KI DAN RELAWAN EUFORIA


 

Tak lama lagi Kelas Inspirasi (KI) Probolinggo #3 akan digelar. Tepatnya 2 Mei 2017, atau tepat di Hari Pendidikan Nasional.

Ini menarik untuk dibahas, sebab seminggu lalu (18/4), salah seorang relawan yang berprofesi sebagai project manager dari Jakarta mengirim email blast pada relawan lainnya mengenai ketidaksukaannya pada saya sebagai panitia yang ditempatkan di SDN Kropak 2, tempatnya nanti mengajar.

Tak hanya email blast, lewat akun instagram pribadinya @andiniiiy, ia pun mengunggah kata-kata songong dan kurang ajar saya dengan mention “Coba ini dikondisikan ya kaka kaka panitia yang saya hormati. Hahahahahaa PANLOK SDN 1 KROPAK PROBOLINGGO”

Maafkan dia, mungkin karena begitu jengkelnya dengan sikap saya, Mbak Andini sampai salah sebut nama sekolah. Dan berikut, saya tampilkan apa yang beliau sebar tanpa saya kurangi sedikit pun:

 

 

 

“Panlok itu merangkul,” begitu keluhnya.

(Well, mudah-mudahan setelah ini Andini lantas berjiwa besar dan berani mengunggah isi semua percakapan kami)

Beberapa respon (baik melalui email, instagram maupun jarpri di WhatsApp) berdatangan dengan apa yang disebar Andini. Meminta kami (baca: saya), atas nama panitia KI Probolinggo #3, menjelaskan letak permasalahannya. Dan memang sengaja, meski sempat terjadi perang komentar di IG @andiniiiy antara kawan-kawan saya dan kawan-kawan Andini yang berakhir pada penutupan kolom komentar, saya meminta maaf dan waktu kepada teman-teman panitia KI Probolinggo untuk dapat memberikan klarifikasi terkait permasalahan ini pada saat pelaksanaan technical meeting (TM), 22 April besok, di ruang pertemuan milik Dinas Perizinan Pemkot Probolinggo.

Saya sengaja tidak memberikan fast respon (meski sudah sempat saya komentari IG-nya untuk dapat mengungah percakapan kami di grup secara utuh, tidak separuh-separuh) karena saya menganggap permasalahan ini adalah permasalahan yang harus diselesaikan secara dewasa dan bijaksana. Ini adalah gesekan intern yang jamak terjadi dalam pelaksanaan KI yang yang sedianya mengokohkan kita sebagai sebuah gerakan masal. Lebih baik, konsentrasi kami seminggu ini difokuskan pada persiapan menjelang TM.

Banyak kawan-kawan saya yang sampai saat saya menulis ini pun masih tampak sangat sebal dan menyayangkan mengapa ia meloloskan Andini dalam seleksi. Tapi bagi saya secara pribadi, jujur, Andini membuka kembali perenungan saya akan sebuah makna kesukarelawanan. Jangan salahkan Andini karena apa yang dia lakukan sejatinya adalah wadah bagi kita semua untuk berproses. Jadi percikan untuk berkarya, jadi dinamika untuk bergerak dan… mungkin jadi semacam ujian bagi kekompakan tim relawan panitia KI Probolinggo #3.

 

Merenungkan Kembali Arti Relawan

Tak ada salahnya bagi kita, para relawan yang sudah banyak berkontribusi (baca: berkali-kali ikut) dalam gerakan ini, kembali merenungkan apa makna kesukarelawanan dalam pelaksanaan KI, termasuk juga indikator keberhasilannya.

Well, apa itu kesukarelawanan?

Seorang teman saya, yang dulu juga salah satu penggerak di KI Jatim 1, Manda, pernah berkata: “Sukarelawan itu adalah lo suka atau tidak suka, lo harus rela.”

Ya, kata-kata itu sepertinya ‘main-main’ tapi selalu menancap dalam benak saya. Saya suka atau saya tidak suka, saya harus rela. Saya stick to the poin. Saya tetap berada pada jalan tersebut, meskipun terkadang penuh onak dan kerikil tajam, terkadang angin sakal menerpa, terkadang juga ribut-ribut dengan saudara…. karena saya percaya bahwa jalan tersebut adalah jalan panggilan saya sebagai khalifah di muka bumi yang dituntut untuk senantiasa bermanfaat bagi orang lain.

Di dalam KI, kesukarelawanan itu sudah tersurat dalam 7 prinsip dasar. Yakni, tulus, bebas kepentingan, sukarela, tanpa biaya, siap belajar, turun tangan langsung dan siap bersilaturahmi. Itu yang tersurat, ya, meski dalam pelaksanaannya yang tersurat ini kalah dengan hal-hal tersirat yang terkait dengan kreatifitas dan ego masing-masing relawan di setiap kota penyelenggara KI.

Bagaimana dengan indikator keberhasilan?

Well, untuk tahu bahwa program kita sudah bermanfaat atau belum bagi orang lain, kita memerlukan indikator. Termasuk ketika kita membicarakan gerakan KI.

Apa sebenarnya indikator keberhasilan KI?

Ya, di tengah hiruk-pikuk kerelawanan KI saat ini, kita perlu kembali merenungkan, apa sih sebenarnya indikator keberhasilan pelaksasnaan KI di suatu daerah? Esensi ataukah sekedar presensi? Nilai-nilai program atau… ‘kehebohan program’ yang perlu diutamakan?

Tentu saja, bagi saya, Anda atau siapapun, yang pernah terlibat dalam pelaksanaan KI paham bahwa indikasi keberhasilan KI adalah semakin banyaknya relawan yang terlibat. Semakin banyak orang-orang baik yang mau memikirkan bagaimana nasib masa depan pendidikan negeri ini.

Itu dari sisi relawan! Bagaimana kalau kita meninjaunya dari sisi sekolah sasaran? Dari sisi siswanya?

Tapi meski tidak tersurat, pada saat kita menandatangani kesediaan untuk ‘berani’ terlibat sebagai seorang relawan, pada saat itu pulalah dikalungkan ‘beban’ moral dan tanggung jawab untuk kita panggul.

Dari sisi sekolah sasaran dan siswanya, KI bertujuan agar keterlibatan kita sebagai relawan… kita mampu berperan sebagai penerang yang memberi cahaya dan petunjuk bagi jalan anak-anak tersebut di masa depan, terutama pada masa depan pendidikan mereka. Kita diharap mampu membangun relasi dengan sekolah dan pemangku kepentingan, agar siapapun dia, siapapun orangnya, dapat memastikan bahwa hak anak-anak Indonesia ini, untuk melanjutkan pendidikannya selepas SD (sampai di tingkat lanjut), telah benar-benar mereka terima.

Sekarang, bolehkah saya bertanya kepada Anda yang sudah berkali-kali terlibat dalam kegiatan KI, pernahkah Anda melongok kembali nasib anak-anak yang sudah pernah Anda ajar (baca: motivasi)? Bagaimanakah nasib mereka kini? Apakah mereka masih setia pada cita-citanya? Apakah mereka melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang yang lebih tinggi, di SMP, SMA atau perguruan tinggi? Masihkah Anda mengawal langkah dan motivasi mereka akan pendidikan? Syukur-syukur kalau ada di antara Anda yang akhirnya menjadi orang tua asuh mereka…

Zero! Jujur saya sendiri pun tidak melakukannya.

Esensi itu pun meredup, bahkan lenyap, seturut dengan meredupnya euforia pelaksanaan KI. Ya, selepas kita berhasil menjadi lolos menjadi relawan KI di suatu daerah, ‘daerah A’ misalnya, kita pun akan sibuk untuk berburu dan mendaftar untuk menjadi relawan di daerah lainnya. KI tak ubahnya seperti taman bermain bagi kita. KI hanya tampak seperti stempel yang kita kumpulkan pada paspor perjalanan.

Ya, setelah 5 tahun perjalanannya (baca: dari awal kali diadakan di 25 SD di Jakarta pada 25 April 2012 – hingga  2017) tantangan KI masa kini adalah munculnya relawan-relawan euforia. Relawan yang merasa bahwa proses edukasi (atau motivasi) akan selesai hanya dengan satu kali tepukan tangan.

 

Permasalahan Relawan Euforia

Jujur, bagi saya selama mengikuti, bergerak langsung, bahkan turut menggagas kelahiran KI Jatim 1 dan 2 di 11 November 2013 dan 29 September 2014, musuh utama pelaksanaan KI adalah relawan euforia.

Ya, sekali lagi saya ulangi, relawan euforia.

(Mohon jangan dibalik, euforia relawan, karena keduanya memiliki makna yang berbeda. Euforia relawan berarti semangat para relawan yang terlibat dalam pelaksanaan KI, tapi relawan euforia, lebih saya artikan sebagai relawan yang abal-abal. Mereka, sekelompok orang ini, sengaja ikut KI karena memiliki tujuan. Memiliki kepentingan. Mengambil keuntungan dari keterlibatan mereka dalam pelaksanaan KI, tanpa tahu atau mau ambil pusing pada apa sebenarnya esensi pelaksanaan KI)

Mengapa mereka menjadi kendala? Mengapa orang-orang seperti ini saya sebut masalah? Sebab mereka ini adalah kutu loncat. Orang-orang yang sibuk mengejar stempel, orang-orang yang hanya ingin heboh-hebohan dan eksis, orang-orang yang lebih mementingkan presensi ketimbang esensi.

Mengenai permasalahan ini (baca: relawan euforia), saya sempat memperbincangkannya dengan Mbak Donna Imelda, salah seorang penggiat KI Depok yang juga seorang travel blogger. Kami sepakat akan hal ini, ruh awal keberadaan KI telah jauh dari fitrahnya.

“KI acapkali seperti event belaka yang bubar setela acara. Lalu melompat ke sana kemari menjadi relawan di bebarapa kota. Yang merasa jam terbangnya tinggi dan mudah merasa hebat akan menjadi relawan euforia ini. Lalu biaslah esensinya,” begitulah ia berujar.

Ya, kembali ke permasalahan Andini… saya tak ingin menyimpulkan bahwa Andini termasuk relawan euforia. Mudah-mudahan saja bukan. Namun kenyataan kasarnya kata-kata saya dan sikap kekanak-kanakan Andini sudah mengarah kesana. Kami adalah relawan-relawan euforia yang kalah pada ego. Merasa besar, merasa berpengalaman, merasa menang sendiri.

 

Kembali Pada Fitrah

Bagaimana masa depan KI dua hingga tiga tahun lagi? Apakah Anda sebagai penggerak dan relawannya rela jika ruh KI jadi bergeser sedemikian jauh? Lantas apa yang dapat atau harus kita lakukan?

Kembali pada fitrah.

Agar ingat, marilah kita bersama membaca kembali bagian ini… (bagian yang terdapat dalam lembar Prinsip Dasar Pelaksanaan Kelas Inspirasi. Yang membuat saya senantiasa menekankan kepada Anda, meskipun Anda sudah sering mengikuti pelaksanaan KI, datang di acara briefing dan refleksi KI adalah wajib hukumnya)

5 Kunci Sukses Pengelolaan Kelas Inspirasi.

Belajar dari pengalaman selama ini, kegiatan terbaik pengelolaan Kelas Inspirasi dapat tercapai dengan menerapkan prinsip-prinsip:

  1. Sosialisasi ke calon pegiatan dan relawan tidak hanya jelas tetapi khususnya juga menekankan pada resiko, pengorbanan dan tantangan yang akan dihadapi. Pengalaman menunjukkan bahwa bila seseorang memutuskan terlibat dengan memahami tantangan dan pengorbanan yang akan dihadapi maka motivasinya akan lebih kuat.
  2. Membangun relasi dengan sekolah dan pemangku kepentingan lain. Pengalaman menunjukkan bahwa kerelaan dan dukungan merupakan kunci dalam penyelenggaraan di sekolah. Semua ini hanya dapat diperoleh dengan komunikasi dan relasi yang baik sebelum pelaksanaan dengan pihak sekolah, dinas pendidikan dan pihak terkait.
  3. Seleksi sekolah. Kelas ini hanya akan terselenggara dengan dukungan baik dari sekolah. Karena itu kuncinya adalah memilih sekolah hanya yang bersedia dan mendukung kegiatan ini secara sukarela.
  4. Seleksi relawan/pegiat. Pengorganisasian kelas ini rumit, kompleks dan membutuhkan waktu serta tenaga yang cukup banyak. Dan kelas ini diorganisasi sepenuhnya secara sukarela oleh para relawan dan pegiat. Kerja keras dan tantangan seperti ini membutuhkan motivasi yang tinggi dan kuat dari relawan apalagi mereka juga harus tetap ceria dan bersemangat di depan siswa-siswanya.
  5. Briefing. Pengalaman menunjukkan bahwa menyelenggarakan briefing dan pertemuan koordinasi memegang kunci keberhasilan kegiatan. Tujuan pertemuan ini adalah mempertemukan dan membangun koordinasi antara relawan dengan pihak sekolah serta menjadi ajang belajar bagi relawan untuk menyiapkan diri dalam mengajar di sekolah.

 

Ya, kejadian Andini mengingatkan saya untuk kembali merenung, apakah saya relawan yang sebenarnya ataukah hanya sekedar relawan euforia? Semoga saja belum.­_stebbyjulionatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: