PEMUDA HARUS PUNYA 2 HAL


Postingan blog saya ini terinspirasi oleh tulisan Noorman Pasaribu di ruang.gramedia.com. Tapi tentu saja, demi menyelaraskannya keseluruhan konten yang ada di blog saya, saya menambahkannya dengan unsur kedaerahan… dengan unsur ke-Probolinggo-an.

Ke-Probolinggo-an yang saya maksud adalah mencari dan mewawancarai pemuda-pemuda terbaik (baik di kawasan kota maupun kabupaten) Probolinggo, yang menurut saya hitz. Yakni, mereka yang tak hanya cerdas dan berintelegensi di atas rata-rata namun juga “Takut akan Tuhan”. Pemuda yang tak hanya memikirkan keberhasilan dan kesuksesan dirinya sendiri, tapi juga ia yang menaruh hatinya untuk Probolinggo. Pemuda yang peduli pada keadaan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, memikirkan perkembangan dan kemajuan kotanya, termasuk juga kelestarian lingkungannya. Ia… pemuda yang tak hanya “cakep” secara fisik, namun juga dari hati dan mampu memotivasi orang lain untuk berbuat “lebih” seperti dirinya.

Semoga Anda menikmatinya! 😀

Marom

Well, di edisi perdana ini saya mewawancarai Lailul Marom (24), pendiri wisata snorkeling Gili Ketapang. (Sebagai informasi, saat ini di Pulau Gili Ketapang – Probolinggo sudah banyak jasa penyedia layanan snorkeling, namun bagi saya Gili Ketapang masih yang terbaik)

Perkenalan saya dengan Marom terjadi tahun lalu, sekitar Juli 2016. Saat itu wisata snorkeling Gili Ketapang masih belum setenar sekarang. Dan kedatangan saya bersama teman-teman Kang Yuk Kota Probolinggo ke Gili kala itu, lebih dilatarbelakangi oleh kepedulian kami terhadap pendidikan, khususnya perkembangan budaya literasi dan pelestarian lingkungan. Sedikit cerita, kala itu kami mengadakan kegiatan bakti sosial bersih-bersih pantai dan penyaluran sumbangan buku bacaan untuk anak-anak SDN Gili Ketapang 2.

Nyo (sebenarnya nama aslinya Edward), sepupu saya yang juga kuliah di UGM, memperkenalkan saya pada Marom (Nyo di Fakultas Kehutanan dan Marom di Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta, keduanya sama-sama dari Probolinggo). Nyo bilang kalau Marom adalah orang yang tepat untuk menjadi guide kami selama kami mengadakan kegiatan sosial di Gili.  “Marom orangnya pintar, lulusan terbaik di fakultasnya. Dia juga punya usaha snorkel yang baru saja dirintisnya,” ujar Nyo kala itu.

Gili? Ada snorkeling? Itulah pertanyaan yang terlintas di pikiran saya saat itu. Dan eniwei…. inilah hasil wawancara saya dengan Marom. Trully, i really admire on him!

 

Di mana Marom menghabiskan masa kecil?

Masa kecil saya dihabiskan di Gili Ketapang dan Kota Probolinggo. Tepatnya, dari lahir sampai tamat SD saya di Gili Ketapang, kemudian melanjutkan SMP-SMA saya tinggal di asrama Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin, di Kademangan Probolinggo. Setahun saya pulang hanya 2 kali.

Apa yang memotivasi Marom untuk kembali ke Probolinggo dan membuka usaha di bidang snorkling seperti sekarang?

Saya kuliah di UGM Yogjakarta karena mendapatkan beasiswa dari Kementrian Agama RI. Dalam beasiswa ini mewajibkan alumninya untuk mengabdi, balik lagi ke pesantren. Sama seperti yang lain, saya pun harus kembali ke pesantren.

Sebelum balik ke pesantren saya menyempatkan diri pulang ke rumah, kemudian saya foto Gili Ketapang dari berbagai sudut, salah satunya ya underwater tadi, kehidupan bawah lautnya.

Ternyata tanggapan di sosial media mengguncang saya, mereka banyak meragukan foto saya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa saya mengunduh foto orang lain di Google.

Tentu dong, saya sakit hati. Hati seorang mahasiswa yang sudah berproses dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi merasa terketuk sekaligus terlecut untuk mengembangkan wisata di Gili Ketapang.

Karena saya tipe orangnya ga suka direndahkan, dan saya juga ga suka sama orang yang mudah sekali merendahkan orang lain. Karena menurut saya, apapun bisa diusahakan.

Dengn sepenuh tekat dan mengorbankan banyak hal saya mulai merencanakan open trip snorkeling Gili Ketapang. Alhamdulillah, respon pengguna sosial media besar sekali. Dengan dukungan teman terbaik saya, Rohman dan Khunin yang mau bergosong-gosongan bereng, akhirnya lahirlah Gili Ketapang snorkeling.

Ngomong-ngomong soal Gili Ketapang, perkembangan wisata ini di luar ekspektasi kami. Awalnya saya estimasi kalau kami butuh minimal 2 tahun agar Gili Ketapang bisa booming. Ternyata efek sosial media luar biasa! Dalam kurun 3-4 bulan, snorkleing Gili Ketapang sudah menjadi salah satu destinasi pilihan warga Jawa Timur untuk liburan. Bahkan jika hari libur panjang seperti Nyepi kemarin, angkanya sampai menembus 700 wisatawan per hari.

Peran besar sebenarnya juga dilakukan oleh kawan saya, Hafidil. Ia yang selalu mensuport kami dalam mempromosikan Gili Ketapang kepada para explorer di instagram atau selebgram-selebgram petualang.

Apakah jalan bagi Marom mulus begitu saja? Tidak ada pertentangan?

Banyak! Awalnya banyak pertentangan, termasuk dari orang tua saya sendiri karena melihat anaknya tidak kerja kantoran. Pertentangan juga datang dari para tokoh masyarakat yang khawatir dengan adanya snorkeling bisa mengggerus nilai-nilai moral dan nyantri di Gili. Tapi Alhamdulillah, kami bisa melaluinya dengan baik. Setelah kami komunikasikan akhirnya muncul kesadaran bersama dan bahkan mereka semua mengizinkan bahkan mensuport keberadaan snorkeling Gili Ketapang dengan syarat tetap harus sesuai dengan aturan dan tidak bebas.

Bagaimana Probolinggo mempengaruhi Marom dalam berkarya? Dalam mengembangkan usaha kebaharian di Gili Ketapang?

Probolinggo itu unik. Madura mendominasi namun nilai-nilai Jawa masih dijiwai. Tradisi juga masih dipegang teguh. Selain itu, Probolinggo adalah kota yang strategis. Meski bukan kota industri yang memiliki PAD tinggi, Probolinggo memiliki akses yang luas dan dekat dengan kota-kota besar di Jawa Timur. Hanya 2-3 jam dari Surabaya, Malang dan Jember.

Kita tahu, karena PADnya tinggi, kota-kota yang saya sebutkan tadi pastinya juga memiliki UMK yang tinggi. Banyak pekerja di sana. Selain itu, kota-kota yang saya sebut tadi juga dihampiri banyak pendatang yang mau menuntut ilmu. Karena di sana tersedia banyak pilihan kampus atau sekolah tinggi.

Nah mereka ini, para pekerja dan mahasiswa, kini cenderung memiliki gaya hidup baru. Liburan! Mereka membutuhkan liburan sebagai pelepas penat, sekaligus sebagai eksistensi jiwa petualang untuk mereka unggah di mereka media sosial. Inilah peluang yang saya dan kawan-kawan tangkap lewat Gili Ketapang.

Apakah Marom suka membaca buku? Buku apa yang Marom suka?

Saya suka buku cerita dan buku motivasi. Yang paling saya suka dan menjadi bacaan favorit sata saat SMP adalah Laskar Pelangi. Saya juga membaca The Secret (Rhonda Byrne, red.)

Hal apa yang paling mengingatkan Marom pada Gili dan masa kecil Marom?

Main sepak bola di pinggir pantai atau gobak sodor. Memancing terus ikannya langsung dibakar. Plus mandi dan melihat tenggelamnya matahari dari kejauhan. Kalau sore banyak lumba-lumba, Mas. Sayang, hal yang terakhir ini tidak bisa lagi dilakukan karena kerusakan alam.

Apa pesan Marom untuk generasi muda?

Merawat lingkungan adalah salah satu dharma kita kepada Tuhan. Sebagai generasi muda Gili yang mengenyam pendidikan tinggi, saya masih merasa tidak memiliki cara lain selain menumpuk kesadaran itu.

Saat ini yang ada di pikiran saya memang masih sebatas membuka spot-spot wisata agar masyarakat sadar bahwa sebenarnya daerahnya memiliki potensi yang besar. Mengedukasi agar masyarakat tidak menambang karang untuk bahan bangunan. Termasuk juga pemerintah, semoga dengan terbukanya pariwisata ini, dengan banyak mata yang memangdang ke Gili, mereka bisa segera turun tangan dalam menangani permasalahan sampah yang ada di Gili.

Well, menurut saya generasi muda Probolinggo harus memiliki dua hal. Yang pertama, jangan merasa senang berada di ‘zona nyaman’. Yang kedua, pandai-pandailah melihat peluang.

Ibarat kata, berpendidikan saja tapi tidak mampu menangkap peluang sama dengan macan yang punya taring namun tidak punya insting untuk berburu. Percuma, sebab akan mati kelaparan.

Kaya, tampan, mempunyai segudang talenta tapi merasa nyaman dan enteng-enteng saja juga tidak baik. Pemuda harus keluar dari zona nyaman. Mencoba hal-hal baru, menakhlukkan tantangan baru. Hal-hal yang oleh orang lain dianggap mustahil untuk dilakukan.

Probolinggo perlu sosok pemuda yang penuh percaya diri. Yang yakin bahwa kota ini punya segudang potensi yang menunggu untuk kita gali. (stebby julionatan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: