipkan gairah menulis ke sel kaum muda Probolinggo lalu mereka menjadi mahir dalam menulis atau paling tidak ada kemauan untuk menulis, sudah merupakan sebuah potensi.

Continue reading “VIRUS ITU DARI PROBOLINGGO”

berita, cinta, cinta tanah air, kemanusiaan, motivasi, pemerintahan, penghargaan, politik, sejarah

GEMILANG PRESTASI WALIKOTA BUCHORI WARNAI SIDANG PARIPURNA


Luar biasa prestasi Walikota Probolinggo, HM. Buchori, SH. M.Si. Seperti yang disampaikan oleh Ketua DPRD Kota Probolinggo, H. Sulaiman, dalam Sidang Paripurna Istimewa Peringatan Hari Jadi Kota Probolinggo ke-654 Tahun 2013, pada Kamis (5/9) kemarin, 09.00 WIB, prestasi Walikota ke-26 ini jauh mengungguli prestasi walikota sebelum-sebelumnya.

“Dalam Kiprahnya Saudara Walikota HM. Buchori, SH. M.Si. telah banyak mengukir prestasi yang secara nyata telah berdampak pada peningkatan taraf hidup masyarakat Kota Probolinggo menjadi lebih baik,” ungkap Sulaiman di hadapan para peserta sidang.

Ada 20 poin yang dibacakan Sulaiman terkait dengan prestasi Walikota Buchori selama masa kepemimpinannya, di antaranya: pemekaran kecamatan (dari 3 kecamatan menjadi 5 kecamatan), pembangunan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP), pembangunan GOR Mastrip, pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa), raihan penghargaan 7 kali berturut-turut Adipura untuk Kota Sedang, penghargaan WTN Peringakat Pertama selama 5 tahun berturut-turut dan  Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) Laporan Keuangan Daerah (LKPD) Tahun 2013 untuk yang kedua kalinya.

Continue reading “GEMILANG PRESTASI WALIKOTA BUCHORI WARNAI SIDANG PARIPURNA”