JADI PETANI BERDASI DENGAN HIDROPONIK


Kesehatan sudah menjadi gaya hidup. Maka tak heran kalau masyarakat kini cenderung untuk mengkonsumsi sayuran organik yang lebih menjanjikan kesehatan dan terbukti aman untuk dikonsumsi.Terlebih, dewasa ini tanaman organik menjadi lebih mudah untuk dibudidayakan dengan sistem hidroponik.


 

disperta

Senin (3/3) siang, Link-Go memenuhi undangan Kepala Dinas Pertanian Kota Probolinggo, Yudha Sunantya untuk turut ambil bagian dalam kegiatan panen perdana sayuran organik (baca: sawi) yang baru sekitar tiga bulan ini digagas oleh Dinas Pertanian (Disperta).

Begitu bertemu Link-Go, Yudha langsung mengajak kamimenuju ke sebuah screen house yang terletak di halaman belakang kantor Disperta. Lokasi yang dikenal dengan istilah Kebun Wisata Studi Pertanian (KWSP), tempat di mana tanaman organik tersebut dibudidayakan. Sampai di lokasi, tampak beberapa petugas yang rupanya telah menanti kehadiran kami. Fitriawati, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura, juga tampak diantara beberapa orang yang menyambut kehadiran Link Go di tempat itu.

Berbeda dengan petani pada umumnya, penamilan para petugas tuai yang Link-Go jumpai kala itu tidaklah lusuh dan kotor. Malah mereka cenderung necis dan rapi. Dengan masih mengenakan pakaian kerja, bersama kami, Yudha Sunantya dan para petugas tersebut memanen (baca: mencabuti) tanaman sawi untuk dilepaskan dari media tanamnya.

“Syarat sayuran organik untuk masuk pasar adalah: kualitas, kontinuitas dan kuantitas,” ujar Yudha di sela-sela kegiatan memanen.

Dalam artian, lanjut Yudha, kalau tanaman ini nantinya diniatkan untuk benar-benar dibudidayakan maka ia harus memenuhi tiga kriteria tersebut. Tanaman tersebut kualitasnya harus baik; harus kontinyu, bukan hanya sekali panen besar terus tidak ada lagi komoditasnya; dan tentunya secara jumlah atau kuantitas harus banyak. Agar dapat memenuhi permintaan pasar.

Screen house tempat kami memanen sawi siang itu sebenarnya cukup sederhana. Sebuah teknologi yang bisa diterapkan dan ditiru siapa saja. Dengan luas 3 x 18 meter persegi, screen house tersebut menampung 4 lajur 30 lembar sterofoam. Dimana, pada masing-masing lembar sterofoam, terdapat 50 lubang sebagai tempat pembiakan tanaman hidroponik tersebut.

“Untuk pembiakannya sampai panen, diperlukan waktu 5 hari. Mulai dari 5 hari masa persemaian dan 25 hari untuk masa pertumbuhan di arel hidroponik,” ungkap Aries Rachmanto, Kasi Produksi dan Penyuluhan Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH), yang juga menemani Link-Go siang itu.

“Bertani secara hidroponik ini enak lho. Seperti yang sampean lihat sendiri, kalau bertani dengan menerapkan sistem ini, maka petani ga perlu kotor-kotor dalam mengolah lahan. Mereka bisa bertani meskipun berdasi dan mengenakan stelan lengkap. Trus, keunggulan lainnya adalah masa panennya lebih cepat. Kalau untuk sawi, dari yang bisasanya butuh waktu tiga bulan, dengan sistem ini masa panennya bisa dipangkas jadi 60 hari saja. Yang jelas keuntungannya jadi lebih besar kan?” ujar Aries dengan pertanyaan retoris.

Masih menurut Aries, modal yang diperlukan juga tidak besar. Karena memang diperuntukkan bagi masyarakat perkotaan, maka pertanian hidroponik tidak membutuhkan lahan yang luas. Tidak perluh memiliki lahan yang berhektar-hektar. Cukup 3 x 18 meter persegi saja. Untuk membangun screen house seperti milik Disperta, petani hanya membutuhkan dana sekitar Rp. 90 juta sebagai modal awal. Ini jelas lebih efisien kalau dibandingkan dengan harus harus membeli lahan, membayar tukang atau buruh tani, membeli pestisida atau obat anti hama tanaman dan juga waktu yang dihabiskan untuk menggarap lahan.

“Hidroponik bisa dilakukan sendiri. Tak perlu tukang. Memang sih, aliran air tidak boleh terhenti. Jadi memakan listrik. Tapi tetap, bertani secara hidroponik lebih memberikan keuntungan ketimbang dengan cara konvensional. Apalagi hidroponik sangat mudah dilakukan jika diterapkan secara benar.”

Dalam penerapan sistem pertanian secara hidroponik, hanya dibutuhkan 2 drum untuk melarutkan zat-zat yang dibutuhkan oleh tanaman. Dengan mekanisme, masing masing drum berisi 60 liter air. Dimana drum pertama berisi larutan HCl 7,2 kg, KNO3 4,7 kg dan Fe 200 gram. Sedang drum kedua diisi dengan NKP 1,25 kg, MgSO4 2,4 kg dan Mn 0,38 gram. Setelah homogen (masing-masing larutan tersebut tercampur dengan baik) maka kedua larutan tersebut baru bisa disatukan dan dialirkan pada tanaman.

“Kedua larutan dalam drum tersebut tiga hari sekali harus diaduk. Agar tidak terjadi koagulan atau pengendapan. Sebab kalau terjadi pengendapan, dampaknya tanaman akan kuning. Sawi kami sempat menguning di percobaan pertama,” imbuh Fitri.

Meski kecil, keseluruhan hasil panen Disperta siang itu mencapai 240 kg (2 kg / sterofoam). Dengan harga jual Rp. 5000,- / 250 gram, maka penghasilan kotor yang didapat senilai Rp. 4.800.000,- dalam sekali panen. “Jika dikalkulasi, itung-itungan kotornya, dengan sistem ini modal awal yang dikeluarkan petani akan kembali setelah 2 tahun. Itupun bisa lebih cepat lagi kalau tanaman organik yang ditanam dengan menggunakan sistem hidroponik adalah tanaman yang memiliki nilai jual tinggi, seperti paprika dan selada.

Teknologi yang baru dipelajari oleh Disperta dari Hidro Kusuma Batu, Malang ini diharapkan nantinya bisa diterapkan masyarakat untuk pemanfaatan lahan kosong di sekitar rumah dan menciptakan lahan penelitian pangan berkelanjutan. Jadi, masihkah Anda ragu untuk beralih menjadi petani hidroponik? (tby)

Advertisements

One Response to “JADI PETANI BERDASI DENGAN HIDROPONIK”

  1. Untuk menghasilkan keuntungan lbh besar, tanam tanaman apa ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: