SEMIPRO NAIKKAN PENDAPATAN PKL HINGGA 150%


Berkat Seminggu di Kota Probolinggo (Semipro), pendapatan Pedagang Kaki Lima (PKL) naik hingga 150%, bahkan lebih. Hal ini disampaikan oleh Koordinator PKL, Alifaturohman saat diwawancarai Link Go seminggu setelah helatan Semipro 2014, Sabtu (28/6) lalu.

Alip, panggilan akrab Alifaturohman, mencontohkan Luk, pedagang nasi jagung asal Wonoasih, yang sehari-hari penghasilan kotornya Rp. 500.000,-/hari, lewat Semipro penghasilannya naik menjadi Rp. 1.500.000. Atau Ina, pedagang gorengan asal Wonoasih, yang biasanya juga berpenghasilan Rp. 500.000,- naik menjadi Rp. 2.000.000,-

“Ini data yang ikut pameran di Aloon-Aloon saja lho, Mas. Kalau yang di luar, atau yang keliling, kami tentu kurang bisa memonitor,” jelas Alip.

Alip pun membanta pernyataan yang mengatakan bahwa pelaksanaan Semipro 2014, begitu-begitu saja. Tak ada perbedaan dari tahun-tahun sebelumnya dan cenderung merosot.

“Kalau orang di luar sana, atau pegawai memandang seperti itu, mungkin karena mereka biasa ke luar kota. Tapi kan sampeyan bisa lihat sendiri bagaimana antusiasme masyarakat saat pawai. Kami butuh hiburan, Mas. Dan kalau pedagang seperti kami ini butuh untuk makan. Untuk mengisi perut,” jawab Alip.

Pameran UKM dan PKL yang berlangsung selama 7 hari (14-22/6) dalam pelaksanaan Semipro 2014 diikuti oleh 450 PKL. 350 di antaranya berasal dari dalam kota dan 100 sisanya dari luar kota. Partisipasi ini meningkat dari tahun lalu yang hanya 300 peserta.

“Kami memang sengaja melibatkan PKL dari luar sebagai penarik. Untuk menarik perhatian. Karena jualan mereka pasti beda dengan apa yang rekan-rekan (PKL lokal, red.) jual di sini. Keberadaan mereka pun kami atur, biar tertib. Nggak Semrawut. Biar pelaksanaan Semipro berjalan dengan lancar,” terang pria yang sudah 15 tahun ini berjualan di sepanjang Jalan Panglima Sudirman.

Lagian, masih menurut Alip, yang kami urus bersama rekan-rekan dari Diskopering (Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan, red.) ini kan soal perut. Jadi memang sangat rawan. Tidak mungkin bagi kami melarang-larang pedagang dari luar kota untuk sama sekali tidak berjualan di Semipro. Daripada semrawut, mending difasilitasi dan diatur.

“Yang pasti, kami berterima kasih kepada Pemkot karena dari tahun ke tahun, nasib kami, para pedagang kaki lima, makin diperhatikan. Keluhan-keluhan kami pun didengarkan. Meski memang masih swadaya karena keterbatasan dana, tapi paling tidak kerjasama kami sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Alip.

Kalau tahun-tahun sebelumnya, lanjut Alip, kami, paguyuban PKL yang mengurusi segala sesuatunya sendiri, tapi tahun ini kami dilibatkan dalam kepanitiaan.

Alip mencontohkan, tahun 2012 Pemkot pernah menempatkan para PKL ini di GOR. Kedopok, yang menyebabkan banyak pedagang ditimpa kerugian. Namun setelah dievaluasi, tahun beriktunya PKL kembali ditempatkan di Aloon-Aloon, sampai hari ini.

“Ke depan tentu kami berharap Semipro masih akan selalu ada. Dan uneg-uneg dari pedagang kecil ini semakin diperhatikan. Menciptakan kemakmuran bagi semua masyarakat,” pungkasnya. (tby)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: