bahasa, budaya, buku, renungan, sastra, seks, spiritualitas

SALAHKAH SEKSUALITAS DALAM KARYA ?


Judul Buku                : Tanjung Kemarau
Jenis                           : Novel
Penulis                       : Royyan Julian
Penerbit                     : Grasindo
Cetakan                     : Pertama, 2017
Tebal                          : 254 halaman
ISBN                          : 978-602-452-352-7
Peresensi                   : Stebby Julionatan *)

 

“Kau pernah bercinta dengan Gopar?”
“Tidak pernah dan tidak mau.”
“Jangan munafik. Semua perempuan ingin tidur dengannya.”
“Aku sudah punya suami.”
“Hmmm, sayang sekali. Kau terlalu alim. Apa kau pikir aku tidak punya suami?”
“Memangnya kenapa?”
“Bercinta dengannya akan membuatmu kejang-kejang.”
“Kejang-kejang bagaimana?”
“Begitu dagingnya menghujam lubangmu, kau akan langsung terbang ke langit ketujuh.”
“Jauh amat.”
“Dia akan berpesta di atas tubuhmu. Dia akan menari seperti kuda lumping. Puki rongsokmu bakal becek. Bukan, bukan becek, tapi kebanjiran. Dan kau akan menjerit keenakan. Ya Tuhan, genjotan lelaki itu membuat selangkanganku terbakar!”
“Dasar sundal!”
“Semua orang rela jadi sundal demi bisa menggigit bokongnya yang gurih dan—”
“Setop! Kau membuatku ingin meracap.” (hal. 62-63)

 

Salahkah unsur seksualitas dalam karya sastra? Pertanyaan ini terpatik saat diskusi buku Tanjung Kemarau karya Royyan Julian di TB. Togamas Probolinggo, Minggu (20/2) kemarin. Novel yang menurut penulisnya berkisah soal keresahannya pada situasi politik di tempatnya tinggal, ternyata punya banyak sisi yang dapat diperbincangkan. Salah satunya, seksualitas.

Dengan undangan yang sebagian besar murid sekolah menengah, baik SMP maupun SMA, tentu (bagi seorang pendidik) unsur sensualitas menjadi pertimbangan tersendiri. Perlu berpikir dua atau tiga kali sebelum meloloskan Tanjung Kemarau sebagai bacaan anak didiknya. Apakah Tanjung Kemarau layak dibaca –atau diajarkan, bagi siswa yang usianya masih di bawah 18 tahun?

Continue reading “SALAHKAH SEKSUALITAS DALAM KARYA ?”

bahasa, keseharian, pendidikan

GAYA SELINGKUNG


Kali ini aku akan berbicara mengenai gaya selingkung. Gaya selingkung lho ya… bukan gaya selangkangan. Hehehe…. Maklum baru dapet mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah dari Pak Suyono. Ga ada salahnya kan di-share?! Mumpung masih hangat dan lengket di sel-sel otak.

Apa itu Gaya Selingkung?

Seringkali kita merasa jengkel kenapa karya tulis kita tidak bisa masuk dalam sebuah jurnal ilmiah. Kenapa pula cerpen yang kita tulis tak layak muat di sebuah harian. Padahal menurut diri kita sendiri, apa yang kita tulis itu sudah bagus. Teramat bagus malah. Namun sebenarnya ada satu hal yang terlampau sering kita lupakan, atau malah tidak kita hiraukan sama sekali, sehingga pernerbit jurnal ilmiah maupun harian tersebut tidak dapat memasukkan karya kita dalam terbitannya. Kita melupakan gaya selingkung.

Istilah gaya selingkung adalah makna bahasa Indonesia dari house style. Istilah ini diperkenalkan oleh Penerbit ITB dengan motornya tokoh perbukuan nasional, Ibu Sofia Mansoor. Gaya selingkung merupakan gaya khas yang diterapkan pada suatu penerbit meliputi gaya kebahasaan, spesifikasi penerbitan, penggunaan istilah, dan beberapa hal lagi. Penerbit-penerbit besar umumnya memiliki buku gaya selingkung sendiri. Contoh paling mudah adalah dengan membeli buku “Buku Pintar Penerbitan Buku” yang diterbitkan Grasindo. Buku tersebut merupakan buku gaya selingkung Penerbit Grasindo.