bahasa, budaya, buku, cinta, cinta tanah air, pariwisata, pendidikan, penghargaan, renungan, sastra, sejarah, seni

Jalan-jalan Bersama Stebby di Kota Tuhan


Judul               : Di Kota Tuhan : Aku adalah Daging yang Kau Pecah-pecah
Penulis           : Stebby Julionatan
ISBN                : 978-602-3093-33-5
Halaman         : 74 Halaman
Penerbit         : Indie Book Corner Yogyakarta
Tahun terbit  : 2018
Peresensi        : Rosalia Desi*)

stebby - di kota tuhan radar bromo

 

Sebuah karya sastra seperti fiksi, puisi maupun drama akan memberikan koneksi untuk mempertanyakan dan memperhatikan detail bagi para pembacanya. Membaca jenis ini dapat memberikan pengalaman dan gambaran untuk mengunjungi suatu tempat, kejadian, waktu, dan budaya yang mungkin tidak sempat dijejaki langsung. Selain itu, pembaca dipaksa untuk menganalisa apa maksud dari penulis melalui tulisannya. Itulah sebabnya, kadang beberapa bacaan dinikmati bukan hanya untuk menghabiskan waktu luang ataupun sebagai pelipur lara. Beberapa bacaan membuat pembaca harus meluangkan waktu bahkan emosi untuk membaca dan menghabiskannya. Oleh karena itu, dengan beberapa perhatian detail yang disajikan dalam sebuah bacaan, kita sebagai pembaca bukan tidak mungkin akan menemukan hasrat penulis.

Ada apa Di Kota Tuhan?

Karya keempat Stebby Julionatan ini adalah prekuel dari karya Stebby sebelumnya Bersama Ratna Satyavati, Biru Magenta. Ingin mengulang kejayaan Biru Magenta yang menjadi salah satu finalis Anugerah Pembaca Indonesia (API) di tahun 2015, Stebby menampilkan tokoh Biru dalam karya terbaru ini. Bersama Rabu, Biru mengajak para pembaca menjejak sebuah kota penuh kenangan masa kecilnya.

 

“Pada Rabu, saya bercerita tentang kota-kota yang saya singgahi bersama Biru Magenta. Termasuk, juga lirih bertanya : Bagaimana selanjutnya?” [hal xi]

“Bersama Rabu, saya menyusuri kembali tempat-tempat di masa kecil saya yang penuh kenangan. Di sebuah kota, yang dikemudian hari akan kami sebut sebagai :

Kota Tuhan” [hal. xi]

 

Membaca judulnya, kumpulan puisi ini terdengar sangat religi? Di Kota Tuhan bukan hanya tentang perjalanan religi namun juga berisi kisah cinta dan luka hingga kisah tentang keluarga. Kisah Biru dan Rabu ini mulai ditulis sejak bulan September 2015 hingga September 2017. Sebuah perjalanan yang panjang untuk sebuah karya 74 halaman ini. KIsah ini dibagi dua kisah yakni Midrash Pertama (2015-2016) dan Midrash Kedua (2017). Pada midrash pertama, kisah Biru pada rentang tahun 2015 hingga 2016 berisi hingga 34 judul puisi. Biru berkisah kepada Rabu tentang masa kecilnya hingga kegalauan atas Tuhannya sambil mengajak Rabu berjalan-jalan keliling kota dan menikmati kebudayaan yang ada di kota kelahirannya tersebut.

 

“Izinkan aku mengenal lekukmu/ menyemai gurat-gurat masa lalu yang semi disekitar matamu // Menyusuri kenangan yang merambat lewat putih rambutmu///” [hal. 5]

 

Midrash kedua yang ditulis pada tahun 2017. Biru masih Bersama Rabu. Sudah  menentukan arah ketuhanannya, Biru menapaki sudut kota tercintanya dengan kisah-kisah perjalanan yang lebih religi, lebih berbicara tentang Tuhannya.

 “Remukkanlah aku, Tuhan

Remukkanlah aku;

Hingga taat tapa tapi

Dan patuh tanpa nanti” [hal.55]

 

Sepertinya Stebby membukukan curahan hatinya.

Apa yang bisa diharapkan dari membaca sebuah catatan perjalanan seseorang? Apakah para pembaca cukup butuh untuk membacanya? Apakah penulis akan cukup puas dengan tulisannya? Apakah ini akan tampak meyakinkan?

Tak lebih seperti membaca buku curahan hati (diary) seseorang, sebenarnya kisah Biru ini cukup sederhana, layaknya kita membaca catatan perjalanan seseorang dalam rangka menceritakan keseluruhan kisah hidupnya pada pasangan. Pada pasangan, kita sering kali menceritakan siapa diri kita, bagaimana masa lalu kita, bagaimana waktu dapat merubah kita, itulah yang dilakukan Stebby kepada Biru dan Rabu.

Stebby membawa pembaca berjalan-jalan dengan cukup gemulai menggunakan Bahasa khas puisi yang melankolis dan mengemasnya dengan teknik penulisan layaknya kitab suci yakni kalimat yang bernomor. Tidak diduga sebenarnya, karena dengan hanya mengikuti curahan hati Biru kepada Rabu sambil menikmati kencangnya angin gending, kisah Biru dan Rabu membuat para pembaca cukup penasaran dan cukup terbawa perasaan. Cukup menguras emosi pembaca dibeberapa puisi yang disajikan.

Sebuah karya sastra setelah sampai ditangan pembaca adalah milik para pembacanya. Pemikirannya, harapan-harapnnya, hingga hasrat penulisnya. Dalam karyanya kali ini Stebby benar-benar cukup meyakinkan bahwa kisah Biru ini adalah kisah tentang hidupnya sendiri. Bagaimana dia bertemu dengan pujaan hatinya, bagaimana dia jatuh cinta, dan bagaimana dia mengatasi semua kesedihannya tentang cinta, keluarga dan Tuhannya. Terdengar sangat manusiawi dan tidak spesial mungkin, namun apa yang tidak spesial apabila kisah ini adalah kisah asli dari penulisnya? Disinilah pertanyaan lain itu muncul.

 

Benarkah Biru adalah Stebby?

Tak ubahnya seperti Andrea Hirata yang menceritakan indahnya Bangka Belitung, Stebby juga mencoba mengenalkan Probolinggo dan dikemas dengan kisah romantis Biru dan Rabu. Probolinggo yang biasanya hanya terkenal dengan Bromo, sebagai tempat masa kecilnya, Stebby dengan percaya diri menceritakan bahwa setiap sudut kota dan setiap peristiwa di Probolinggo menjadi tempat yang penuh kenangan bagi dirinya. Selain itu, Stebby yang menyertakan beberapa gambar hitam putih disetiap kisah adalah langkah brillian untuk menunjang kisah yang diceritakan, mampu dipahami dengan cukup jelas dan bisa dibayangkan cukup bagus terutama bagi pembaca yang belum pernah menjelajahi kota Probolinggo secara langsung.

Di Kota Tuhan bisa dijadikan sebagai karya yang paling “Stebby”. Dia sukses memasukkan semua emosi saat tulisan ini dibuat yang nantinya akan dengan mudah masuk pada hati para pembaca setianya. Terlepas apakah Biru adalah Stebby atau bukan, pembaca hanya cukup dibuat panasaran bagaimana rasanya jadi Rabu yang begitu dicintai dan dinanti, bagaimana indahnya BJBR dikalas senja dan bagaimana meriahnya SEMIPRO di Bulan Juli. Stebby berhasil menjual kota kelahirannya kepada khalayak. Selamat!

*) Rosalia Desi. Anggota Komunitas Menulis (Komunlis) Kota Probolinggo. Bibliophile yang mencintai cerita detektif hingga komik Sailormoon.

Sumber: Tulisan ini dimuat di Radar Bromo (Jawa Pos Grup). Minggu, 23 September 2018.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s