bahasa, berita, budaya, buku, kemanusiaan, renungan, sastra, seni

AFI, H.B. JASSIN dan WARUNG MAKAN


Oleh: Stebby Julionatan

 

“Jika Anda memiliki keluhan atas sebuah masakan, lawan dengan masakan lain. Buktikan masakan Anda lebih layak santap. Jangan hanya bisa bercuap-cuap saja namun miskin etika.” – (Warung Makan, diunggah Afi Nihaya Faradisa di akun Facebook miliknya pada 8 Juni 2017)

Kira-kira apakah yang akan H.B. Jassin lakukan jika ia membaca Warung Makan? Ya, tulisan yang ditujukan Afi Nihaya Faradisa, siswi kelas 3 SMAN 1 Gambiran, Banyuwangi  untuk membalas orang-orang yang menuduhnya plagiat rupanya kembali ditengarai sebagai tindakan plagiat. Sebab, meski tanpa judul, tulisan tersebut pernah diunggah oleh akun facebook Perlindungan Konsumen CELEBES pada 31 Desemer 2016.

Hmm.. apakah Jassin akan membelanya sebagaimana ia membela Chairil (Anwar, pen.) dulu, dalam kasus puisinya Karawang-Bekasi yang ditengarai memplagiat puisi The Young Soldier karya sastrawan Belanda, Archibald Macleish? Atau… mengatakan bahwa perbuatan tersebut belum termasuk tindakan plagiasi karena belum masuk di ranah akademik, sebagaimana yang disampaikan oleh Prof. Reinald Kasali?

Mengapa saya bertanya demikian?

Ya, memperingati 100 tahun H.B. Jassin pada 13 Juli mendatang, sebenarnya saya kangen, mungkin tepatnya rindu mendengar pendapat Jassin, kira-kira apa yang akan dikatakan Jassin tentang kasus Afi? Sebab, dari segala buku dan tulisan yang saya baca tentang Jassin, jamak dikatakan bahwa Jassin-lah, kritikus yang menilai sastra dengan cinta.

H.B. Jassin memang tidak banyak mempercakapkan teori sastra, tidak dikenal sebagai “pakar” suatu terori sastra tertentu, dan tidak menulis buku untuk menyarikan berbagai teori dan pendekatan dalam kritik sastra. Namun, H.B. Jassin menjalani proses penting dan paling elementer dalam kritik sastra, yakni membaca baik-baik karya sastra yang akan dibahasnya. … Memang belakangan H.B. Jassin secara serius menuntut ilmu di perguruan tinggi untuk belajar teori sastra dan menjalani perkuliahan akademis di bidang sastra. Namun demikian, tetap saja minatnya bukan pada teori sastra melainkan pada karya sastra itu sendiri. Ia jatuh cinta pada sastra. Demikianlah tulis Agus R. Sarjono dalam 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Dia adalah orang yang mampu menilai sastra dengan cinta!

Tak seperti saya, yang pastinya akan menilainya (baca: sastra) secara semantik. Dari arti kata. Dimana, ketika sastra dalam kamus berarti tulisan; maka (bagi saya) tulisan berarti segala hal yang ditulis/tertulis, tak peduli apapun medianya. Boleh di lontar, boleh di kayu, tembok-tembok ataupun layar komputer dan media sosial. Writing is transferring our ideas in a scrap of paper or in appropriate place. (Haferman & Lincoln, 1983).

Mengacu pada yang disampaikan Kasali dalam wawancaranya dengan Kompas (1 Juni 2017), bahwa apa yang dilakukan Afi masih harus ditinjau lebih jauh. “Plagiat atau tidak, hanya berlaku untuk karya ilmiah. Sepanjang kata-kata atau tulisan merupakan pendapat umum, hal itu tidak bisa dikategorikan sebagai plagiarisme.” Bagaimana bisa?

Saya sadar bahwa sebuah teks memiliki 2 pengertian, yakni makna tekstual dan kontekstual. Mungkin yang dimaksud Kasali adalah karena Afi mengunggah kebenaran yang umum. Ya, itu memang benar, dalam tulisannya berjudul Belas Kasih dalam Agama Kita, gadis bernama asli Asa Firda Inaya tersebut mengungkapkan sebuah kebenaran umum: bahwa Islam sebenarnya adalah agama yang penuh kasih; pelacur saja disucikan dosa-dosanya karena memberi minum seekor anjing, yang notabene hewan yang dinajiskan. Atau… bisa jadi Kasali (secara kontekstual) ketika ditanya oleh Kompas lebih menyoroti atau menyesalkan ulah rekan-rekannya, sesama dosen, yang masih saja melakukan plagiasi.

Beberapa pembelanya bahkan menyampaikan seperti yang kawan saya sampaikan:

Saya memang menyayangkan, tapi saya tidak menafikkan bahwa dia tunas muda berbakat. Dia butuh dibimbing.

atau

Jika benar, dan pemilik aslinya memaafkan, tidak keberatan bahkan justru memberikan dukungan moralnya, kenapa justru kita yang terus sibuk mencaci? Tunas muda itu butuh dibimbning agar tidak sampai jatuh lagi, bukan dimaki yang hanya membuatnya makin terprosok dan tak jadi apa-apa.

Bagi saya, apa yang lantas dilakukan Afi, mencomot dan mengkopas habis tulisan Mita Handayani tak lantas layak dibenarkan. Tua, muda, besar, kecil, berpengalaman, ataupun tidak berpengalaman… sekecil apapun, mencuri tetaplah mencuri.

Plagiat dalam KBBI diartikan sebagai pengambilan karangan (pendapat, dsb.) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat, dsb.) sendiri, misal menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan.

Ya, menyitir apa yang sempat Afi katakan: Pak Jokowi bilang yang pembenci lakukan hanyalah membenci; maka (bagi saya) yang plagiator bisa lakukan hanyalah meniru. Siapkah kita menjadi bangsa peniru?

Ya, Ketika para tokoh, orang-orang “besar”, para alim ulama tidak berbicara atau bertindak dengan tegas bahwa hal tersebut adalah sebuah kesalahan, dan hanya mengatakannya dalam bahasa-bahasa yang bias, maka yang perlu dikasihani adalah saya, orang-orang awam. Orang yang akan menjadi bingung dengan bahasa; sebab tak suka membaca, sebab bahasa –seperti yang tadi saya sampaikan, terdiri dari dua pengertian; tekstual dan kontekstual.

Kembali ke Jassin, melihat hal tersebut, apa yang kira-kira Jassin lakukan? Bagaimana bahasa cintanya mampu mendidik Afi?

Terlepas dari semua mahzab dan teori, berbicara dengan “bahasa Cinta” berarti berbicara dengan bahasa kebenaran. Mengatakan yang benar adalah hak dan salah adalah kebatilan.

Dalam Kesustraan Indonesia Modern Dalam Kritik dan Essay, pria kelahiran 13 Juli 1917 ini menulis untuk Walujati, seorang penyair perempuan, demikian:

Sudah lama hati tertarik hendak berkenalan dengan penyair Walujati. Sebuah gambar lukisan tangannya, seorang perempuan muda pakai kebaya –melihat dandanannya seorang wanita Jawa, –yang tergantung menghiasih dinding Aoh Kartahadimadja, menambah besar hasrat hendak bertemu dengan penyair muda itu yang kabarnya pandai pula bermain musik. Lama aku merenungi perempuan muda pakai kebaya itu, rambutnya hitam disisir ke belakang, menutup separuh telinganya bagian atas, alis matanya tipis, bibirnya merah. Tapi yang sangat menarik hati ialah matanya yang hitam melirik ke samping bawah, seolah-olah tak mau bertemu pandang dengan pelihat dan bibirnya yang tertutup rapat memberi kesan ia seorang pendiam, tapi berani dan tinggi hati. Tapi hanya di luar saja kelihatan demikian. Perempuan ini seperti masker, sekali matanya menengadah, bibirnya merekah, kelihatan gigi halus yang putih dan terbukalah bendungan rahasia yang terkandung di dalam. (Mimbar Indonesia, 10 November 1947).

Ya, kali ini, itu dulu, serakarang apa yang akan Jassin katakan jika melihat kondisi sastra Indonesia saat ini? Apakah benar sastra adalah pilihan menu makanan? Jika tidak suka, tinggal balas dengan membuat menu lain yang kita suka. Paham etika. Apakah bisa dikatakan bahwa plagiat merupakan salah satu menu masakan di warung sastra Indonesia?

Mungkin inilah yang akan ditulis Jassin:

Sudah lama aku ingin berkenalan dengan Afi. Sebuah gambaran tentang perempuan muda Indonesia yang menghormati demokrasi dan kemerdekaan berpendapat. Seorang perempuan muda yang berani. Namun keberanian hendaknya dibarengi dengan kejujuran. Dan kejujuran niscaya berasal dari nurani yang murni, nurani yang tidak mudah terpengaruh oleh pengakuan orang lain, gaya hidup, atau kepentingan media.

 

Probolinggo, 17 Juni 2017.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s