Archive for Kang Kota Probolinggo

ADIEN GUNARTA, TAKLUKAN DUNIA LEWAT SENI FONTASI

Posted in bahasa, berita, bisnis, budaya, buku, cinta, hobby, keseharian, motivasi, pemerintahan, penghargaan, seni with tags , , , , , on June 10, 2017 by BonX

Pemuda berikut yang begitu ingin saya kulik profilnya adalah Adien Gunarta, seorang seniman font asal Probolinggo yang namanya sudah mendunia. Serius! Ya, kalau Anda pernah menyaksikan film Despicable Me, dan mengamati ada salah satu bagian bangunan bertulis Eagle Hair Club, itu adalah font karya mahasiswa semester akhir jurusan Komunikasi, Universitas Airlangga ini.

Sedikit menelusur ke belakang, pertemuan awal kami berlangsung pada ajang pemilihan duta wisata. Dia, Adien Gunarta, tampil sebagai juara pertama, Kang Kota Probolinggo 2012. Tapi jujur, saya tidak begitu terpukau pada prestasinya di sana. Saya terpukau pada pemuda ini ketika menemui dan membaca tulisannya di Radar Bromo yang berjudul Rebelion. “Hmmmm… ternyata dia bisa menulis ya,” ungkap saya saat itu. Tulisan yang di kemudian hari saya minta, dan saya terbitkan dalam bentuk kumpulan cerpen Komunitas Menulis (Komunlis).

Dan kebanggaan itu terus berkembang sampai saat ini ketika melihat beragam kemajuannya yang pesat; ia pernah menjadi tokoh muda pilihan Jawa Pos 2014 lho, termasuk menjadi founder dari bisnis souvenir miliknya, Kacapuri.

foto Adien Gunarta

Continue reading

Advertisements

Upaya Menuntaskan Relativitas Cinta

Posted in bahasa, berita, budaya, buku, cinta, kehidupan, kemanusiaan, keseharian, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, sejarah, seni, spiritualitas with tags , , , , , , , , , , , , on June 28, 2015 by BonX

Kalaulah dijalin-menjalin , rangkaian puisi di buku ini bisa menjadi novel panjang. Tapi, cara terbaik menikmatinya adalah dengan terjun pada kata dan rangkaiannya sebagaimana menghayati puisi.

MEMBACA cepat tulisan-tulisan di buku ini, sekilas seperti skenario drama dengan teknik puisi. Antara dua sejoli yang sedang mabuk asmara. Kalaulah puisi konvensional, masing-masing akan berdiri sendiri.

Biru Magenta

Biru Magenta

Judul Buku       : Biru Magenta, Sekumpulan Sajak
Penulis               : Ratna Satyavati & Stebby Julionatan
Penerbit             : Ruang Kosong Publishing
Cetakan             : Pertama, Mei 2015.
Editor                 : Ginanjar Teguh Iman
ISBN                   : 978-602-72575-0-4

Kalau dijalin-menjalin, mungkin saja ada cerita, menjadi novel puisi panjang. Bisa-bisanya saja semua terjadi. Namun, lebih valid dibaca secara tuntas per bentuk utuh, per paragraf, per kalimat, per frasa, dan per kata. Tuntas. Pekerjaan profesional yang tak sekedar mengandalkan kesenangan. Lalu, menuliskan refleksi pembacaan secara utuh pula sebagai suatu esensi.

Ternyata, membacanya sebagai novel yang bercerita, bagaimanapun mengalami kesulitan. Sebab, memang sifatnya kumpulan puisi. Cara menikmatinya memang harus terjun pada kata dan rangkaiannya sebagaimana menghayati puisi.

Continue reading

LAUNCHING dan BEDAH BUKU “LAN”

Posted in bahasa, berita, buku, cinta, hobby, pendidikan, sastra with tags , , , , , , , , on May 7, 2011 by BonX

hy guys… wanna attend to my book launching event???


alamat memang sengaja, masih dirahasiakan…

n pastinya… undangan gratis bakal dibagikan bagi 10 orang pertama whose LIKE my facebook FANS PAGE (Stebby Julionatan)

so guys… buruan, jangan sampai ketinggalan acara seru ini… segera saja, LIKE dan dapatkan undangan gratis untuk ikutan dalam acara yang juga bakal menghadirkan juga Mas Indra Tjahyadi sebagai salah seorang pembicaranya…

coz banyak that you will got in this event,,,
dapet ilmu…
dapet temen…
dapet strategi gimana karya bisa tembus ke penerbit…
n siapa tau juga kamu bakal dapet bukunya GRATIISSS!!!

ditunggu ya….

PENG . ABDI . AN

Posted in keseharian, pariwisata with tags , , , on April 10, 2008 by BonX

Seoarang SAMURAI mengabdi pada pedang-nya; seorang GURU mengabdi pada pemikiran-nya; sedang seorang PELACUR mengabdi pada kebebasan-nya.

Seorang PENARI mengabdi pada tubuh-nya; seorang PENDETA mengabdi pada kelamin-nya. (Kok? Ya… kan mereka adalah orang-orang yang harus berada di garda depan sebagai orang-orang yang lihai menaklukkan hasrat dan nafsu keduniawian.) Lalu dengan cara apa pengabdian seorang DUTA WISATA diukur?

Dan mengapa aku menulis demikian?

Sebab hari ini aku mendapat telepon dari salah seorang teman, sebut saja namanya Faiz. Dia adalah salah satu Finalis Kang Kota Probolinggo 2006 yang sekarang bekerja di Dinas Pariwisata. Dia memintaku membantunya membuat website Dinas Pariwisata Kota Probolinggo. Aku tidak mau. Maksudnya, aku tidak mau kalo “gretong”an. Gila apa, kerja secara gratisan?! (Temen ya temen… kerja ya kerja… bisnis kan ya harus bisnis dunk!) Lalu temanku itu memohon-mohon dengan bertameng di balik sila Pengbadian kepada Dinas Pariwisata. Eittss… tunggu dulu, apa sih yang dimaksud dengan pengABDIan?

Menurut KBBI, pengabdian adalah proses, cara, perbuatan mengabdi atau mengabdikan. Seorang abdi sendiri berarti orang bawahan, pelayan, hamba atau malah bisa berarti budak tebusan. Yang berarti, dengan kata lain, pengabdian adalah perbuatan menghamba. Well, berarti kalo orang-orang seperti temanku itu sih wajar kalo pekerjaannya adalah menbabdi, sebab dalam KBBI juga ditemukan kalo pegawai negeri itu abdi Negara. Kalau aku… kalo gue… gue kan bukan abdi Negara, lalu kenapa harus dituntut pengabdiannya kepada Dinas Pariwisata??!! Apa karena aku pernah menjabat sebagai duta wisata??? Apa karena aku Kang Kota Probolinggo 2006???

Well, terus terang aku tidak mau jadi kacang yang lupa kulitnya. Terus terang, menjadi duta wisata membuka banyak jendela dalam kamar kehidupanku. Tapi bukan itu yang aku cari. (Rupanya perlu aku tekankan lagi: Aku ingin menjadi penulis… dan duta wisata adalah salah satu jalannya.) Banyak pemikiranku yang tidak terakomodir oleh Dinas Pariwisata ketika aku masih menjabat. Sebab, terus terang lagi, aku tidak suka kalo hanya tampil ayu-ayu’an dan menjadi penjaga pintu. Padahal dulunya aku berharap pemikiran-pemikiranku untuk perkembangan kotaku tercinta ini juga diperhatikan.

Intinya… banyak pengalaman yang berkaitan dengan kepariwisataan yang aku dapatkan setelah aku bekerja di Gilang T&T ketimbang yang aku dapat ketika aku masih menyandang gelar Kang Kota Probolinggo. Sebuah tamparan yang manis, bukan??!!

So… don’t blame me cuz I not serve you well.