budaya, cinta, kehidupan, keseharian, pariwisata

WHY do I love PROBOLINGGO…


-There are ten reasons why do I love my city, PROBOLINGGO-

1. Bebas mo pulang kapan saja or kemana saja.

Aku jadi teringat pengalamanku saat menjadi juri sebuah pemilihan duta wisata di Bojonegoro, atau ketika aku bertugas sebagai pendamping kontingen dari 3 propinsi dalam BPAP 2009. Setidaknya kedua kota yang sama-sama berada di wilayah Jawa Timur itu tidak sama seperti kota kelahiranku, Probolinggo. Susah sekali akses transportasi ke arah dan dari sana. Kawanku, Bondan, yang juga bertindak sebagai panitia ajang pemilihan duta wisata tersebut, sampai marah-marah karena aku tak kunjung juga berangkat meski jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. “Arep budhal jam piro awakmu, Le?” -Mau berangkat jam berapa kamu?- Sindirnya kepadaku karena dia khawatir akan keadaan dan keselamatanku kalau sampai aku harus terdampar di Gresik karena tidak ada lagi bus yang menuju Bojonegoro dari sana. Untuk kalian ketahui, jadwal bus terakhir jurusan Gresik – Bojonegoro adalah pukul 7 malam. Atau saat kawanku, Hilal yang harus ngojek (naik ojek) dari Kediri ke Nganjuk saat harus melanjutkan kembali tugasnya sebagai Pendamping BPAP 2009 setelah dia mengambil cuti untuk pulang sebentar.

Kalau di Kota Probolinggo, semua masalah-masalah transportasi seperti itu pasti teratasi dengan baik. Mo pulang jam 12 malem, ada. Mo pergi ke mana jam berapa pun juga ada. Bus selalu jalan dan beroperasi terus di sini. Kan sesuai dengan salah satu konsep Tri Karsa Bina Praja Kota Probolinggo, yaitu Indaditasi: Industri, Perdagangan, Pendidikan dan Transportasi. Ingat… TRANSPORTASI… hihihihihi…. Apalagi salah satu perusahaan otomotif terbesar di Pulau Jawa ini ada di Probolinggo. P.O. AKAS. Itu semua memberikan kemudahan dan kebangaan terhadap warga masyarakat Kota Probolinggo termasuk aku. J

2. Nunut jadi beken karena BROMO.

Kebangaan yang lain adalah Bromo. Gunung dengan lautan pasirnya yang melegenda di seluruh belahan dunia bak Joko Tengger dan Roro Antengnya sendiri. Dalam hal pengelolaannya, memang itu hak milik Kabupaten sih. Tapi itulah keuntungannya memiliki dua wilayah pemerintaan… itulah yang aku bilang tadi dengan nunut nampang. Tapi… kalo ga ada Kota Probolinggo, juga ga bakalan ada kan akses ke BROMO.

3. Meraih Adipura dan Adiwiyata.

Kering prestasi akhirnya harus berakhir di tahun 2006. Yap, selama 10 tahun, sejak tahun 1996, Kota Probolinggo tidak pernah lagi mendapatkan Piala Adipura untuk Kategori Kota Kecil dan Menengah. Namun, berkat Program Tamanisasi (Kota Probolinggo, Kota 1000 Taman) yang digalakkan oleh Bapak Walikota, HM. Buchory, SH., MSi. di awal tahun 2006, pada akhirnya Kota Probolinggo berhasil mendapatkan Adipura tersebut di tahun yang sama. Tak hanya itu saja, Kota Probolinggo, lewat school pilot project-nya, SMA Negeri 2 Kota Probolinggo, Kota Probolinggo pun menyabet juga piala Adiwiyata, yaitu penghargaan kebersihan di tingkat sekolah.

4. Adem Ayem.

Hal ini dapat dibuktikan di tahun 1998, saat gencar-gencarnya terjadi kerusuhan akibat reformasi, Kota Probolinggo menjadi kota yang relativ aman terkendali. Tak ada tindak kejahatan dan kriminalitas yang terjadi di sini ketika itu. Tak ada pembantaian-pembantaian ala ninja seperti yang sering kita dengar ketika itu. Tak ada lho yang namanya penjarahan… perampokan… terlebih lagi pemerkosaan terhadap etnis Tionghua seperti yang dilaporkan media massa dan media elektronik saat proses reformasi harus menuai jalan pemberontakan dan kontak fisik. Sebagai warga masyarakat Kota Probolinggo, hidupku santai-santai dan adem ayen saja. Mungkin ini juga tidak terlepas dari kultur warga masyarakat yang “pendalungan”. Jawa ga Jawa, Madura ga Madura. Well, tapi itulah kami… warga masyarakat hybrid terbesar di planet ini. He… he… he….

5. Gereja Merah sebagai National Heritage.

Sebagai Warga Jemaat GPIB “Immanuel” Probolinggo aku pastinya bangga dong ketika gedung gereja tempatku beribadah setiap minggunya masuk menjadi salah satu National Heritage yang ada di Kota Probolinggo ini. Sebuah gedung gereja yang bernuansa gothic, warisan dari jaman pemerintahan kolonial Hindia Belanda dengan warna merah sebagai cat dasar yang tidak pernah berubah sejak pertama kali didirikan, merupakan gedung gereja tertua yang sudah berdiri sejak 1862. Maka jangan heran kalau misalkan kamu berkunjung ke gerejaku, terkadang kamu akan mendapati pasangan-pasangan calon pengantin yang sedang melaksanakan foto pre-wedding mereka di sana. J

6. GACOR, Batik Khas Kota Probolinggo sebagi Khasanah Budaya yang langsung melejit di Tingkat Provinsi.

    Meski usianya masih seumur jagung, Batik Khas Kota Probolinggo terbukti mak nyoosss, lho…Bagaimana tidak, Batik Kota Probolinggo, yang baru sekitar 6 bulan diseriusi ini sudah berhasil melambungkan dan mengharumkan nama Kota Probolinggo di Tingkat Provinsi.

    Batik Kota Probolinggo menjadi juara dalam Lomba Citra Busana Batik Gelaran PKK Jawa Timur yang digelar di gedung Bappeprov Jatim pada hari Rabu, 5 Mei 2010 lalu. Bahkan dua sekaligus. Desain Batik Busana Malam Ayu Bestari berhasil merebut juara I. Sedangkan desain batik busana casual Semarak Mangga Anggur meraih juara III. Really proud of me…

    7. Loon-Aloon, Ku-Mlaku mbek Luk-Geluk…

    Yap. Bahasa setengah-satu ini tidak mungkin kamu jumpai di tempat lain selain di Probolinggo. Sebuah varian dari kata ulang tidak sempurna yang diulangi dari pengalan suku kata terakhir ke satu kata yang utuh. Hasilnya adalah tadi, BAHASA SETENGAH SATU. Contohnya itu tadi: “Alun-Alun” menjadi Loon Aloon;  “jalan-jalan” menjadi ku-mlaku; dan “saling berpelukan” menjadi luk-geluk (untuk yang terakhir ini, memiliki arti baru yaitu bercinta) Masih banyak lagi sebenarnya, masyarakat Probolinggo juga terbiasa menggunakan kata “mbek” sebagai kata ganti “dan”, dan juga menggunakan imbuhan “sorooo” sebagai penekanan atau emphasizing dari sebuah keadaan. Contoh: kalau aku mau bilang: “Baju itu bagus sekali.” aku akan mengatakan demikian: “Klambi iku apik soroo, Rek!”

    8, 9, 10.    Tempat Lahir, Besar dan Tinggal…

    At last but not least… tentunya alasan kenapa aku mencintai Kota Probolingo adalah karena aku lahir, besar dan tinggal di sana. Meski aku adalah salah satu manusia hibrida di kota ini, sebab ayahku berasal dari Surabaya dan mamaku adalah keturunan Ambon, di darahku telah mengalir air Kali Banger… di dalam darahku telah tertanam pokok-pokok Mangga Manalagi dan Anggur Probolinggo… di dalam darahku, telah berderu hembusan Angin Gending.

    Kalau kamu… kenapa kamu bangga menjadi warga masyarakat kota Probolinggo???

    budaya, pariwisata, penghargaan

    BATIK KOTA PROBOLINGGO JUARA


    PROBOLINGGO – Kota Probolinggo mencetak prestasi membanggakan. Batik khas kota yang belum genap enam bulan diseriusi, sudah berhasil menjadi juara dalam lomba citra busana batik gelaran PKK Jawa Timur, Rabu (5/5) lalu.

    Dalam lomba yang digelar di gedung Bappeprov Jatim itu, Kota Probolinggo bahkan berhasil menyabet dua prestasi sekaligus di dua kategori yang dilombakan. Desain batik busana malam Ayu Bestari berhasil merebut juara I. Sedangkan desain batik busana casual Semarak Mangga Anggur menyandang juara III.

    Untuk lomba itu, Tim Penggerak (TP) PKK Kota Probolinggo menggandeng UKM (usaha kecil menengah) batik yang tergabung dalam paguyuban pecinta dan pembatik setempat. Busana malam menggunakan kain batik Ayu Bestari karya Wasis. Sedangkan busana casual dari kain batik Semarak Mangga Anggur karya Mita. Kain itu didesain oleh Nanik Kastip.

    Konsep lomba batik tingkat Jatim itu tidak sekedar fashion show. Melainkan ada presentasi dari masing-masing daerah tentang kain dan desain batik yang dilombakan. Awalnya tim Kota Probolinggo tidak tahu ada presentasi segala. Tak ayal, mereka berangkat terburu-buru.

    “Kami telat. Tapi alhamdulillah, juri masih ada di tempat dan kami langsung menyampaikan presentasi tentang dua busana ini. Ditanya macam-macam soal tema, warna, jenis kain dan pewarnaannya,” tutur Nanik Kastip kepada Radar Bromo kemarin.

    Presentasi pertama busana casual, kemudian dilanjutkan busana malam. Karya busana malamnya, Kota Probolinggo mengusung busana malam untuk pesta gala. Desain itu dipakai karena kota ini ingin penampilan yang berbeda dari daerah lain.

    “Masih banyak masyarakat yang tidak tahu, apa itu pesta gala. Nah, di sini kami ingin menunjukkan itu. Busana itu biasa dipakai saat pesta gala yang dihadiri pejabat dan artis. Pesta yang elegan. Busananya model jubah, di dalamnya ada kemben,” kata Nanik saat ditemui di galeri batik Gachor.

    Aturan dalam lomba di TP PKK Jatim tersebut, hanya boleh membawa satu model, tidak boleh lebih. Setelah tampil dengan busana casual, model harus buru-buru berganti busana malam.

    Saat pengumuman pemenang, di sanalah rasa pesimis sempat muncul. Karena karya dari 38 daerah di Jatim bagus-bagus. Apalagi batik khas Kota Probolinggo masih seumur jagung. Agak mustahil jika menjadi pemenang di skala Jatim.

    “Pesaingnya seperti itu. Banyak batik-batik yang bagus, seperti Madura dan Banyuwangi. Waktu diumumkan jadi pemenang, PKK Kota Probolinggo langsung menangis bahagia. Kami tidak menyangka,” imbuh Nanik.

    Mita, pembuat batik Semarak Mangga Anggur tidak menyangka jika desain busana yang dibuat dari batiknya jadi juara III di Jatim. Batik yang dipakai bukanlah batik istimewa, bukan batik yang dipersiapkan untuk dilombakan. Tapi, karya batik yang siap dijual di pasaran.

    “Bikin biasa saja. Motif itu saya pilih karena mangga dan anggur adalah ikon Kota Probolinggo. Jadi, batik Kota Probolinggo itu biar ada khasnya. Alhamdulillah bisa menang dan bisa mengharumkan nama kota,” terang Mita.

    Sementara, Wakil Ketua TP PKK Kota Probolinggo Kusmiyati Bandyk Soetrisno hadir menyaksikan langsung lomba di Surabaya itu mewakili Ketua TP PKK Rukmini Buchori. Sebab, hari itu Rukmini masih menjalankan tugasnya sebagai anggota komisi VIII DPR RI.

    Kusmiyati menerangkan, kegiatan itu digelar oleh pokja I dan pokja III TP PKK Jawa Timur. Temanya pemberdayaan perempuan menuju mandiri. Batik dan desain di daerah-daerah di Jawa Timur dilombakan.

    “Lomba ini dilaksanakan untuk mengangkat UKM batik di daerah. Mudah-mudahan batik Kota Probolinggo bisa mewakili provinsi ke tingkat nasional,” kata istri Wawali Bandyk Soetrisno itu.

    Atas nama TP PKK Kota Probolinggo, Kusmiyati merasa sangat bersyukur karena bisa berprestasi di Jawa Timur bersaing dengan kota/kabupaten lain. Walaupun masih baru, lanjutnya, batik khas kota angin ini sudah dikenal dimana-mana.

    “Mudah-mudahan batik Kota Probolinggo semakin berkembang hingga ke seluruh Indonesia. Karena dengan begitu, UKM di kota semakin maju dan dapat meningkatkan ide dan kreativitasnya,” tuturnya. (fa/yud)

    Tulisan ini diambil dari Radar Bromo. Jum’at, 7 Mei 2010.