KEHIDUPAN TAPAL BATAS DI KECAMATAN WONOASIH


Kecamatan Wonoasih adalah salah satu kecamatan (selain Kec. Kademangan) di bagian selatan Kota Probolinggo  yang berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten. Sedikitnya, untuk wilayah selatan, ada 3 kelurahan di Kecamatan Wonoasih yang berbatasan langsung dengan wilayah Kab. Probolinggo, antara lain: Kel. Wonoasih (berbatasan dengan Bantaran); Kel. Pakistaji (berbatasan dengan Jorongan dan Leces); serta Kel. Kedung Galeng (dengan Jorongan dan Kramat Agung)

Secara geografi Kecamatan Wonasih memiliki luas 10.981 km2 yang terbagi atas 6 kelurahan, yakni: Kel. Wonoasih, Kel. Jrebeng Kidul, Kek. Pakistaji, Kel. Kedung Galeng, Kel. Kedung Asem dan Kel. Sumbertaman. Dengan jumlah penduduk mencapai 31.639 (2010) yang mayoritas berprofesi sebagai petani / buruh tani, dengan angka buta huruf dan putus sekolah mencapai 3700 jiwa (1319 jiwa untuk buta huruf dan 2381 untuk angka putus sekolah, per semester 2012 akhir), dapat dipastikan wilayah selatan Kota Probolinggo ini perlu perhatian yang cukup serius dari pemerintah kota.

Seperti yang tertuang dalam RPJM 2010-2014 melalui Program Percepatan Pembangunan Wilayah Selatan, Pemerintah Kota senantiasa melakukan pemerataan pembangunan. Khususnya bagi kelurahan-kelurahan di wilayah tapal batas selatan agar terjadi pemerataan pembangunan antara wilayah utara (perkotaan) dengan wilayah selatan di Kota Probolinggo.

Bermula dari sentilan Walikota Probolinggo, HM. Buchori kepada Camat Wonoasih, Tutang Heru Aribowo, akhir Januari (22/1) lalu, pada kegiatan Penyerahan Bantuan Sarana Prasarana Sampah di TPA “Bestari”, Kamis kemarin (21/3), Link-Go berkesempatan untuk melakukan penelusuran, melihat secara langsung,  ke dua rumah warga (baca: KK) di wilayah ter-selatan yang dimaksud oleh orang nomor satu di Kota Probolinggo itu.

Bagaimanakah kehidupan kedua warga masyarakat yang pernah disinggung oleh Walikota Buchori? Apakah pemerataan hasil-hasil pembangunan sudah dirasakan oleh mereka?

Letak kedua rumah itu memang seperti memisahkan diri dari lingkungan sekitarnya. Melewati sebuah jalan paving sepanjang ±150 meter yang membelah areal persawahan dan baru selesai pembangunannya seminggu yang lalu, Link -Go akhirnya sampai di rumah kakak beradik, Marhen dan Nipun. Saat ditemui, tampak sang kakak, Marhen, dan keluarganya sedang mengurus sawah di samping rumah mereka.

Tutang, yang siang itu mengantar kami secara khusus, langsung menyapa mereka dalam bahasa Madura dan memperkenalkan maksud kedatangan kami kepada mereka. Begitu tahu, keluarga tersebut langsung menyambut kami dengan suka cita dan mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian, kepulan uap teh panas yang disuguhkan oleh istri Marhen pun menemani perbincangan kami siang itu.

Meskipun paling ujung, keadaan rumah Marhen itu tidaklah buruk. Jauh dari kesan “miskin” yang kami bayangkan sebelumnya. Memang, bangunan rumah yang terletak di Jl. Kenari Ds. Gerdu, RT 5, RW 5, Kel. Pakistaji, Kec. Wonoasih ini separuhnya masih menggunakan bambu (gedheg), namun kedua bangunan tersebut sudah berlantai semen dan berasbes. Hal lainnya, yang akhirnya juga langsung menguapkan pikiran kami akan kesan “daerah tertinggal”, ialah: kedua rumah tersebut tak jauh letaknya dari akses pendidikan dasar (sekitar 200m dari SDN Pakistaji 1) dan akses kesehatan masyarakat (Puskesmas Pembantu (Pustu) untuk Ds. Gerdu). Satu-satunya kendala yang kami rasakan adalah akses jalan untuk mencapainya.

Dari arah utara, sedikitnya ada dua akses menuju rumah Marhen dan Nipun tersebut. Melalui Jalan Langsep atau Jalan Jeruk. Akses melalui Jalan Langsep lebih mudah, tinggal lurus saja ke arah selatan hingga kita mendapati SDN Pakistaji 1. Namun lemahnya, kalau musim hujan, karena tidak memiliki gorong-gorong (saluran air) dan letak sawah yang lebih tinggi dari jalan, Jalan Langsep tersebut berubah menjadi sungai.

Kalau melewati Jalan Jeruk, atau start dari Kecamatan Wonoasih ke arah selatan, beragam jenis jalan akan kita lalui untuk menuju lokasi tersebut. Mulai dari jalan aspal berkualitas baik, jalan aspal yang banyak berlubang serta jalan makadam sebelum akhirnya kita melewati jalur berpaving yang menghubungkan jalan utama dengan rumah Marhen dan Nipun.

Sehari-hari keluarga Marhen dan Nipun bekerja sebagai buruh tani. Namun kedua rumah yang mereka tempati adalah milik pribadi, peninggalan dari kedua orang tua mereka. Putra marhen yang paling besar, Samsul (13), saat ini bersekolah di SMP 6 Kota Probolinggo, sedangkan putri bungsunya, Ratih, masih berusia 4 tahun dan belum bersekolah.

Meski banyak yang menganggap daerah tempat Marhen dan Nipun tinggal ini ndeso dan terbelakang, namun selama penelusuran Link-Go ke daerah terluar di sisi selatan Kota Probolinggo tersebut, setidaknya Link-Go menemukan 4 (empat) fakta menarik terkait dengan Kecamatan Wonoasih, yaitu:

Pertama, kesadaran warga masyarakan Wonoasih dalam membayar pajak (BPP) cukup tinggi. Di luar data yang sudah diakui oleh DPPKA (perolehan per Maret 2013 naik dari Rp 5 juta menjadi Rp 11 juta), diakui Junaedi, salah seorang staf kecamatan yang bertugas mengumpulkan pajak, dirinya tidak pernah ditolak oleh para wajib pajak (WP).

“Contohnya di sini (rumah Marhen, red.), padahal bisa dibilang angka Rp 40 ribu itu cukup besar bagi Pak Marhen dan keluarganya, namun saya tidak pernah mengalami yang namanya ditolak dengan berbagai alasan ketika datang ke rumah salah satu warga,” ungkap Junaedi.

Kedua, tingkat kesadaran pendidikan yang tinggi. Hal ini terbukti dengan dapat ditekannya angka putus sekolah dan buta huruf, melalui Kelompok Belajar Fungsional (KF), dari 3780 jiwa di tahun 2011 menjadi 3700 jiwa di mid-semester kedua 2012.

“Bahkan tahun ini kami telah bekerjasama dengan Dikti. Yakni, dari Unisma, Unmuh dan (Universitas, red.) Tribuana dalam pengembangan wilayah selatan. Melalui IBW (IPTEK Berbasis Wilayah), kami ingin memberikan pendambingan bagi UKM dan masyarakat dalam pemanfaatan teknologi alternatif berupa kotoran sapi. Bahannya kan banyak kita dapatkan di sini,” jelas Tutang, menambahkan informasi yang sedang kami kumpulkan mengenai tingkat kesadaran masyarakat akan pendidikan.

Berikutnya, fakta ketiga yang menarik perhatian kami adalah pemanfaatan teknologi informasi (TI) dalam persebaran informasi kecamatan. Dapat kami buktikan sendiri bahwa Kecamatan Wonoasih, meski berada di ujung paling selatan Kota Probolinggo, adalah kecamatan yang paling aktif dalam meng-update data-data kegiatan kecamatan jika dibandingkan dengan 4 kecamatan lainnya yang ada di Kota Probolinggo.

Terakhir, fakta keempat yang dimiliki oleh Kecamatan Wonoasih adalah kualitas pelayanan publik yang prima. Dengan prinsip “jangan sampai kembali” yang ditekankan oleh Tutang, seluruh staf Kecamatan Wonoasih senantiasa memberikan pelayanan terbaiknya agar warga masyarakat yang membutuhkan bantuan dalam hal pengurusan surat-surat senantiasa bisa dilyanai dan selesai di hari itu juga.

Jam pelayanan hingga pukul 15.30 WIB, keberadaan PATEN (Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan), inovasi finger print pada apel, jaringan LAN dan jenset berkapasitas 7700 watt tentunya sangat mendukung keberadaan Kecamatan Wonoasih dalam memberikan pelayanan terbaiknya. (tby)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: