KONTRIBUSI BERSAMA MEMBANGUN KOTA


-Sebuah Catatan Reflektif Redaktur Tabloid Suara Kota

 

Para pembaca Tabloid Suara Kota yang budiman, pada di edisi awal 2015 ini, ijinkanlah saya mengajukan beberapa pertanyaan kontemplatif:

  1. Apa arti Tabloid Suara Kota bagi Anda?
  2. Apa tujuan Anda menjadi kru atau menulis untuk Tabloid Suara Kota?
  3. Mengapa harus ada Tabloid Suara Kota? Masih pentingkah keberadaannya?
  4. Senang, bangga dan bahagiakah Anda menjadi kru Tabloid Suara Kota?
  5. Nilai-nilai positif atau dampak positif apa yang Anda rasakan dalam hidup Anda ketika menjuadi kru Tabloid Suara Kota?
  6. Apa yang menyulitkan Anda dalam berproses bersama Tabloid Suara Kota?
  7. Sudah pantaskah reward yang diberikan Tabloid Suara Kota untuk Anda?
  8. Bagi Anda pribadi, apakah Tabloid Suara Kota telah membawa menjawab kebutuhan informasi pada masyarakat?

*****

Jujur, bagi saya pribadi, Suara Kota –baik radio maupun tabloidnya, telah sedemikian berjasa dan berartinya dalam kehidupan saya. Hal-hal yang tak sepenuhnya bisa dinilai dengan materi semata. Mulai saya masih duduk di taman kanak-kanak (menyanyi di program anak-anak yang ketika itu dipandu oleh Mbak Yuli); menghabiskan masa-masa remaja yang heboh (bersama beberapa teman SMA suka request dan kirim-kirim salam di program acara yang dipandu Mas Iren); diwawancara di radio saat menjadi Kang Kota Probolinggo 2006 dan Duta Koperasi Jawa Timur oleh Mbak Oke; sampai di detik ini, dimana saya berkontribusi aktif, baik sebagai penyiar radio, reporter, penulis berita dan editor di Suara Kota. Luar biasa!

Saya bergabung dengan Suara Kota di pertengahan tahun. Juli 2010, tepatnya. Pada pelaksanaan event tahunan Semipro (Seminggu di Kota Probolinggo). Sampai sekarang, saya masih ingat betapa senang (dan sekaligus groginya) saya saat diminta bergabung dengan Suara Kota, yang saat itu masih berada di bawah Bagian Humas dan Protokol Sekdakot Probolinggo. Saya masih ingat apa tulisan pertama saya yang dimuat di tabloid bulanan beroplah 500 eksemplar per bulannya ini –dan disebarkan di berbagai instansi, sekolah dan juga lembaga yang ada di Kota Probolinggo. (Tulisan pertama saya tentang peran Kang Yuk di Semipro 2010). Sampai detik ini, saya masih bisa merasakan gemetar yang saya rasakan saat melakukan reportase (dan wawancara) pertama saya bersama dengan tampuk pimpinan tertinggi di Kota Mangga ini –yang waktu itu masih dipimpin oleh Pak Buchori. Dan, saya juga masih ingat, dengan bekerja di Suara Kota, draf novel remaja saya, LAN, dengan begitu mudahnya diterima oleh penerbit major. Sebuah cita-cita yang saya impikan sejak saya masih kecil, menjadi penulis.

Kini, di 2015, tak terasa memang, perjalanan saya bersama tabloid yang kini saya asuh dan berada di bawah Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), rupanya telah mencapai lima tahun. (Tiga tahun bersama Humas dan dua tahun bersama Diskominfo.) Usia yang cukup unyu-unyu untuk kisah perjalanan hidup seorang anak manusia. Ada banyak kesan yang menyentuh saya, baik secara personal maupun komunal. Dan itu juga mungkin berlaku bagi Anda, para pembacanya. Ada banyak hal yang memang masih menuntut perbaikan. Dan tentunya, kami terbuka terhadap hal-hal tersebut. Kami, terutama saya, masih butuh banyak saran dan masukan Anda. Apakah Tabloid Suara Kota ini masih tetap dengan beragam menu seperti ini? Ataukah sebaiknya menjadi tabloid yang tematik setiap bulannya?

Beralih ke pertanyaan berikutnya, apa tujuan saya menjadi kru atau menulis bagi Tabloid Suara Kota?

Tak di Suara Kota semata, menulis bagi saya adalah sebuah panggilan. Sebuah tugas dan tanggung jawab untuk berbagi terhadap sesama. Saya terlahir bukan dari keluarga mampu. Sampai detik ini, secara ekonomi, saya juga bukanlah siapa-siapa. Belum menjadi apa-apa. Tapi saya ingin berbagi. Saya ingin seperti mereka yang bisa memberikan sumbangsihnya bagi masyarakat, negara, dan khususnya bagi kota yang saya cintai, dengan apa yang saya punyai. Semoga, talenta ini, sekelumit tulisan yang selama 5 tahun saya bagi bersama tabloid ini, bisa menjadi sumbangsih saya bagi kota ini.

Pentingkah Tabloid Suara Kota? Penting. Sebagai sarana informasi, penyambung lidah dari pemerintah ke masyarakat, dan sebaliknya, keberadaan tabloid ini masih saya rasakan penting. Kenapa? Sebab tak semua orang yang mendiami kota ini, bisa mengakses informasi digital. Ya, tak dipungkiri, pemkot memang sudah punya website, punya radio, punya email, punya akun facebook bahkan twitter, tapi itu semua (saya 100% yakin) pastinya masih belum bisa menyentuh dan menjangkau seluruh anggota lapisan masyarakat. Termasuk juga, alasannya, karena penggunaan media sosial milik pemkot tadi masih kurang maksimal (baca: kurang up to date). Harus diakui, beberapa warga masih mengalami kesulitan serta keterbatasan untuk mengakses informasi yang disebarkan secara digital tadi. Pemerintah masih perlu media yang berbasis literasi murni seperti koran (baca: Tabloid Suara Kota).dan papan informasi.

Senang, bangga dan bahagiakah Anda menjadi kru Tabloid Suara Kota? Senang. Alasannya, saya bisa berinteraksi secara langsung dengan seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari pejabat, sampai warga masyarakat miskin yang rumahnya mengalami kerusakan berat dan mendapat bantuan ‘bedah rumah’. Mulai dari tokoh masyarakat, atlet dan orang-orang berpengaruh bin terkenal di kota ini sampai abang tukang becak yang kebingungan besok mau makan apa, dan uang mana lagi yang akan ia gunakan untuk membayar uang sekolah anaknya. Saya bersyukur untuk semua kesempatan itu. Termasuk ketika saya ditanya mengenai dampak positif apa yang saya rasakan dalam hidup ketika menjuadi kru Tabloid Suara Kota, dengan tegas saya mengatakan, saya bersyukur diberi kesempatan untuk berbagi dan mengolah empati. Sesuatu yang mungkin tidak bisa saya dapatkan dengan mudah jika bekerja di tempat lain.

Soal kesulitan, jujur saya akui, beda rasanya ketika saya hanya menjadi seorang penulis murni (baca: staf redaksi) dengan kini ketika saya dipercaya oleh Pak Aris (Kabag Informasi) untuk mengasuh tabloid ini. Dulu kesulitan saya cuma satu, menemui narasumber. Kini, dengan posisi baru sebagai redaktur, kesulitan saya otomatis bertambah. Sampai detik ini saya masih kesulitan untuk me-manage SDMnya. Dengan posisi saya yang berstatus tenaga harian lepas (THL), siapakah saya yang boleh menyuruh-nyuruh dan memerintah mereka yang sudah PNS? Malasnya dan ketidaktepatan deadline. Belum lagi memutar otak untuk membuat daftar liputan, memeriksa ejaan, sampai menjahit tulisan yang terbilang acak-kadut. Maklumlah, tidak semua mereka, staf redaksi ini, mempunyai latar belakang wartawan dan bisa menulis. Tapi itu tak mengapa, seperti saya bilang tadi, Tabloid Suara Kota adalah lahan bagi saya untuk berbagi –dan bagi kami untuk belajar bersama.

Berbicara soal reward, mungkin saya harus sedikit berhati-hati dan cukup bijak untuk menjawab pertanyaan nomer 7. Sebab pernah, ketika saya mengunggah pertanyaan-pertanyaan seperti ini di FB, ada sebuah komentar yang tidak mengenakkan, yang menautkan antara reward dengan honor yang saya, atau kami, peroleh dari menulis berita di tabloid ini. Ya, reward, bagi saya tak hanya soal rupiah. Ia bukan hanya deretan nol yang tersemat di belakang sebuah angka tertentu, yang diberikan tuan kepada budaknya, atau bos kepada bawahannya, sebagai upah atau uang lelah. Ada hal-hal lain yang lebih berharga yang saya peroleh jika dibandingkan dengan jumlah nominal yang saya dapat dari menulis berita di dalam tabloid ini. Persahabatan, kebanggaan, ilmu; mungkin itu beberapa hal di antaranya. Tapi tentu pendapat tadi tidak salah. Sah saja jika beberapa di antara kita menautkan reward dengan nominal atau sejumlah rupiah. Sebab itulah takaran jamak yang dipakai di dunia. Dan… kalau sudah itu takarannya (baca: rupiah), seberapa pun besarnya honor yang diberikan kepada saya, tentu saya akan berkata, “Tidak cukup. Saya tidak puas.” Apalagi dengan tugas dan tanggung jawab yang sedemikian besar dan dibayar dengan nominal yang sama dengan sekedar penulis berita. Tapi syukurlah, saya bukan mahkluk seperti itu. Saya bukan tipe orang yang bekerja berdasarkan uang semata. Dalam bekerja, saya digerakkan oleh panggilan hidup dan idealisme. Semoga ini dapat selalu dipahami.

Terakhir, saya termasuk orang yang angkuh jika saya menjawab “ya”. Bahwa Tabloid Suara Kota sudah menjawab semua informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kami sadar bahwa kami belumlah sempurna. Untuk itulah, dengan segenap kerendahan hati, ijinkanlah saya sekali lagi menggandeng erat tangan Anda. Bergandengan tangan, berkontribusi dalam membangun kota yang kita cintai bersama ini.

Pembaca Tabloid Suara Kota yang budiman, inilah catatan reflektif saya di sepanjang dua tahun ini. Masing-masing dari kita mungkin akan menjawab dan memaknai beberapa pertanyaan di atas tersebut dengan berbeda. Namun sekali lagi, terima kasih untuk segenap dukungan Anda di tahun-tahun yang mengesankan ini. Tabik.

Probolinggo, 17 Januari 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: