renungan, sastra, sejarah, seks, seni, spiritualitas

Mendengarkan Kicau Burung Gereja di Atas Delman Menuju Semipro


Oleh Pertama kali disampaikan di kegiatan bedah buku yang dihelat di Perpusda Kabupaten Probolinggo pada 26 November 2018 dan dipublikasikan di Kibul.in

 

/1/

Apakah puisi seperti jazz? Boleh jadi – bila puisi tidak cuma kata, tak cuma kalimat, tapi juga nada, irama, bunyi, bahkan kebisuan, juga elemen ketidaksadaran. Freud menyebutnya sebagai ungkapan yang terbentuk dari dorongan-dorongan naluriah. Puisi-puisi Stebby Julionatan dalam Di Kota Tuhan, Aku adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah, bagi saya, mirip jazz yang saya temui dalam roman-metropolitan Seno Gumira Ajidarma, Jazz, Parfum, dan Insiden; ia seperti hiburan, tapi hiburan yang pahit, getir, sendu, ungkit rasa duka. Si tokoh Aku dalam roman tersebut mengaku teringat kepada lagu Berta, Berta dalam album Branford Marsalis, I Heard You Twice the First Time, sebuah nyanyian bersama tanpa iringan instrumen tanpa bermaksud menjadikannya suatu paduan suara yang canggih.

Seperti Seno, Stebby juga memperlihatkan puisi seperti iringan nada-nada, kenangan orang tua dari Als de orchiden Bloein yang disebut-sebut dalam puisi Stebby tersebut: seorang pejuang sekaligus seniman Ismail Marzuki yang menulis maha tembang tentang sebuah analogi Bunga Anggrek yang Mulai Tumbuh. Puisi-puisi Stebby adalah bunga anggrek yang menghiasi rawa-rawa yang (sering) keruh; lagu itu adalah tentang kehilangan sekaligus pertemuan. Romansa sekaligus melankolia atas Hindia Belanda bagi para bumi putera di musim gugur anggrek.

Als de orchideen bloein,
ween ik haast van liefdes smart.
Want ik kan niet bij je wezen

Si penulis keroncong merasa kehilangan di saat anggrek bermekaran / Saya hampir menangis / karena aku tidak bisa bersamamu. Perasaan kehilangan itu, perasaan tidak bersama itu, dirasakan betul oleh seorang Biru yang juga merasa sendiri setelah melihat Tuhannya bercabang (hlm. 16) karena kedua orang tuanya beda agama, yang melankolis melihat Rabu semakin keburu … lenyap ditelan kelabat asap … di atas bus-bus berjingkat (hlm. 19). Seperti kata Stebby, irama itu adalah ukulele bagi kenangan orang tua tentang dirinya, tentang Rabu dan Biru.

Namun, kehilangan dan pertemuan itu diungkap dalam satu instrumen yang berdialog, sesuatu yang segar dan sering mengejutkan, sebagaimana jazz merupakan suatu percakapan akrab yang terjadi dengan seketika, spontan, dan tanpa rencana. Ah, bukankah Stebby menyebut Duka yang dilihat orang sebagai tontonan (hlm. 36). Puisi Stebby mengemas kehilangan (atau juga kerinduan?) itu dalam iringan irama yang melodis. Irama, rima, asonansi, aliterasi beserta kombinasinya, repetisi, bentukan kosa kata baru atau kosakata lama yang langka (rumbia, aurora, cetat, aubede, miktam,rantas), kata-kata lumrah yang dioplos begitu rupa sehingga bunyinya (dan dengan

demikian, maknanya) jadi unik serta segar (aku daging dan kau rangka, izinkan aku mencinta sekaligus berselibat dari rantai dosa-dosa)

Stebby seakan memiliki apa yang Eliot pernah sebut dalam The Use of Poetry and the Use of Criticism sebagai ‘imajinasi audiotirs’: kepekaan terhadap ritme dan sukukatayang menembus jauh ke wilayah bawah sadar dari pikiran dan perasaan, yang menguatkan, menyegarkan, setiap kata. Eliot percaya, watak musik yang memesona bagi penyair adalah pada kepekaannya terhadap ritme dan struktur. Seolah kembali memanggil Schiller, Eliot juga melihat bahwa puisi mula-mula hadir dalam ritme tertentu yang kemudian membentuk ide dan imaji dalam jalinan kata-kata. Jika Sutardji sejak awal melancarkan agenda pembebasan kata dari ‘beban pengertian’, berbicara tentang mantra yang menekankan repetisi, tapi agenda Stebby adalah menyimpan semacam tertib alamat, bahkan mungkin ‘amanat’, dalam sengkarut kata puitis dalam musik ukulele, keroncong. Puisi-puisi Stebby dalam “Midrash Kedua (2017)” memperlihatkan agenda tersebut, bahkan sejak awal dalam puisinya berjudul “Imam” (hlm. 70):

Aku daging dan kau rangka; kusumbang asupanmu dalam sel-sel darahku
Aku daging dan kau rangka; kutuai dosa-dosa agar dirimu (tampak) selalu suci.
Aku daging dan kau rangka; izinkan aku mencinta sekaligus berselibat dari rantai dosa-dosa.

Sejak dari judulnya kita tahu, puisi ini ‘beralamat’ terang. Saya yakin para pembacanya umumnya maklum siapa itu imam, bagaimana ia berjuang atas nama Tuhan dan jamaat, memutus mata rantai kekerasan — sebagaimana tertera dalam Matius (5: 39): “siapa yang menamparmu pada pipi kanan, sodorkan kepadanya pipimu yang lain..”, sebagaimana Yesus sebagai Imam jamaat menanggung dosa-dosa agar dirimu (tampak) selalu suci, menanggung dosa-dosa para Kristiani agar tampak suci.

Maka, seperti Stebby juga, saya berani katakan bahwasanya dampak utama puisi ini pun datang dari bunyi repetitif “aku daging dan kau rangka”. Bunyi yang berulang tersebut begitu kuat menyugestikan harapan akan datangnya kebebasan dan pembebasan dosa-dosa. Beratnya jalan menuju pertobatan dosa-dosa itu direpresentasikan melalui korespondensi yang tak gampang antara daging dan rangka; antara menuai dosa-dosa dan melindungi orang-orang agar tampak suci; antara terlibat dalam cinta dan terlibat dalam rantai dosa-dosa.

Saya kira, puisi “Imam” sangat bagus untuk menggambarkan betapa makna, hubungan kausalitas antarmakna dan unsur-unsur musikal bersinergi dengan efektif mewujudkan keindahan paripurna sebuah puisi, layaknya keindahan nyanyian burung gereja yak tak melihat ruma, namun menilih hati (hlm. 60). Dengan adanya semacam takrif yangmembatasi ruang-gerak permainan imajinasi, efek psikis yang ditimbulkan oleh bunyi repetitifnya bukan hipnose, melainkan justru sebaliknya: kesadaran, Pembebasan.

/2/

Uniknya, jazz yang dimainkan secara puitis itu dijalankan oleh Stebby di atas delman dalam perjalanan menuju Semipro, sambil lalu lentik mengerling pada banyak wisatawan (hlm. 7). Midrash Pertama (2015-2016) nyaris seluruhnya adalah puisi traveling tentang sebuah kota seluas kepalangan tangan Nabot, yang merentang dari Ketapang hingga Dringu, dari Mayangan hingga Wonoasih (hlm. 6). Sembari memainkan jazz, ia seakan membangun kota Probolinggo dari dinding-dinding gereja besinya, mengumpulkan puing-puing piktografis untuk memberikan kesan kompleks nan cantik tentang kota tersebut, layaknya bunga anggrek dalam nyanyian Als de orchiden Bloein yang bermekaran menghiasi rawa-rawa yang umumnya keruh dan kotor.

Dalam “Biru Mengenalkan Rabu pada Kotanya” (hlm. 5), Stebby memperlihatkan secara jelas nalurinya sebagai traveler itu.

16 Rabu, datanglah ke kotaku di bulan Juli. 17 Bukan, bukan karena aku berulang tahun. 18 Tapi di masa itu, guguran kuning angsana mewarnai halaman museum.

19 Berjalanlah di sepanjang jalannya. 20 Suroyo, yang dulu rimbun oleh gugusan asam Jawa. 21 Sembul klangenan noni-noni pada negerinya. 22 Juga gereja yang warnanya kini dikenal hingga ke negeri penjajahnya.

Puisi di atas memperlihatkan kecermatan seorang penjelajah yang memiliki fantasi atas kotanya sendiri, kota yang selalu ramai di sepanjang Semipro di bulan Juli (hlm. 6), kota yang memiliki BJBR nan indah di kala senja (hlm. 32), kota dengan gereja besi yang berdiri kokoh di jalan Suroyo itu (hlm. 48). Tanpa insting voyage, mustahil Stebby bisa menarasikan situasi kota itu dengan penuh romansa, dan juga melankolia.

Ia romansa, karena di sana ada pertemuan Biru dengan Rabu; namun, ia sekaligus melankolia karena di kota itu Biru juga terpisah dari Rabu, Biru yang tak pernah (diizinkan) memiliki dua nahkoda dalam satu bahtera (hlm. 9), tak mungkin ada dua agama dalam sebuah keluarga, seorang penjelajah yang justru merasa asing (homeless) di tanah kelahirannya sendiri.

Berbeda dari penilaian Rosalla Desi (dalam “Jalan-Jalan Bersama Stebby di Kota Tuhan”) tentang Di Kota Tuhan yang menurutnya ‘sangat Stebby’; bagi saya, Di Kota Tuhan adalah Stebby sekaligus bukan-Stebby. Ia Stebby karena menceritakanpengalaman getir penulisnya tentang kota kelahirannya sendiri, namun ia juga bukan-Stebby karena penulisnya merasa asing justru di kotanya sendiri.

Sampai di sini, Stebby berada dalam sebuah dilema, dilema yang tak pernah bisa ia tolak sebagai penulis puisi perjalanan itu: apakah ia memilih menjadi seorang penjelajah yang serius atau justru seorang turis yang fantastik. Untuk menulis kehidupan kultur urban, seseorang pertama-tama harus menjadi seorang ‘outsider’ (orang asing), karena hanya dengan itulah ia bisa menulis objeknya. Ketika Stebby memilih untuk menulis kotanya sendiri, ia sebenarnya sedang (dan memang harus) mengambil jarak agar mampu merumuskan ‘otentisitas’ kota yang ditulisnya. Cara seperti ini lazim ditemui dalam kerja-kerja etnografer.

Dalam “Bentangan yang Membawa Kembali Kenangan” (hlm. 36), Stebby menulis:

1 Bromo seperti bentangan yang membawa kembali kenangan. 2 Ia seperti rentang tangan yang memeluk kembali kehilangan. 3 Kabut, lerai cemara, nyanyian pipit di pagi hari. 4 Wangi kecubung, bau tahi kuda, dan getar otomotif yang merobek lautan pasir.

Perhatikan, imaji tentang Bromo, tentang kabut, lerai cemara, nyanyian pipit, yang diiringi dengan wangi kecubung, bau tahi kuda, dan getar otomatif ditulis dalam narasi puitika-etnografis yang detail, dan ini hanya mungkin dilakukan jika penulisnya berposisi sebagai outsider (orang luar), seorang traveller (penjelajah). Menggambarkan Bromo membuat Stebby seperti orang lain, orang asing, seorang turis (domestik), yang melihat Boromo secara reduksionistis sebagai kawasan yang penuh kenangan, eksotisme, kabut, dan seterusnya.

Pandangan seorang turis (tourist’s gaze)—kata John Urry dalam Leisure and Travel in Contemporary Societies (1990)—tak jauh beda dengan masculin voyeour (seorang priapenjelajah), yang melihat Probolinggo layaknya memandang seorang wanita dengan hasrat ingin memiliki. Hasrat itu sendiri bersifat jouissance, mengasyikkan tapi sekaligus menyakitkan, dan menulis puisi-puisi perjalanan itu memang pekerjaan yang menyenangkan sekaligus melelahkan, yang fantastik tapi sekaligus adiktif. Hal itu tak lain karena kita harus menjadi ‘asing’, homeless, di tengah dunia yang sebenarnya akrab dengan kita. Kita harus menjadi turis di negeri sendiri, menjadi alien untuk menciptakan hal-hal yang normal menjadi unik dan tak biasa bagi orang lain.

Tetapi, benarkah Stebby sedang menjadi ‘orang lain’ untuk membebaskan diri, atau ia sebenarnya sedang menjadi ‘diri sendiri’ untuk memberikan kebebasan bagi orang lain?

/3/

Di ujung puisi ini saya merasa bahwa drama pembebasan dan pertobatan dosa-dosa itu agaknya bagian dari sebuah skenario ilahiah. Sasarannya sangat jelas: “… untuk Kota Probolinggo, kota seorang penyair yang merasa dirinya Musa yang telah berjasa menuntun bangsanya keluar dari Mesir, namun dinajiskan Allah menyentuh Kanaan – Tanah Perjanjian” (hlm. 5). Akhirnya, kota Tuhan yang dimaksud dalam puisi initernyata adalah parodi. Ini allusion. Ini bukan sebuah kisah keagamaan (semata). Ini kisah pemaksaan kekuasaan. Di Probolinggo, dengan persekot 200 gulden, Han Kek Koo membeli kota itu seharga sejuta ringgit. Dan hendak menguasainya selama sepuluh tahun, dari 1810 (hlm. 62).

Sejak lama, nama Tuhan memang sering jadi alibi bagi sebuah penaklukan terhadap ‘yang lain’ di seberang sana: ‘mereka’ yang bukan ‘kami’. Bagi orang kulit putih dari abad-abad silam, emas, tahta, dan Tuhan merupakan paket three-in-one yang membenarkan setiap tindak penguasaan terhadap bangsa kulit berwarna, subkultur, mereka yang dianggap masih primitif, bebal, dan kanibal. Dalam hal ini, penaklukan adalah syiar peradaban: hiduplah bersama kami dalam kerajaan Tuhan, atau binasa di tangan kami yang dituntun daulah Tuhan. Dua opsi yang praktiknya sama saja, sebenarnya, yakni “mereka” harus berhentik menjadi “mereka.”

Sebuah kronik penaklukan ini saya temukan justru dalam kehidupan Stebby yang paling intim:

20 Ya, di tempat ini pula, Mama mengubah kemudinya, 21 mengikut Papa. 22 “Tak mungkin ada dua nahkoda dalam satu bahtera,” begitulah ungkap Mama sebelum memalingkan muka. 23 Sama sepertiku; yang telah memilih diri untuk mengikutmu. Aku tidak peduli 24 meski nantinya, akan banyak hari serta muka yang menjauhjatuhkan paling dariku. (hlm. 10)

Tak ada yang lebih sulit selain menerima kenyataan bahwa kita harus dipaksa menjadi mereka, dan lebih rumit lagi jika paksaan itu ternyata justru lahir dari lingkungan terdekat kita. Dari sini, Stebby tampak nyaris kehilangan gairah khidmat atas Tuhan. Dalam puisi “Jangan-Jangan, Tuhan Sendirilah Kebencian Itu” (hlm. 12), ia bahkan menyatakan secara jelas puncak dari seluruh perjalanan eksistensialnya, 1 Apakah aku bisa memilih 2 untuk dilahirkan oleh orang tua yang tak bermasalah? (hlm. 12).

Mungkin karena itulah ia mencintai Probolinggo, bukan semata-mata karena kota ini adalah tempat kelahirannya, namun terlebih karena ia menggambarkan sejarah hidupnya sendiri. Probolinggo, kota yang tak pernah menjadi pusat, namun juga bukan pinggiran; kota sekadar tempat singgah Brawijaya saat mengunjungi rakyatnya di ujung Timur; kota yang dipenuhi ketakacuhan dan ketidakpedulian; kota yang mirip seperti Kanaan, Tanah yang Dijanjikan dari jemaat Musa yang terbuang; kota yang dipenuhi dengansorga masa kanak-kanak, namun neraka masa dewasa.

Namun, pergi selalu berupa kepulangan abadi. Setiap kali ia membenci hidup, setiap kali itu pula ia menyadari betapa hidup terlalu sayang untuk cepat diakhiri (hlm. 30). Di sinilah Stebby akhirnya membuka Midrash Kedua, midrash yang ia akui sendiri sebagai simbol kepasrahan total (dalam kondisi taat tanpa tapi dan patuh tanpa nanti) dari seluruh kompleksitas hidup yang ia tampilkan dalam Midrash Pertama, inilah kepasrahan seorang Maria yang sangat menjaga diri, tutur, dan lakunya, hingga ia pantas disucikan.

/4/

Cukuplah akhir puisi ini, “Salam”, yang mencakup tiga tema besar yang telah dibahas sejauh ini (lagu, perjalanan, dan Tuhan)

1 Salamku bagimu, para pejalan Emaus, 2 saatnya merelakan semua.

Narasi tentang kebangkitan Yesus dalam perjalanan Emaus bersama dengan dua muridnya, sebagaimana yang tergambar dalam Injil Lukas 24: 13-35, menggambarkan secara sempurna sketsa keseluruhan dari puisi-puisi Di Kota Tuhan ini. Bagaimana dua orang murid yang menempuh perjalanan bersama Yesus justru tidak sadar bahwa Yesus sedang bersama dirinya. Mereka sadar justru ketika perjamuan makan malam di Emaus.

Perjalanan Emaus dalam puisi ini layaknya perjalanan menaiki delman ke Semipro sambil mendengarkan nyanyian burung gereja.

Peristiwa Emaus adalah peristiwa tentang perjalanan ‘teofanis’ manusia fana yang tak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam sebuah perjamuan yang telah ditakdirkan, suatu perjamuan yang getir, hanyut, mengasyikkan, namun penuh keterkejutan. Sebagaimana pejalan Emaus, perjalanan penyair dalam puisi-puisi Di Kota Tuhan adalah perjalanan eksistensial seseorang yang tak menyadari bahwa merekasedang berada dalam sebuah kota yang telah ditakdirkan, sebuah kota yang menyimpan kenangan getir, pahit, dan penuh teka-teki, kota yang kepadanya kita pulang dan darinya kita pergi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s