BUKAN SOSIALISASI, TAPI MENGALAMI


Oleh: Stebby Julionatan *)

(dimuat di majalah Link-Go, Edisi 5, 2014)

 

“Perjuanganku lebih mudah karena melawan panjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri.” – Bung Karno

Semakin tahun banyak permasalahan bangsa yang menjauhkan generasi muda dari ruh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahwa NKRI (baca: perbedaan yang harus dipersatukan) adalah harga mati. Mulai dari sekularisme, eksklusifitas dalam beragama, modernisme yang berimbas pada liberalisme sampai kepada hal-hal yang membuat kita apatis terhadap sebuah sistem demokrasi, Pemilu.

Ditambah lagi, upaya pemerintah dalam meningkatkan pemahaman akan makna kesatuan dan kebangsaan, rupanya hanya berdiri di awang-awang. Tak menyentuh pada pokok persoalan selama ini. Pada talkshow yang sempat digelar di Suara Kota pada Selasa (13/5) lalu misalnya, para narasumber yang berasal dari eksekutif mengatakan bahwa untuk meningkatkan wawasan kebangsaan generasi muda, yang mereka lakukan adalah sosialisasi yang terintegrasi dalam upacara, pelajaran kewarganegaraan, agama dan pendidikan karakter.

Saya lebih sepakat apa yang dikatakan Pandji Pragiwaksono dalam Nasional.is.me, bahwa pengalaman dan pengetahuan yang mendalam akan Indonesia juga turut membentuk kecintaan kita tentang Indonesia. Bagaimana bisa dibilang mencintai (atau bisa juga membenci) Indonesia kalau yang kita ketahui tentang Indonesia hanya sebatas kota kita sendiri, Probolinggo. Kita tidak pernah pergi ke tempat-tempat lain di Indonesia yang membuat kita belajar mengenai perbedaan dan kebhinekaan yang dimiliki oleh Indonesia.

Dan memang, saya akui, saya punya pengalaman pribadi akan hal itu.

Saya lahir dan menamatkan jenjang SMA saya ketika rezim Orde Baru berkuasa. Di sekolah, dari SD sampai SMA, saya kenyang akan hapalan Pancasila dan UUD 45 –termasuk butir-butir dan pasal-pasalnya. Terlebih, di setiap jenjang saat menjadi siswa baru, saya mengikuti Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, pen). Saya rajin upacara bahkan beberapa kali ditunjuk sebagai petugas upacara. Saya beragama dan tidak pernah alpa mengikuti pelajaran agama. Tapi, apakah nasionalsime saya bertumbuh ketika itu? Tidak. Bahkan saat itu, kalau boleh jujur, memakai baju batik pun saya merasa sangat malu. Nggak gaul, kayak orang-orang tua, ujar batin saya.

Rasa nasionalisme saya justru tumbuh ketika saya harus mengalami. Meski boleh dikatakan tuntutan, saya harus menjalani dan menyelami sendiri kecintaan saya pada negeri ini. Bermula ketika saya berkesempatan menjadi duta wisata kota ini pada tahun 2006. Saya dituntut untuk lebih banyak tahu mengenai kota ini. Mulai dari latar belakang sejarah, kemajemukan etnis dan budayanya, sistem pemerintahannya, pertumbuhan ekonominya, kehidupan sosial masyarakatnya. Termasuk pengenalan akan potensi wisata.

Dengan kenal, maka saya jadi cinta. Terlebih ketika saya dikirim sebagai perwakilan Jawa Timur untuk mengikuti Jambore Pemuda Indonesia (JPI) pada medio 2008 dan “dibuang” ke Atambua, NTT.

Di sanalah pengalaman dan kecintaan saya pada negeri ini semakin bertambah. Ketika kita benar-benar dituntut untuk menyelami kebhinekaan. Tinggal selama 3 bulan bersama keluarga suku Tetun. Sejak saat itu, boleh dikata, saya bisa menangis kalau mendengar lagu Indonesia Raya. Sesuatu yang dulu di awang-awang kini melekat kuat dalam sanubari saya.

Bukan sosialisasi, tapi implementasi. Sebuah pengalaman “mengalami”.

Saya sadar bahwa tidak setiap pemuda diberi kesempatan untuk merasakan pengalaman seperti apa yang saya rasakan, tapi saya berharap pemerintah melalui perpanjangan tangannya (apakah itu Bakesbangpol dan Linmas, Dispobpar atau Dinas Pendidikan) dapat memberikan pengalaman yang langsung menyentuh nasionalisme para pemuda lewat kegiatan yang bakal mengasah pengalaman mereka untuk berinteraksi dengan keberagaman.

Ijinkanlah saya kembali menyentuh pengalaman Pandji selama ia bersekolah di SMA Gonzaga. Dimana Pandji mendapat pengalaman nasionalismenya.Terlebih ketika di kelas tiga Pandji melakukan study tour ke Desa Sumberejo Lampung Utara. Hidup di tengah keluarga sederhana yang masih buang air di “lubang” dan mandi di sungai. Di titik yang mengejutkan itu dirinya menyadari bahwa Indonesia tak hanya Jawa. Dan kesahajaan Pak Sudiro, orang tua asuhnya selama tiga bulan tinggal di sana, mengajarkan Pandji memahami bahwa solidaritas muncul dari kebersamaan.

Ini mengingatkan saya pada pengalaman sejenis yang dituliskan oleh anak-anak kaum berada di SMA Kolose De Brito Yogyakarta dalam bukunya Tapal Batas: A Journey to Powerful Breakthrough, dimana mereka harus menjalani live-in, bekerja sosial selama 4 hari sebagai salah satu syarat sekolahnya untuk belajar “mengalami” dan “menyelami” kehidupan orang lain.

Apakah hal ini hanya bisa diwujudkan oleh pribadi, para pemikir dan sekolah-sekolah? Tak bisakah pemerintah menjembatinya dengan program-program atau kebijakan yang ada?

Kalau cara “mengalami” tersebut dianggap terlalu besar menghabiskan anggaran pemerintah yang ada, maka menurut saya, cara lain yang bisa dilakukan pemerintah adalah lewat budaya. Lewat jalur-jalur kebudayaan, seperti pengenalan budaya dan pembelajaran budaya. Bukankah itu yang semula saya alami? Dimana saya dituntut untuk terlebih dahulu mengenali dan mencintai budaya saya, budaya kota saya. Dekatkanlah para pemuda ini dengan kebudayaan, sebab saya yakin, orang yang berbudaya pastilah orang yang menghargai perbedaan. Orang yang “adem”. Orang yang tidak mudah termakan dengan –isme-isme yang sudah saya sebutkan di atas, yang senantiasa saiap mengganyang nasionalisme kita. Ya, dengan memahami budaya, sebagai manusia kita akan senantiasa diperhadapkan pada perbedaan dan mengakui perbedaaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita.

Ya, pemuda yang memahami budaya tidak akan mengambil jalur tawuran dan berteriak-teriak di jalanan. Mereka akan cenderung memilih jalur yang lebih santun, lebih terhormat untuk menunjukkan aksi atau protes sosial.

Kembali pada kata-kata Bung Karno yang sempat saya tulis sebagai pembuka artikel, bahwa perjuangan kita akan lebih berat karena saat ini kita berperang melawan saudara sendiri, bangsa kita sendiri, yang senantisa mendoktrinkan bahwa bersama adalah menjadi satu, bukan bersatu, maka selayaknyalah kita memahami kontrak politik kita sebagai warga seperti yang tertuang pada lagu nasional Indonesia Pusaka: Indonesia tanah air Beta / Pusaka abadi nan jaya. Menjadikan tanah air ini sebagai harta pusaka, harta warisan yang bukan untuk saling diperebutkan dan habis dibagi-bagi, tetapi harta pusaka atau warisan yang harus kita abadikan dan jayakan.

 

*) Stebby Julionatan, penulis, pendiri Komunitas Menulis (Komunlis). Dapat disapa melalui twitter @sjulionatan atau email sjulionatan@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: