MENDEKATKAN LITERASI PADA EKONOMI KREATIF


Catatan Mengenaskan Bangsa

Sebuah catatan lembaga survey UNESCO (United Nations of Education Society and Cultural Organization) tahun 2011 menemukan fakta bahwa index membaca masyakarat Indonesia hanyalah 0,001. Ini berarti dari 1000 jiwa penduduk Indonesia, hanya ada 1 orang yang hobi baca. Menggenaskan bukan? Survey tersebut menguatkan temuan UNDP (United Nations Development Programs) di tahun 2010, dimana Human Developmen Indeks  Indonesia masih berada di peringkat 112 dari 175 negara.

Mengapa hal tersebut terjadi? Mengapa manusia Indonesia jauh dari buku? Mengapa juga profesi pengarang tidak dilirik? Ia jauh dari hiruk pikuk dunia mode dan trend. Ia tidak berkilau. Kalah jauh dengan artis papan iklan atau bintang sinetron di televisi. Mengenaskan, bukan?

Bagi saya jawabannya adalah, karena profesi tersebut tidak secara langsung mendatangkan keuntungan. Ya, manusia suka keuntungan. Termasuk dalam berprofesi, ia suka melihatnya dari kacamata untung rugi. Keuntungan di sini tidak hanya berarti materi, tetapi juga eksistensi, kebanggaan, dan pujian dari masyarakat sekitar.

Diakui atau tidak, manusia itu suka melihat hal-hal yang cantik, manusia itu suka kalau dirinya dikagumi. Sedangkan profesi mengarang, orang tidak (atau jarang sekali) mengagumi pengarangnya. Mereka lebih tertarik dengan ceritanya, dengan hasil karangannya, dan cenderung melupakan nama pengarangnya tepat di saat mereka selesai membaca. Ya, mungkin kalau boleh diberi pembanding, pengarang mungkin sedikit banyak nasibnya sama seperti sutradara di dalam film. Cuma sedikit dari kita, penikmat film di bioskop yang mengagumi sutradaranya. Mereka cenderung mengagumi pemain filmnya, “kecantikan” aktor dan aktrisnya; dan kekaguman itu selesai tepat ketika film tersebut berakhir. Itu contoh ekstrimnya.

Alasan kedua, ya boleh lah itu tadi, profesi mengarang belum mendatangakan kehidpan yang layak.

Mari simak percakapan berikut ini:

“Ya, tetepi setelah setia, apa yang bisa saya peroleh?” Apa saya bisa hidup dari mengarang terus sampai tua?”

“Hidup dengan layak sampai hari tua dari mengarang tok, rasanya memang sulit.”

Percakapan tersebut ada dalam buku Arswendo Atmowiloto, Mengarang Itu Gampang, yang dicetak pertama kali di tahun 1982. Bagaimanakah kini? Setelah 32 tahun, apakah situasinya sudah berubah?

“Mungkin beda dengan jaman dahulu, sekarang profesi pengarang sudah sudah lebih diperhitungkan.” Itulah yang disampaikan Dewi “Dee” Lestari, pengarang serial bestseller Supernova, di acara Dee’s Coaching Clinic, di Surabaya, Minggu (29/3) lalu.

Sudah lebih diperhitungkan. Saya harus tekankan kalimat tersebut, “Sudah lebih diperhitungkan.” Hal ini beda dengan “Sudah diperhitungkan.”

Pembaca mungkin sudah mahfum, Memang ada yang seperti Dee, seperti Andrea Hirata, atau Tere Liye. Penulis-penulis yang diistilahkan JK. Rowling dengan “kesamber gledek”, penulis-penulis yang bukunya laris bak kacang goreng. Ia yang bisa hidup cukup layak dari kegiatannya menulis. Bahkan JK. Rowling sendiri pun pernah masuk dalam daftar 10 orang terkaya di Inggris, mengalahkan Ratu Elizabeth. Tapi bagaimana dengan yang tidak? Tentu, hal ini semakin menjauhkan literasi dari masyarakat. Menjadi penulis rupanya susah kaya.

Membaca, Seperti Masuk ke Dalam Neraka

Alasan lain kenapa minat masyarakat minim, ya karena kita, masyarakat Indonesia, masih mengidentikkan membaca itu dengan bacaan yang berat-berat. Misal, kalau belum membaca Tetralogi Pulau Buru’nya Pram, itu belum disebut sebagai membaca. Miris kan? Sangat.

Ya, berdasarkan pengalaman saya bergelut dengan dunia literasi, hingga kini akhirnya saya bisa mencintai dunia tersebut dengan harga mati, rupanya tak ada bacaan yang menurut kita bagus, bisa jadi salah satu penyebabnya.

Sedikit mundur ke belakang, selepas sekolah dasar saya merasa tidak menemukan yang tepat. Bacaan yang menarik, setidaknya bagi diri saya sendiri. Saya merasa tidak mendapatkan bacaan penyambung dari dunia anak-anak yang penuh dongeng dan legenda, ke bacaan dewasa yang menguras jiwa. Kios buku (untuk tidak menyebutnya toko buku, karena memang di kota saya, Probolinggo, toko buku baru ada tahun 2008) dan tempat-tempat persewaan komik saat itu dibanjiri dengan novel Mira W dan Freddy S. Miris ya? Seakan mas-mas penjaga kiosnya berujar tanpa ekspresi tepat di depan muka saya. Dia bilang begini, “Ya terserah kamu, kalau tidak mau komik ya berarti kamu pilih bacaan dokter atau bacaan cabul?” Atau, kalau ada yang sedikit sesuai (maksudnya dengan usia saya), maka hal tersebut tak lepas dari mujizat-mujizat nabi dan siksa neraka.

Tak enak jadi anak saat itu. Ia senantiasa ditakut-takuti.

Hingga akhirnya saya muak dengan bacaan. Saya marah tapi tak tahu harus bagaimana. Waktu itu saya belum menemukan kata-kata ajaib si Pemenang Nobel Sastra 1993, Toni Morrison, “Jika kamu tidak menemukan buku bacaan yang tepat, maka menulislah. Bisa jadi kamulah yang memang “dituntut” untuk menulis buku itu.” Saya menjauhkan diri dari segala bacaan. Saya tak lagi membaca.

 

Dipertemukan dengan Supernova

Tahun demi tahun bergulir, dendam itu masih saja diperam. Saya tetap menulis, tapi saya tak tahu menulis itu untuk apa. Hingga di pertengahan tahun 2002, saya dipertemukan dengan Supernova.

Pertemuan kami saat itu tak sengaja. Selepas D1, saya sudah bekerja di Bali. Saya melihatnya pada rak best-seller Toko Buku Gunung Agung Denpasar. Biru, eksotik, futuristik; sangat menggoda. Terlebih lagi beberapa kawan mengatakan bahwa buku tersebut menarik. Maka, saya bawa ia ke meja kasir, membayar, dan membawanya pulang.

Sampai di mess saya langsung membacanya. Dan meledaklah benak saya seketika itu. Ternyata ada toh buku atau sasta Indonesia yang keren? Sesuatu yang berhenti setelah era Romo Mangun.

Dari sana, perburuan saya pun dimulai. Di kata pengantar Supernova, secara implisit Dee bilang kalo dia ngefans sama Ayu Utami, maka saya pun memburu Saman. Sekali lagi saya terpukau. Saya pun memburu karya-karya penulis muda berikutnya seperti Oka Rusmini, Nova Riyanti Yusuf, Dewi Sartika dan Ratih Kumala. Sesuatu yang di jaman itu disebut sebagai sastra wangi. Perempuan, muda, cantik dan wangi. Ah, saya tak peduli ia wangi atau tidak, bagi saya karya-karya mereka adalah suatu bentuk kesegaran. Cerita-cerita semaca ini nih yang aku cari! Ungkap saya.

Sekarang, setelah saya menemukan bacaan yang “tepat”, saya mengerti apa yang ingin saya baca. Dan bacaan saya pun meningkat drastis. Sekedar info, kini jumlah koleksi buku pribadi saya mencapai 1500’an eksemplar. Jumlah tersebut belum ditambah dengan buku-buku yang kami (saya bersama Komunlis, sebuah komunitas menulis yang saya gagas bersama teman-teman) kumpulkan untuk rumah baca. Ada sekitar 300’an judul buku di Rumah Baca Komunlis.

Bacaan terbanyak di deret pustaka saya adalah sastra, menyusul novel grafis, pendidikan, biografi, sejarah, agama dan filsafat, jurnalistik, dan lain sebagainya.

Alasan lain, saya sudah menemukan kegemaran saya, apa yang benar-benar saya cintai. Dan kegemaran tersebut juga sudah meruang (menjadi uang). Sudah menjadi nilai ekonomi dan nilai tawar. Saya menulis cerpen, catatan perjalanan, artikel, puisi, mengisi kelas menulis, menjadi jurnalis, mengisi kelas jurnalistik, menjuri, kesemuanya itu mendatangkan manfaat ekonomi yang bisa saya rasakan dari kegemaran saya berliterasi; menulis dan membaca.

Sehingga jika saya ditanya, apa yang membuat minat membaca masyarakat Indonesia rendah? Bagaimana cara membuatnya meningkat? Bagi saya, asalah mendatangkan manfaat ekonomi yang bisa mereka rasakan secara langsung dari aktifitas tersebut. Mungkin moral story dari kisah di sini, “Temukan bacaan yang tepat, dan jadikanlah ruang ekonomi.” Maka, saya yakin, cita-cita luhur bangsa untuk menggalakkan litarasi pasti tercapai. Sedikit mengutip kata guru saya, J. Sumardianta, “Work for a cause not for applause. Live life to express not to impres.” Kalimat yang ia kutip dari seorang (yang dulunya) penyanyi cilik, Sherina Munaf. (tby)

Probolinggo, 3 April 2015.

 

*) tulisan ini terpilih sebagai nominator Sayembara Menulis Esai (SEMAI) dengan Tema “Aku dan Buku” II yang digelar Cahaya Pustaka. klik >>> https://www.facebook.com/notes/cahaya-pustaka/pengumuman-pemenang-sayembara-menulis-esai-semai-dengan-tema-aku-dan-buku-ii/836723019698678

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: