Kisah Cinta Melalui Dialog Puisi


oleh: Hermawan Aksan *)

Buku yang ditulis dua orang (atau lebih) bukan hal aneh. Antologi sejumlah pengarang sudah biasa. Satu novel yang ditulis lebih dari satu orang juga banyak kita temui. Tapi buku Biru Magenta ini unik, setidaknya jarang ditemui: kolaborasi dua penulis yang berdialog panjang melalui puisi.

Biru adalah sosok lelaki, sedangkan Magenta perempuan. Kenapa Biru? “Karena Biru adalah langit yang selalu melingkupimu. Langit yang tak pernah lelah atau mengeluh meski terkadang kau menjauh. Pergi. Tak jenak pada ranah mana kau berdiri.” Dan kenapa Magenta? “Sebab akulah Merah yang mengandungmu. Magenta adalah cinta. Magenta adalah luka. Magenta adalah wujud aku dan juga kamu. Sebua kompleksitas penyatuan yang menjelma dalam keluguannya yang muda. Magenta, sinar yang menyala pada kelam biru malam. Magenta, membuat segalanya berbaur dan tertukar.”

Senandika283_001

Dengan puisi, tentu saja dialog antara Biru dan Magenta berbeda dengan dialog antara dua tokoh dalam cerita, yang umumnya sambung-menyambung. Dialog melalui puisi dalam Biru Magenta bisa dikatakan dialog yang kadang terputus-putus. Hanya sebagian dialog yang seperti sahut-menyahut, yang mudah dikenali dari judulnya.

Misalnya puisi Magenta “Aku Ingin Jadi Merah di Atap Rumahmu”: Detik ini aku ingin menjadi pagi/yang memerah di atap rumahmu/kemudian menjelma kuning/menerobos melalui jendela kamarmu. Tiba-tiba aku ingin ada di sisimu… dibalas dengan puisi Biru “Aku Ingin jadi Biru di Langit-Langit Mimpimu”: Detik ini aku ingin menjelma langit berwarna biru/memantulkan segala mimpi/serta imaji yang belum tergapai/lalu mendarasnya pada tiap buntalah awan untukmu. Sayang; tiba-tiba aku rindu padamu…

Juga puisi Magenta “Magenta: Dua Wajah Dalam Cermin”: Entah ini sudah ke berapa kali/aku melihat bayanganmu dan aku/memantul dari cermin yang sama/bersisian, berlomba mencipta seribu wajah/di kesetiap bangun pagi/juga pada saat kita hendak berangkat menghajar malam… yang dibalas Biru: “Biru: Kulihat Pantulan di Wajahku yang Bukan Aku”: Kulihat pantulan di wajahku yang bukan Aku/Seperti kau tahu/semula aku takut melihat wajahku yang abu/bercermin, seperti mematut dan menuntut/untuk mengorbankan diri/pada buas seringai hewan-hewan malam…

Dialog puisi antara Biru dan Magenta memang dialog tentang cinta: mereka bercerita mulai tentang perkenalan, saling tertarik, dan seterusnya hingga menjalani hubungan mereka yang tak lepas dari masalah seperti banyak kisah cinta di mana dan kapan saja. Tapi apakah melulu tentang cinta? Tidak juga. Sebab, ada pernik lain yang menjadi penghias: mainan, perabot rumah tangga, makanan, teman, wayang, dan banyak lagi.

Tentu saja Biru adalah Stebby Julionatan dan Magenta adalah Ratna Satyavati. Sayangnya, pembaca tidak diberi gambaran yang jelas mengenai profil keduanya. Hanya dijelaskan sekilas bahwa Ratna penuh amarah, terutama jika ada yang memujinya cantik. “Sebab baginya, cantik adalah penderitaan setiap perempuan…” dan Stebby adalah pencemburu, penyuka hujan, langit yang lebam biru, senja serta secangkir kopi susu.

*) dipublikasikan di Senendika Tribun Jabar. Minggu, 8 November 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: