Memaknai Perjalanan Cinta antara Probolinggo dan Malang


Oleh: Yeti Kartikasari Lestiyono*)

SEBUAH kota dengan segala dinamika sosial dan pergulatan hati orang-orang yang tinggal di dalamnya atau pernah menyinggahinya, mampu menjadi sihir tersendiri bagi lahirnya sebuah karya. Boleh dibilang sebuah kota mampu menjadi saksi luapan segala rupa emosi seperti marah, cemburu, cinta dan patah hati sekaligus inspirasi yang diintepretasikan ke dalam kehadiran karya sastra, baik berupa sajak, novel, cerpen dsb. Pun tak sedikit kelahiran karya yang diilhami oleh pengalaman dan pertemuan-pertemuan yang terjadi dalam perjalanan maupun petualangan.

Seperti itu ketika memaknai isi buku sekumpulan sajak bertajuk Biru Magenta yang ditulis secara duet oleh dua penyair Stebby Julionatan dan Ratna Satyavati. Lintasan dua kota menambatkan keduanya untuk saling berbagi rasa dengan intim melalui sajak.

Secara manis dan ritmis, dua penulis yang menyebut diri sebagai Biru (Stebby) dan Magenta (Ratna) ini mendedah seluruh perasaannya melalui barisan sajak yang ”seolah-olah” saling bersahut-sahutan, menimpali satu sama lain layaknya dua orang bercakap-cakap dalam sebuah ruang berbeda. Ada jarak yang sebenarnya memisah keduanya, yakni kota Malang dan Probolinggo. Tidak terlalu jauh tetapi tidak memungkinkan pula untuk sering-sering ketemu karena alasan tertentu.

Jarak dua hingga tiga jam perjalanan bagi dua anak manusia ini mungkin terlalu berharga bila dihabiskan di jalan. Sedangkan menyampaikan kerinduan, kemarahan dan cemburu bisa disampaikan secara tertulis melalui puisi yang saling berbalas.

Ini terlihat dalam buku setebal 198 halaman ini dua penyair tidak pernah lupa menyebut kota sebagai rumah inspirasi ketika berproses. Saya mencatat sejumlah kota bagi kelahiran anak-anak puisi buku Biru Magenta; Malang, Probolinggo, Jakarta, Surabaya dan Solo. Dari beberapa kota tersebut, Probolinggo dan Malanglah yang kerap ditulis di akhir sajak. Tentu saja, karena keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di kedua kota tersebut yakni Probolinggo ( Biru) dan Malang (Magenta).

Kumpulan sajak ini dibuka dengan cerdas melalui 16 puisi pendek dalam sebuah judul besar Percakapan Tentang Ruang Kosong I dan II. Kedua penyair seperti mengungkapkan pemahamannya tentang cinta kepada pembaca sebelum bicara cinta yang sebenarnya. Seperti ini;

(Magenta)

CINTA adalah bagaimana aku menyebut Tuhanku dengan caraku,

Dan engkau menyebut Tuhanmu dengan caramu, sementara

Jemari kita bertautan, sembari mata kita saling bersitatap,

Penuh kasih yang menguatkan.

(Biru)

CINTA adalah berjalan dengan kaki masing-masing

Sambil tetap menyisakan ruang kosong yang hangat untuknya,

Yang setiap Pergi, pasti Kembali.

(sssttt..kuncinya masih kau pegang, kan, Sayang? (hal.17)

Sederhana. Tetapi di balik kesahajaan kata-kata Biru dan Magenta, ada pesan yang cukup dalam bagi keduanya. Bahwa ada unsur relijiusitas yang ingin keduanya sampaikan, bahwa sesuatu yang sangat personal, sebuah perbedaan dalam keyakinan di antara dua hamba yang saling menyimpan rasa. Cinta di sini, diejawantahkan sebagai jembatan bagi keduanya untuk lebih dekat pada pencipta. Memahami cinta menurut keduanya, adalah melibatkan Sang Maha beserta segala kasih sayang-Nya. Ini menjadi perenungan tersendiri ketika membacanya.

Tengok lagi cuplikan sajak berikut,

(Magenta)

KALI INI, UNTUK DIRI SENDIRI

; untuk diri

Tok…tok..

”Hai!Apa kabar, Ratna Satyavati?”

Malang, 2011

(BIRU)

AWAL JUMPA

Sepertinya dia kaget. Segerja kujulurkan tangan;

”Perkenalkan, saya Stebby. Stebby Julionatan.

Mari masuk.”

Probolinggo, 2011 (hal.35)

Mengutip Pradopo, puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan. ”Perbincangan” sederhana antara Biru dan Magenta seolah-olah mengenangkan memori di antara keduanya saat baru saling berkenalan.

Kenal dengan cara sederhana, saling menyapa dan menyebut nama. Sebenarnya, perkenalan yang biasa saja, tetapi larik-larik ini membawa imajinasi pembaca kepada secuil kenangan pertemuan perdana yang manis. Bayangan saya, keduanya bertemu di dunia maya, lalu berlanjut menjadi dua orang yang saling berbagi perasaan. Indah bukan?

Gaya penulisan sajak yang dilakukan oleh Stebby dan Ratna memang boleh dibilang baru dalam dunia perpuisian. Kecuali novel yang sudah jamak ditulis secara duet. Sepanjang saya menghikmati buku-buku puisi, yang banyak saya temui adalah buku puisi antologi dan tunggal seperti yang ditulis penyair dari Jawa Barat, Ratna Ayu Budhiarti (kumpulan puisi Dada yang Terbelah), Trie Utami (Cinta Setahun Penuh), di samping nama lain seperti Dian Hartati (Upacara Bakar Rambut).

Buku setebal 198 halaman ini memuat sajak-sajak yang lahir antara tahun 2011-2014. Keseluruhan ada 88 puisi yang termaktub dalam buku yang dipermanis dengan sketsa sentuhan llustrator Itfan NW dan R. Rahmad Dani ini cukup ringan untuk dikunyah. Pilihan kata yang jauh dari hingar bingar metafora namun digarap dengan dinamis memermudah bagi awam yang ingin menikmati sajak-sajak. Ibaratnya, seperti berada dalam perbincangan bersama sahabat dekat, terasa gayeng dan jujur. Meski tidak dalam satu tempat yang sama.

Ada kala romantis penuh cinta, suatu waktu seperti dalam amarah, dan tak jarang penuh degup rindu. Manusiawi.

(Magenta)

(o)

;iblisku yang baik hati

Dua tahun yang lalu, di tempat ini,

Pernah ada daua jiwa yang begitu benci untuk mencinta.

Sekarang, di tempat yang sama,

Ada dua jiwa yang tak lagi berani mencinta

Lantaran pernah begitu benci.

; “0”

Malang, 20009-2011 (hal.35)

(Biru)

(.)

;malaikatku yang menyeringai keji

Demi nama apa pun di atas bumi,

Mari kita akhiri perang ini

-bersama,

Damai,

Menuju Pulang yang abadi.

Probolinggo, 2011-2013. (hal. 65)

Tidak melulu bicara tentang Biru dan Magenta saja, sajak-sajak ini ada pula yang berbicara tentang orang-orang yang dekat dengan keduanya. Magenta menuliskan rasa bangganya terhadap Ayah melalui puisi berjudul Barangkali Kau Harus Belajar pada Ayahku (hal 163). Sedangkan Biru memuisikan Barangkali Kau Harus Belajar pada Ibuku (hal 165).

Mendedah larik demi larik dalam Biru Magenta seperti menelanjangi hati sudah sejauh kita bisa bersikap jujur. Baik dalam level paling sederhana, seperti jujur tentang perasaan-perasaan diri dan jujur untuk menerima sepenuh hati kenyataan yang kerap tidak seperti angan-angan. Saya lebih suka menyebut bahwa puisi adalah ungkapan isi hati yang paling polos; melepaskan kegalauan, kerinduan, menyatakan cinta mendalam, patah hati dan kekecewaan yang dibungkus dengan penuh kelembutan. Lepas dari kekurangan tanda baca dan penanda antar bagian yang sedikit membingungkan, membaca Biru Magenta seperti tak ingin berhenti. Celoteh rindu, saling memuji dan kasmaran antara Biru dan Magenta meninggalkan jejak misteri dan rahasia hati. Sampai di mana? Seperti apa akhirnya?

Resensi dipublikasikan di Ruang Scripta, Radar Malang, Jawa Pos Grup, Minggu, 16 Agustus 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: