DIBANGUN 1865, TAK DIKETAHUI PENDIRINYA


Lebih dari seratus tahun lalu, seorang pemuda meninggalkan desanya. Ia meninggalkan orang tua, kekasih dan sanak saudaranya untuk merantau. Bersama karib dekatnya, mereka menumpang kapal. Mengarungi ganasnya lautan. Selama berhari-hari hidup mereka diombang-ambingkan ombak.

Seminggu perjalanan berlalu, hingga mereka memutuskan untuk turun di pulau pertama yang mereka lihat saat itu. Ya, mungkin Tuhan juga memang telah menggariskan, bahwa Pulau Jawa-lah yang pertama kali mereka lihat dari atas buritan.

Sahabatnya memutuskan untuk turun di Semarang, sedang ia sendiri sedikit meneruskan perjalanan ke timur, dan mendarat di Blambangan (kini Banyuwangi).

Nama pemuda itu adalah Tan Cin Jin, sedang sahabatnya –yang turun di Semarang adalah Sam Po Kong, kini menjadi nama sebuah klenteng terkenal di Semarang. Mereka mendarat di Jawa pada akhir pemerintahan Wirabumi. Munculnya kerajaan-kerajaan islam dan kedatangan bangsa-bangsa eropa ke tanah air untuk rempah-rempah pun mewarnai ragam kehudupan mereka kala itu.

Kepiawaian Tan Cin Jin di bidang pengobatan membuat kehadirannya diterima baik oleh rakyat. Kepopulerannya pun cepat menyebar sampai ke pelosok-pelosok negeri. Tak terkecuali di Kerajaan Mengwi, Bali.

Raja Mengwi yang sirik dan merasa terancam akan kepopuleran Tan Cin Jin pun resah. Maka ia berencana untuk menyingkirkan Tan Cin Jin.

Selain ilmu pengobatan, Tan Cin Jin adalah orang yang ahli di bidang arsitek. Maka diutusnyalah Tan Cin Jin untuk membangun sebuah istana yang harus selesai dalam waktu satu hari.

Tan Cin Jin, dikisahkan tak mengindahkan titah raja. Ia terus saja berbuat baik dengan terjun dalam pengobatan rakyat yang sedang sakit. Anehnya, tiba di batas waktu pembangunan yang ditetapkan oleh sang raja, istana megah yang hingga kini tetap bernama Taman Ayun tersebut selesai dibangun.

Raja marah. Ia makin naik pitam sebab orang yang dianggap melecehkannya itu, yang nampak tak acuh pada titahnya, hingga ia punya kesempatan untuk mengusirnya, ternyata bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.

Maka rencana lain untuk mengenyahkan Tan Cin Jin pun diatur. Tan Cin Jin tak diperkenankan pulang ke Blambangan sendiri, 3 orang pengawal diutus untuk mengantarnya. Dengan kata lain, para pengawal itu diperintahkan untuk membunuh Tan Cin Jin dalam perjalanan pulang.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Salah seorang pelayan meninggal dalam perjalanan. Seorang lainnya dikisahkan menjelma menjadi kepiting saat menyebrangi Selat Bali. Tinggal seorang lagi yang mengiringi Tan Cin Jin sebelum ia naik ke langit dan hidup sebagai roh suci. Pengawal tersebut merasa terus mengiringi Tan Cin Jin ke Barat, dan kehilangan raga Tan Cin Jin di Probolinggo. Di tempat yang saat ini menjadi lokasi berdirinya Klenteng “Sumber Naga” Kota Probolinggo.

Itulah kisah yang dituturkan oleh Albert, pengurus Tempat Ibadat Tri Darma (TITD) “Sumber Naga” kepada Link Go saat ditanya mengenai sejarah klenteng dimana Tan Cin Jin –yang saat ini disebut sebagai Tan Hu Cin Jin, dipercaya sebagai dewa utamanya.

“Tak ada sejarah, bahkan orang-orang pengurus dan orang-orang tua di sini pun tak ada yang mengetahui siapa pendiri Klenteng Sumber Naga. Dari dulu berdiri sudah seperti ini. Tanpa bangunan di kiri dan kanan tentunya. Hanya bangunan utamanya saja. Yang kami ketahui hanyalah tahun berdirinya, yaitu 1865,” tutur Albert.

Tahun itu, lanjut Albert, terdapat dalam lonceng bergaya barat yang dibuat oleh perusahan Art Const. Vinkel Surabaya. Itulah yang akhirnya kami sepakati sebagai tahun berdirinya Klenteng Sumber Naga.

Sumber lain menyebutkan, Tan Cin Jin diterima dengan baik oleh Raja Blambangan yang kemudian memerintahkannya membangun sebuah istana di Macanputih (kini berada di wilayah Probolinggo). Dikisahkan bahwa istananya begitu sempurna sehingga kabar bahwa Raja Blambangan memiliki arsitek berbakat sampai ke telinga Raja Mengwi.

Saat itu, Raja Mengwi hendak mengadakan sebuah pesta besar serta membangun istana baru, sehingga Raja Blambangan mengutus Tan Cin Jin ke Mengwi. Awalnya Tan Cin Jin menolak karena mengetahui bahwa ia akan dikhianati, tetapi Raja Blambangan terus memaksa bahkan bersumpah bahwa jika Tan Cin Jin mengalami musibah di sana, Kerajaan Blambangan tidak akan diberkahi selama beberapa generasi.

Tan Cin Jin akhirnya berangkat ke Mengwi dan segera membangun istana baru. Saat istana selesai baru separuh, para pegawai istana datang menghadap Raja Mengwi dan berkata bahwa raja percuma menyewa si pemahat Cina karena pekerjaannya sangat mudah sementara upahnya mahal. Masyarakat Bali sendiri mampu melakukan pekerjaan yang sama dan upahnya tidak semahal itu.

Raja Mengwi bingung karena terlanjur berjanji akan membayar upahnya, apalagi ia telah memanggilnya dari tempat yang jauh. Para pegawai istana menganjurkan raja untuk membunuhnya karena Tan Cin Jin hanya seorang diri (sebatang kara). Raja Mengwi kemudian mengutus dua orang dari kasta Brahmana untuk membunuhnya.

Kedua orang ajudan raja mengundang Tan Cin Jin ke pantai untuk menikmati hiburan. Sesampai di pantai, mereka bingung dan terdiam karena menyadari bahwa korban mereka sebenarnya tidak bersalah. Tan Cin Jin menyuruh mereka untuk melaksanakan perintah raja. Namun, karena dirinya tidak bersalah, pembunuhan tersebut akan menjadi peringatan bahwa tidak lama lagi Kerajaan Mengwi dan Blambangan akan hancur.

Kedua ajudan tersebut ketakutan dan memohon maaf, selain mereka juga tidak sanggup membunuh Tan Cin Jin. Keduanya tidak berniat kembali, sebab raja pasti akan membunuh mereka karena gagal melaksanakan perintahnya. Tan Cin Jin mengajak keduanya ke Blambangan.

Dalam kisah, Tan Cin Jin dikatakan berjalan kaki melintasi laut. Kedua sandalnya digunakan kedua ajudannya untuk mengambang. Sesampai di pantai Blambangan, mereka naik ke puncak Gunung Sembulungan dan moksa (menghilang) di sana.

Selain Probolinggo, kepopuleran Tan Hu Cin Jin sebagai leluhur etnis Tiong Hwa di wilayah Blambangan dan sekitarnya, dapat dilihat di beberapa tempat seperti TITD Hu Tang Miao Banyuwangi, TITD Bao Tang Miao Besuki, TITD De Long Dian Ronggojampi, Vihara Dharma Cattra Tabanan, Vihara Dharmayana Kuta, TITD Ling Yen Gong Singaraja, TITD Cung Ling Bio Negara dan Vihara Bodhi Dharma Ampenan-Lombok. _stebby julionatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: