budaya, cinta, hobby, kehidupan, keseharian, motivasi, pariwisata, pemerintahan, pendidikan, penghargaan, renungan, sejarah

Yoke Arifah, MC Segala Bisa


Suka atau tidak, setuju atau tidak, di dunia per-MC-an Kota Probolinggo, nama Oke (biasa dipanggil Mbak Oke) sudah menjadi legenda. Gayanya yang kenes, ceplas-ceplos dan usil menjadikan acara apapun yang ia kemudikan, jadi meriah. Ia benar-benar menjadikan acara tersebut “miliknya”.

253223_577876698900084_1229159005_n

Ya, programer dan penyiar senior Suara Kota ini hapal segala hal yang harus ia sampaikan; apa-apa saja kelebihan produk yang tengah ia bawakan, siapa saja nama-nama undangan yang hadir, sampai hal-hal kecil yang sebelumnnya tak kita pedulikan atau sadari -seperti hari ulang tahun atau zodiak pemilik acara, ia lahap habis semuanya. Hebat kan?

Dan itu semua dilakukannya di luar kepala. Sekali lagi, di luar kepala! Benar-benar tanpa teks. What an amaze!

Jujur harus saya akui, secara pribadi saya banyak menyerap ilmu darinya, terutama ketika saya diwajibkan memandu program siar Laporo Rek!, program yang dulunya ia create dan gawangi. Thank you so much, Sista!

Dan berikut adalah wawancara saya dengan pemilik nama asli Yoke Arifah ini: Continue reading “Yoke Arifah, MC Segala Bisa”

Advertisements
bahasa, berita, budaya, buku, kemanusiaan, renungan, sastra, seni

AFI, H.B. JASSIN dan WARUNG MAKAN


Oleh: Stebby Julionatan

 

“Jika Anda memiliki keluhan atas sebuah masakan, lawan dengan masakan lain. Buktikan masakan Anda lebih layak santap. Jangan hanya bisa bercuap-cuap saja namun miskin etika.” – (Warung Makan, diunggah Afi Nihaya Faradisa di akun Facebook miliknya pada 8 Juni 2017)

Kira-kira apakah yang akan H.B. Jassin lakukan jika ia membaca Warung Makan? Ya, tulisan yang ditujukan Afi Nihaya Faradisa, siswi kelas 3 SMAN 1 Gambiran, Banyuwangi  untuk membalas orang-orang yang menuduhnya plagiat rupanya kembali ditengarai sebagai tindakan plagiat. Sebab, meski tanpa judul, tulisan tersebut pernah diunggah oleh akun facebook Perlindungan Konsumen CELEBES pada 31 Desemer 2016.

Hmm.. apakah Jassin akan membelanya sebagaimana ia membela Chairil (Anwar, pen.) dulu, dalam kasus puisinya Karawang-Bekasi yang ditengarai memplagiat puisi The Young Soldier karya sastrawan Belanda, Archibald Macleish? Atau… mengatakan bahwa perbuatan tersebut belum termasuk tindakan plagiasi karena belum masuk di ranah akademik, sebagaimana yang disampaikan oleh Prof. Reinald Kasali?

Continue reading “AFI, H.B. JASSIN dan WARUNG MAKAN”

bahasa, berita, bisnis, budaya, buku, cinta, hobby, keseharian, motivasi, pemerintahan, penghargaan, seni

ADIEN GUNARTA, TAKLUKAN DUNIA LEWAT SENI FONTASI


Pemuda berikut yang begitu ingin saya kulik profilnya adalah Adien Gunarta, seorang seniman font asal Probolinggo yang namanya sudah mendunia. Serius! Ya, kalau Anda pernah menyaksikan film Despicable Me, dan mengamati ada salah satu bagian bangunan bertulis Eagle Hair Club, itu adalah font karya mahasiswa semester akhir jurusan Komunikasi, Universitas Airlangga ini.

Sedikit menelusur ke belakang, pertemuan awal kami berlangsung pada ajang pemilihan duta wisata. Dia, Adien Gunarta, tampil sebagai juara pertama, Kang Kota Probolinggo 2012. Tapi jujur, saya tidak begitu terpukau pada prestasinya di sana. Saya terpukau pada pemuda ini ketika menemui dan membaca tulisannya di Radar Bromo yang berjudul Rebelion. “Hmmmm… ternyata dia bisa menulis ya,” ungkap saya saat itu. Tulisan yang di kemudian hari saya minta, dan saya terbitkan dalam bentuk kumpulan cerpen Komunitas Menulis (Komunlis).

Dan kebanggaan itu terus berkembang sampai saat ini ketika melihat beragam kemajuannya yang pesat; ia pernah menjadi tokoh muda pilihan Jawa Pos 2014 lho, termasuk menjadi founder dari bisnis souvenir miliknya, Kacapuri.

foto Adien Gunarta

Continue reading “ADIEN GUNARTA, TAKLUKAN DUNIA LEWAT SENI FONTASI”

keseharian, pendidikan, bahasa

Apa Sih Beda Seminar, Simposium dan Lokakarya?


Ya, jangankan orang lain, saya sendiri pun terkadang masih bingung untuk membedakan antara beberapa macam kegiatan tersebut: seminar, simposium, lokakarya, workshop atau bahkan sekedar rapat. Karenanya, agar kebingungan itu terminimalisir, mengumpulkan dari beragam sumber yang ada, saya akan mencoba untuk “menterjemahkan kembali” pengetian masing-masing istilah “rapat” tersebut.
.
Kita mulai dengan yang paling umum dan sederhana:
.
Seminar, menurut Wikipedia, merupakan merupakan salah satu bentuk dari proses akademis yang bisa diselenggarakan oleh lembaga akademik, organisasi profesi, atau bahkan lembaga komersial. Poinnya, dalam seminar ada satu topik yang bisa disampaikan oleh satu pembicara atau lebih. Peserta seminar boleh bertanya apapun, yang akan dijawab oleh pembicara/narasumber.
.
Normalnya, peserta bukanlah pemula dalam topik yang dibawakan, namun dalam seminar populer biasanya peserta malah dari mereka yang belum memiliki pengetahuan tetapi memiliki ketertarikan terhadap topik yang diberikan.

Continue reading “Apa Sih Beda Seminar, Simposium dan Lokakarya?”

budaya, pemerintahan, pendidikan, renungan

KAMILAH YANG TERINSPIRASI. BENARKAH?


Salam closing statement pelaksanaan Kelas Inspirasi Probolinggo #3 kemarin saya berujar, “Terima kasih untuk adik-adik yang begitu luar biasa. Di awal kami mengira bahwa mereka ini kurang inspirasi, namun nyatalah kamilah yang terinspirasi.”

Kamilah yang terinspirasi?

Ya, kamilah yang terinspirasi!

Kenapa begitu? Apakah saya terinspirasi dengan adik-adik ini? Terus terang tidak. Saya tak sedang terinspirasi akan keadaan dan semangat mereka -karena memang di kesempatan tersebut saya tidak mengajar. Di kesempatan itu saya tidak bertindak sebagai relawan pengajar, namun sebagai panitia. Ya, sebagai panitia aka. fasilitator saya terinspirasi dengan kondisi sekolah tempat saya ditempatkan, SDN Kropak 2.

SDN Kropak 2 memberi lecutan kreatifitas pada saya.

Saya berandai-andai sekiranya saya ditempatkan di sana sebagai guru atau kepala sekolah, hal apakah yang saya lakukan. FYI, kondisi lingkungan di sana gersang, kurang pohon dan tanaman… lalu, ada tarik-menarik (baca: “perebutan’) murid antara sekolah dasar tersebut dengan sekolah dasar lainnya yang ada di sana.

Well, untuk masalah yang kedua ini mungkin lebih kepada “butuh kebijakan pemerintah” yang mengatur jarak atau zona pendirian sekolah.

Tapi soal yang pertama, soal gersang, nah yang inilah yang membutuhkan kreatifitas. Selain membuat taman secara pribadi, rasanya perlu untuk menggugah kesadaran warga sekolah untuk peduli pada sekolah tersebut. Mencolek satu per satu guru, wali murid, siswa, warga sekitar untuk sama-sama peduli. Sebab bagi saya sekolah bukan hanya lembaga atau institusi yang hanya terdiri dari gedung, meja-meja dan bangku, tapi lebih dari itu, ia adalah lembaga kecil (karena kalau lembaga terkecil pastinya adalah keluarga) setelah keluarga bagi anak-anak ini untuk belajar bersosialisasi… belajar bermasyarakat… belajar saling mengenal masing-masing karakter, juga (pastinya) belajar untuk peduli pada sesama dan lingkungannya.

Ya, di titik itulah saya kembali terinspirasi untuk belajar peduli pada lingkungan.

cinta, motivasi, pendidikan, renungan, sejarah

KI DAN RELAWAN EUFORIA


 

Tak lama lagi Kelas Inspirasi (KI) Probolinggo #3 akan digelar. Tepatnya 2 Mei 2017, atau tepat di Hari Pendidikan Nasional.

Ini menarik untuk dibahas, sebab seminggu lalu (18/4), salah seorang relawan yang berprofesi sebagai project manager dari Jakarta mengirim email blast pada relawan lainnya mengenai ketidaksukaannya pada saya sebagai panitia yang ditempatkan di SDN Kropak 2, tempatnya nanti mengajar.

Tak hanya email blast, lewat akun instagram pribadinya @andiniiiy, ia pun mengunggah kata-kata songong dan kurang ajar saya dengan mention “Coba ini dikondisikan ya kaka kaka panitia yang saya hormati. Hahahahahaa PANLOK SDN 1 KROPAK PROBOLINGGO”

Maafkan dia, mungkin karena begitu jengkelnya dengan sikap saya, Mbak Andini sampai salah sebut nama sekolah. Dan berikut, saya tampilkan apa yang beliau sebar tanpa saya kurangi sedikit pun:

 

Continue reading “KI DAN RELAWAN EUFORIA”

berita, cinta tanah air, kemanusiaan, pendidikan, renungan

MARI BELAJAR MENGENAI KEBERAGAMAN


(kepada Yovian Bagas dan orang-orang yang menghujatnya)

 

Mari belajar mengenai keberagaman.

Saya Stebby. Saya bukan pemakan anjing (yang biasanya disebut RW), meski bagi iman percaya yang saya anut, aniing tidak haram untuk dimakan. Saya tidak memakan anjing sebagaimana saya tidak memakan buah durian. Saya tidak suka, meski bagi banyak orang lain mengatakan bahwa durian adalah sang raja buah.

Saya Stebby dan saya menyayangkan kejadian yang menyeret nama sekolah SMAK Mater Dei, Probolinggo dan Seminarium Marianum. (lihat https://www.change.org/p/polres-probolinggo-stop-penjagalan-anjing-sebagai-makanan-di-smak-mater-dei-probolinggo)

.

.

Namun sebelum berkomentar lebih jauh dan ikut menghujat, marilah kita ketahui terlebih dahulu pokok permasalahannya.

Kejadian ini bermulah dari postingan Yovian Bagas (@yovianbagas) dalam akun instagramnya, tertanggal 6 April 2017 dengan ungkapan “Pasukan Jagal Asu”. Video ini menjadi viral ketika salah seorang netizen melaporkannya kepada Animals Hope Shelter . Dalam petisinya di change.org yang saat ini ditandatangani oleh 906 orang, mereka menulis:

“Lagi2 terjadi penyiksaan anjing.

Menurut pelapor ini terjadi di SMAK Mater Dei Probolinggo. Dilihat dari instagramnya mereka begitu bangga bisa melakukan ini. Mereka menyebut diri mereka “Pasukan Jagal Asu.”

Continue reading “MARI BELAJAR MENGENAI KEBERAGAMAN”