MPS2 MASIH PRO RAKYAT


Boleh jadi omzet rata-rata gelaran Morning on Panglima Sudirman Street (MPS2) tahun ini merosot tajam jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, namun rupanya gelaran ini masih sangat diminati dan diharapkan kehadirannya oleh warga Kota Probolinggo, termasuk para PKL yang memang sangat menikmati keuntungan dari gelaran yang hadir tiga bulan sekali ini.

“Tahun lalu, omzet rata-rata MPS2 mencapai Rp. 334.526.125,-. Namun di tahun ini, besarannya hanya Rp. 182.922.000.-,” ujar Yoga Adetya, staf Data dan Litbang, Bappeda Kota Probolinggo saat ditemui Link-Go, Senin (25/11) lalu, di ruang kerjanya.

Tapi kalau dilihat di sini, lanjut Yoga sambil menunjukkan Data Rekapitulasi MPS di laptop-nya, keikutsertaan UMKM dan PKL terus meningkat dari Episode 1 ke Episode 4.

Tampak pada layar yang ditunjukkan Yoga, helatan MPS2 Episode 1 tahun 2013 diikuti oleh 108 PKL, Episode 2 oleh 121 PKL, Episode 3 oleh 120 PKL dan terakhir, Episode 4 diikuti oleh 130 PKL.

“Waktu jaman pak Aman (Aman Suryaman, sekarang Kabid Telematika Diskominfo, red.) sempat dilakukan survey. UMKM dan PKL malah mintanya  sebulan sekali,” terang Yoga.

Tak langsung bersetuju dengan apa yang diungkapkan Yoga, di hari yang sama, Link-Go pun menghubungi Alifurochman, Ketua PKL Kota Probolinggo dan menanyakan kepadanya bagaimana tanggapan para PKL mengenai program MPS2.

“Sangat. PKL sangat mendukung gelaran MPS2, Mas,” jawab Alif saat Link-Go bertanya seputar dukungan para PKL terhadap keberlanjutan program MPS2.

Setiap helatan MPS2, masih menurut Alif, dagangan PKL laku 3 kali lipat dibandingkah hari-hari biasanya. Istilahnya MPS2 ini adalah benar-benar kegiatan yang pro rakyat. Benar-benar meningkatkan perekonomian rakyat kecil. Tak hanya itu saja, tiap gelaran MPS Pemerintah kan menyediakan sembako murah dan gratis bagi warga yang kurang mampu. Bagi kami, ini adalah bentuk kepedulian pemerintah terhadap wong cilik,” jelas Alif panjang lebar.

Disinggung mengenai tanggapan PKL di luar Kota Probolinggo, Alif juga menjelaskan bahwa MPS2 menjadi jujugan studi banding bagi PKL-PKL yang ada di luar kota.

“Dari kabupaten (Kabupaten Probolinggo, red.), Lumajang, Jember, Situbondo pernah datang kemari dan berharap ada kegiatan yang serupa di kotanya. Bahkan seperti Pasuruan, sempat membuat kegiatan serupa, namun belum berhasil. Hal ini butuh komitmen yang kuat dari kedua belah pihak. Baik masyarakat maupun pemerintah,” terang pria yang lahir di Probolinggo pada 25 Agustus 1968. (tby)

Radio on The Street

Ada yang berbeda pada pelaksanaan Morning on Panglima Sudirman Street (MPS2), Minggu (17/11) lalu. Dalam event triwulanan yang dihelat Pemkot Probolinggo itu, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) menghadirkan Radio on The Street. Tujuannya, untuk mendekatkan radio kesayangan masyarakat Kota Mangga ini pada pendengarnya.

“Selama ini masyarakat kan hanya mendengarkan suaranya saja. Nah, lewat MPS2 ini, kami ingin masyarakat bisa melihat secara langsung bagaimana ekspresi Oke atau Yuli ketika mereka siaran di dalam studio. Bagaimana seru dan keruwetan yang mereka alami. Pokoknya langsung, penyiar sak studio-studionya kami usung ke jalan,” ujar Rey Suwigtyo, Kepala Diskominfo Kota Probolinggo kepada Link-Go.

Kontan, terobosan Diskominfo tersebut diminati oleh para pengunjung MPS2. Sejak pagi, sekitar pukul 05.30 WIB, mereka berkumpul di depan stand hanya untuk memenuhi rasa penasaran akan para penyiar dan reporter Suara Kota yang selama ini hanya bisa didengar suaranya lewat radio. Apalagi, di stand bernomor 59-62 milik Diskominfo dimeriahkan juga oleh Pro PC dan Kang Yuk Kota Probolinggo dalam Probolinggo 1000 Senyum, serta fashion show Adi Management.

Bertema Menselaraskan dan Mendayagunakan Pembangunan dengan Peningkatan Pelayanan pendidikan, Percepatan Penanggulangan Kemiskinan dan Pengangguran Berbasis Ekonomi Kreatif-Produktif Menuju Kota Probolinggo yang Berkelanjutan, MPS2 episode 4 tahun 2013 diikuti oleh 276 stand. Yang terdiri dari 48 stand SKPD, 78 stand dari dunia usaha, industri, organisasi masyarakat (ormas) dan partai politik (parpol) serta 150 stand dari PKL.

Dalam sambutannya, Walikota Probolinggo, HM. Buchori, SH. M.Si. menjamin bahwa event yang mengangkat kualitas lokal masyarat ini tidak akan dihapus pada masa pemerintahan istrinya, Hj. Rukmini Buchori.

“Malah nanti akan ditambah dengan gelaran seni dan budaya daerah untuk rakyat. Di simpul-simpul perempatan, setiap akhir pekan, nanti akan dihadirkan keroncong, campur sari, klonengan dan juga musik jalanan yang tujuannya untuk melestarikan kesenian rakyat. Dari rakyat dan untuk rakyat,” tegas Walikota Buchori dalam sambutannya.

Seperti diketahui, gelaran MPS2 memiliki 4 tujuan penting, di antaranya: sebagai salah satu objek tujuan wisata, meningkatkan laju perekonomian masyarakat, menstimulus perkembangan usaha kecil dan menengah, serta membantu masyarakat kurang mampu melalui bantuan sembako gratis.

Tak lupa, di akhir sambutannya, Walikota Buchori juga menyampaikan rasa terima kasih dan kegembiraannya kepada seluruh warga masyarakat karena Kota Probolinggo kembali meraih prestasi nasional untuk Kota Sehat dan Keciptakaryaan. (tby)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: