bahasa, berita, budaya, buku, cinta, hobby, motivasi, penghargaan

Biru Magenta dan Dewi “Dee” Lestari


Ibu Suri @DeeLestari wif Biru Magenta. I feel so blessed :D #BiruMagenta #kumpulansajak #2015 #penulis #idola #FestivalPuisiNasional #probolinggohitz #Probolinggo #JawaTimur #Indonesia
Ibu Suri @DeeLestari wif Biru Magenta. I feel so blessed 😀 #BiruMagenta #kumpulansajak #2015 #penulis #idola #FestivalPuisiNasional #probolinggohitz #Probolinggo #JawaTimur #Indonesia

no mention. 😀

Advertisements
bahasa, berita, budaya, buku, cinta, kehidupan, kemanusiaan, keseharian, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, sejarah, seni, spiritualitas

Upaya Menuntaskan Relativitas Cinta


Kalaulah dijalin-menjalin , rangkaian puisi di buku ini bisa menjadi novel panjang. Tapi, cara terbaik menikmatinya adalah dengan terjun pada kata dan rangkaiannya sebagaimana menghayati puisi.

MEMBACA cepat tulisan-tulisan di buku ini, sekilas seperti skenario drama dengan teknik puisi. Antara dua sejoli yang sedang mabuk asmara. Kalaulah puisi konvensional, masing-masing akan berdiri sendiri.

Biru Magenta
Biru Magenta

Judul Buku       : Biru Magenta, Sekumpulan Sajak
Penulis               : Ratna Satyavati & Stebby Julionatan
Penerbit             : Ruang Kosong Publishing
Cetakan             : Pertama, Mei 2015.
Editor                 : Ginanjar Teguh Iman
ISBN                   : 978-602-72575-0-4

Kalau dijalin-menjalin, mungkin saja ada cerita, menjadi novel puisi panjang. Bisa-bisanya saja semua terjadi. Namun, lebih valid dibaca secara tuntas per bentuk utuh, per paragraf, per kalimat, per frasa, dan per kata. Tuntas. Pekerjaan profesional yang tak sekedar mengandalkan kesenangan. Lalu, menuliskan refleksi pembacaan secara utuh pula sebagai suatu esensi.

Ternyata, membacanya sebagai novel yang bercerita, bagaimanapun mengalami kesulitan. Sebab, memang sifatnya kumpulan puisi. Cara menikmatinya memang harus terjun pada kata dan rangkaiannya sebagaimana menghayati puisi.

Continue reading “Upaya Menuntaskan Relativitas Cinta”

bahasa, berita, buku, cinta, hobby, kehidupan, kemanusiaan, penghargaan, sastra

Dua Warna Sajak


Info Buku Baru (Jawa Pos. Minggu, 14 Juni 2015)
Info Buku Baru (Jawa Pos. Minggu, 14 Juni 2015)

Ratna adalah Magenta dan Sang Biru adalah Stebby. Berdua mereka memadu warna dan kata dalam Biru magenta. Kumpulan sajak ini hadir secara bersahaja. Meskipun, larik-larik puisinya menghadirkan pergumulan para penulisnya dalam memadatkan bahasa dan meramu metafora tentang keberadaannya. (*)

keseharian, pariwisata

PENG . ABDI . AN


Seoarang SAMURAI mengabdi pada pedang-nya; seorang GURU mengabdi pada pemikiran-nya; sedang seorang PELACUR mengabdi pada kebebasan-nya.

Seorang PENARI mengabdi pada tubuh-nya; seorang PENDETA mengabdi pada kelamin-nya. (Kok? Ya… kan mereka adalah orang-orang yang harus berada di garda depan sebagai orang-orang yang lihai menaklukkan hasrat dan nafsu keduniawian.) Lalu dengan cara apa pengabdian seorang DUTA WISATA diukur?

Dan mengapa aku menulis demikian?

Sebab hari ini aku mendapat telepon dari salah seorang teman, sebut saja namanya Faiz. Dia adalah salah satu Finalis Kang Kota Probolinggo 2006 yang sekarang bekerja di Dinas Pariwisata. Dia memintaku membantunya membuat website Dinas Pariwisata Kota Probolinggo. Aku tidak mau. Maksudnya, aku tidak mau kalo “gretong”an. Gila apa, kerja secara gratisan?! (Temen ya temen… kerja ya kerja… bisnis kan ya harus bisnis dunk!) Lalu temanku itu memohon-mohon dengan bertameng di balik sila Pengbadian kepada Dinas Pariwisata. Eittss… tunggu dulu, apa sih yang dimaksud dengan pengABDIan?

Menurut KBBI, pengabdian adalah proses, cara, perbuatan mengabdi atau mengabdikan. Seorang abdi sendiri berarti orang bawahan, pelayan, hamba atau malah bisa berarti budak tebusan. Yang berarti, dengan kata lain, pengabdian adalah perbuatan menghamba. Well, berarti kalo orang-orang seperti temanku itu sih wajar kalo pekerjaannya adalah menbabdi, sebab dalam KBBI juga ditemukan kalo pegawai negeri itu abdi Negara. Kalau aku… kalo gue… gue kan bukan abdi Negara, lalu kenapa harus dituntut pengabdiannya kepada Dinas Pariwisata??!! Apa karena aku pernah menjabat sebagai duta wisata??? Apa karena aku Kang Kota Probolinggo 2006???

Well, terus terang aku tidak mau jadi kacang yang lupa kulitnya. Terus terang, menjadi duta wisata membuka banyak jendela dalam kamar kehidupanku. Tapi bukan itu yang aku cari. (Rupanya perlu aku tekankan lagi: Aku ingin menjadi penulis… dan duta wisata adalah salah satu jalannya.) Banyak pemikiranku yang tidak terakomodir oleh Dinas Pariwisata ketika aku masih menjabat. Sebab, terus terang lagi, aku tidak suka kalo hanya tampil ayu-ayu’an dan menjadi penjaga pintu. Padahal dulunya aku berharap pemikiran-pemikiranku untuk perkembangan kotaku tercinta ini juga diperhatikan.

Intinya… banyak pengalaman yang berkaitan dengan kepariwisataan yang aku dapatkan setelah aku bekerja di Gilang T&T ketimbang yang aku dapat ketika aku masih menyandang gelar Kang Kota Probolinggo. Sebuah tamparan yang manis, bukan??!!

So… don’t blame me cuz I not serve you well.

keseharian, renungan, sastra

PENJUAL MIMPI


“Sebab aku hidup dari menjual mimpi,” itulah kata-kataku kepada RowLanD ketika dia berkata padaku kalo pekerjaan merenung itu ga bawa rejeki.

“… di duniaku lain, Row
di duniaku,
uang dicari dengan merenung dan kontemplasi,”


”… di duniaku,
rejeki dicari dengan menghitung bintang di langit,”

”… di duniaku,
berkat didapat dengan meniup gelembung mimpi,”

”so… selamat datang di dunia para pemimpi.

Karena aku PENULIS, Row

Penulis yang hidup dengan bermimpi.”