POD, TAK SEKEDAR WADAH BAGI PECINTA GUNPLA


Bagi pecinta Gunpla (Gundam Plastic model), kini Anda tak perlu merasa menjadi orang ‘aneh’ bin terasing lagi untuk menggeluti hobi yang masih tergolong nyeleneh dan juga langkah bagi warga Kota Mangga. Sebab, sejak September 2013 lalu, Erfiant Rahmat (25) dan Angga Bagus U. (25), dua pemuda yang sudah berteman lama sejak bangku SD ini, gigih untuk menyebarkan virus asal Negeri Sakura tersebut agar bisa juga diterima oleh masyarakat.

POD (Probolinggo Otaku Lover) adalah sebuah komunitas yang digagas oleh kedua pemuda ini untuk menyalurkan hobi dan kesukaan mereka, juga para pemuda lain di Kota Probolinggo lainnya, pada budaya Jepang. Mulai dari animasi, musik, film, asesoris, koleksi, termasuk gunpla.

Malam (3/5) itu, sekitar pukul 07.00 WIB, kami bertemu di Radio Suara Kota, Jl. Suroyo 17 Probolinggo. Erfiant mengajak juniornya, Bryan Pandu, siswa kelas XI di SMAN 2 Probolinggo, untuk menemui kami, awak Link-Go, di lokasi yang di kesetiap malamnya selalu ramai sebagai tempat jujugan semua komunitas yang ada di Kota Angin ini.

“Ini bukan mainan, tapi colecting hobby,” ujar Erfiant saat memulai wawancaranya, membenarkan Link-Go yang selalu menyebut gunpla sebagai mainan. “Sebab kalau mainan tidak mungkin di box-nya tertulis ‘untuk 15 tahun ke atas’ dan harganya pun selangit.”

“Membuatnya pun dibutuhkan ketelitian, kesabaran dan waktu yang tak hanya sehari untuk model-model yang rumit,” imbuhnya kemudian.

Pria yang juga berprofesi sebagai tenaga pengajar Bahasa Inggris di sebuah madrasah dan lembaga pendidikan ini juga menuturkan kepada Link-Go bagaimana kecintaannya pada gunpla ini bermula. Dimulai dari ketertarikannya pada serial Gundam yang pada era 1995-1996 menyerbu Tanah Air, lalu beralih kepada game di awal tahun 2000 dan akhirnya pada seni merakit karakter Gundam tersebut di tahun 2010.

Apa tidak ada yang menganggap aneh? “Awalnya, iya. Banyak. Termasuk mantan tunangan saya yang menganggap bahwa ini hanya sekedar mainan,” kenang Erfiant.

“Gunpla sendiri terdiri atas beberapa type,” lanjut Erfiat menerangkan. Kembali fokus pada apa yang jadi topik Link-Go di awal pembicaraan mereka. Sambil menerangkan, mereka –Erfiant dan Bryan, juga menunjukkan satu per satu koleksi gunpla berdasarkan keterangan yang mereka berikan.

Yang pertama adalah seri SD (Super Deformed). Cirinya unyu, dengan komposisi kepala yang cenderung lebih besar dari komposisi badannya. Artikulasi atau pergerakan terbatas.

Selanjutnya seri HG (High Grade). Bentuk sudah tidak unyu dan sudah memiliki beberapa artikulasi tambahan meski masih juga terbatas. Dengan skala 1/144 dari ukuran asli Gundam yang ada di Obaida, Japan sana. Tinggi sekitar 10 cm, dan untuk pemula, waktu merakitnya berkisar antara 5-7 jam.

Seri RG (Real Grade). Skala 1/144 dengan detail seperti satu seri di atasnya, Master Grade (MG).

Seri MG, memiliki skala 1/100. Lebih detail. Artikulasi lebih menunjang karena seperti rangka tubuh, MG memiliki inner dan outter frame. Dan Erfiant mengaku menghabiskan waktu selama 3 hari hanya untuk merangkai seri yang seperti ini.

Seri PG (Perfect Grade). Skala 1/60. Lebih besar dan lebih detail. Tingginya mencapai 30 cm. Dan yang ini harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

Sedikit berkisah soal perkenalan kedua narasumber Komunitas untuk Link-Go edisi kali ini, Bryan sendiri mengenal Erfiant melalui dunia maya. Kecintaannya pada karakter-karakter jepang seperti Ultraman dan Kamen Rider (Ksatrian Baja Hitam, red.) yang dimulai sejak Bryan kelas VIII membuatnya mendaftar ke sebuah grup di dunia maya bertajuk Gundam Indonesia. Di sanalah dia mengenal seniornya, Erfiant, pada Agustus 2013, dan berlanjut ke acara kopi darat sesama penggemar gunpla. Dan di bulan yang sama dengan pendirian POL (September 2013), Erfian mengajak Bryan untuk mengikuti gelar Japan Cultur Daisuki yang diselenggarakan di Malang. Di tahun itu, kegiatan tahunan bagi para pecinta budaya Jepang tersebut, mengambil lokasi di SMA Negeri 8 Malang.

Kini, dimulai beberapa Minggu sejak pendirian POL, Erfiant dan Bryan memanfaatkan Pasar Minggu untuk mengenalkan komunitas mereka.

“Biar ga’ salah sangka. Biar lebih banyak lagi yang tahu soal gunpla. Memiliki pemahaman yang benar. Ada lho, anak yang masih kelas 4 SD sudah pandai merakit seri MG. Cewek lagi. Pertama ia dan ayahnya datang ke stan kami karena dikira kami menjual mainan. Menjual robot-robotan. Meskipun salah sangka, toh akhirnya mereka pun membeli juga gunpla seri MG karena melihat gambar di kotaknya yang bagus,” jelas Erfiant.

“Ada juga cewek, teman saya sendiri. Namanya Anisa. Anak SMP 2,” imbuh Bryan tak mau kalah saat menyebutkan para ‘kaum hawa’ yang juga pecinta kesenian merakit karakter Gundam asal Negeri Sakura ini.

Menyiasati harga gumpla yang tergolong mahal, Erfiant dan Bryan menyarankan untuk membeli gunpla pada re-seller yang resmi. Bisa melalui mereka atau secara online via internet. “Sebab kalau sudah masuk Kid Station (toko mainan, red.) harga yang biasanya cuma Rp. 500.000,-, bisa jadi Rp. 900.000,-“ terang Bryan, pemuda yang pernah memenangkan lomba blog (Go Blog) Diskominfo pada 2013 lalu itu penuh semangat.

Kenapa kok tidak mengembangkan kebudayaan Indonesia saja? Menjawab hal tersebut mereka memilih jalur yang berbeda. Erfiant menjawab karena dirinya sudah bosan dengan budaya Indonesia yang nyaris penuh oleh KKN (Korupsi, Kolusi dan Neopotisme, red.) sedang Bryan lebih memandang pada kosarasa hobi dan kegemaran belaka. “KKN itu budaya, lho. Jangan salah,” tegas Erfiant.

“Ini sekedar hobi dan kegemaran. Tanpa bermaksud untuk memandang sebelah mata pada kebudayaan Indonesia, saya tertarik pada hobi ini karena saya rasa hobi ini cukup menantang. Butuh kesabaran dan ketelatenan ekstra. Dan ini sangat positif untuk membentuk karakter pribadi,” ungkap Bryan yang mengatakan bahwa dirinya juga saat ini sedang tertarik untuk mendalami gamelan.

“Sebenarnya yang bikin lebih malu itu bukan orang yang tidak mencintai budayanya, tapi orang-orang yang tidak bisa menempatkan dirinya dengan tepat. Contohnya penggemar gunpla sendiri, atau penggemar Japanese culture, ada lho yang berlaku bahwa budaya Jepang itu paling T.O.P, di atas segalanya. Kami menyebutnya weaboo, orang yang berlagak Jepang tapi ga tau diri.” sambung Erfiant.

Kini, secara maya jumlah anggota POL sudah mencapai 2000 orang. “Sekali lagi, POL bukan hanya tempat bagi pecinta gunpla. Silahkan bagi siapa saja, para pecinta budaya Jepang yang lainnya, seperti animasi, musik, film, asesoris, koleksi untuk bisa bergabung ke POL,” ajak mereka mengakhiri wawancaranya dengan Link-Go. (tby)

Advertisements

2 Responses to “POD, TAK SEKEDAR WADAH BAGI PECINTA GUNPLA”

  1. kakak ini jual gunpla atau comunitas?n dimana ni?

  2. Mas,msh aktif komunitasnya ini? Klo boleh tau ada fanpage atau jdwal gathering gt? Kebetulan sya org probolinggo jg,otaku+gunpla builder jg,redpon ya mas,tq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: