MENJADI BIJAK LEWAT PERENUNGAN MAKNA PERJALANAN


Judul Buku                : TITIK NOL, MAKNA SEBUAH PERJALANAN
Jenis                           : Catatan Perjalanan
Penulis                       : Agustinus Wibowo
Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                     : Kedua, Maret 2013
Tebal                          : xi + 552 halaman
ISBN                          : 978-979-22-9271-8
Peresensi                   : Stebby Julionatan *)

 

Apa makna perjalanan bagi Anda? Mengunjungi tempat-tempat baru? Pamer foto atau cerita kalau Anda sudah pernah kesana? Menambah koleksi stempel pada paspor? Atau sekedar rekreasi saja, memanjakan diri dengan menikmati keindahan alam atau daerah-daerah yang eksotis, berikut kelezatan kulinernya dan menggerutu jika perjalanan tersebut tidaklah sesuai dengan yang Anda inginkan?

Tapi… pernahkah Anda –atau saya, benar-benar memaknai sebuah “perjalanan”? Dan apa perbedaannya dengan wisata? Dengan melancong? Apakah mereka sama? Atau justru sangat jauh berbeda?

wif. Agustinus Wibowo

wif. Agustinus Wibowo

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang dicoba dipaparkan, direnungkan dan dijawab oleh Agustinus Wibowo dalam buku catatan perjalanan terbarunya, Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan.

Perjalanan dan Wisata. Terkadang kita memang acapkali terjebak pada dua pengertian itu. Dua pengertian yang sangat intim laksana sepasang saudara kembar. Saling bersinggungan, melebur dan saling mengakrabi satu sama lain. Namun, pada titik yang sama, keduanya bisa saja menempati dua kutub yang berbeda. Mengancam, berseberangan dan saling memangsa.

Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan mengajak kita untuk menghayati keduanya. Dua orang saudara kembar yang tampaknya harmonis di luar, tapi (rupanya) saling memakan satu sama lain. Tak heran kalau Agustinus menyebutnya sebagai “penjajahan”:

Penjelajahan dan penjajahan. Bukan sekedar kebetulan linguistik semata kalau kedua kata ini bermiripan…. (hal. 181). Bukan kebetulan pula, kedua kata ini dalam kamus bahasa Indonesia adalah sinonim. Kita, yang dengan bangga menyebut diri sebagai penjelajah, pada hakikatnya juga adalah penjajah. Kita, bertopeng sebagai traveler atau backpacker yang menjanjikan kemakmuran ekonomi  bagi mereka, sebenarnya adalah juga imperialis yang berdalih menikmati surga di bumi dengan harga murah meriah. Turisme telah menjadikan tempat-tempat sebagai “atraksi”: “where to go” dan “what to see”, bagaikan kebun binatang manusia, dengan semua kandang menampilkan eksotisme masing-masing. Tradisi yang mati dihidupkan, yang hidup dikemas ulang supaya jadi paling memikat, biarpun palsu yang penting laku… (hal. 182)

Malah dalam sebuah percakapan bersama rekan seperjalanannya, Jorg, Agustinus sepakat bahwa “berwisata” seperti sedang melakukan bisnis prostitusi. Sebuah sampah kultural.

“Eksploitasi turisme eksotis itu bagaikan gadis cantik yang menjual diri! Prostitusi!” kata Jorg. “Lihat saja, si gadis itu dapat uang dari orang-orang yang menikmati kemolekan tubuhnya. Dia menikmati kekayaan itu. Dari uang itu, dia bisa beli baju bagus dan kosmetik, dirinya pun cantik.”

“Ya,” kataku, “Tapi bisa saja suatu hari dia sadar, betapa banyak kerusakan yang dialaminya selama ini.”

Ya, Jorg mengangguk, itu memang satu kemungkinan. Tapi mungkin juga, dia tidak bisa berhenti, karena godaan uang itu terlalu kuat dan dia tak bisa bertahan hidup tanpa uang itu. Sampai akhirnya eksploitasi itu membuat dia tak lagi cantik, lalu ditinggalkan dan dilupakan orang. (hal. 183)

 

Renungan itu masih berlanjut pada:

Turisme adalah hubungan simbiosis dengan dilema buah si malakama. Turisme memang bawa madu berupa uang dan pembaharuan, pembangunan infrastruktur dan ekonomi, pertukaran ide dan perubahan pola pikir. Turisme mengajarkan penududk untuk menghargai kultur mereka sendiri, mensyukuri rahmat yang mereka punya sejak sedia kala. Tapi jangan lupa, turisme juga membawa sekalian berbagai jenis racun: nafsu mengeruk keuntungan, ketidakjujuran, materialisme, sifat ada-uang-ada-senyum, standar ganda, komersialisasi budaya, hedonisme, pelacuran, pengemis, narkotika, kriminalitas, sampah, perusakan lingkungan, degradasi moral, penipuan, pemalakan, agresivitas, korupsi, eksploitasi, mimpi-mimpi kosong, pertapa “suci yang selalu berseru One dollar. Tak perlu menunggu lama, diskotek dan kerlap-kerlip kehidupan malam pun sudah merambahi kaki gunung Annapurna. (hal. 183-184)

Lalu, bagaimanakah seharusnya kita melakukan perjalanan?

Dengan tidak serakah. Masih dalam catatan perjalanannya, tanpa kesan menggurui, dengan idiom-idiom yang halus, Agustinus mengutip perkataan seorang legenda backpacer dunia, Maurice Herzog. “Selalu ada Annapurna-Annapurna lain dalam kehidupan manusia.” Monster-monster raksasa dalam kehidupan manusia bukan hanya gunung. Bukan hanya perjalanan atau penahlukkan, tapi juga mimpi mipi dan cita-cita manusia yang rakus.

Buku catatan perjalanan ini, yang oleh Agustinus disebut sebagai Safarnama sungguh berbeda dengan buku-buku catatan perjalanan lainnya yang pernah saya baca. Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan bukanlah sebuah buku catatan perjalanan yang berisi mau ke sini naik apa, dengan apa dan bayar berapa. Titik Nol penuh dengan dongeng-dongeng indah khas 1001 Malam yang membat kita tak henti-hentinya merenung.

Titik Nol dimulai dari perjalanan Agustinus dalam kereta penuh sesak dari Beijing menuju Xinjiang. Titik nol menuju negeri bernama Tibet. Dari sana, kemudian kita diajak untuk melihat Surga di Himalaya, menjalani romansa bersama rekan seperjalanannya, Lam Li di India. Merasakan sakit dan keterasingan –namun justru limpahan perhatian dan kasih sayang dari orang-orang, di Pakistan. Tak luput, tingginya toleransi beragama di Kashmir dan latar belakang perjalanannya ke Afghanistan juga dikisahkan tersendiri oleh Agustinus ke dalam 2 bab terakhir di buku ini.

Simak saja:

Yunus memperkenalkan dirinya padaku hanya sebagai “Muslim”, tanpa embel-embel lain. “Tak perlu kau tanya aliran apa, sekte apa, mazhab apa. Sunni atau Syiah sama saja. Islam, cukup Islam, bas! Titik! Agama memang penting, agama adalah arah perjalanan hidup, tapi jangan sampai, agama justru membunuh kemanusiaan. (hal 443)

dan juga kutipan paragraf yang menerangkan kecintaannya pada Afghanistan ,

….Aku termabuk oleh Afghanistan, negeri misterius yang senantiasa menyajikan kejutan pada setiap langkah.

Cita-citaku semula adalah menggapai Afirka Selatan. Itu berarti, negara berikutnya adalah Iran, Turki, lalu berbelok ke Suriah, Yordaniah, Mesir, dan sampailah aku ke tanah Afrika yang kuidamkan. Tapi, aku tak ingin lagi buru-buru. Magnet Asia Tengah terlalu kuat. Mulutku sudah berucap bahasa kuno Persia, hatiku dipenuhi bait-bait puisi ala sufi, fantasiku adalah legenda Sohrab dan Rustam. Biarlah negeri-negeri lain menunggu, toh aku tak dikejar-kejar batas waktu. Bukannya melangkah meneruskan rute yang rasional itu, aku malah tertarik pada sang Amu Darya, sungai akbar legendaris yang mengiring peradaban sejarah manusia hingga ribuan tahun, memisahkan negeri-negeri antah-berantah di Asia Tengah. Kuputuskan untuk bergerak ke utara, menyeberang Sungai, menembus perbatasan republik-republik baru: Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan. Perjalanan di pecahan Uni Soviet menyuguhkan tantangan ala film laga, semakin membangkitkan adrenalin dengan debar petualangan….. (hal. 471)

Rasanya salah deh kalau buku ini diklasifikasikan sebagai buku perjalanan. Ini bukan buku catatan perjalanan. Ini buku spiritualitas. Atau malah sastra ya, ujar batin saya berontak. Sebab sepanjang 552 halaman, Agustinus ini tak hanya mengajak kita pergi atau melongok sebuah tempat dari titik-titik ambisinya akan penahlukan keindahan tetapi juga menyelami kehidupan –yang acapkali jauh dari keindahan, yang ada di sana. Titik Nol adalah sebuah pengembaraan yang jauh dari hiruk pikuk . Sebuah perjalanan spiritualitas.

Seperti sempat dikatakan dalam sebuah acara bedah buku, Titik Nol adalah “semacam” pre-kuel dari dua buku Agustinus sebelumnya: Selimut Debu dan Garis Batas. Dengan gaya penceritaan yang berulang-alik antara kondisi di rumah ketika Agustinus memutuskan pulang karena Sang Ibunda sakit keras dengan pejalanan-perjalanannya di negeri-negeri antah berantah, buku ini membawa kita pada penelurusan yang lebih jauh mengenai apa makna pejalanan yang sebenarnya.

Ma,

Safarnama itu bukan melulu tentang kisah-kisah eksotis. Perjalanan bukan hanya soal geografi dan konstelasi, perpindahan fisik, lokasi dan lokasi. Perjalanan adalah melihat rumah sendiri layaknya pengunjung yang penuh rasa ingin tahu, adalah menemukan diri sendiri dari sudut yang selalu baru, adalah menyadari bahwa Titik Nol bukan berarti berhnti di situ. Kita semua adalah kawan seperjalanan, rekan seperjuangan yang berangkat dari Titik Nol, kembali ke Titik Nol. Tikik nol dan titik akhir itu ternyata adalah titik yang sama. Tiada awal dan tiada akhir. Yang ada adalah lingkaran sempurna, tanpa sudut, tanpa batas. Kita jauh melanglang sesungguhnya hanya untuk kembali.  (hal. 547)

Melalui  mamanya yang tak pernah kemana-mana, melalui pengalaman menemani dan merawat mamanya saat sakit, Agustinus justru menemukan makna itu:

Ma,

Saat masih muda dulu, aku pernah bercita-cita untuk mngubah dunia. Tapi perjalanan panjang ini telah menyadarkanku, aku bukanlah siapa-siapa di hadapan kuasa alam. Biarlah alam terus mengajarkan ilmunya, bukan aku yang mengubah dunia, tetapi dunialah yang mengubahku.

Aku memang telah pergi ke negeri-negeri jauh, untuk menulis tentang kisah orang-orang yang selama ini tak bersuara. Aku pulang, untuk mendengar cerita-cerita dari seorang ibu yang selama ini juga tanpa suara. Walau tak pernah ke mana-mana, di matamu yang terpejam dalam kedamaian itulah, kutemukan semua jawaban misteri perjalanan. Di sana terlukis angkuhnya Himalaya, kerasnya Amu Darya, lembutnya pasir Taklamakan. Di wajahmu kutelusuri panasnya Punjab, kemelut Kabul, alunan mantra Tibet, sukacita tarian India. Pada ceritamu, kuresapi kesabaran tanpa tapal batas dari langit biru, nyanyian merdu desau angin padang gersang, kebahagiaan burung-burung berkicau menyambut mentari.

Kau memang tak perlu ke mana-mana. Kau telah lewati ini semua. Kau ajarkan, perjalanan adalah menghargai hidup, mencintai hidup, merayakan hidup, mewarnai hidup, memberi makna pada setiap menit, setiap detik, setiap embusan napas. Kau tak pernah menyerah, bahkan hingga embusan terakhir, kaulah sang pemenang. (hal. 546)

Titik Nol, bagi saya adalah buku yang nyaris tanpa cela. Sebuah buku yang lengkap. Renungan, spiritualitas, motivasi, sastrawi, fotografi, fiksi dan non-fiksi semuanya berkelindan indah di dalamnya. Dan rasanya tak berlebihan jika buku catatan perjalanan yang juga dilengkapi dengan karya-karya fotografi jurnalistik yang indah nan memukau milik Agustinus Wibowo sendiri ini, tanpa ragu saya masukkan ke dalam daftar salah satu buku terbaik di abad ini. Buku yang membuat kita terkadang miris dan terkadang senyum-senyum sendiri sambil berujar, “Oh, ini toh maknanya manusia disunahkan untuk terus bergerak, berpejalanan.” Buku yang bener-benar membuat siapa saja, para pembacanya, menjadi bijak. (tby)

One Response to “MENJADI BIJAK LEWAT PERENUNGAN MAKNA PERJALANAN”

  1. Remarkable! Its in fact amazing paragraph, I have got much clear
    idea about from this piece of writing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: