ADIOS AMIGO, SUPERNOVA!


Judul Buku               : Supernova Episode “Intelegensi Embun Pagi”
Jenis                           : Novel
Penulis                      : Dee Lestari
Penerbit                    : Bentang
Cetakan                     : Pertama, Februari 2016
Tebal                         : xiv + 710 halaman; 20 cm
ISBN                           : 978-602-291-131-9
Peresensi                  : Stebby Julionatan *)

 Intelegensi_Embun_Pagi

            Setelah mendapat petunjuk dari upacara Ayahuasca di Lembah Suci Urubamba, Gio berangkat ke Indonesia. Di Jakarta, dia menemui Dimas dan Ruben. Bersama, mereka berusaha menelusuri identitas orang di balik Supernova.

Di Bandung, pertemuan Bodhi dan Elektra mulai memicu ingatan mereka berdua tentang tempat bernama Asko. Sedangkan Zarah, yang pulang ke desa Batu Luhur setelah sekian lama melanglangbuana, kembali berhadapan dengan misteri hilangnya Firas, ayahnya.

Sementara itu, dalam perjalanan pesawat dari New York menuju Jakarta, teman seperjalanan Alfa yang beernama Kell mengungkapkan sesuatu yang tak terduga. Dari berbagai lokasi yang berbeda, keterhubungan antara mereka perlahan terkuak. Identitas dan misi mereka akhirnya semakin jelas. Hidup tak pernah sama lagi.

*****

Intelegensi Embun Pagi (IEP) adalah seri pamungkas dari keseluruhan novel serial Supernova. Tentu, kehadirannya di penghujung Februari ini sangatlah ditunggu oleh penggemar Dee –orang-orang yang menyebut diri mereka adDeection.

Begitu IEP ada di tangan, para pembaca setia serial ini pasti akan bertanya-tanya: Bagaimana kelanjutan nasib Diva? Di mana sebenarnya ia menghilang selama ini? Apakah Kell Savara atau Ilfiltran? Bagaimakah dia bisa bangkit dari kematian? Atau sekedar pertanyaan simpel soal romansa segitiga Diva-Ferre-Gio, “Di akhir, Diva akhirnya jadian sama siapa ya? Sama Gio ataukah sama Ferre?”

Tentunya ekspektasi yang begitu tinggi sedang disampirkan ke pundak Dee, tuhan dari semesta Supernova. Ekspektasi yang dialami dan datang dari “pembaca awal” serial Supernova: Kesatria Putri dan Bintang Jatuh (KPBJ). Orang-orang yang masa remajanya, 15 tahun silam, tumbuh bersama novel ini, termasuk saya.

Tapi rupanya, Anda harus siap kecewa. Hal-hal tersebut tidaklah terjawab. Tidak untuk pertanyaan, “Bagaimanakah nasib Diva?”

Saya mungkin termasuk orang yang kecewa. Hingga saya menekuri kembali apa yang sudah Dee sampaikan di awal penerbitan KPBJ.

“Sejak masih embrio di jagad inspirasi sana, berasama para balon (bakal calon) ide lain seperti teori terbaru tentang lubang hitam, , teknik kloning paling kini, atau strategi politis terbusuk, Supernova sudah direncanakan untuk menjadi cerita serial” (KPJB cetakan ke-5, yang penerbitannya masih berada di bawah penerbitan Truedee Books, atau istilahnya, masih diterbitkan secara “indie” oleh Dee)

Sehingga saya (harus) sadar bahwa KPJB bukanlah plot tunggal, satu-satunya plot utama yang harus terjawab (dan dijawab) oleh Dee. Ada jejaring lain di atas KPBJ, yang tentunya lebih besar, yang telah dipersiapkan Dee untuk menjerat kita. Plot utuh bagi kehidupan para tokoh di Supernova.

Tentu, dengan plot yang lebih kompleks (lebih besar dan lebih utuh) tersebut, apa yang semula kita kira tokoh utama, bisa lantas bergeser begitu saja menjadi tokoh sampiran, tokoh ga penting yang ketemunya hanya sambil lalu. Dan… tokoh yang sebelumnya kita rasa tidak penting, tak punya pengaruh apa-apa, tiba-tiba mencuat, melesat bak bintang jatuh, menggeser karakter tokoh utama. Ya, inilah nasib yang harus dialami Putri dan Diva ataupun Mpret.

Kecewanya lainnya, saya merasa harus bolak-balik meyakinkan diri bahwa ini bukanlah lagi novel spiritualitas seperti seri KPBJ atau Akar. Ini lebih mirip novel action, aksi kejar-kejaran antara Infiltrant, Savara dan Peretas.

Kok kayak gini? Kok ga seperti KPBJ yang dalam dan penuh makna? Itulah pertanyaan yang berulangkali melintas namun saya abaikan. Saya ingin memberikan penilaian secara utuh, hingga saya merampungkan ke-99 bab Supernova.

Saya putuskan untuk membacanya saja. Saya putuskan untuk membaca buku bersampul putih berkilau ini tanpa penuh ekspektasi. Saya membaca IEP laiknya anak-anak ABG yang baru mengenal Dee pasca Perahu Kertas difilmkan.

Hasilnya?

Kesadaran. Itu yang saya dapatkan. Manusia harus ingat bahwa dirinya adalah manusia. Jiwa abadi yang terjebak dalam raga yang fana. Tokoh-tokoh dalam IEP (Gio, Alfa, Bodhi, Elektra dan Zarah) berjuang untuk mendapat pencerahan, yang siapa tahu, nantinya informasi tersebut berguna bagi seluruh umat manusia. Tetapi di sisi lain mereka juga mendapat hambatan. Menjadi yang “tercerahkan” berarti menjadi individu yang memiliki tanggungjawab yang besar. Bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang lain. Terkadang kita pun mengalaminya, dan sadar, bahwa menjadi kaum amnesia, orang yang “ga tau apa-apa” lebih enak ketimbang jadi orang yang tahu banyak tapi “ga bisa ngapa-ngapain” karena tak ada yang percaya.

Kini saya mencoba menjadi Dee, hierarki tertinggi dalam Supernova. Dengan konsep superbesar, anti-mainstream dan tak terkenal model Infiltran-Savara-Peretas, sangatlah tidak mungkin untuk ditulis ala KPBJ. Dengan cermin pembiasan dua-tiga tingkap ala buku-buku sastra. Jadinya akan semakin buram dan menyulitkan untuk dinikmati. Termasuk, mungkin ini upaya sadar yang Dee lakkukan untuk memudahkan pembaca barunya, anak-anak yang masih ABG itu tadi, yang mengenalnya pasca bomming Perahu Kertas.

(Alm.) Suparto Brata, sang begawan sastra dari Jawa Timur, pernah berujar, “Tulislah cerita yang tak wajar dengan cara yang wajar, atau tulislah cerita yang tak wajar denan cara yang wajar”. Menurut saya, beginilah cara Dee mempermudah dan memperlebar fanbase pembacanya. Dan tentu, upaya ini bukan berarti tanpa resiko. Dee harus siap ditinggalkan oleh pembaca lamanya, kaum seperti saya yang cinta mati dengan KPBJ.

Lagian, saya pikir, bukankah tujuan utama penulis menulis, bukanlah untuk memuaskan semua keinginan pembacanya, tapi lebih kepada mencari jawab atas pertanyaan yang bercokol di dalam benaknya.

Soal plot? Bagi saya plot IEP sangatlah adil. Dee dengan piawai mengubah spotligh-nya pada 6 karakter secara merata. Tak ada yang berlebihan pun kurang. Adegan paling saya suka adalah percakapan-percakapan personal antara Alfa-Bodhi, Elektra-Zahra, dan Gio-Mpret saat berkejaran dengan waktu untuk memburu portal cermin yang ada di Sianjur Mula-Mula (Keping 86: Bumi yang Kembali). Tampak sekali bahwa “superman” pun masihlah manusia. Rentang yang diperlukan untuk menghadapi ketegangan berikutnya.

Jujur, bagi saya Dee adalah panutan. Penulis yang fokus dan berhasil menjaga ritme menulisnya –meski sempat keteteran 8 tahun untuk menyelesaikan Partikel. Sukses menduplikasi idenya ke pembaca-pembaca baru tanpa kehilangan (banyak) pembaca lama. Sukses membangun komunitas pembacanya, dimana dialah puncak tiang totem. Dan tentu.. hal inilah yang susah untuk dimiliki oleh banyak penulis di eranya.

Dalam sebuah wawancara Dee pernah ditanya soal popularitas (sebagai penulis tentunya) oleh Deddy Corbuzier. Dee menjawab seperti ini, “Popularitas itu ditentukan oleh banyak sekali faktor. Tapi saya analogikan begini, seperti perahu yang sedang berada di atas gelombang yang tepat. Ia meluncur begitu saja tanpa pernah bisa dibendung. Tapi ya… ujung-ujungnya balik ke kualitas penulisnya.”

Saat itu juga, ala-ala Bintang Jatuh, saya ingin bertanya soal Percepatan. Bagaimanakah anak-anak di tempat saya (Probolinggo), yang baru menyadari bakat menulisnya di usia yang tak lagi muda, tak dekat dengan publikasi dan media, bisa mengalami “percepatan” seperti yang dialami oleh Gio dan kawan-kawannya? Apa yang harus mereka lakukan untuk mengejar kesuksesan seorang perempuan yang saat usianya masih 9 tahun, sudah memimpikan bahwa bukunya suatu hari kelak akan dipajang di rak-rak toko buku tersebut?

Akulah awal dan engkaulah akhir / Meniadakan kita berdua adalah satu-satunya cara kita bisa bersama. Ya, epic setebal 720 halaman ini boleh jadi adalah akhir dari serial Supernova. Tapi sebagaimana Dee katakan, sebuah akhir akann melahirkan sebuah awal. Kata “Tamat” akan menggiring kita pada “Pendahuluan” yang baru. Selamat mengalami Supernova!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: