berita, kemanusiaan, keseharian, pemerintahan, pendidikan, politik, renungan, sejarah

657 TAHUN, DARI MANA ASALNYA?


Sejarah adalah milik pihak-pihak yang berkuasa. Termasuk sejarah bagaimana Hari Jadi Kota Probolinggo ditetapkan pada tanggal 4 September 1359.

Ya, tepat  4 September 2016, Kota Probolinggo berulang tahun ke-657. Namun, yang sering menjadi pertanyaan khalayak, “Bagaimana bisa kota ini usianya lebih tua dari Kabupaten (Probolinggo, red.)? Dan, apa yang menjadi dasar penetapan itu?

Salah satu sumber bacaan yang mengukuhkan tanggal tersebut sebagai hari jadi kota adalah Probolinggo City Goes To The Future (2004), buku yang dikeluarkan masa pemerintahan Wali Kota H.M. Buchori (2004-2014). Dalam buku tersebut dikisahkan bahwa pada masa pemerintahan Bupati Probolinggo ke-17, Raden Adipati Ario Nitinegoro, Pemerintah Hindia belanda membentuk “Gemeente Probolinggo” pada 1 Juli 1918. Bertepatan dengan HUT Bhayangkara. Bahkan, telah beberapa kali diperingati sebagai hari jadi kota oleh pemerintahan terdahulu.

Tapi, sekali lagi, sejarah adalah milik pihak-pihak yang berkuasa dan itu tidaklah salah. Pemerintahan HM. Buchori memandang bahwa kemerdekaan (pemekaran wilayah) harusnya bukanlah hadiah dari penjajah, maka bersama tim pencetus sejarah kota saat itu, Buchori menilik kembali sejarah Kota Probolinggo, khususnya saat pembukaan Banger oleh Prabu Hayam Wuruk.

Continue reading “657 TAHUN, DARI MANA ASALNYA?”

pariwisata, sejarah

Paguyuban Kang dan Yuk Kota Probolinggo


Paguyuban Kang dan Yuk Kota Probolinggo dibentuk pada tanggal 21 September 2006. (Sehari setelah terpilihnya Stebby Julionatan dan Erina Andriani sebagai Kang dan Yuk Kota Probolinggo 2006 –saat itu Malam Grand Final Pemilihan Duta Wisata, Kang dan Yuk Kota Probolinggo 2006, dilangsungkan pada tanggal 20 September 2006–, atau 17 hari setelah HUT Kota Probolinggo ke 647). Stebby Julionatan, Kang Kota Probolinggo 2006, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Paguyuban. Rizky Raditya Nugraha diangkat sebagai Wakil Ketua, Maharanie Subandriya sebagai Sekretaris, dan Erina Andriani sebagai Bendahara. Ditambah satu orang lagi untuk melengkapi formasi mereka berlima, Hergha Basretpiviarico sebagai Humas.

Paguyuban Kang dan Yuk Kota Probolinggo ini bukan yang pertama kali dibentuk. Sebelumnya, di tahun 2004, sudah pernah ada. Dengan Dimas Sugeng Widodo, Kang Kota Probolinggo 2004 sebagai ketua. Namun paguyuban itu tidak bertahan lama. Ia berhenti di tempat, lalu bubar jalan.

Selama dua tahun ini (2006–2008), Paguyuban Kang dan Yuk Kota Probolinggo mencapai masa puncaknya ketika dipegang oleh Stebby dan rekan-rekannya. Mereka terlihat sangat kompak. Stebby yang pemikir, Risky yang mempunyai kecepatan bertindak, Ranie yang teguh sama prinsip-prinsip dan pendiriannya, Andrien yang cantik dan pandai menarik simpati banyak pihak dan Hergha yang flexibel, membuat tim mereka solid dan tak tergantikan.

Sekarang, Paguyuban Kang dan Yuk Kota Probolinggo diketuai oleh Andromeda Sain, Kang Kota Probolinggo 2007. Dan Galang Mandiri sebagai Wakil Ketua.

Pemilihan Duta Wisata Kang dan Yuk Kota Probolinggo

Pemilihan Duta Wisata, Kang dan Yuk Kota Probolinggo, sebenarnya bukan diawali pada tahun 2004 melainkan pada tahun 1997. Namun pada saat itu pelaksanaannya bukan diadakan untuk memperingati hari jadi Kota Probolinggo, tapi Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember. Yang melaksanakannya pun bukan atas nama Pemerintah Kota Probolinggo, tetapi Tim Penggerak PKK Kota Probolinggo. Saat itu masih Pak Suprapto yang menjadi Walikota.

Setelah lama mati, karena ajang-ajang seperti itu dianggap tak penting dan tak berguna bagi orang-orang eksekutif, Pemilihan Kang dan Yuk Kota Probolinggo baru diadakan lagi pada pemerintahan Bapak HM. Buchori, SH. M.Si. Beliau memiliki pemikiran yang berbeda dari para pendahulunya. Sebuah terobosan. Beliau menganggap pentingnya peran generasi muda dalam perkembangan dan peningkatan infrastuktur kota, khususnya di sektor pariwisata. Maka, sejak saat itu, sejak tahun 2004 lah, Pemilihan Duta Wisata Kang dan Yuk Kota Probolinggo dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya.

Untuk tahun 2005, pemilihan tesebut sengaja tidak dilaksanakan karena turut bersimpati atas banyaknya bencana alam yang terjadi di sepanjang tahun, utamanya bencana besar tsunami yang terjadi di Aceh pada akhir tahun 2004.