bahasa, berita, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, kehidupan, kemanusiaan, keseharian, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, spiritualitas

MEMBACA BIRU MAGENTA, MEMBACA BENTENG BADAI LEMBUT PERTUKARAN RASA


Membaca buku puisi Biru Magenta adalah membaca amuk perasaan namun lembut. Lembut tapi ada api dan amuk. Apalagi dihasilkan oleh dua sisi penyair yaitu Stebby Julionatan dalam Birunya dan Ratna Satyavati dengan Magentanya. Dua pilihan warna ini awalnya sederhana dan mudah diingat oleh kita yang punya kesepakatan tentang makna warna. Simbol warna itu mengingatkan saya bila berada di toko perlengkapan bayi, biasanya kita akan diberi pilihan warna biru untuk bayi laki-laki dan merah muda untuk bayi perempuan. Meski tak persis betul dengan Biru Magenta, karena merah muda bukan magenta.

Biru tentu mengingatkan kita pada langit dan lautan, meski ada langit tak biru, meski ada laut tak biru. Sedang magenta adalah seesuatu yang sepi sendiri, karena itu warna pertumpahan darah di bumi. Tapi sesekali ada langit atau laut berwajah magenta. Dan pertemuan biru dan magenta yang menjadi langit magenta, atau pertemuan yang dihasilkan laut magenta, maka begitulah saya membaca puisi Biru Magenta ini. Moment pertemuan Biru dan Magenta adalah pertemuan yang jarang. Seperti gerhana, munculnya pelangi, adalah peristiwa alam yang khusus. Maka kita pun akan merayakannya, seperti juga puisi Biru Magenta ini.

Continue reading “MEMBACA BIRU MAGENTA, MEMBACA BENTENG BADAI LEMBUT PERTUKARAN RASA”

agama, budaya, cinta, cinta tanah air, keseharian, pariwisata

DIBANGUN 1865, TAK DIKETAHUI PENDIRINYA


Lebih dari seratus tahun lalu, seorang pemuda meninggalkan desanya. Ia meninggalkan orang tua, kekasih dan sanak saudaranya untuk merantau. Bersama karib dekatnya, mereka menumpang kapal. Mengarungi ganasnya lautan. Selama berhari-hari hidup mereka diombang-ambingkan ombak.

Seminggu perjalanan berlalu, hingga mereka memutuskan untuk turun di pulau pertama yang mereka lihat saat itu. Ya, mungkin Tuhan juga memang telah menggariskan, bahwa Pulau Jawa-lah yang pertama kali mereka lihat dari atas buritan.

Sahabatnya memutuskan untuk turun di Semarang, sedang ia sendiri sedikit meneruskan perjalanan ke timur, dan mendarat di Blambangan (kini Banyuwangi).

Continue reading “DIBANGUN 1865, TAK DIKETAHUI PENDIRINYA”

bahasa, budaya, buku, cinta, kehidupan, kemanusiaan, keseharian, motivasi, penghargaan, renungan, sastra, seni, spiritualitas

Memaknai Perjalanan Cinta antara Probolinggo dan Malang


Oleh: Yeti Kartikasari Lestiyono*)

SEBUAH kota dengan segala dinamika sosial dan pergulatan hati orang-orang yang tinggal di dalamnya atau pernah menyinggahinya, mampu menjadi sihir tersendiri bagi lahirnya sebuah karya. Boleh dibilang sebuah kota mampu menjadi saksi luapan segala rupa emosi seperti marah, cemburu, cinta dan patah hati sekaligus inspirasi yang diintepretasikan ke dalam kehadiran karya sastra, baik berupa sajak, novel, cerpen dsb. Pun tak sedikit kelahiran karya yang diilhami oleh pengalaman dan pertemuan-pertemuan yang terjadi dalam perjalanan maupun petualangan.

Seperti itu ketika memaknai isi buku sekumpulan sajak bertajuk Biru Magenta yang ditulis secara duet oleh dua penyair Stebby Julionatan dan Ratna Satyavati. Lintasan dua kota menambatkan keduanya untuk saling berbagi rasa dengan intim melalui sajak.

Secara manis dan ritmis, dua penulis yang menyebut diri sebagai Biru (Stebby) dan Magenta (Ratna) ini mendedah seluruh perasaannya melalui barisan sajak yang ”seolah-olah” saling bersahut-sahutan, menimpali satu sama lain layaknya dua orang bercakap-cakap dalam sebuah ruang berbeda. Ada jarak yang sebenarnya memisah keduanya, yakni kota Malang dan Probolinggo. Tidak terlalu jauh tetapi tidak memungkinkan pula untuk sering-sering ketemu karena alasan tertentu.

Continue reading “Memaknai Perjalanan Cinta antara Probolinggo dan Malang”

bahasa, budaya, buku, cinta, kehidupan, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, seni, spiritualitas

Love, Life, Beautiful Melancholy


Book Title : Biru Magenta
Writer : Ratna Satyavati & Stebby Julionatan
Book Pages : 188 pages
Date Published : First edition, May 2015
ISBN : 978-602-72575-0-4
Publisher : Ruang Kosong Publishing
Reviewer : Reffi Dhinar

Cinta adalah berjalan dengan kaki masing-masing sambil tetap menyisihkan ruang yang hangat untuknya… #BiruMagenta

Poem or poetry is one of the beautiful way to express untold feeling and story. This poetry book invite us to the poetic journey of two people who write their feelings. Two writers who use two metaphor to give another name for theirselves, they are Biru and Magenta. From the first page, the reader will find many simple poem but deep, which is written such as a meaningful conversation. Reciprocally.

Forget about the difficult phrase or difficult interpretation. To read this book, we only need the pure mind and honesty. We could admit how beautiful love is even the heart throb could change one’s life so chaotic. Distance is the bridge for two lovers become closer. By the yearning sentences, through the lullaby because the distance, Biru and Magenta express their own thought.

Continue reading “Love, Life, Beautiful Melancholy”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, kehidupan, kemanusiaan, keseharian, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, sejarah, seni, spiritualitas

Upaya Menuntaskan Relativitas Cinta


Kalaulah dijalin-menjalin , rangkaian puisi di buku ini bisa menjadi novel panjang. Tapi, cara terbaik menikmatinya adalah dengan terjun pada kata dan rangkaiannya sebagaimana menghayati puisi.

MEMBACA cepat tulisan-tulisan di buku ini, sekilas seperti skenario drama dengan teknik puisi. Antara dua sejoli yang sedang mabuk asmara. Kalaulah puisi konvensional, masing-masing akan berdiri sendiri.

Biru Magenta
Biru Magenta

Judul Buku       : Biru Magenta, Sekumpulan Sajak
Penulis               : Ratna Satyavati & Stebby Julionatan
Penerbit             : Ruang Kosong Publishing
Cetakan             : Pertama, Mei 2015.
Editor                 : Ginanjar Teguh Iman
ISBN                   : 978-602-72575-0-4

Kalau dijalin-menjalin, mungkin saja ada cerita, menjadi novel puisi panjang. Bisa-bisanya saja semua terjadi. Namun, lebih valid dibaca secara tuntas per bentuk utuh, per paragraf, per kalimat, per frasa, dan per kata. Tuntas. Pekerjaan profesional yang tak sekedar mengandalkan kesenangan. Lalu, menuliskan refleksi pembacaan secara utuh pula sebagai suatu esensi.

Ternyata, membacanya sebagai novel yang bercerita, bagaimanapun mengalami kesulitan. Sebab, memang sifatnya kumpulan puisi. Cara menikmatinya memang harus terjun pada kata dan rangkaiannya sebagaimana menghayati puisi.

Continue reading “Upaya Menuntaskan Relativitas Cinta”

bahasa, budaya, cinta, cinta tanah air, film, hobby, kehidupan, kemanusiaan, motivasi, pendidikan, penghargaan, psikologi, renungan, sastra, sejarah, seni, spiritualitas

SUPERNOVA, VISUALISASI RIZAL DAN BEBAN TEKS


Judul film          : Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh
Genre               : Science Fiction
Sutradara         : Rizal Mantovani
Skenario          : Donny Dhirgantoro dan Sunil Soraya berdasarkan novel Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh karya Dewi Lestari
Produser          : Sunil Soraya
Pemain             : Herjunot Ali, Raline Shah, Fedi Nuril, Paula Verhouven, Arifin Putra, Hamish Daud, Hany Pattikawa.
Produksi          : PT Soraya Intercine Films
Durasi              :     menit
Tanggal Rilis   : 11 Desember 2014
Peresensi         : Stebby Julionatan *)

S U P E R N O V A

– Diperuntukkan bagi Anda yang ingin HIDUP –

Selamat datang.

Hari ini Supernova mengajak Anda nonton ke bioskop.

Ingatkah Anda ketika sedang berada dalam bioskop, menyaksikan sebuah film yang menggerakkan emosi? Detik pertama Anda larut, layar yang penuh cahaya dan warna itu telah berhasil menyentuhkan kehidupan ke dalam pikiran Anda. Membuat Anda menangis, tertawa, atau bahkan ingin membunuh seseorang.

Di posisi itu, Anda adalah penonton. Penonton pasif yang distimulasi oleh stimulus-stimulus virtual yang aktif. Apakah stimulus-stimulus tadi punya kepentingan tertentu? Kepentingan mereka hanya satu: berkembang biak. Melalui Anda semua. Apa yang Anda pikir tidak hidup, ternyata hidup, dan SANGAT hidup. Mereka seperti virus, tak dapat didefinisikan hidup atau mati, sampai ia menemukan inang untuk dijadikan medium. Respons negatif atau positif Anda tidak menjadi pertimbangan. Mereka sudah mendapatkan hidupnya, di detik pertama Anda mulai memberikan reaksi. Mulai memberikan arti.

*****supernova-poster

Demikian penggalan pesan Supernova saat ia menyapa penciptanya, Dhimas dan Ruben. Surel yang membuat mereka berdua syok dan mulai menimbang-nimbang (bahkan menyadari) bahwa keduanya adalah dalang tempelan. Dua orang pria yang bahkan tidak punya nama belakang, yang hidup dalam sebuah molekul pikiran penulis lain dan akan tamat riwayatnya pada saat halaman terakhir buku tersebut selesai ditulis.

Continue reading “SUPERNOVA, VISUALISASI RIZAL DAN BEBAN TEKS”

bahasa, berita, budaya, cinta, cinta tanah air, kehidupan, kemanusiaan, motivasi, pariwisata, pemerintahan, penghargaan, renungan, sastra, sejarah, seni, spiritualitas

Sebuah Apresiasi untuk KOMUNLIS


Tulisan ini terambil dari laman Line Probolinggo. Sumpah saya ga bisa berkata apa-apa. Terharu luar biasa. Rasanya… saya masih belum apa-apa, masih jauh dari apa yang dituliskan Mas Sandro di Weekly. Terima kasih banyak, Mas. Tabik saya selalu untukmu. Sukses selalu untuk Mas Sandro juga.

Setaut setia itu berarti tulus

karena tersimpan dalam hati

Setia satu hati 

lalu ada janji untuk tidak berkhianat

——————————————-

Empat bari kalimat diatas bukan pantun, bukan pula puisi hanya barisan kalimat kesimpulan hati saya dalam memberikan apresiasi terhadap saudara dan sahabat saya Stebby Julionatan, Sang Inspirator Komunitas Menulis atau nyaris nyaring terdengar dengan lengkingan KOMUNLIS itu.

Memang saya bukan anggota dari Komunlis ini tetapi dalam beberapa aktivitas yang dilakoni saudara Stebby, menggambarkan ketulusan dalam memberi janji setia pada jalan menulis kata menjadi kalimat untuk memberi inspirasi terhadap orang lain.

Walaupun saya sendiri tidak tau kapan sejarah Komunlis ini dibentuk dan untuk apa lalu kenapa dan bagaiamana tetapi sejalan analisa dari otak kiri, kanan, depan dan belakang; saya jadi tau tentang Komunlis walau tak sampai pada ampas seperti ampas kopi hitam di dasar gelas kaca.

Continue reading “Sebuah Apresiasi untuk KOMUNLIS”

bahasa, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, kehidupan, kemanusiaan, keseharian, motivasi, pariwisata, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, seni, spiritualitas

MENJADI BIJAK LEWAT PERENUNGAN MAKNA PERJALANAN


Judul Buku                : TITIK NOL, MAKNA SEBUAH PERJALANAN
Jenis                           : Catatan Perjalanan
Penulis                       : Agustinus Wibowo
Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                     : Kedua, Maret 2013
Tebal                          : xi + 552 halaman
ISBN                          : 978-979-22-9271-8
Peresensi                   : Stebby Julionatan *)

 

Apa makna perjalanan bagi Anda? Mengunjungi tempat-tempat baru? Pamer foto atau cerita kalau Anda sudah pernah kesana? Menambah koleksi stempel pada paspor? Atau sekedar rekreasi saja, memanjakan diri dengan menikmati keindahan alam atau daerah-daerah yang eksotis, berikut kelezatan kulinernya dan menggerutu jika perjalanan tersebut tidaklah sesuai dengan yang Anda inginkan?

Tapi… pernahkah Anda –atau saya, benar-benar memaknai sebuah “perjalanan”? Dan apa perbedaannya dengan wisata? Dengan melancong? Apakah mereka sama? Atau justru sangat jauh berbeda?

wif. Agustinus Wibowo
wif. Agustinus Wibowo

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang dicoba dipaparkan, direnungkan dan dijawab oleh Agustinus Wibowo dalam buku catatan perjalanan terbarunya, Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan.

Perjalanan dan Wisata. Terkadang kita memang acapkali terjebak pada dua pengertian itu. Dua pengertian yang sangat intim laksana sepasang saudara kembar. Saling bersinggungan, melebur dan saling mengakrabi satu sama lain. Namun, pada titik yang sama, keduanya bisa saja menempati dua kutub yang berbeda. Mengancam, berseberangan dan saling memangsa.

Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan mengajak kita untuk menghayati keduanya. Dua orang saudara kembar yang tampaknya harmonis di luar, tapi (rupanya) saling memakan satu sama lain. Tak heran kalau Agustinus menyebutnya sebagai “penjajahan”:

Continue reading “MENJADI BIJAK LEWAT PERENUNGAN MAKNA PERJALANAN”

agama, berita, budaya, cinta, spiritualitas

MELONGOK PERAYAAN WAISAK DI TITD “SUMBER NAGA” KOTA PROBOLINGGO


Tepat pukul 7 malam, suara genta dan bedug bertalu menandai dimulainya prosesi suci peringatan Hari Raya Waisak 2557 BE yang berlangsung di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) “Sumber Naga” Kota Probolinggo. Prosesi suci yang diikuti oleh sekitar 500 umat Budda Threavada pada Sabtu (25/5) kemarin, berjalan dengan sangat khidmat.

Waisak atau Waisaka berasal dari bahasa Pali merupakan hari suci agama Buddha yang dirayakan pada bulan Mei pada waktu terang bulan (purnama sidhi) untuk memperingati tiga peristiwa penting, yaitu: lahirnya Pangeran Siddarta di Taman Lumbini, Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Budda di Buddha-Gaya (Bodhagaya) pada usia 35 tahun, dan wafatnya (parinibbana) sang Buddha di Kusinara pada usia 80 tahun.

waisak7
memasang Hio

Dengan mengapit dupa, umat memulai ritual pada malam itu dengan prosesi sembayangan menghadap empat penjuru mata angin. Dimulai dari menghadap ke arah selatan (ke arah luar klenteng) untuk memohon berkat kepada Tuhan dan Dewa Langit, lalu menghadap ke arah klenteng (Kong Co Tan Hu Cin Jin), menghadap ke arah Sang Buddha yang berada di sisi barat, dan terakhir ke arah timur, tempat altar Kong Co Kwan Sing Tee Koen. Continue reading “MELONGOK PERAYAAN WAISAK DI TITD “SUMBER NAGA” KOTA PROBOLINGGO”