cinta, renungan, sastra, seks, seni, spiritualitas

The 17 Remaining: Memories of My Body


On June 17th 2019, the Mayor of Probolinggo successfully halted Writing Community (Komunlis) initiative of joint movie gigs: Kucumbu Tubuh Indahku/KTI (The Memories of My Body). Mimicking other city governments’ and fear of few groups rejection escalating shall this movie ever played in Probolinggo.

Religious leaders with fundamentalist views among that few rejecting groups may trigger public outrage which could cause public properties damage. Practically since KTI was aired nationally, it raised support over LGBT issues and difference of sexual orientation diversion.

Then again the journey of this movie were ceased on December 17th 2019 from representing Indonesia on 2020 Academy Awards as announced by Fourcolour, its production house official instagram. Generously thank all those supporting KTI made its way to The Annual 92nd Academy Awards thus far.

The 17th on both events above is relatable phenomenon connecting the two. The movie representation in an Oscar pre-selection filma has diverted public reactions driving them to theatres in major cities within to watch KTI and those feared started to flexibly accepting. These include those shadowed with hatred & imprisoned by local authorities’ dogmatic views changed their minds upon KTI recent international recognition. This confirms irreasonably proven public fears over ‘the others’ group.

I was reminded by my best buddy, Royyan Julian, for his speech at Christmas Celebration for GPIB “Mahkota Hayat” Church in Pamekasan – Madura representing muslim community & Gusdurian said that church life for him in Pamekasan is generallytera incognita, the unknown zone. The zone invites questions, curiousity & feared to enter.

This may similar to Juno’s lives in KTI as well. Of which sparks curiousity & public fears at the same ended up in prejudice and hatred – even before fully watching this movie in the first place.

Juno self-seeking identity journey marvellously depicted by the director, Garin Nugroho, of lengger male artistic dancer in Banyumas exquisitely portrayed by Rianto is ultimately common in public.

Moreover if discussed in the context of culture & arts. Gender switching from male to female or if stage-performed versus first-sexual identity in traditional performance arts such as Ludruk in villages specifically where I live become quite crowds-attraction. In 90’s, we werereminded by Tessy (male turned to female comedian) in Srimulat comedian group.

Heti Palestina Yunani in her essay titld Kemenangan Tubuh yang Trauma / The Winning of Traumatic Body (published by Jawa Pos newspaper on 15 December 2019), noted Garin’s winnings (in 2019 Indonesia Film Festival which also sent him to Oscar pre-selection in the same year) described Rianto feminine & masculine bodily journey is also an ultimate winning of idea. About how culture was born out of social formation as well as political influence and understanding that makes them.

Heti further said KTI is Rianto ultimate depiction of how body traumatic detachment learning process took place.

“People needs to learn the least not to say or express negative perception over male dancing in female outfit,” as Rianto said. Dancer’s outfit is nothing new & closely related to Indonesia long cultural history.

I’ve had the same experience (reads: irreasonable fears over ‘the other group’) when publishing my novel Rumah Ilalang. Despite about compassion & my auto-critics over ignorance of Christian community to those deceased without paying diaconia, the talks in book reviews always around the drag sexuality figure named Tabita. I need to apologize the audience as I will be explaining from scientic studies & empirical point of LGBT.

Such fear is reasonable. I personally thought since molestation case of dangdut singer, Saiful Jamil, homosexual damages nation’s generation became prominent. Society feared if thus could affect them or their loved ones. Until we learn the term of homophobia. Feared to those assumed homosexual. Moreover if molester is caught, they tend to assume such caused by same childhood experience. This devilish phobia is spiralling without further understanding.

Discussing ‘the other’ at the end of 2019, I was invited to literary event at Ralita FM radio station in Madura. Interestingly in off-air interview about ‘the other’, radio announcer thrown my book & refused to continue reading the illicit sexual content of this drag figure.

She said: “I might be like Hanung (Tabita father figure in Rumah Ilalang novel). I could accept if that (reads: LGBT) happen outside of my surroundings. But may not accept if that happens to my family. My child”

As I explained earlier many believes reason given by Saiful Jamil when caught after molestation. However, they’d not want to read or enrich their knowledge that surrounded by gays or had sexual molestation does not necessarily turn into gay. Human has free-will that latest research indicates being ”gay” is genetically imprinted within the body DNA.

I let my empirical experience empowered me instead after experiencing molestation by an ‘uncle’ when in high school even before turning 17. I never let myself to become a pedophille.

Then why should we afraid of Juno storyline? I conquer with Whany Darmawan, the manly-figure (warok) in KTI. He said few people make movies for entertainment but would it be wrong if movie is used as real portrayal of badly-ill society which unable to accept bodily difference & sexual orientation?

Published in Jawa Pos. Sunday, Januari 29th with tittled Mencumbtu Terra Incognita (Kissing Terra Incognita).

 

bahasa, budaya, penghargaan, politik, psikologi, renungan, sejarah, seks, spiritualitas

Mencumbu Terra Incognita


Oleh: Stebby Julionatan *)

 

PADA 17 Juni 2019, wali kota Probolinggo menggagalkan rencana Komunlis (Komunitas Menulis) untuk menggelar nobar film Kucumbu Tubuh Indahku (KTI). Alasannya, banyak aksi penolakan di daerah lain pada film ini yang ditakutkan akan berimbas serupa ketika nanti diputar di Probolinggo.

Isu-isu penolakan kaum agamawan dan fundamentalis yang berimbas pada penyerangan tempat-tempat publik adalah yang paling ditakutkan. Karena praktis, sejak penayangannya secara nasional, isu-isu LGBT menguak. Film itu pun dianggap sebagai bentuk dukungan atas orientasi seksual yang menyimpang.

Pada 17 Desember 2019, perjalanan Kucumbu Tubuh Indahku (KTI) untuk mewakili Indonesia pada perhelatan Oscar terhenti. Hal ini diumumkan oleh Fourcolours, produser film tersebut, dalam pernyataan resminya melalui akun Instagram. Mereka menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah mendukung KTI dalam ajang Academy Awards Ke-92.

Di samping tanggal yang kebetulan sama (tujuh belas), ada satu fenomena yang dapat kita cermati dari dua peristiwa tersebut. Yakni, berkat keterwakilannya di Oscar, beberapa bioskop di daerah yang semula takut mulai longgar untuk kembali memutar KTI. Orang-orang pun, yang semula membenci dan terkungkung oleh dogma pelarangan kepala daerah, jadi penasaran dan malah berbondong-bondong untuk menyaksikan film unggulan Indonesia di ajang internasional tersebut. Hal tersebut menjadi bukti bahwa selama ini ada ketakutan publik yang tak beralasan terhadap sang ’’liyan’’.

Saya jadi ingat pidato kawan saya, Royyan Julian, saat dia diundang dalam acara perayaan Natal kemarin di jemaat GPIB ’’Mahkota Hayat’’ Pamekasan. Royyan yang saat itu mewakili umat muslim dan Gusdurian berkata bahwa kehidupan gereja bagi dirinya dan warga Pamekasan secara umum adalah terra incognita, daerah yang tak dikenal. Daerah yang mengundang tanya, penasaran, sekaligus rasa takut untuk dimasuki.

Mungkin seperti itu jugalah kehidupan Juno dalam KTI. Ia memunculkan rasa penasaran sekaligus ketakutan publik yang berujung pada prasangka dan kebencian –bahkan tanpa menonton filmnya terlebih dahulu secara utuh.

Kisah pencarian jati diri Juno yang diangkat secara apik oleh sutradara Garin Nugroho dari kisah seniman lengger lanang asal Banyumas, Rianto, sejatinya adalah hal yang juga lumrah terjadi di masyarakat. Terlebih jika kita memperbincangkannya dalam konteks budaya dan kesenian. Hal-hal seperti pertukaran peran pria dan wanita atau tampil di panggung tidak sesuai dengan identitas seksual yang melekat adalah hal yang membuat kesenian tradisional (misalnya ludruk) di desa-desa, khususnya di tempat saya bermukim, jadi ramai untuk dinikmati. Di periode ’90-an mungkin kita bisa mengingat kepopuleran Tessy dalam grup Srimulat.

Heti Palestina Yunani dalam esainya yang berjudul Kemenangan Tubuh yang Trauma (Jawa Pos, 15 Desember 2019) mengatakan bahwa kemenangan Garin (di FFI 2019 yang juga mengantarnya mewakili Indonesia pada ajang Oscar di tahun yang sama) pada perjalanan ketubuhan Rianto yang feminin sekaligus maskulin tersebut sejatinya adalah kemenangan ide. Tentang bagaimana kebudayaan itu lahir dari bentukan sosial, pengaruh, dan paparan paham politik yang membentuknya.

Lebih lanjut Heti mengatakan bahwa sejatinya KTI adalah gambaran proses pembelajaran Rianto tentang bagaimana memandang tubuh agar bisa lepas dari trauma.

’’Masyarakat perlu belajar setidaknya tak mengatakan hal yang buruk atau persepsi negatif tentang lelaki yang menari dalam pakaian perempuan.’’ Demikian ungkap Rianto. Sebab, pakaian penari saat tampil bukan sesuatu yang baru di Indonesia, melainkan memiliki sejarah yang sangat panjang dalam kebudayaan Indonesia.

Pengalaman yang sama (baca: ketakutan yang tak beralasan pada sosok liyan) saya alami saat menerbitkan novel Rumah Ilalang. Novel itu berkonsep soal kasih. Soal autokritik saya mengenai ketidakpedulian umat Kristen kepada mereka yang meninggal tanpa membayar iuran diakonia. Tapi, pembicaraan di setiap acara bedah buku yang digelar selalu berkutat pada seksualitas tokoh waria yang saya hadirkan, Tabita.

Sehingga penting bagi saya, sebelum menjelaskan dasar pemikiran, selalu meminta maaf kepada para peserta diskusi ketika nanti saya menjelaskan berdasar studi keilmuan dan empiris. Yang berarti tidak akan melegakan rasa penasaran mereka, alih-alih mengurangi rasa takut terhadap LGBT.

Saya rasa ketakutan ini beralasan. Saya pribadi menengarai bahwa sejak kasus pencabulan yang dilakukan oleh pedangdut Saiful Jamil, narasi bahwa homo adalah perusak generasi bangsa semakin santer. Masyarakat takut jika hal tersebut akan menimpa diri atau orang yang mereka cintai. Hingga kita mengenal istilah homofobia. Rasa takut terhadap mereka yang ditengarai homo.

Terlebih saat para pelaku pencabulan itu ditangkap, mereka senantiasa berdalih bahwa penyimpangan yang mereka alami diakibatkan oleh pengalaman masa kecil yang serupa. Maka, bergulirlah rantai setan fobia itu tanpa pemahaman lebih untuk memutusnya.

Berbincang soal yang liyan, di akhir 2019 ini saya diundang untuk mengisi beberapa acara literasi di Madura. Salah satunya di radio Ralita FM. Ada pengalaman menarik terkait kaum liyan yang terjadi saat saya diwawancarai meski hal tersebut terjadi secara off air. Sang penyiar berkata bahwa ia sempat melempar buku saya dan tak ingin melanjutkan membaca saat saya berkisah secara gamblang perihal kehidupan seksual tokoh saya yang waria itu. Ia berkata bahwa, ’’Mungkin saya sama seperti Hanung (tokoh ayah Tabita dalam novel Rumah Ilalang). Saya bisa menerima jika hal tersebut (baca: LGBT) terjadi di luar lingkungan saya. Tapi, saya tidak bisa menerima jika hal tersebut terjadi pada keluarga saya sendiri. Anak saya.’’

Ya, seperti yang saya jelaskan di awal, banyak orang percaya pada alasan orang-orang seperti Saiful Jamil yang ditangkap karena melakukan pelecehan seksual. Tapi, mereka tak pernah mau membaca atau menambah keilmuan mereka bahwa menjadi gay bukan karena Anda hidup di lingkungan yang banyak gay atau pernah dilecehkan secara seksual di dalamnya. Sebagai manusia kita memiliki kehendak bebas akan hal tersebut. Bahkan, penelitian telah membuktikan bahwa ’’gay’’ adalah kode genetik yang telah tertulis dalam susunan DNA tubuh kita.

Biarlah pengalaman empiris saya yang menguatkannya. Saya pun pernah mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh ’’paman’’ saya saat saya SMA. Saat saya belum genap berusia 17 tahun. Tapi, hal tersebut tak lantas menjadikan saya seorang pedofil dan gemar mengumbar nafsu seksualnya. Menjadi gay pemangsa para lelaki.

Jadi, kenapa kita harus takut pada kisah Juno? Saya justru sepakat apa yang dikatakan oleh Whany Darmawan, si pemeran warok dalam KTI. Ia mengatakan bahwa beberapa orang membuat film sebagai alat hiburan, tapi apakah salah jika film digunakan sebagai potret sebenarnya bagi masyarakat yang tengah sakit? Masyarakat yang tidak mampu menerima perbedaan antara tubuh dan orientasi seksual? (*)


*) Stebby Julionatan, penyair, novelis, cerpenis, dan penggiat literasi dari Probolinggo

 

Tulisan ini dimuat di harian Jawa Pos, Minggu, 29 Desember 2019.

renungan, sastra, sejarah, seks, seni, spiritualitas

Mendengarkan Kicau Burung Gereja di Atas Delman Menuju Semipro


Oleh Pertama kali disampaikan di kegiatan bedah buku yang dihelat di Perpusda Kabupaten Probolinggo pada 26 November 2018 dan dipublikasikan di Kibul.in

 

/1/

Apakah puisi seperti jazz? Boleh jadi – bila puisi tidak cuma kata, tak cuma kalimat, tapi juga nada, irama, bunyi, bahkan kebisuan, juga elemen ketidaksadaran. Freud menyebutnya sebagai ungkapan yang terbentuk dari dorongan-dorongan naluriah. Puisi-puisi Stebby Julionatan dalam Di Kota Tuhan, Aku adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah, bagi saya, mirip jazz yang saya temui dalam roman-metropolitan Seno Gumira Ajidarma, Jazz, Parfum, dan Insiden; ia seperti hiburan, tapi hiburan yang pahit, getir, sendu, ungkit rasa duka. Si tokoh Aku dalam roman tersebut mengaku teringat kepada lagu Berta, Berta dalam album Branford Marsalis, I Heard You Twice the First Time, sebuah nyanyian bersama tanpa iringan instrumen tanpa bermaksud menjadikannya suatu paduan suara yang canggih.

Seperti Seno, Stebby juga memperlihatkan puisi seperti iringan nada-nada, kenangan orang tua dari Als de orchiden Bloein yang disebut-sebut dalam puisi Stebby tersebut: seorang pejuang sekaligus seniman Ismail Marzuki yang menulis maha tembang tentang sebuah analogi Bunga Anggrek yang Mulai Tumbuh. Puisi-puisi Stebby adalah bunga anggrek yang menghiasi rawa-rawa yang (sering) keruh; lagu itu adalah tentang kehilangan sekaligus pertemuan. Romansa sekaligus melankolia atas Hindia Belanda bagi para bumi putera di musim gugur anggrek.

Als de orchideen bloein,
ween ik haast van liefdes smart.
Want ik kan niet bij je wezen

Si penulis keroncong merasa kehilangan di saat anggrek bermekaran / Saya hampir menangis / karena aku tidak bisa bersamamu. Perasaan kehilangan itu, perasaan tidak bersama itu, dirasakan betul oleh seorang Biru yang juga merasa sendiri setelah melihat Tuhannya bercabang (hlm. 16) karena kedua orang tuanya beda agama, yang melankolis melihat Rabu semakin keburu … lenyap ditelan kelabat asap … di atas bus-bus berjingkat (hlm. 19). Seperti kata Stebby, irama itu adalah ukulele bagi kenangan orang tua tentang dirinya, tentang Rabu dan Biru.

Namun, kehilangan dan pertemuan itu diungkap dalam satu instrumen yang berdialog, sesuatu yang segar dan sering mengejutkan, sebagaimana jazz merupakan suatu percakapan akrab yang terjadi dengan seketika, spontan, dan tanpa rencana. Ah, bukankah Stebby menyebut Duka yang dilihat orang sebagai tontonan (hlm. 36). Puisi Stebby mengemas kehilangan (atau juga kerinduan?) itu dalam iringan irama yang melodis. Irama, rima, asonansi, aliterasi beserta kombinasinya, repetisi, bentukan kosa kata baru atau kosakata lama yang langka (rumbia, aurora, cetat, aubede, miktam,rantas), kata-kata lumrah yang dioplos begitu rupa sehingga bunyinya (dan dengan

demikian, maknanya) jadi unik serta segar (aku daging dan kau rangka, izinkan aku mencinta sekaligus berselibat dari rantai dosa-dosa)

Stebby seakan memiliki apa yang Eliot pernah sebut dalam The Use of Poetry and the Use of Criticism sebagai ‘imajinasi audiotirs’: kepekaan terhadap ritme dan sukukatayang menembus jauh ke wilayah bawah sadar dari pikiran dan perasaan, yang menguatkan, menyegarkan, setiap kata. Eliot percaya, watak musik yang memesona bagi penyair adalah pada kepekaannya terhadap ritme dan struktur. Seolah kembali memanggil Schiller, Eliot juga melihat bahwa puisi mula-mula hadir dalam ritme tertentu yang kemudian membentuk ide dan imaji dalam jalinan kata-kata. Jika Sutardji sejak awal melancarkan agenda pembebasan kata dari ‘beban pengertian’, berbicara tentang mantra yang menekankan repetisi, tapi agenda Stebby adalah menyimpan semacam tertib alamat, bahkan mungkin ‘amanat’, dalam sengkarut kata puitis dalam musik ukulele, keroncong. Puisi-puisi Stebby dalam “Midrash Kedua (2017)” memperlihatkan agenda tersebut, bahkan sejak awal dalam puisinya berjudul “Imam” (hlm. 70):

Aku daging dan kau rangka; kusumbang asupanmu dalam sel-sel darahku
Aku daging dan kau rangka; kutuai dosa-dosa agar dirimu (tampak) selalu suci.
Aku daging dan kau rangka; izinkan aku mencinta sekaligus berselibat dari rantai dosa-dosa.

Sejak dari judulnya kita tahu, puisi ini ‘beralamat’ terang. Saya yakin para pembacanya umumnya maklum siapa itu imam, bagaimana ia berjuang atas nama Tuhan dan jamaat, memutus mata rantai kekerasan — sebagaimana tertera dalam Matius (5: 39): “siapa yang menamparmu pada pipi kanan, sodorkan kepadanya pipimu yang lain..”, sebagaimana Yesus sebagai Imam jamaat menanggung dosa-dosa agar dirimu (tampak) selalu suci, menanggung dosa-dosa para Kristiani agar tampak suci.

Maka, seperti Stebby juga, saya berani katakan bahwasanya dampak utama puisi ini pun datang dari bunyi repetitif “aku daging dan kau rangka”. Bunyi yang berulang tersebut begitu kuat menyugestikan harapan akan datangnya kebebasan dan pembebasan dosa-dosa. Beratnya jalan menuju pertobatan dosa-dosa itu direpresentasikan melalui korespondensi yang tak gampang antara daging dan rangka; antara menuai dosa-dosa dan melindungi orang-orang agar tampak suci; antara terlibat dalam cinta dan terlibat dalam rantai dosa-dosa.

Saya kira, puisi “Imam” sangat bagus untuk menggambarkan betapa makna, hubungan kausalitas antarmakna dan unsur-unsur musikal bersinergi dengan efektif mewujudkan keindahan paripurna sebuah puisi, layaknya keindahan nyanyian burung gereja yak tak melihat ruma, namun menilih hati (hlm. 60). Dengan adanya semacam takrif yangmembatasi ruang-gerak permainan imajinasi, efek psikis yang ditimbulkan oleh bunyi repetitifnya bukan hipnose, melainkan justru sebaliknya: kesadaran, Pembebasan.

/2/

Uniknya, jazz yang dimainkan secara puitis itu dijalankan oleh Stebby di atas delman dalam perjalanan menuju Semipro, sambil lalu lentik mengerling pada banyak wisatawan (hlm. 7). Midrash Pertama (2015-2016) nyaris seluruhnya adalah puisi traveling tentang sebuah kota seluas kepalangan tangan Nabot, yang merentang dari Ketapang hingga Dringu, dari Mayangan hingga Wonoasih (hlm. 6). Sembari memainkan jazz, ia seakan membangun kota Probolinggo dari dinding-dinding gereja besinya, mengumpulkan puing-puing piktografis untuk memberikan kesan kompleks nan cantik tentang kota tersebut, layaknya bunga anggrek dalam nyanyian Als de orchiden Bloein yang bermekaran menghiasi rawa-rawa yang umumnya keruh dan kotor.

Dalam “Biru Mengenalkan Rabu pada Kotanya” (hlm. 5), Stebby memperlihatkan secara jelas nalurinya sebagai traveler itu.

16 Rabu, datanglah ke kotaku di bulan Juli. 17 Bukan, bukan karena aku berulang tahun. 18 Tapi di masa itu, guguran kuning angsana mewarnai halaman museum.

19 Berjalanlah di sepanjang jalannya. 20 Suroyo, yang dulu rimbun oleh gugusan asam Jawa. 21 Sembul klangenan noni-noni pada negerinya. 22 Juga gereja yang warnanya kini dikenal hingga ke negeri penjajahnya.

Puisi di atas memperlihatkan kecermatan seorang penjelajah yang memiliki fantasi atas kotanya sendiri, kota yang selalu ramai di sepanjang Semipro di bulan Juli (hlm. 6), kota yang memiliki BJBR nan indah di kala senja (hlm. 32), kota dengan gereja besi yang berdiri kokoh di jalan Suroyo itu (hlm. 48). Tanpa insting voyage, mustahil Stebby bisa menarasikan situasi kota itu dengan penuh romansa, dan juga melankolia.

Ia romansa, karena di sana ada pertemuan Biru dengan Rabu; namun, ia sekaligus melankolia karena di kota itu Biru juga terpisah dari Rabu, Biru yang tak pernah (diizinkan) memiliki dua nahkoda dalam satu bahtera (hlm. 9), tak mungkin ada dua agama dalam sebuah keluarga, seorang penjelajah yang justru merasa asing (homeless) di tanah kelahirannya sendiri.

Berbeda dari penilaian Rosalla Desi (dalam “Jalan-Jalan Bersama Stebby di Kota Tuhan”) tentang Di Kota Tuhan yang menurutnya ‘sangat Stebby’; bagi saya, Di Kota Tuhan adalah Stebby sekaligus bukan-Stebby. Ia Stebby karena menceritakanpengalaman getir penulisnya tentang kota kelahirannya sendiri, namun ia juga bukan-Stebby karena penulisnya merasa asing justru di kotanya sendiri.

Sampai di sini, Stebby berada dalam sebuah dilema, dilema yang tak pernah bisa ia tolak sebagai penulis puisi perjalanan itu: apakah ia memilih menjadi seorang penjelajah yang serius atau justru seorang turis yang fantastik. Untuk menulis kehidupan kultur urban, seseorang pertama-tama harus menjadi seorang ‘outsider’ (orang asing), karena hanya dengan itulah ia bisa menulis objeknya. Ketika Stebby memilih untuk menulis kotanya sendiri, ia sebenarnya sedang (dan memang harus) mengambil jarak agar mampu merumuskan ‘otentisitas’ kota yang ditulisnya. Cara seperti ini lazim ditemui dalam kerja-kerja etnografer.

Dalam “Bentangan yang Membawa Kembali Kenangan” (hlm. 36), Stebby menulis:

1 Bromo seperti bentangan yang membawa kembali kenangan. 2 Ia seperti rentang tangan yang memeluk kembali kehilangan. 3 Kabut, lerai cemara, nyanyian pipit di pagi hari. 4 Wangi kecubung, bau tahi kuda, dan getar otomotif yang merobek lautan pasir.

Perhatikan, imaji tentang Bromo, tentang kabut, lerai cemara, nyanyian pipit, yang diiringi dengan wangi kecubung, bau tahi kuda, dan getar otomatif ditulis dalam narasi puitika-etnografis yang detail, dan ini hanya mungkin dilakukan jika penulisnya berposisi sebagai outsider (orang luar), seorang traveller (penjelajah). Menggambarkan Bromo membuat Stebby seperti orang lain, orang asing, seorang turis (domestik), yang melihat Boromo secara reduksionistis sebagai kawasan yang penuh kenangan, eksotisme, kabut, dan seterusnya.

Pandangan seorang turis (tourist’s gaze)—kata John Urry dalam Leisure and Travel in Contemporary Societies (1990)—tak jauh beda dengan masculin voyeour (seorang priapenjelajah), yang melihat Probolinggo layaknya memandang seorang wanita dengan hasrat ingin memiliki. Hasrat itu sendiri bersifat jouissance, mengasyikkan tapi sekaligus menyakitkan, dan menulis puisi-puisi perjalanan itu memang pekerjaan yang menyenangkan sekaligus melelahkan, yang fantastik tapi sekaligus adiktif. Hal itu tak lain karena kita harus menjadi ‘asing’, homeless, di tengah dunia yang sebenarnya akrab dengan kita. Kita harus menjadi turis di negeri sendiri, menjadi alien untuk menciptakan hal-hal yang normal menjadi unik dan tak biasa bagi orang lain.

Tetapi, benarkah Stebby sedang menjadi ‘orang lain’ untuk membebaskan diri, atau ia sebenarnya sedang menjadi ‘diri sendiri’ untuk memberikan kebebasan bagi orang lain?

/3/

Di ujung puisi ini saya merasa bahwa drama pembebasan dan pertobatan dosa-dosa itu agaknya bagian dari sebuah skenario ilahiah. Sasarannya sangat jelas: “… untuk Kota Probolinggo, kota seorang penyair yang merasa dirinya Musa yang telah berjasa menuntun bangsanya keluar dari Mesir, namun dinajiskan Allah menyentuh Kanaan – Tanah Perjanjian” (hlm. 5). Akhirnya, kota Tuhan yang dimaksud dalam puisi initernyata adalah parodi. Ini allusion. Ini bukan sebuah kisah keagamaan (semata). Ini kisah pemaksaan kekuasaan. Di Probolinggo, dengan persekot 200 gulden, Han Kek Koo membeli kota itu seharga sejuta ringgit. Dan hendak menguasainya selama sepuluh tahun, dari 1810 (hlm. 62).

Sejak lama, nama Tuhan memang sering jadi alibi bagi sebuah penaklukan terhadap ‘yang lain’ di seberang sana: ‘mereka’ yang bukan ‘kami’. Bagi orang kulit putih dari abad-abad silam, emas, tahta, dan Tuhan merupakan paket three-in-one yang membenarkan setiap tindak penguasaan terhadap bangsa kulit berwarna, subkultur, mereka yang dianggap masih primitif, bebal, dan kanibal. Dalam hal ini, penaklukan adalah syiar peradaban: hiduplah bersama kami dalam kerajaan Tuhan, atau binasa di tangan kami yang dituntun daulah Tuhan. Dua opsi yang praktiknya sama saja, sebenarnya, yakni “mereka” harus berhentik menjadi “mereka.”

Sebuah kronik penaklukan ini saya temukan justru dalam kehidupan Stebby yang paling intim:

20 Ya, di tempat ini pula, Mama mengubah kemudinya, 21 mengikut Papa. 22 “Tak mungkin ada dua nahkoda dalam satu bahtera,” begitulah ungkap Mama sebelum memalingkan muka. 23 Sama sepertiku; yang telah memilih diri untuk mengikutmu. Aku tidak peduli 24 meski nantinya, akan banyak hari serta muka yang menjauhjatuhkan paling dariku. (hlm. 10)

Tak ada yang lebih sulit selain menerima kenyataan bahwa kita harus dipaksa menjadi mereka, dan lebih rumit lagi jika paksaan itu ternyata justru lahir dari lingkungan terdekat kita. Dari sini, Stebby tampak nyaris kehilangan gairah khidmat atas Tuhan. Dalam puisi “Jangan-Jangan, Tuhan Sendirilah Kebencian Itu” (hlm. 12), ia bahkan menyatakan secara jelas puncak dari seluruh perjalanan eksistensialnya, 1 Apakah aku bisa memilih 2 untuk dilahirkan oleh orang tua yang tak bermasalah? (hlm. 12).

Mungkin karena itulah ia mencintai Probolinggo, bukan semata-mata karena kota ini adalah tempat kelahirannya, namun terlebih karena ia menggambarkan sejarah hidupnya sendiri. Probolinggo, kota yang tak pernah menjadi pusat, namun juga bukan pinggiran; kota sekadar tempat singgah Brawijaya saat mengunjungi rakyatnya di ujung Timur; kota yang dipenuhi ketakacuhan dan ketidakpedulian; kota yang mirip seperti Kanaan, Tanah yang Dijanjikan dari jemaat Musa yang terbuang; kota yang dipenuhi dengansorga masa kanak-kanak, namun neraka masa dewasa.

Namun, pergi selalu berupa kepulangan abadi. Setiap kali ia membenci hidup, setiap kali itu pula ia menyadari betapa hidup terlalu sayang untuk cepat diakhiri (hlm. 30). Di sinilah Stebby akhirnya membuka Midrash Kedua, midrash yang ia akui sendiri sebagai simbol kepasrahan total (dalam kondisi taat tanpa tapi dan patuh tanpa nanti) dari seluruh kompleksitas hidup yang ia tampilkan dalam Midrash Pertama, inilah kepasrahan seorang Maria yang sangat menjaga diri, tutur, dan lakunya, hingga ia pantas disucikan.

/4/

Cukuplah akhir puisi ini, “Salam”, yang mencakup tiga tema besar yang telah dibahas sejauh ini (lagu, perjalanan, dan Tuhan)

1 Salamku bagimu, para pejalan Emaus, 2 saatnya merelakan semua.

Narasi tentang kebangkitan Yesus dalam perjalanan Emaus bersama dengan dua muridnya, sebagaimana yang tergambar dalam Injil Lukas 24: 13-35, menggambarkan secara sempurna sketsa keseluruhan dari puisi-puisi Di Kota Tuhan ini. Bagaimana dua orang murid yang menempuh perjalanan bersama Yesus justru tidak sadar bahwa Yesus sedang bersama dirinya. Mereka sadar justru ketika perjamuan makan malam di Emaus.

Perjalanan Emaus dalam puisi ini layaknya perjalanan menaiki delman ke Semipro sambil mendengarkan nyanyian burung gereja.

Peristiwa Emaus adalah peristiwa tentang perjalanan ‘teofanis’ manusia fana yang tak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam sebuah perjamuan yang telah ditakdirkan, suatu perjamuan yang getir, hanyut, mengasyikkan, namun penuh keterkejutan. Sebagaimana pejalan Emaus, perjalanan penyair dalam puisi-puisi Di Kota Tuhan adalah perjalanan eksistensial seseorang yang tak menyadari bahwa merekasedang berada dalam sebuah kota yang telah ditakdirkan, sebuah kota yang menyimpan kenangan getir, pahit, dan penuh teka-teki, kota yang kepadanya kita pulang dan darinya kita pergi.

bahasa, budaya, buku, renungan, sastra, seks, spiritualitas

SALAHKAH SEKSUALITAS DALAM KARYA ?


Judul Buku                : Tanjung Kemarau
Jenis                           : Novel
Penulis                       : Royyan Julian
Penerbit                     : Grasindo
Cetakan                     : Pertama, 2017
Tebal                          : 254 halaman
ISBN                          : 978-602-452-352-7
Peresensi                   : Stebby Julionatan *)

 

“Kau pernah bercinta dengan Gopar?”
“Tidak pernah dan tidak mau.”
“Jangan munafik. Semua perempuan ingin tidur dengannya.”
“Aku sudah punya suami.”
“Hmmm, sayang sekali. Kau terlalu alim. Apa kau pikir aku tidak punya suami?”
“Memangnya kenapa?”
“Bercinta dengannya akan membuatmu kejang-kejang.”
“Kejang-kejang bagaimana?”
“Begitu dagingnya menghujam lubangmu, kau akan langsung terbang ke langit ketujuh.”
“Jauh amat.”
“Dia akan berpesta di atas tubuhmu. Dia akan menari seperti kuda lumping. Puki rongsokmu bakal becek. Bukan, bukan becek, tapi kebanjiran. Dan kau akan menjerit keenakan. Ya Tuhan, genjotan lelaki itu membuat selangkanganku terbakar!”
“Dasar sundal!”
“Semua orang rela jadi sundal demi bisa menggigit bokongnya yang gurih dan—”
“Setop! Kau membuatku ingin meracap.” (hal. 62-63)

 

Salahkah unsur seksualitas dalam karya sastra? Pertanyaan ini terpatik saat diskusi buku Tanjung Kemarau karya Royyan Julian di TB. Togamas Probolinggo, Minggu (20/2) kemarin. Novel yang menurut penulisnya berkisah soal keresahannya pada situasi politik di tempatnya tinggal, ternyata punya banyak sisi yang dapat diperbincangkan. Salah satunya, seksualitas.

Dengan undangan yang sebagian besar murid sekolah menengah, baik SMP maupun SMA, tentu (bagi seorang pendidik) unsur sensualitas menjadi pertimbangan tersendiri. Perlu berpikir dua atau tiga kali sebelum meloloskan Tanjung Kemarau sebagai bacaan anak didiknya. Apakah Tanjung Kemarau layak dibaca –atau diajarkan, bagi siswa yang usianya masih di bawah 18 tahun?

Continue reading “SALAHKAH SEKSUALITAS DALAM KARYA ?”

berita, budaya, cinta, kehidupan, kemanusiaan, kesehatan, lingkungan hidup, motivasi, pemerintahan, pendidikan, renungan, seks

80 AKSEPTOR IKUTI KB MASAL


Dalam meperingati Hari Jadi Kota Probolinggo ke-656, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kota Probolinggo bekerjasama dengan Dinas Kesehatan kota setempat melaksanakan kegiatan gratis pelayanan KB . Dengan metode steril pada wanita (MOW) dan steril pada pria (MOP), kegiatan yang dilaksanakan Sabtu (10/10) lalu di RSUD dr. Moh. Saleh sejak pukul 7 pagi tersebut diikuti oleh 80 akseptor.

“Jujur saya tidak menyangka antusiasme masyarakat yang sedemikian besar,” tukas Kepala BPPKB Kota Probolinggo, Shofwan Thohari kepada Link Go saat ditanya soal jumlah peserta dan antusiasme warga kota.

Padahal, lanjut Shofwan, baru sebulan ini diumumkan. Dan tentunya, ini juga merupakan keberhasilan penyuluh KB Kota Probolinggo.

Continue reading “80 AKSEPTOR IKUTI KB MASAL”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, hobby, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, seks

testimoni tentang KEINDAHAN dan CINTA



(sebuah ceracau setelah membaca buku kumpulan sajak “menyelam Dalam” karya Beno Siang Pamungkas dan Timur Sinar Suprabana)

 

Judul Buku                  : menyelam Dalam
Penulis                          : Beno Sinar Pamungkas dan Timur Sinar Suprabana
Genre                            : kumpulan sajak
Jumlah Halaman      : x + 126 halaman
Cetakan                        : I (Pertama)
ISPN                              : 978-602-19169-0-2
Tahun Terbit              : Oktober 2011
Penerbit                       : Huruf Hidup

 

“SENI adalah dualisme yang terperangkap dalam keindahan.”

Seperti itulah jawaban saya ketika saya ditanya soal seni. Semisal ketika saya mengunggah sebuah status di FB “menurutku kau adalah Apel yang meruntuhkan Hawa pada setiap dosa pertamanya…” Dalam status tersebut kemudian memancing sebuah komentar yang berkata: “Aku hanya orang awam. Sulit mengartikan apa yang tertera. Hanya diam sambil mengira-ngira apa yang dimaksud.”

Ya, begitulah indahnya seni, seni sastra. Ia bukanlah sebuah kalimat mono-tafsir, tapi multi-tafsir. Ia membuka banyak ruang pada tiap individu. Mencengkram mereka tepat di lubuk, tepat di rasa, apa yang sedang mereka rasakan saat ini. Sebenarnya memang tidak sulit, tapi juga tak gampang –untuk bisa mengerti apa makna, atau pesan, yang ingin disampaikannya. Sebagai tips, bukalah membuka semua indra yang Anda miliki: Membuka mata, membuka telinga, mengecapnya dalam lidah, membauinya, dan merasakan sentuhannya. Kemudian, kelolalah dengan kedua senjata yang sudah diberikanNya, senjata yang sudah Anda miliki sejak lahir: pikir dan hati.

Sesuai judulnya, sebelum saya mulai membicarakan buku kumpulan sajak “menyelam Dalam” karya Beno Siang Pamungkas (BSP) dan Timur Sinar Suprabana (TSS), mungkin saya perlu mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada tante saya, Tante Sofie, yang pada awal bulan lalu (7/11) telah menghadiahi saya buku ini, menyelam Dalam.

Buku kumpulan sajak “menyelam Dalam” berisi 92 puisi. Empat puluh empat puisi milik Beno Siang Pamungkas, sedang empat puluh delapan sisanya adalah karya-karya dari Timur Sinar Suprabana.

Continue reading “testimoni tentang KEINDAHAN dan CINTA”

keseharian, pariwisata, renungan, seks

SeX… seX… sEX…


Whad is da meanin’ of SEX? Seks memiliki banyak arti. Seks dapat berarti jenis kelamin; hal yang berhubungan dengan kelamin, seperti segama; dan berahi. Well, sedikitnya tiga pengertian itulah yang berhasil aku temukan di KBBI.

Whad is da meanin’ of SEX? Kalimat itulah yang selalu menempel dan terngiang-ngiang dalan otakku ketika para “wonder women” KangYuk menyalahkan aku atas postingan berita di blog yang aku buat: Sex Party di Hutan Kota. Lho kok “wonder women”, bukannya Superman atau Spiderman yang notabene tokoh pahlawan yang lebih macho? Gimana ga aku bilang Wonder Woman kalo mereka dateng untuk konfirmasi plus konfrontasi berame-rame. Lagian juga, kalo mereka mau mengkritik atau memberi saran atas judul blog yang menurut mereka itu “sangar”, kan bisa dilakukan jauh-jauh hari, bukan setelah 1 tahun postingan tersebut berada dalam WordPress.com, ataupun bukan setelah ditayangkan di Radar Bromo tertanggal 20 Maret 2008. Sok ikutan heboh dech! Mmmm… tapi aku akui, kesalahanku ketika menulis blog tersebut adalah bahwa aku tidak berpikir kalau tidak semua orang akan meninterpretasikan kata “SEKS” yang berada di dalam judul blog tersebut sebagaimana aku menginterpretasikannya. Maksudku dari kata Seks Party di Hutan Kota adalah bahwa dulunya kawasan tersebut adalah kawasan lokalisasi yang bernama Joboan, yang notabene banyak terjadi penyimpangan susila di sana (koyo’ toh nyenuk, nyundel, ngoceng, threesome, foursome bahkan sex party) yang sekarang diubah perwajahannya oleh DKLH menjadi Hutan Kota atau yang sekarang lebih kerennya disebut TWSL (Taman Wisata Study Lingkungan).

Whad is da meanin’ of SEX? Sex itu, menurut mereka, menyangkut hal yang tabu, hal yang tak layak diperbincangkan untuk seorang duta wisata yang notabene harus selalu menjaga imagenya. Dan mungkin karena alasan inilah maka mereka, sekali lagi para Wonder Woman itu, yang berdiri di atas istana gading kebenaran, menuduhku melakukan bidah. Melakukan kegiatan yang “macem-macem” dan melanggar “hukum” kesusilaan, seperti yang tertulis kembali di Radar Bromo hari ini.

Hebat!!! Baru kusadari sekarang, ternyata kita bisa mengubah perwajahan dunia hanya dengan menulis. Menulis SEX lagee… Hehehehehehe….