Dibangun Maulana Ishak, Diliputi Cerita Magis


Masjid Tiban, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan

Tiban berasal dari kata ketiban, kata-kata dalam bahasa Jawa itu bila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti tiba-tiba. Dan begitulah dengan Masjid Tiban Babussalam, hingga kini asal-usul berdirinya masjid ini masih menjadi misteri. Meski demikian, masjid yang berlokasi di Jalan Raya Soekarno Hatta RT 1 RW 1 Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo tetap ramai dikunjungi umat.

STEBBY JULIONATAN

Sekumpulan pemuda memarkir kendarannya di halaman parkir di tepi jalan Soekarno Hatta. Usai meletakkan helmnya dalam posisi aman, mereka menyeberangi rel keeta api menuju utara. Masjid Tiban, tujuan mereja memang baru saja selesai melantangkan adzan Ashar sore itu.

Pemuda-pemuda ini, dari bincang-bincang singkat kami, berasal dari Surabaya hendak menuju Jember. Menyempatkan salat Ashar di Probolinggo dan memilih masjid Tiban sebagai jujugan karena mudah diakses. Saat saya menanyakan, apakah mereka tahu mengapa masjid ini diberi nama Tiban, mereka menggelengkan kepalanya. Namun cukup tertarik saat saya bercerita sedikit.

Ada dua pendapat yang beredar di masyarakat. Kata tiban ada yang mengartikan, ada atau terjadi secara tiba-tiba. Ada pula yang mengartikan titiban atau titipan. Terlepas mana yang benar, itulah yang hingga kini menjadi teka-teki dan belum ada yang meneliti kebenaran dari dua pendapat tersebut.

Jika diartikan ketiban, maka masjid berarsitektur campuran Jawa – Madura ini dipercaya ada atau jadi secara tiba-tiba, tanpa ada yang membangun. Sedang apabila dimaknai titiban, maka masjid tersebut merupakan titipan seseorang. Tentunya yang menitipkan ke warga setempat bukan orang sembarangan, tapi seorang tokoh islam yang disegani di zamannya.

Terlepas dari itu semua, warga sekitar meyakini, lokasi yang diatasnya berdiri Masjid Tiban itu, bekas petilasan Syeh Maulana Ishaq. Ulama yang tinggal di jawa Timur Wilayah Barat itu singgah di tempat itu (Kelurahan Pilang) dalam perjalanan menuju Banyuwangi. Maulana Ishak, disebut menuju kota paling ujung Jawa Timur itu untuk mengobati Dewi Sekardadu, putri Raja Blambangan.

Cerita yang beredar ini dibenarkan oleh Agus Purwoko, takmir Masjid Tiban. Diceritakannya, kala itu Dewi Sekardadu sakit menahun yang tak kunjung sembuh, sehingga ayahandanya membuata sayambera. Barang siapa yang bisa menyembuhkan putrinya, jika perempuan akan diangkat menjadi keluarga kerajaan. Apabila seorang lelaki, akan dikawinkan dengan sang putri atau akan dijadikan menantu sang raja. Beberapa ahli pengobatan mencoba menyembuhkan sakit sang Dewi, namun tidak berhasil.

Dan tibalah Syeh Maulana Ishaq. Dengan kekuatan Allah, Dewi Sekardadu lambat laun sembuh. Dan sesuai janjinya, ulama besar asal negeri Campa (Sekarang sekitar Kamboja) ini menikah dengan putri Raja Blambangan. Dari perkawinannya, Maulana Ishaq memiliki putra yang diberinama Raden Paku. Setelah besar, Raden Paku dikenal dengan sebutan Sunan Giri.

Belum terungkap, berapa hari Syeh Maulana Ishaq bermukim di lokasi Masjid Tiban. Namun dari cerita leluhur Pilang, menurut Agus, ayah Sunan Giri tersebut sempat memiliki santri yang sepeninggalnya diwarisi untuk meneruskan ajarannya. Para santri yang setia itupun membangun surau (Tempat ibadah kecil berasitektur Jawa) dan beberapa tahun kemudian berdirilah sebuah masjid yang kini dikenal dengan nama Tiban.

Masjid yang diperkirakan berdiri sebelum penjajah Belanda masuk ke Jawa, terletak di sisis utara jalan raya Soekarno-Hatta. Di kana-kirinya tidak ada bangunan lain, di sisi utara Selat Madura, di timur dan barat, kini terbentang hamparan sawah milik warga, sedang sisi selatan jalan raya dan rel KA. Konon dulu masjid Tiban dikelilingi laut baik di sisi barat, utara dan selatan.

Awalnya, bangunan masjid, seluruhnya berbahan kayu jati, termasuk dinding yang kini terbuat dari batu bata. Bangunan atap berbentuk kerucut disangga empat pilar kayu jati berbentuk bukur sangkar yang keempat sisinya berukuran sama yakni, sekitar 30 centi meter. Sedang empat pilur di antara genteng atap terbuat dari batu padas yang dipahat dan dibagian keempat ujungnya, berukir.

Tidak hanya sekarang, mulai dulu salah satu soko guru (penyangga atap berbentuk joglo) dipercaya bertuah. Makanya jangan heran, kalau yang beri’tikaf di masjid tersebut berebut duduk di dekat tiang yang dimaksud. Terutama tiang penyangga di pojok barat laut. Tempat itulah yang dianggap tempat paling mustajabah untuk berdoa. Apa yang diminta, menurut mereka pasti diberi oleh Allah.

Tak hanya itu, batu berbentuk memanjang, yang konon ceritanya tempat duduk Syeh Maulana Ishaq saat bermunajat, juga menjadi incaran. Mereka rela duduk di atas batu yang berada di luar masjid itu, dengan harapan doanya terkabul. Batu tersebut di tengahnya ada tapak bekas seseorang duduk. Sampai sekarang masih ada orang yang menganggapnya seperti itu.

Masjid Tiban memiliki cerita misteri yang tidak ada habisnya. Mulai dari pejabat, pengusaha, politisi, sering bermunajat di masjid yang dianggap menyimpan kekuatan magis. Bersumber dari cerita warga terdahulu, dan yang pernah dialami sendiri, Agus Purwoko menceritakan beberapa keanehan yang ada di masjid Tiban.

Tidak hanya orang lain, dirinya pernah mendengar seseorang mandi. Lantaran suara airnya tidak seperti orang mandi pada umumnya, usai salat malam Agus penasaran dan mendatangi asal suara tersebut. “Setelah dilihat, kok enggak ada yang mandi. Airnya tenang dan isinya tidak berkurang. Kedengarnya kayak orang yang menguras jeding (tempat mandi),” katanya.

Demikian juga air di sumur tua samping utara masjid. Kata Agus, airnya banyak diambil warga lokal dan luar daerah untuk penyembuhan. Saat ditanya ke orang yang mengambil air, mereka mengaku untuk mengobati keluarganya yang terkena penyakit. Macam-macam alasannya, ada yang inisiatif sendiri, ada pula yang disuruh kiyainya atau orang pintar yang menangani penyakit keluarganya.

Bahkan ada seseorang yang meminum langsung di masjid setiap kali singgah ke masjid tiban. Seperti yang dilakukan warga Pamekasan Madura. Pria yang sering lewat di Probolinggo untuk keperluan berdagang ini, selain meminum air sumur, juga kalau menginap beri’tikaf di masjid. “Hampir setahun minum sumur masjid, sesak nafanya hilang. Orangnya cerita langsung ke saya. Sudah lama, saat saya masih bujangan,” tambahnya.

Pria yang dikarunia dua anak ini juga menceritakan, tidak sedikit orang yang beri’tikaf di masjid tahu-tahu setelah sadar berada di pinggir laut atau tengah sawah. Mereka yang mendapat balasan seperti itu, kebanyakan berniat jelek atau buruk. Misalnya untuk mendapatkan angka TBSB (Tanda Bukti Sosial Berhadiah), KSOB (Kupon Sosial Olah Raga Berhadiah), SDSB(Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) dan Porkas, Nalo (Kupon berhadiah tempo dulu di era Orde Baru.

Jika tujuannya baik, maka hal buruk seperti itu tidak akan terjadi. Ditambahkan oleh Agus, cerita-cerita seperti itu banyak dialami orang yang pernah ke Masjid Tiban. ”Pernah seorang kondektur bus, karena khawatir ditinggal bus, buang air kecil seenaknya di luar kamar mandi. Setelah hendak memasang sepatu yang dibuka, didalamnya ada ular berbisa. Ya, ular warnanya hitam putih,” tambahnya.

Saat ditanya, mengapa masjid tiban tidak didirikan Taman Pendidikan Alquran (TPA), Agus menyebut sudah beberapa kali diadakan. Bahkan sampai dibangun tiga ruang kelas. Namun, kegiatan seperti itu bubar di tengah jalan. Agus tidak tahu apa penyebabnya, yang jelas karena kendala jalan raya dan rel KA. Orang tua khawatir keamanan anaknya kalau mengaji di masjid. Sehingga tidak terlalu banyak anak yang mengaji. “Karena enggak ada yang mengaji, ruangannya dirobohkan,” katanya.

Agus juga menyebut, di masjid Tiban pernah ada ngaji khusu usia remaja dan para orang tua yang belum bisa mengaji. Namun lambat laun, aktifitas seperti itu, bubar juga. Dari pengalaman itu, ada beberapa orang yang menyimpulkan, kalau masjid hanya khusus untuk beri’tikaf. “Saya pikir ada benarnya juga pendapat seperti itu. Suatu saat kami akan mencoba mengadakan ngaji khusu pemuda yang belum bisa membaca Al-Quran,” pungkas Agus berencana. (stebby julionatan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: