bahasa, budaya, buku, cinta tanah air, kehidupan, kemanusiaan, kesehatan, renungan, sastra, spiritualitas

PUISI DIALEKTIS DI KOTA TUHAN


Judul Buku      : Di Kota Tuhan

Penulis             : Stebby Julionatan

Cetakan           : I, September 2018

Tebal               : xiv+74 halaman

ISBN               : 978-602-309-333-5

Peresensi         : Indra Tjahyadi*)

 

Penyair bukanlah seseorang yang tidak peduli dengan lingkungan yang mengitarinya. Penyair bukanlah penyendiri yang tidak peduli dengan dunia sosial yang menjadi arena kehidupannya. Penyair adalah seseorang yang senantiasa bersetia melakukan dialektika dengan apa yang menjadi bagian dari keberadaannya. Penyair adalah ia yang lebur ke dalam dunia.

Inilah, kira-kira, yang ingin disampaikan oleh Julionatan dalam buku kumpulan puisinya Di Kota Tuhan (Indie Book Corner, 2018). Buku ini merupakan buku keempat Julionatan, sekaligus buku bergenre puisi kedua yang diterbitkannya. Namun, berbeda dengan buku puisinya yang berjudul Biru Magenta (2015), dalam buku puisinya yang berisi 43 judul puisi ini, Stebby Julionatan melakukan dialektika yang intens dengan berbagai hal yang mengitarinya. Dialektika tersebut tidak saja pada hal yang bersifat material, tetapi juga terhadap hal-hal yang bersifat non-material.

Dalam buku puisinya Di Kota Tuhan tersebut, Julionatan meletakkan tenaga puitiknya pada kemampuan manusia untuk melakukan refleksi puitis melalui jalan dialektis terhadap berbagai hal yang berada di sekitarnya, bahkan berada di dalam dirinya. Ini menempatkan atau memosisikan penyair tidak hanya seseorang yang terus-menerus melakukan dialog dengan berbagai benda yang melingkunginya, tetapi juga berbagai hal yang dapat mempengaruhi modus keberadaannya di dalam kehidupan. Maka, dalam buku kumpulan puisi tersebut pembaca tidak hanya disuguhi puisi-puisi yang berangkat dari dialektika yang bersifat aku-kamu dalam konteks antroposentris, atau aku-kamu ekologis, tetapi juga dialektika aku-kamu yang berakar pada semangat pencarian akan sesuatu yang bersifat teosentris.

Dialektika aku-kamu yang bersifat antroposentris merupakan hal yang tidak dapat dielakkan oleh seorang penyair. Sebagai seorang manusia, penyair juga memiliki kebutuhan untuk melakukan integrasi sosial. Ini disebabkan oleh keberadaan seorang penyair sebagai manusia yang tidak dapat mengelak dari kodratnya sebagai zoon politicon (mahluk sosial). Dialektika aku-kamu yang bersifat antroposentris tampak kuat pada puisi Aku Ingin Merabu, Tapi Kau Keburu Membiru (2018: 19):

Aku takut kejadian itu berulang. Kau lenyap ditelan kelebat asap.

 

Tiap datang ke tempat ini, di terminal Bayuangga, aku takut kejadian itu berulang. Sebab petang selalu saja lahir, menyerahkan dirimu pada tabun asap yang meninggalkan sendat.

 

Pada kutipan puisi tersebut tampak bahwa keberadaan Aku-lirik tidak dapat berdiri sendiri tanpa Kau-lirik. Keberadaan Aku-lirik sebagai sebuah eksistensi tidak dapat diandaikan mengada tanpa kehadiran Kau-lirik. Ini tampak sekali pada kalimat Aku takut kejadian itu berulang. Kau lenyap ditelan kelebat asap. Kalimat tersebut bermakna bahwa Aku-lirik mengalami ketakutan ketika Kau lenyap ditelan kelebat asap. Oleh karena itu, Aku-lirik berharap bahwa kejadian itu (tidak) berulang. Apabila Kau lenyap ditelan kelebat asap, maka Aku-lirik hanya akan mengalami semacam keadaan yang dapat membuat eksistensinya di dunia kehidupan mengalami gangguan, atau yang di dalam puisi tersebut diartikulasikan dengan menggunakan kata sendat.

Namun, dialektika aku-kamu yang antroposentris tidak akan membawa dampak yang subtil bagi eksistensi manusia apabila tidak ada dialektika lain yang mendukungnya. Seorang pribadi tidak hidup dalam kondisi teralienasi atau terkucilkan dari lingkungannya. Untuk menjadi sebuah pribadi yang utuh, seorang manusia membutuhkan lingkungan yang mengitarinya. Oleh karena itu, perkembangan kehidupan manusia dapat dilihat dari kemampuan manusia tersebut untuk melakukan dialektika dengan berbagai materi yang ada di sekelilingnya. Dalam buku Di Kota Tuhan hal tersebut ditampakkan pada puisi Biru Menyadari Lebih Melegakan Menjadi Sepatu (Julionatan, 2018: 8): “Rabu, Pasar Dringu inilah yang dahulu menyembunyikan keluarga kami dari kehancuran.”

Kutipan kalimat tersebut memberikan pemahaman pada pembaca bahwa keselamatan manusia tidak saja diraih hanya melalui hubungan antarmanusia. Lingkungan fisik atau material juga dapat memberikan keselamatan bagi manusia apabila manusia tersebut memahami cara membangun relasi dengannya. Relasi tersebut menjamin adanya kesalingpahaman antara manusia sebagai pribadi, sebagai individu, dengan lingkungan yang menjamin keberadaan eksistensi manusia di dunia kehidupan. Oleh karena itu, upaya untuk berdialektika dengan lingkungan harus dilakukan oleh manusia. Hal itu disebabkan keberadaan dialektika antara manusia dengan lingkungan dapat membuat manusia bertahan hidup.

Namun, kebertahanan hidup manusia tidak akan menjadi utuh dan benar-benar bernilai esensial apabila tidak didukung juga oleh kemampuannya untuk melakukan dialektika terhadap sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang bersifat ilahiah. Makna murni kehidupan manusia adalah sesuatu yang bernilai hakiki. Kehakikian tersebut dapat dicapai apabila seorang manusia juga melakukan dialektika aku-kamu yang bersifat teosentris. Sebagaimana yang tampak pada puisi Pater Noster (Pada Rabu dan Hari-Hari Sesudahnya) (2018: 53): “Tuhan, pada Rabu dan hari-hari sesudahnya yang akan selalu dikenang Biru jadikanlah Bumi seperti di dalam surga!

Demikianlah, sebuah puisi bukanlah pencarian akan nilai-nilai kesendirian yang terlepas dari kehidupan. Puisi adalah sebuah upaya untuk menemukan kembali nilai-nilai manusia dalam dunia kehidupan secara holistik. Puisi adalah sebuah upaya dialektika yang tiada habisnya dari manusia untuk menjadi dunia kehidupan yang hakiki. Inilah, kiranya, yang ingin disampaikan oleh Stebby Julionatan dalam buku puisinya Di Kota Tuhan (Indie Book Corner, 2018). Terima kasih.

 

Peresensi: Indra Tjahyadi adalah dosen di Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Panca Marga Probolinggo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s