bahasa, berita, budaya, buku, cinta, kemanusiaan, keseharian, motivasi, penghargaan, renungan, sastra

Kisah Cinta Melalui Dialog Puisi


oleh: Hermawan Aksan *)

Buku yang ditulis dua orang (atau lebih) bukan hal aneh. Antologi sejumlah pengarang sudah biasa. Satu novel yang ditulis lebih dari satu orang juga banyak kita temui. Tapi buku Biru Magenta ini unik, setidaknya jarang ditemui: kolaborasi dua penulis yang berdialog panjang melalui puisi.

Biru adalah sosok lelaki, sedangkan Magenta perempuan. Kenapa Biru? “Karena Biru adalah langit yang selalu melingkupimu. Langit yang tak pernah lelah atau mengeluh meski terkadang kau menjauh. Pergi. Tak jenak pada ranah mana kau berdiri.” Dan kenapa Magenta? “Sebab akulah Merah yang mengandungmu. Magenta adalah cinta. Magenta adalah luka. Magenta adalah wujud aku dan juga kamu. Sebua kompleksitas penyatuan yang menjelma dalam keluguannya yang muda. Magenta, sinar yang menyala pada kelam biru malam. Magenta, membuat segalanya berbaur dan tertukar.”

Continue reading “Kisah Cinta Melalui Dialog Puisi”

Advertisements
bahasa, budaya, buku, cinta, kehidupan, kemanusiaan, motivasi, pendidikan, penghargaan, sastra, seni

Sebab Kita Tak Setabah Daun


Oleh: Hardi Alunaza Saradiwa*)
(dimuat di Tribun Jogja. Minggu, 16 Agustus 2015)

Pada umumnya buku kumpulan puisi bercerita dengan bagian yang terpisah antara halaman satu dengan halaman yang lainnya, baik dari segi judul maupun makna yang terkandung dari diksi yang disuguhkan kepada pembaca. Berbeda dengan buku Biru Magenta ini. Buku ini merupakan sebuah buku kumpulan puisi yang mengisyaratkan percakapan antara Biru dan Magenta yang dari setiap judul halaman yang tersedia saling bersambung, melengkapi dan terasa hidup dalam percakapan yang tertuang. Biru diumpamakan seperti langit yang selalu melingkupi orang tersayang dan Magenta adalah cinta yang menyala pada kelamnya biru malam. Keduanya saling berujar tentang cinta, kasih sayang dan kerinduan dengan bahasa yang sangat terbuka, terlalu jujur. Mengambil latar tempat seperti Malang, Jakarta, Probolinggo, dan Solo, Biru dan Magenta mengajak kita merenungkan perjalanan masa lalu serta kenangan yang telah terabadikan. Kita seolah diberikan ruang untuk menyuarakan jutaan perasaan yang pernah datang dan hinggap dalam ruang kehidupan.

 

Continue reading “Sebab Kita Tak Setabah Daun”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, kehidupan, kemanusiaan, keseharian, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, spiritualitas

MEMBACA BIRU MAGENTA, MEMBACA BENTENG BADAI LEMBUT PERTUKARAN RASA


Membaca buku puisi Biru Magenta adalah membaca amuk perasaan namun lembut. Lembut tapi ada api dan amuk. Apalagi dihasilkan oleh dua sisi penyair yaitu Stebby Julionatan dalam Birunya dan Ratna Satyavati dengan Magentanya. Dua pilihan warna ini awalnya sederhana dan mudah diingat oleh kita yang punya kesepakatan tentang makna warna. Simbol warna itu mengingatkan saya bila berada di toko perlengkapan bayi, biasanya kita akan diberi pilihan warna biru untuk bayi laki-laki dan merah muda untuk bayi perempuan. Meski tak persis betul dengan Biru Magenta, karena merah muda bukan magenta.

Biru tentu mengingatkan kita pada langit dan lautan, meski ada langit tak biru, meski ada laut tak biru. Sedang magenta adalah seesuatu yang sepi sendiri, karena itu warna pertumpahan darah di bumi. Tapi sesekali ada langit atau laut berwajah magenta. Dan pertemuan biru dan magenta yang menjadi langit magenta, atau pertemuan yang dihasilkan laut magenta, maka begitulah saya membaca puisi Biru Magenta ini. Moment pertemuan Biru dan Magenta adalah pertemuan yang jarang. Seperti gerhana, munculnya pelangi, adalah peristiwa alam yang khusus. Maka kita pun akan merayakannya, seperti juga puisi Biru Magenta ini.

Continue reading “MEMBACA BIRU MAGENTA, MEMBACA BENTENG BADAI LEMBUT PERTUKARAN RASA”

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, kehidupan, motivasi, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, seni

Malam 3 Jarak: Antara Probolinggo, Solo, dan Jogjakarta


Pembicara menyampaikan materinya dalam acara “Malam 3 Jarak” di ruang utama Balai Soedjatmoko, Sabtu (14/11). (Foto: Dian)

lpmkentingan.com-Ruang utama Balai Soedjatmoko dipadati puluhan pengunjung dari berbagai kalangan, Sabtu (14/11). Acara bertajuk “Malam 3 Jarak” yang dimulai pada pukul 19.00 WIB itu merupakan perayaan tiga buku dari para penulis yang kesemuanya berbeda kota. Dalam acara itu nampak pula beberapa penulis seperti Han Gagas, Edi Akhiles, Sanie B. Kuncoro, Indah Darmastuti, Yudhi Herwibowo, Ngadiyo, dan lain-lain.

Tiga buku yang dirayakan dalam “Malam 3 Jarak” ialah Biru Magenta, kumpulan puisi karya Ratna Satyavati dan Stebby Julionatan asal Probolinggo; Sundari Keranjingan Puisi, kumpulan cerpen karya penulis asal Solo Gunawan Tri Admodjo; dan Suluk Senja, kumpulan puisi karya Dimas Indiana Senja dari Jogjakarta. Tiga buku tersebut tidak memiliki keterkaitan tema. Setiap buku berdiri dengan tema masing-masing. Hadir sebagai pembicara ialah Puitri Haiti Ningsih, Kalis Mardiasih, dan Serunie Unie. Setiap pembicara bertanggungjawab mengulas satu buku.

Biru Magenta merupakan representasi dari Puisi Magenta karya Ratna dan Puisi Biru karya Stebby Julionatan. Di mana magenta merupakan warna yang dianggap simbol keperempuanan, sedangkan biru ialah simbol kelelakian. Sundari Keranjingan Puisi diakui penulisnya merupakan cerita-cerita yang ditulis sebab Gunawan ingin membaca cerita tersebut. Ia menulis apa yang ingin ia baca, begitu tuturnya. Sedangkan Suluk Senja lebih condong kepada pemaknaan sang penulis terhadap cinta kepada Tuhannya.

Sekitar tiga jam acara berlangsung, Karisma Fahmi selaku moderator cukup disibukkan dengan banyaknya umpan balik dari pengunjung. “Malam ini ramai dibanding biasanya (acara-acara sastra di Balai Soedjatmoko, red), aku bawa tujuhpuluh buletin habis. Penulis-penulis biasanya tak kasih tiga, lima. Ini habis. Padahal biasanya masih setumpuk yang tak bawa pulang,”ujar redaktur buletin sastra Pawon, Yudhi Herwibowo seusai acara. (Nada, Ifa)

 

tulisan ini diambil dari: http://lpmkentingan.com/kilas/malam-3-jarak-antara-probolinggo-solo-dan-jogjakarta.html

bahasa, berita, budaya, buku, cinta, kehidupan, motivasi, penghargaan, sastra, seni

Biru Magenta : Sebuah Percakapan Melankolis Dalam Satu Buku Puisi


Oleh: Ria AS. *)

Saat pertama kali saya disodori buku ini, seketika saya jatuh cinta. Pada Judulnya yang merupakan warna kesukaan saya : Biru dan Magenta. Juga pada covernya yang didominasi warna hitam. Maka saya tidak sabar untuk membaca lembar demi lembar puisi di dalam buku ini.

Kembali saya jatuh cinta pada isi buku ini. Setiap kata dirangkai dengan penuh keindahan. Seolah menulis kata demi kata tidak ditulis tangan tapi dipahat dengan penuh ketelatenan pada sebongkah batu alam. Bahkan sejak halaman pengantar, rangkaian kalimat disusun dengan sangat indah. Begitu juga dengan setiap puisi yang disajikan. Percakapan dua arah antara Sang Biru dan Sang Magenta seakan dialog antara dua manusia yang benar-benar jatuh cinta : melankolis dan manis. Ditambah dengan ilustrasi yang dilampirkan disela-sela puisi. Saya sangat iri pada ilustratornya, karena saya tidak pernah bisa menggambar dan buku puisi pertama saya hanya berisi 3 gambar dari teman saya.

Continue reading “Biru Magenta : Sebuah Percakapan Melankolis Dalam Satu Buku Puisi”

bahasa, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, kehidupan, kemanusiaan, keseharian, motivasi, pariwisata, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, seni, spiritualitas

MENJADI BIJAK LEWAT PERENUNGAN MAKNA PERJALANAN


Judul Buku                : TITIK NOL, MAKNA SEBUAH PERJALANAN
Jenis                           : Catatan Perjalanan
Penulis                       : Agustinus Wibowo
Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                     : Kedua, Maret 2013
Tebal                          : xi + 552 halaman
ISBN                          : 978-979-22-9271-8
Peresensi                   : Stebby Julionatan *)

 

Apa makna perjalanan bagi Anda? Mengunjungi tempat-tempat baru? Pamer foto atau cerita kalau Anda sudah pernah kesana? Menambah koleksi stempel pada paspor? Atau sekedar rekreasi saja, memanjakan diri dengan menikmati keindahan alam atau daerah-daerah yang eksotis, berikut kelezatan kulinernya dan menggerutu jika perjalanan tersebut tidaklah sesuai dengan yang Anda inginkan?

Tapi… pernahkah Anda –atau saya, benar-benar memaknai sebuah “perjalanan”? Dan apa perbedaannya dengan wisata? Dengan melancong? Apakah mereka sama? Atau justru sangat jauh berbeda?

wif. Agustinus Wibowo
wif. Agustinus Wibowo

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang dicoba dipaparkan, direnungkan dan dijawab oleh Agustinus Wibowo dalam buku catatan perjalanan terbarunya, Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan.

Perjalanan dan Wisata. Terkadang kita memang acapkali terjebak pada dua pengertian itu. Dua pengertian yang sangat intim laksana sepasang saudara kembar. Saling bersinggungan, melebur dan saling mengakrabi satu sama lain. Namun, pada titik yang sama, keduanya bisa saja menempati dua kutub yang berbeda. Mengancam, berseberangan dan saling memangsa.

Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan mengajak kita untuk menghayati keduanya. Dua orang saudara kembar yang tampaknya harmonis di luar, tapi (rupanya) saling memakan satu sama lain. Tak heran kalau Agustinus menyebutnya sebagai “penjajahan”:

Continue reading “MENJADI BIJAK LEWAT PERENUNGAN MAKNA PERJALANAN”