EMBRAN NAWAWI BERI EDUKASI BATIK LEWAT SUARA KOTA


Terkait peringatan Hari Batik Nasional, Minggu (6/10) lalu, Radio Suara Kota Probolinggo menghadirkan talkshow bersama Embran Nawawi, salah seorang desinger batik yang juga pengasuh rubrik Police Fashion di jawa Pos Minggu. Acara yang digawangi oleh Stebby Julionatan tersebut banyak berbicara tentang kegalauan dan apa yang ingin dilakukan Embran pada dunia batik saat ini.

“Dari semua cerita dan sejarah tentang batik yang simpang siur dan kemudian menjadi kisruh oleh hak kepemilikannya. Akhirnya United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (UNESCO) memberikan pengakuan dan mengesahkan secara resmi Batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia (World Heritage) pada tanggal 2 Oktober 2009 dan tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Batik,” tutur Embran saat membuka dialognya.

Kegembiraan ini, masih menurut Embran, menjadi kesemarakan yang disambut oleh setiap kalangan tanpa ada batasan usia, jenis kelamin bahkan strata sosial dan ekonomi.  Hingga diresmikannya untuk berbusana batik pada hari kerja Jumat dan Sabtu. Hal ini membuka peluang besar bagi pengrajin batik yang ada di pulau jawa, kemudian diikuti daerah lain diluar pulau jawa yang mendeklarasikan batik daerah nya masing masing. Dan ini menjadi ajang bisnis besar oleh para pelaku fashion dan industri tekstil secara luas.

“Tapi hal itu bukan tanpa tantangan lho. Bukan membuat lantas melipat tangan, bahkan berpangku tangan dan berleha-leha. Pengakuan itu diberikan bukan tanpa batas waktu. UNESCO memberikan kita batas waktu 5 tahun untuk membuktikannya, apakah kita layak atau tidak dengan predikat tersebut, yang nantinya akan direview kembali,” lanjut pemilik alumnus STSI Bandung ini.

Setelah memasuki tahun ke 4 diresmikannya batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia, menurut Embran, ternyata efek dari euphoria tersebut menimbulkan masalah yang tidak bisa disepelekan, seperti: minimnya pemahaman tentang sejarah dan tehnik batik, persaingan batik dengan kain printing bermotif batik, pergeseran nilai dan budaya batik yang hampir tanpa arah sehingga mengakibatkan kehilangan kebangaan dan penghargaan terhadap batik.

“Misalnya saya pernah menghadiri sebuah acara pernikahan dan melihat seseorang memakai batik motif Parang Kusumo. Secara filosofi itu nggak ilok. Tidak pantas. Karena parang itu kan senjata tajam. Artinya ngajak perang. Ia lebih cocok digunakan oleh seorang penguasa untuk menghadiri sebuah acara perjamuan, untuk menanamkan kewibawaan. Ketika saya hampiri dan bertanya, ternyata dia asal membeli saja karena suka motifnya tanpa tahu filosofi di balik itu,” ujar Embran memberikan contoh mengenai pemahaman nilai dan budaya batik.

“Contoh lainnya lagi, batik Mega Mendung. Seharusnya motif awan mengaharah horisontal tetapi banyak yang dibuat ke dalam baju mengarahnya vertikal. Sekali lagi tanpa mereka (para penjahit, red.) mengetahui filosofinya terlebih dahulu,” terang pria kelahiran 5 Juli 1971 ini, kemudian.

Dan tentu saja semua penuturan Embran sore itu, membuat Stebby lantas manggut-manggut dan geleng-geleng kepala sendiri. “Dibalik wujud selembar kain batik ternyata terkandung sebuah makna dan filosofi yang begitu tinggi ya, Mas?” Ujar Stebby terheran-heran.  “Hebat sekali berarti warisan budaya adi luhung Indonesia itu,” lanjut Stebby.

“Nah ini yang harus kita benarkan. Kita harus mulai kembali memperhatikan visi dan misi UNESCO mengangkat batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Saya kurang sepakat dengan kata warisan itu. Sebab, menurut saya, kalau yang namanya warisan itu berarti harus dibagi-bagi. Ada perebutan dan pertikaian di sana. Saya lebih setuju kalau batik adalah sebuah budaya yang harus dilestarikan, dikembangkan dan diolah untuk menjadi budaya masa depan,” sahut Embran.

“Kalau kita kurang peduli, banyak negara yang mengincar sebutan itu. Negara-negara yang satu rumpun dengan kita, seperti Malaysia atau Kamboja. Belum lagi negara-negara di Afrika yang memang sudah memiliki keberagaman dalam motif,”  terang pria yang baru saja meluncurkan program bertajuk Delicious Batik ini.

Lantas apa yang berlu kita lakukan? Apa yang harus dilakukan para perajin batik Probolinggo agar dapat menjadikan batiknya sebagai budaya masa depan?

Dalam kesempatan wawancara tersebut Embran memberikan 4 kunci utama Untuk menjadikan batik sebagai budaya masa depan, di antaranya: pemahaman atas sejarah, penghargaan atas asal batik dan keasliannya, pengembangan batik secara teknik atau estetika sebagai penguatan identitas dan pengolahan secara maksimal terhadap kebutuhan dan fungsi batik terhadap dunia fashion dunia.

“Intinya jangan tepatok pada diri kita. Setiap perajin boleh punya idealisme. Tapi bagaimana idealisme itu bisa diterima oleh khalayak, itu yang harus kita pikirkan bersama,” pungkas Embran mengakhiri wawancaranya sore itu. (tby)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: