testimoni tentang KEINDAHAN dan CINTA



(sebuah ceracau setelah membaca buku kumpulan sajak “menyelam Dalam” karya Beno Siang Pamungkas dan Timur Sinar Suprabana)

 

Judul Buku                  : menyelam Dalam
Penulis                          : Beno Sinar Pamungkas dan Timur Sinar Suprabana
Genre                            : kumpulan sajak
Jumlah Halaman      : x + 126 halaman
Cetakan                        : I (Pertama)
ISPN                              : 978-602-19169-0-2
Tahun Terbit              : Oktober 2011
Penerbit                       : Huruf Hidup

 

“SENI adalah dualisme yang terperangkap dalam keindahan.”

Seperti itulah jawaban saya ketika saya ditanya soal seni. Semisal ketika saya mengunggah sebuah status di FB “menurutku kau adalah Apel yang meruntuhkan Hawa pada setiap dosa pertamanya…” Dalam status tersebut kemudian memancing sebuah komentar yang berkata: “Aku hanya orang awam. Sulit mengartikan apa yang tertera. Hanya diam sambil mengira-ngira apa yang dimaksud.”

Ya, begitulah indahnya seni, seni sastra. Ia bukanlah sebuah kalimat mono-tafsir, tapi multi-tafsir. Ia membuka banyak ruang pada tiap individu. Mencengkram mereka tepat di lubuk, tepat di rasa, apa yang sedang mereka rasakan saat ini. Sebenarnya memang tidak sulit, tapi juga tak gampang –untuk bisa mengerti apa makna, atau pesan, yang ingin disampaikannya. Sebagai tips, bukalah membuka semua indra yang Anda miliki: Membuka mata, membuka telinga, mengecapnya dalam lidah, membauinya, dan merasakan sentuhannya. Kemudian, kelolalah dengan kedua senjata yang sudah diberikanNya, senjata yang sudah Anda miliki sejak lahir: pikir dan hati.

Sesuai judulnya, sebelum saya mulai membicarakan buku kumpulan sajak “menyelam Dalam” karya Beno Siang Pamungkas (BSP) dan Timur Sinar Suprabana (TSS), mungkin saya perlu mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada tante saya, Tante Sofie, yang pada awal bulan lalu (7/11) telah menghadiahi saya buku ini, menyelam Dalam.

Buku kumpulan sajak “menyelam Dalam” berisi 92 puisi. Empat puluh empat puisi milik Beno Siang Pamungkas, sedang empat puluh delapan sisanya adalah karya-karya dari Timur Sinar Suprabana.

Ingin saya meresensi buku ini sebagai sarana melatih kemampuan saya menulis. Tapi kembali lagi, harus saya ingat-ingat kembali, siapakah saya yang sebegitu beraninya meresensi sajak-sajak yang ada di dalam buku ini. Saya masih jauh, masih belum punya ilmunya, sehingga menurut saya yang pantas jadi adalah ini: Ceracau saya. Ceracau tentang keindahan dan cinta. Sebuah apresiasi dan kesan saya setelah saya menuntaskan buku ini.

Kalau boleh sedikit bercerita, jujur, saat keinginan saya untuk membuat resensi bagi kumpulan sajak ini masih begitu kuatnya, saya pun telah mengobrak-abrik banyak contoh-contoh resensi mengenai puisi. Saya mulai menghabiskan waktu luang saya untuk membaca mengenai teori kritik sastra ala Armijn Pane, ala Sutan Takdir Alisjahbana, ala HB. Jassin, hingga ala Ajib Rosidi yang dimiliki oleh ibu saya (kebetulan ibu saya adalah adalah guru Bahasa Indonesia). Saya juga membaca analisis struktural dan semiotik pengkajian puisi ala Amir Hamzah, membaca beberapa kajian puisi di koran Kompas Minggu yang menumpuk di rumah, atau…  catatan kurator Arif Bagus Prasetyo dalam Festifal Seni Surabaya 2008, yang dipercaya untuk menyeleksi, menghimpun dan mencari benang merah dari karya 5 penyair terbaik Jawa Timur. Tapi ternyata, kesemuanya itu malah membuat saya lebih pusing dari sebelumnya. Bagi saya yang memang tidak menempuh pendidikan sastra secara formal, biarlah, begitulah kata pikir saya, sementara ini rupanya saya masih harus menahan dahulu keinginan saya tersebut.

Dalam bahasa Ibrani, ada tiga pengertian tentang cinta: AGAPE (cinta yang berkaitan dengan Tuhan), EROS (cinta murni, suci yang tidak berkaitan dengan nafsu, antar sesama manusia) dan FILIA (cinta sesama manusia yang biasanya melibatkan nafsu dan hasrat untuk saling memiliki). Dan kumpulan sajak “menyelam Dalam” rupanya berbicara mengenai itu. Berbicara mengenai ketiganya. Ia menyelam ke dalam cinta.

 

Cinta yang mana? Dan cinta siapakah?

 

Untuk AGAPE, dengan tangkas hematnya BSP berkata seperti ini:

 

haruskah kukata
bila di jeda
detak jangtungpun
Kau ada?

cinta (hal. 16)

 

bulan berkah pecah.
di malam ke dua puluh tiga,
angin membuka cakrawala.
purnama di pagi hari.

memanggil sepi
aku mengambang di awang-awang

 

malam berkah (hal. 10)

 

atau bagaimana keiklasan TSS dalam “di Rumah ini” (hal. 78):

 

tiap ada yang tibatiba menyebut namamu
selalu mendadak hatiku menggumamkan namaNya

ingatan terhadapmu mempertemukanku
dengan kerinduan padaNya

.
.
.

bahkan ketika gas dan beras
sudah sejak berhari lalu terkuras

bahkan ketika helai-helai rekening
belum terbayar meski sudah menguning

bahkan ketika istri dan anak-anak tak kudengar tergelak
kerna tiada yang masih bisa ditanak

aih, betapa Bunga kehidupan ini
betapa penuh warniwarna dan wangi

 

Itu untuk membicarakan AGAPE. Beda lagi tentunya ketika mereka membicarakan EROS. Cinta yang penuh ketulusan. Simak saja bagaimana BSP mengungkapkannya dalam “makam” (hal. 35):

 

….
tak perlu nisan
atau pernanda.
karena aku tak ingin seorangpun tahu
kalau di situ telah kau kuburkan
kekasihmu

 

Cinta (baca: ketulusan) memang tak selalu membutuhkan kata. Ia hanya datang.

 

….
itulah sebab mengapa Sekarang aku memilih di sini
dan membiarkan engkau Tetap di sana
seolah tidak pernah ada apapun atau siapapun dan juga
tandatanda
yang pernah sebelum ini menghubungkan kita dengan cinta

keheningan – TSS  (hal. 67)

 

dan kau harus paham sendiri apa maksud cinta itu.

 

BSP rupanya juga amat sangat peduli mengenai keadaan sosial yang ada di sekitarnya. Di sinilah kelebihannya. Beberapa potret kehidupan sosial lingkungannya itu sempat terekam lewat:

 

….
Jakarta kehilangan tempat
bagi mayat,
roh yang lupa jalan pulang!

jakarta (hal. 7)

 

….
berapa harga hidup seseorang
kamar itu argonya terus berjalan.

rumah sakit (hal. 41)

 

potret tentang maraknya orang bunuh diri dengan cara yang tak biasa. Bukan lagi di tempat gelap dan sendirian. Tapi di mall, tempat umum yang ramai manusia.

 

….
seseorang memang berhak menentukan akhir hidupnya.
kupasang iklan duka cita tanpa paksaan.
aku ingin mati dengan cara yang tak pernah kau tangisi.
Tunggu saja beritanya besok pagi.

reklame bunuh diri (hal.38)

 
Untuk FILIA, sepertinya di sini wilayah TSS. Dibanding BSP, TSS begitu hebatnya menceritakan kekosongan dan penyesalan perselingkuhan dalam kesembilan sajak yang kurencanakan pada hari ini. Mulai dari menggebunya cinta, begitu menggairahkannya cinta yang terlarang itu:

 

kami menyaksikan angin menabarak kabut
ciuman demi ciuman tak henti mengulang pagut

tiba-tiba aku pengin bisa beringsut
menjumput ceceran jejak yang minta dipungut

“jangan dulu,” katanya. “biarkan saja.”
ah, sepasang matanya bunga dengan warna kesumba
juga kedua puting payudaranya

seperti hujan
kami berdekapan

angin tak henti, masih saja, terus jaga, menabarak kabut

di luar
gemetar

sajak Kedua dari 9 sajak yang kurencanakan pada hari ini (hal. 58)

Erotisme:

mungkin lebih kerna kesepian ketimbang takut ditinggal
maka kamu malam itu membiar diri jadi belukar
dan aku ini ular
menelasar tanpa kenal senggal

tubuhmu sungguh perempuan
dan aku lelaki yang melupa semua wanita
dan kamu tampak betul kalau cuma perlu pejantan
maka tak kuberi cinta

kita tak bercakap tentang langit
kerna kau pengin jerit
kita tak berbincang tentan urat
sebab kau butuh dijerat

.
.
.

Apa yang dirindu belukar
jika memang bukan ular

sajak Keempat dari 9 sajak yang kurencanakan pada hari ini

 

Mungkin bisa saya katakan juga bahwa “menyelam Dalam” adalah percakapan antara seorang pendiam (BSP), dengan orang yang begitu cerewetnya (TSS), mengenai sebuah topik: CINTA.

Kita bisa simak betapa “bertele-tele” dan “cerewetnya TSS dalam:

 

Ada yang aku berharap pengin bisa tidak sampai dapat melakukannyaterhadapmu yaitu melupakanmu yang tapi akhirnya aku menemu diri dan bahkan seluru masa laluku gagal untuk masih bisa mengingatmu meski betapa padahal dulu alangkah engaku bahkan nyaris menjadi saya bagiku.

sajak dari ketika engkau Di… (hal. 69)

 

untuk menyatakan, “kau itu lho sudah menjadi aku. Aku mencintaimu.” Berbeda dengan yang dilakukan BSP. Kalimatnya lebih irit:

 


aku ingin menjadi hujan yang ramah
bagi halaman rumah

rumahmu
di kalbuku

hujan (hal. 32)

 

Kembali ke soal seni… soal keindahan yang saya sudah saya sampaikan tadi, seperti inilah  ceracau pengalaman saya yang bisa saya bagi saat menyelam ke dalam kumpulan sajak-sajak milik BSP dan TSS. Dan karena seni itu multi-tafsir, saya yakin pengalaman Anda pastilah berbeda dengan pengalaman saya. Untuk itu anda harus membuka semua indra anda dan menyelam sendiri ke dalamnya.

Saya jadi teringat sebuah legenda Zen kuno dimana ada seorang murid yang berkata kepada gurunya: “Guru…. Guru menuturkan bayak cerita tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami.” Lalu Sang Guru menjawab: “Bagaimana menurutmu, andaikata seseorang menawarkan buah kepadamu, namun mengunyahkannya dulu untukmu?” Seperti itulah seni… seperti itulah cinta… seperti itulah keindahan… seperti itulah hidup…. Saya hanya sebatas bercerita, untuk mengerti sendiri mengenai makna dan esensi cinta yang ada dalam “menyelam Dalam” Anda haruslah menyelam sendiri ke dalamnya. (tby)


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: