MEMBACA BIRU MAGENTA, MEMBACA BENTENG BADAI LEMBUT PERTUKARAN RASA


Membaca buku puisi Biru Magenta adalah membaca amuk perasaan namun lembut. Lembut tapi ada api dan amuk. Apalagi dihasilkan oleh dua sisi penyair yaitu Stebby Julionatan dalam Birunya dan Ratna Satyavati dengan Magentanya. Dua pilihan warna ini awalnya sederhana dan mudah diingat oleh kita yang punya kesepakatan tentang makna warna. Simbol warna itu mengingatkan saya bila berada di toko perlengkapan bayi, biasanya kita akan diberi pilihan warna biru untuk bayi laki-laki dan merah muda untuk bayi perempuan. Meski tak persis betul dengan Biru Magenta, karena merah muda bukan magenta.

Biru tentu mengingatkan kita pada langit dan lautan, meski ada langit tak biru, meski ada laut tak biru. Sedang magenta adalah seesuatu yang sepi sendiri, karena itu warna pertumpahan darah di bumi. Tapi sesekali ada langit atau laut berwajah magenta. Dan pertemuan biru dan magenta yang menjadi langit magenta, atau pertemuan yang dihasilkan laut magenta, maka begitulah saya membaca puisi Biru Magenta ini. Moment pertemuan Biru dan Magenta adalah pertemuan yang jarang. Seperti gerhana, munculnya pelangi, adalah peristiwa alam yang khusus. Maka kita pun akan merayakannya, seperti juga puisi Biru Magenta ini.

Tapi pertemuan antara biru dan magenta seperti dalam ungkapan syair keduanya. Biru dan magenta rupanya tak ingin benar-benar bertemu. Keduanya menahan diri untuk tidak menjadi warna baru, yaitu ungu. Sekuat tenaga mereka menghindari atau melarang diri sendiri untuk bersatu dan terus menjaga jarak yang indah. Meski keduanya terlihat sangat berdekatan dan membicarakan hal yang sama, atau salah satu mendengar yang lain, sedang satunya lagi bercerita, tak ada yang sama-sama mendengar atau sama-sama berbicara dalam waktu yang bertumpukan.

Biru magenta juga saling membaca, misal Magenta memberi judul Aku Ingin Menjadi Merah Di Atap Rumahmu, lalu diikuti puisi Biru berjudul Aku ingin Jadi Biru Di Atap Mimpimu. Juga dalam puisi Percakapan Ruang Kosong 1-4 keduanya bercakap intim yang akan membuat cemburu pembaca dan jika pasangan keduanya membacanya. Meski kadang ada sedikit perbedaan pendapat dari keduanya seperti dalam Megatruh Sebuah Pesta Tanpa Chairil dan di sampingnya puisi Biru berjudul: Maaf Telah Kubawa-bawa Chairil Ke Pestamu. Meski sekilas ada perbedaan dalam puisi keduanya, tapi perbedaan justru menambah kedekatan dan romantisme Biru dan Magenta. Kedekatan yang berjarak itu mengingatkan pada dua rel yang bersisihan setia, gerbong-gerbong kata yang berisi makna puisilahyang mengikat keduanya. Bila tak ada kereta lewat, maka keduanya membisu salah tingkah namun menggemaskan. Lihat juga Iblisku Yang Baik Hati (Biru) lalu di sisinya Magenta menulis Malaikatku Yang Menyeringai Keji.

Tapi dalam halaman-halaman buku puisi Biru Magenta ini Biru tak selalu menulis untuk dan tentang Magenta, Magenta tak selalu menulis tentang Biru. Ada kalanya Biru menulis tentang Acar, untuk Om Jerery juga Botol Kecap Berlogo Penjual Soto untuk Ibu dan Magenta mengenang eyang putrinya. Tapi kemudian puisi keduanya berhadapan lagi dalam puisi Biru yaitu Pintu dan Jendela (Magenta). Juga pada puisi: Barangkali Kau Harus Belajar Pada Ayahku (Magenta), lalu disusul Barangkali Kau Harus Belajar Pada Ibuku (Biru).

Jarak yang bisa dikenali ketika Magenta menjulis tentang Nila. Magenta menyebut Nila adalah sesuatu yang memeluk dari jauh. Juga jarak atau jeda itu ada ketika Biru bercerita kepada Bias, dan Magenta menulis kepada Abu-abu. Meski Biru dan Magenta bergulat pada “orang ketiga” pada akhirnya mereka akan pulang dan bertempur lagi dalam pagutan kata yang rahasia. Seperti dalam Setelah Pesta Usai (Biru) dan Sajak Perempuan Tak Romantis (Magenta).

Meski puisi-puisi ini telah dihadapkan untuk kita, tapi membaca Biru Magenta seperti membaca teka-teki yang meninggalkan perasaan yang dirahasiakan, atau misteri yang disisakan untuk mereka nikmati berdua. Bahkan kata sayang dalam puisi ini terdengar tulus dan menggoda tapi tidak terasa gombal. Yang membuat api makin panas.

Keduanya saling melempar kedekatan personal, dan terasa satu jiwa jadi tak bisa dibedakan mana yang biru dan magenta. Karena bahasa keduanya mengesankan satu harmoni yang laras hampir tak ada konflik atau lebih-lebih permusuhan. Kalaupun ada konflik itu adalah konflik atau perbedaan yang memperdalam elegi keromantisan.

Melihat keduanya meski dalam warna berbeda tapi dalam kotak kaca yang sama. Seolah kita tak diijinkan masuk dalam dunia keduanya, mungkin kita akan menjadi Nila, Bias dan Abu-Abu bagi mereka. Tapi badai Lembut Biru Magenta akan menemani pada badai masing-masing pembaca, dan akan menenangkan dengan birunya, dan akan menghangatkan dengan magentanya. Buku puisi Biru Magenta ini pas untuk hadiah bagi belahan jiwa kita. Lalu saya ingat pada satu penggalan puisi saya, di samping puisimu, sayang, aku menulis puisi…

 

//Puitri Hati Ningsih, penyair

sebagaimana ditulis kembali dari Perayaan 3 Buku, Malam 3 Jarak di Balai Soedjatmoko – Solo, 14 November 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: