DNC 19 DAN KENANGAN OPA


RAWON. Bayangkan, bagaimana kalau tiba-tiba Anda ngidam rawon? Di siang terik seperti ini, tiba-tiba Anda sangat ingin mencicipi sup berkuah hitam yang lezat dan gurih di lidah. Di Kota Probolinggo ini, di manakah tempat mencarinya? Seperti apa rasanya? Suasananya? Bagaimana tekstur dan percampuran dagingnya? Dan… termasuk juga harganya? Hmmm… mau tahu? Ikuti penelusuran saya kali ini ya. Hehe…

(sumber: DnC 19)

Sepiring Nasi Rawon yang menggoda selera…(sumber: DnC 19)

PROBOLINGGO – Rawon, jika berbicara soal rawon, soal sup berkuah hitam yang terasa lezat dan gurih di lidah karena campuran kluweknya, maka ingatan saya akan senantiasa tertuju pada sosok almarhum kakek saya. Saya memanggilanya Opa. Ya, Opa Cor, kependekan dari nama lengkapnya, Cornelis Kippuw.

Semasa hidup Opa Cor gemar sekali makan rawon. Sepertinya tak ada makanan selain rawon yang ada dalam kamus kuliner beliau. Tak sembarang rawon, rawon langganannya adalah Rawon Gwan Ling (sekarang: Rumah Makan Gunawan). Saya sampai hapal detailnya. Setiap menjemput saya pulang sekolah, terlebih setelah mendapatkan undian SDSB*), Opa Cor selalu mengayuh sepedanya ke pusat kota, makan di warung langganannya itu sebelum mengantar saya pulang. Seperti itulah ritual Opa saya semasa itu. Kenangan yang sungguh sulit dicari penggantinya.

Tapi apakah benar semuanya seperti itu? Berlalu dan tak tergantikan?

Jaman akan senantiasa berganti dan kenangan yang satu akan menggantikan kenangan yang lain.

Saya memang sempat menyangsikan, apakah ada warung yang dapat menggantikan kekhasan rawon milik Gwan Ling di Probolinggo? Ternyata ada. Di DnC 19. Pertama kali saya makan dan menikmati nasi rawon di DnC 19 akhir tahun lalu. Saat itu saya baru selesai menjuri. Saya termakan omongan salah seorang saudara saya yang bilang kalau di DnC 19 rawonnya enak.

Depot n Cafe 19

Depot n Cafe 19

Saya tak mudah percaya. Saya segera mengujinya. Datang ke DNC 19 dan memesan sepiring nasi rawon, buruan saya itu. Segera setelah waitress mengantarkan pesanan saya, saya menyendok penuh menu itu, nasi Rawon khas DnC yang sudah tersaji di hadapan saya. Dan… olala, apa yang dikatakan Kak Titin, saudara saya itu memang benar. Rasa dan tekstur rawon ini benar-benar pas. Tak berlebih. Kaldunya kental namun tidak bikin eneg. Warnanya pekat, sedap sekali. Belum lagi sambalnya yang langsung nendang di lidah. Dasyat! Sebelas-duabelas lah dengan Gwan Ling, langganan Opa saya itu.

Tapi… di sini lebih enak. Enaknya adalah karena harganya lebih terjangkau. Tempatnya teduh, ga panas. Kita bisa makan di tengah-tengah taman sambil mendengar gemercik air atau menikmati siluet yang dihadirkan oleh lampu-lampu taman. Tak hanya itu, pelayanannya pun ramah dan kita juga bisa menikmati beragam menu enak lainnya yang disajikan di sana. Favorit saya adalah Kebab DnC. Well, inilah sekelumit pengalaman kuliner saya. Bagaimana dengan Anda?

Harga seporsi nasi rawon              : Rp. 8.000,-
Harga segelas teh panas                               : Rp. 2.500,-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: